
"Angel, terserah kamulah pilih yang mana. Aku bingung, bagus semua," kata Eri sambil menyandarkan tubuhnya di belakang sofa. Eri pun melonggarkan dasinya yang terasa mencekik lehernya.
Angel tersenyum melihat Eri, begitu juga dengan mbak Agnes, pemilik weeding organizer untuk pernikahan mereka nanti.
Angel sengaja mengajak mba Agnes ke kantor Eri untuk membahas setting pernikahan mereka.
"Jad kamu maunya outdoor atau indoor?" tanya Angel lembut pada Eri.
"Aku, sih, sukanya outdoor. Konsepnya terserah kamu aja, aku percaya sama pilihan kamu," kata Eri sambil memejamkan matamya.
Sudah sejam mereka diminta memilih aneka konsep yang ditawarkan untuk pernikahan mereka, tapi belum nemu juga konsep yang pas. Eri bahkan sampai meng cancel jadwal meeting nya. Kalo gini mending Angel aja yang milih. Eri sibuk mengomel dalam hati.
"Oke, Mba Agnes. Konsepnya dibicarakan sama mami aja," kata Angel akhirnya sambil melirik Eri yang masih memejamkan matanya.
Maaf, aku sudah ngerjain kamu, batin Angel dengan senyum jahil di bibirnya.
Angel tau, pasti Eri lagi menahan kesalnya. Sejak melamarnya. Eri benar benar berbeda sikap seratus delapan puluh derajat pada dirinya.
Lebih sabar dan sangat memperhatikannya. Jauh berbeda sekali dengan Eri yang dulu. Suka kasar dan terkesan ngga peduli padanya. Bahkan selalu menghindarinya.
"Baiklah, akan saya rapatkan dengan mami mba Angel dan mas Eri. Saya pulang dulu," pamit mba Agnes.
"Iya mba, makasih ya," ucap Angel sebelum mba Agnes meninggalkan ruangan Eri.
Eri ngga menjawab. Dia masih betah dengan matanya yang terpejam.
"Eri, maaf ya," kata Angel sambil duduk di samping Eri.
Tapi Eri tetap ngga menjawab.
Apa dia tidur?
Angel menatap wajah Eri yang terlihat tenang. Bibirnya tersenyum melihat kelopak mata Eri yang bergerak getak walaupun terpejam.
"Hiiii... pura pura tidur ya," goda Angel sambil menggelitik pinggang Eri, membuat Eri terlonjak saking ngga kuat menahan rasa gelinya.
"Angel, apaan, sih," seru Eri sambil menepis tangan Angel. Tapi Angel hanya tertawa tawa senang melihat reaksi Eri sambil terus menggelitiki pinggang Eri.
"Jangan memancingku, Angel," kata Eri sambil menangkap pinggang Angel membuat Angel terpekik.
Kini Eri menindih Angel yang sekarang tau tau sudah berada di bawahnya.
"Eri, turun nggak," kata Angel galak.
Eri tersenyum lebar lalu turun dari tubuh Angel.
"Wajahmu sekarang selalu seperti kepiting rebus tiap ketemu denganku," ledeknya terkekeh
Posisi kamu mengerikan, tau, omel Angel dengan jantung masih berdebar hebat.
__ADS_1
Eri mengambil minuman dingin dari dalam kulkas kecilnya dan memberikannya pada Angel.
"Pasti kerongkonganmu kering, kan, karena dari tadi bicara terus dengan WO tadi."
Walau cemberut, Angel menerima botol minuman yang sudah dilepas tutupnya sama Eri.
"Makasih," ledek Eri lagi karena ngga mendengar suara gadis itu, kemudian tertawa lagi. Eri pun mengambil minuman buat dirinya dam langsung meneguknya sampai abis.
"Gila, apa dia ngga haus ngomong ngga berhenti dari tadi," omel Eri sambil membuang botol itu ke tempat sampah.
Angel akhirnya tersenyum mendengar omelan Eri.
"Biar mami aja yang ngurus..Kita juga sibuk banget, kan?" ucap Eri sambil menatap Angel lekat lekat.
Dan tanpa diduga Angel, Eri menempelkan kepalanya dengan manja ke bahu Angel.
"Kita jarang punya waktu berdua," kata Eri setengah merengek membuat Angel tersenyum lebar.
"Aku capek dengar dia ngomong, Angel," kata Eri manja.
