
Clara nekat masuk ke sebuah club setelah Toni mengantarnya pulang. Walaupun pernah masuk ke club bersama Nesa, tapi Clara ngga pernah sendirian seperti malam ini.
"Halo cantik," sapa seorang laki laki muda dam tampan yang mengeluarkan aroma minuman keras dari mulutnya.
Clara beringsut mundur, tapi malah menabrak laki laki muda yang juga tampan lainnya di belakangnya.
Laki laki itu memegang bahunya ketoka dia akan terjatuh.
"Kamu harum banget, baby." Secara kurang ajar laki laki itu mencium pundaknya yang terbuka membuat Clara merinding.
"Jangan ganggu aku," tepisnya galak pada pegangan tangan laki laki itu yang hanya tekekeh. Sama seperti laki laki sebelumnya, mulutnya pun tercium bau minuman keras.
"Boleh juga cewe ini kita bawa ke ruangan kita," ucao laki laki itu sambil mencekal lengan kanan Clara kuat kuat sampai Ckara meringis.
Sinar nafs*u terpancar jelas di matanya melihat kecantikan dan kemolekan tubuh Clara yang masih dilapisi dres pendek tanpa lengan.
"Lepaskan," seru Clara panik.
Dua orang tapi ternyata lebih dari tiga orang laki laki muda dan tampan mengelilinginya dengan tawa keras, mata Clara mengerjap takut.
"Gue duluan," kata laki laki yang pertama sambil menarik keras engan kiri Clara hingga pegangan temannya terlepas. Saking kerasnya tarikan itu, tubuh Clara mendarat dilpelukannya. Tanpa membuang kesempatan, dia pun memeluk Clara dengan erat membuat Clara sulit bernafas.
"lepaskan," jerit Clara mulai ketakutan. Dia mulai menyesal kenapa harus sendirian masuk ke club.
Tapi para laki laki itu ngga peduli. Mereka malah ketawa kesenangan melihat penolakan dan ketakutan Clara.
"Kita garap sama sama," kata laki laki yang lainnya yang dengan kurang ajarnya meremas bokong Clara. Clara pun menjerit histeris dan air matanya mulai tumpah membasahi pipinya. Apalagi dia juga merasa banyak tangan jahil menyentuh dan mengelus tangan dan tubunya.
"Yiou are so beautifull darling," kata kaki laki yang memeluk Clara. Lalu menyeretnya pergi diikuti teman temannya yang tergelak kesenangan karena yang menghibur mereka malam ini sangat cantik dan wangi.
Clara terua menjerit meminta tolong. Tapi suara musik yang kencang dan tatapan orang orang yang ngga peduli membuat usahanya sia sia.
"Kamu lambat sekali," kata laki laki yang memeluk Clara langsung mengangkat tubuh Clara ke bahunya. Teman temannya teetawa melihatnya. Tangannya secara kurang ajar membelai bokong dan paha Calra yang tersingkap.
"Tidak! Jangan," jerit Clara tiada henti. Dia semakin takut melihat laki laki itu terus melangkah menaiki lantai kedua club yang dia tau adalah letak kamar kamar vip. Sementara teman temannya mengikuti lebih semangat di belakangnya.
Begitu sampai di depan pintu kamar, dia memutar badannya ke arah teman temannya.
"Gue ngga ingin berbagi. Kalian oergilah," sergahnya sambil terus membelai bokong Clara membuat teman temannya menelan saliva. Tubuh bagian belakang gadis itu yang terpampang begitu menggoda.
__ADS_1
Tapi mereka tau, kalo temannya sudah berkata seperti itu, ngga mungkin membantah.
"Oke, Reksa. Tapi kali ini kau curang," sergah lelaki kedua tadi membalas dengan kesal. Dia masih memgingat bau harum gadis itu. Benar benar memabukkan.
"Setelah aku puas, baru dia akan kuberikan," janji Reksa sambil.membuka pintu dan menutupnya dengan kasar.
"Sial. Gadis itu sangat wangi" bentak lelaki kedua tadi marah. Alkohol sudah membuat nafsunya mendidih.
"Kita ngga bakal dapat kalo Reksa udah ngomong gitu, Wen," tahan temannya menyadarkannya.
"Aku tau. Tapi gadis itu sangat cantik dan wangi." Wendi balas membentak temannya.
"Kita cari yang lain saja," tukas temannya lagi sambil melangkah menjauhi kamar yang dimasuki Reksa. Dia pun sangat kesal, walau ngga gitu jelas menatapnya karena lampu club ysng remang remang,, dia tau gadis itu sangat cantik. Kulitnya sangat halus. Dia butuh pelampiasan untuk juniornya segera.
"Aro, tunggu," panggil temannya sambil menyusulnya.
"Ayo, kita cari lagi," ajak temannya yang lain pada Wendi yang masih merengut kesal.
D**UGH**
Wendi menendang kesal pintu kamar sebelum berbalik pergi. Temannya hanya tertawa melihat kekesalan temannya.
Danu terus tertawa sambil terus menepuk bahu Wendi untuk mengurangi rasa marahnya.
Sementara Reksa yang belum sepenuhnya mabuk melempar tubuh Clara ke tenpat tidur dan langsung menindihnya membuat Clara menjerit penuh ketkutan. Clara pun terus meronta berusaha melepaskan dirinya dari cumbuan paksa Reksa.
"Tolong, jangan. Aku perempuan baik baik," rintih Clara dengan air mata yang terus berjatuhan di pipimya.
Reksa menghentikan ciumannya pada leher Clara dan tersenyum mengejek.
"Perempuan baik baik ngga akan ke club, haney," sarkasnya membuat Clara terdiam. Keduanya saling beradu pandang.
Baru kali ini Reksa memperhatikan wajah gsdis yang akan digarapnya. Sungguh sangat cantik dan wangi.
Karena gadis itu kini terdiam, Reksa mulai beraksi lagi.
"Tenang, teman temanku ngga akan mengganggumu. Layani aku yang benar. atau aku serahkan kau pada teman temanku. Mereka sudah ngga sabar memakanmu," ancam Reksa di sela sela ciuman dan remasannya.
Clara mulai merasakan sensasi yang aneh. Laki laki ini begitu ahli membangkitkan titik titik sensitifnya. Dia mendesah berulang kali walau tetap berusaha menolak.
__ADS_1
Tapi bukan Reksa kalo ngga bisa membuat perempuan ngga berdaya di bawah kuasanya. Dan ngga butuh waktu lama, gads di depannya sudah menyerah..Dan Reksa merasa samgat beruntung ternyata ternyata dia menjadi yang pertama untuk gadis itu.
"Ngga di sangka kamu masih virgin," kekeh Reksa sangat senang. Instingnya benar sejak awal saat melihat si cantik ini. Untung dia bertindak cepat, tidak memberikannya pada teman temannya.
Clara ngga menyahut. Dia hanya memejamkan mata mendengar perkataan Reksa. Dia sudah tidak berontak, tapi malah menerima apa yang dilakukan laki laki muda yang mungkin seusia dengannya. Apa dia sudah ngga waras? Bahkan dia dengan ngga tau malunya meminta ketika laki laki itu berniat berhenti.
Reksa tertawa. Dia beruntung malam ini. Gadis di depannya seolah menyimpan lava panas di dalam.tubuhnya. Akhirnya.tiga kali Reksa menuntaskan hasratnya. Tapi tentu saja Reksa tidak membuang bibit unggulnya di dalam. Dia ngga bisa sembarangan. Apalagi besok malam adalah perkenalannya dengan gadis calon istrinya. Walaupun gadis yang sedang digagahinya masih virgin, dia ngga akan sembarangan memberikan bibit unggulnya pada gadis yang suka maen ke club.
Bisa aja dia masih virgin, tapi yang lainnya pasti tidak kan. Tadi aja teman temanya sangat bebas mencium pundaknya, rambutnyan dan mengr*pe gr*pe tubuhnya. Tapi Reksa ngga akan memberikan gadia ini padq teman temannya. Dia masih belum puas. Gadis ini sudah membangkitkan hasratnya begitu hebat. Bukan hanya gadis itu yang memperoleh kepuasan, dirinya sendiri pun juga bisa mencqoai puncaknya. Benar benar malam keberuntungannya.
Reksa membuka matanya ketika melihat gadis itu berjalan sangat pelan menuju pintu.
"Kau mau kemana?" tanya Reksa sambil memamerkan kunci pintu kamar membuat Clara membesarkan matanya.
Mengapa dia tidak tau kapan laki laki ini melepas kunci dari pintu.
Reksa tersenyum smirk sambil menatqp Clara dengan posisi miring. Untung sebelum tidur, Reksa sempat menyimpan kunci pintu kamar di bawah bantalnya.
"Kamu ngga mandi?" tanyanya dengan kening berkerut. Gadis itu sudah mengenakan dresnya. Wajahnya terlihat pucat, tapi sangat seksi menurut Reksa. Cahaya matahari yang menembus jendela membuatnya bisa menatap dengan jelas kecantikam gadis yang bersamanya tadi malam.
"Tolong, aku harus pulang," pinta Clara sangat memelas. Tubuhnya sangat lelah. Clara merasakan kecapekan yang amat sangat.
"Apa.kamu ngga takut kalo teman temanku masih menunggumu di luar kamar?" ancam Reksa ringan. Dia pun bangkit dan menghampiri Clara tanpa mengenakan apa apa.
Clara terdiam. Saat ini tubuhnya sangat lemah. Dia ngga mungkin melawan. Apalgi jika teman teman laki laki ini benar benar menunggunya. Dia pasti akan diglir Membayangkannya saja sudah membuat tubuh Clara menggigil ketakutan.
"Jangan lagi. Aku mohon. Tadi malam aku sedang kesal dengan temanku, jadi aku masuk ke club sendirian," mohon Clara sambil.memalingkan wajahnya. Dia kembali mengingat yang telah terjadi tadi malam.
Reksa tersenyum smirk..Dia terus mendekat.dan mengukung Clara yang sudah mati langkah. Merapat di dinding
"Kamu milikku. Aku bebas kapan pun bersamamu," kata Reksa dingin.
"Tidak. Jangqn. Lepaskan aku," rintih Clara memohon. Sudah semalaman dia ngga pulang..Dia takut papa dan mamanya akan pulang tiba tiba dan tau kelakuannya.
"Bukannya tadi malam kamu yang ngga mau berhenti?" bisik Reksa membuat Clara merinding. Dia menatap wajah tampan di depannya. Sangat tampan ternyata dengan sepasang mata elang yang seakan menghipnotisnya.
Clara memalingkan wajahnya ketika Reksa akan mengecup bibirnya.
Reksa tersenyum miring.
__ADS_1
"Temani aku mandi. Setelah itu aku akan mengantarkanmu pulang," tawar Reksa sambil menyeret Clara masuk ke kamar mandi. Tentu saja ngga hanya sekedar mandi. Reksa membutuhkan morning sexnya.