Angel tersenyum lagi. Lihatlah, dari tadi dia ngomong terus mgga berhenti. Padahal saat ada mba Agnes, Erii lebih banyak diamnya. Kalo ditanya, baru dijawab. Itu pun singkat singkat saja.
"Waktu berdua kita terbuang gitu aja," keluh Eri sambil menggerakkan kepalanya di bahu Angel dengan manja.
"Ya udah. Yuk, kita makan di luar," kata Angel menawarkan.
"Di sini aja ya. Aku pesan online," kata Eri dengan tatapn *puppies*nya.
Angel suka dengan sikap manja Eri. Jadi ingat waktu mereka waktu tk. Eri selalu bersikap begini padanya.
"Kamu mau makan apa? Bawal goreng mau?" tanya Eri memberi usulan.
"Boleh juga," sahut Angel setuju.
"Oke, lima belas menit lagi nyampe," kata Eri setelah menyelesaikan pesanan onlinenya.
"Jadi ingat waktu tk ya. Kamu selalu nyandar gini ke aku."
"Soalnya dulu kamu lebih gendut," tawa Eri lepas.
"Enak aja. Kamu tuh yang lebih gendut," kesal Angel sambil mendorong tubuh Eri agar menjauh.
Dasar ngga peka, umpat Angel dalam hati.
Eri tetap tertawa sambii menjauhkan kepalanya.
"Nggak, kamu yang lebih gendut," sangkal Eri ngga mau ngalah, masih dengan tawa terkekehnya
"Nggak, kamu," ketus Angel ngga terima.
__ADS_1
Eri mengelus rambut bagus Angel sambil mengerem tawanya. Berusaha membujuk Angel.
"Kamu masih jadi model iklan shampo?" tanya Eri ketika melihat wajah Angel yang masih manyun
"Masih," ketus Angel.
"Rambut kamu cantik, berkilau," puji Eri masih berusaha melumerkan kekesalan Angel.
"Hemm," dengus Angel masih tetap dengan wajah manyunnya.
"Iyaaa, aku yang lebih gendut," kata Eri akhirnya mengalah.
Eri jadi tersenyum saat melihat wajah Angel yang sudah hilang manyunnya.
Dasar cewe. Selalu marah kalo dibilang lebih gendut.
"Tapi aku lebih suka kamu yang gendut dulu. Kalo sekarang, kurus banget," kata Eri membuat Angel memukul bahunya gemas.
Eri tertawa tergelak gelak.
Kalo kecil sih gemesin gendut. Tapi kalo udah gede, kan, bisa bikin kamu ilfeel, kesal Angel membatin.
TOK TOK TOK!
"Sebentar, mungkin makanan kita datang," kata Eri sambil berjalan ke arah pintu.
Dab ternyata pesanan mereka pun datang.
Eri pun menatanya di atas meja.
"Ayo makan. Yang banyak ya Angel.Kamu kurusan banget."
"Tapi nanti gaun pengantinnya ngga muat," protes Angel.
"Aku udah minta mami untuk melonggarkannya sedikit," kata Eri cuek sambil melepaskan daging ikan bawal dari tulangnya dan memberikannya pada Angel.
Angel menatap Eri terharu. Dulu waktu mereka masih kecil, Eri juga selalu begitu. Memperlakukannya bak tuan putri.
Padahal Angel ngga pernah meminta, bahkan sering melarangnya untuk terlalu memanjakannya.
Tapi Eri kecil selalu menolak dengan keras dan terus saja memanjakannya sampai saat saat indah itu berakhir dengan kesedihan dan kesakitan.
"Ayo, dimakan. Dihabiskan ya. Jangan diet lho Angel," kata Eri lembut.
Angel mengangguk. Kemudian mengambil nasi dan potongan daging ikan tanpa tulang itu dan menyuapkannya pada Eri.
Eri tersenyum dan membuka mulutnya.
Eri jadi teringat, dulu dia pernah ngomong ke Vandra, ngga bakal mau sama Angel yang manja. Yang ngga bisa apa apa tanpa pertolongan mami dan pembantunya.
__ADS_1
Tapi sekarang Eri meralatnya. Sekarang dia adalah pelayan hati Angel. Eri akan selalu melayani Angel seperti waktu mereka kecil dulu. Dia akan memperlakukan Angel seperti tuan putri. Tuan putri yang selalu tinggal di hatinya.