
"Hai, Angel. Emmm.... Bisa kita bicara sebentar?"
Angel menoleh, kaget melihat siapa yang menegurnya. Dia sedang berada dalam sebuah butik, untuk memilih gaun yang akan dipakainya di pesta pernikahan Irfan dan gadis ini.
Angel berusaha tersenyum ramah melihat wajah yang resah di depannya.
"Ya, tentu saja," jawabnya sambil menarik sebuah gaun berwarna peach dengan renda di lengannya yang sudah dikaguminya sejak tadi.
"Sebentar ya," ucapnya lembut sambil membawa gaun itu ke kasir.
Sandrina hanya tersenyum sambil mengikuti langkah Angel.
Dalam hati dia memaki mulutnya yang terlalu ramah untuk menyapa gadis, ah bukan, tepatnya istri dari pria yang sempat dia suka. Mungkin masih sampai sekarang.
Sandrina menatap punggung yang berjalan anggun di depannya lekat.
Dari belakang saja gadis itu sudah sangat menarik. Wajar saja kalo Eri menyukainya. Apalagi mereka teman sekolah. Dia sudah kalah start.
Gadis ini juga sangat cantik walau Sandrina juga yakin kalo dia pun ngga kalah cantiknya. Mungkin nasibnya yang kurang beruntung.
"Ayo, kita ke kafe depan," kata Angel membuyarkan lamunannya.
"Eh, ayo," kaget Sandrina. Dia pun mengikuti langkah Angel keluar dari kafe.
Begitu sepi dan keduanya pun menyeberang jalan dengan beriringan.
"AWAAASSS!!" teriak beberapa wanita paruh baya ketika keduanya hampir sampai di seberang.
DEG!
Jantung Sadrina berdebar keras, terpaku melihat sebuah motor gede melaju kencang ke arah mereka.
Angel dengan cepat menarik tangan Sandrina menghindari motor tersebut. Hampir saja Sandrina terjatuh kalo saja Angel tidak kuat menggenggam tangannya.
Dan motor itu pun terus melaju kencang tanpa berhenti untuk
meminta maaf.
"Kamu ngga apa apa?" tanya Angel sambil menatap cemas wajah pucat Sandrina.
Sandrina ngga menjawab, tapi spontan dia.memegang perutnya.
Angel langsung membimbing Sandrina untuk duduk di kursi di luar kafe. Beberapa orang yang melihat adegan itu pada menyumpahi pemotor yang sekarang sudah menghilang entah kemana.
"Perutmu gimana? Kita ke rumah sakit ya," kata Angel panik. Teringat kalo gadis ini sedang hamil muda.
Sandrina menggelengkan kepala dan tersenyum tipis.
"Aku ngga apa apa. Hanya kaget saja."
"Minumlah nak. Wajahmu terlihat pucat," kata seorang wanita yang seumuran dengan mama mereka sambil menyodorkan sebotol air putih yang masih tersegel pada Sandrina.
"Terima kasih, tante," ucap Angel sambil menerima dan membuka tutup botolnya.
"Sama sama," jawab si ibu ramah.
"Minumlah," kata Angel lembut.
Sandrina pun meneguknya pelan. Jantungnya masih berdetak kencang. Dia masih shock.
"Nona ngga apa apa?" tanya seorang wanita paya yang lain lagi pada Angel.
"Ngga apa apa, tante," jawab Angel pelan.
"Syukurlah," jawabnya lega.
"Siapa itu ya, yang nekat mau nabrak nona berdua. Sengaja sepertinya," tambah salah satu wanita paruh baya itu juga kesal.
"Ngga tau juga bu. Saya juga kaget tadi," kata Angel jujur. Karena sudah merasa aman, bahkan tinggal beberapa langkah lagi di seberang. Tiba tiba ada motor yang datang kencang ke arah mereka.
__ADS_1
Hatinya bertanya tanya, setaunya dia ngga punya musuh. Siapa yang sangat jahat mau mencelakai mereka?
"Tadi ngga sempat difoto. Terlalu cepat motornya. Nomer platnya juga ngga sempat dicatat," sesal salah satu wanita itu
"Nanti hati hati ya, nak. Tante pamit dulu."
"Iya nak, hati hati."
"Terima kasih ya tante," kata Angel dan Sandrina berbarengan.
Mereka pun berbalas senyum sebelum meninggalkan Angel dan Sandrina.
"Kamu sebaiknya telpon Irfan," kata Angel sambil mengeluarkan hpnya. Dia akan menelpon Eri.
"Ngga usah," tolak Sandrina. Dia ragu, apalagi hubungan mereka bagi Sandrina terasa aneh.
"Oke, aku yang telpon Irfan," ucap Angel mengerti.
Tapi saat telpon tersambung, Angel terkejut mendengar suara kesal Eri.
"Kenapa kamu telpon Irfan?"
Angel yang me*l*oud speaker nya jadi kaget, begitu juga Sandrina.
"Ini, Sandrina yang mau ngomong, tapi malu mau telpon Irfan," jelas Angel yang hanya bisa tersenyum lebar melhat wajah manyun Sandrina.
"Kamu sama Sandrina? Kok, bisa?"
Suara Eri terdengar heran.
"Angel, Sandrina mana?"
Suara Irfan terdengar senang.
Angel tertawa sambil menatap Sandrina yang terlihat malu malu.
"Kalian dimana?"
"Di kafe depan butik mamanya Kak Luvi," kata Angel menjelaskan.
"Oke."
Dua laki laki itu menjawab berbarengan sebelum memutuskan sambungan telpon Angel.
"Bentar lagi mereka berdua akan datang," ujar Angel dengan senyum manis. Sandrina terlihat salah tingkah.
"Hubungan kamu sama Irfan gimana?" tanya Angel kepo.
Setelah kejadian menegangkan tadi, Angel ingin membuat Sandrina melemaskan otot ototnya. Apalagi dia sedang hamil. Ngga baik untuk kehamilannya.
"Aku ngga terlalu mengenal dia, beda dengan .... emmpp, maaf maksudku suami kamu, Eri," jawab Sandrina sungkan.
Angel berusaha menekan rasa cemburunya akan kedekatan Sandrina dengan Eri. Dia berusaha berprasangka baik pada suaminya dan menganggap itu hanya masa lalu Eri saja.
Sandrina menatap Angel merasa ngga enak, takut telah salah bicara.
"Maaf, aku ngga ada hubungan apa apa dengan Eri. Aku juga mau minta maaf atas kejadian di pesta pernikahan kamu," ucap Sandrina hati hati.
Angel tersenyun lembut.
"Lupain aja," tutur Angel lembut.
"Makasih ya," jawab Sandrina sambil menatap Angel dengan sedikit iri.
Kini dia mulai mengerti kenapa Eri bisa menyukai Angel begitu lama.
Gadis ini sangat lembut, batin Sandrina sambil terus menatap Angel yang kini mengarahkan matanya ke pinggir jalan di dekat mereka.
Ngga lama kemudian dua buah motor sport berhenti di depan mereka.
__ADS_1
Angel tersenyum senang melihat kedatangan Eri dan Irfan yang ngga lama dari waktu Angel menelpon. Mungkin mereka sedang berada di dekat sini.
"Sayang," ucap Eri sambil mendekati Angel yang berdiri menyambut kedatangannya. Tanpa sungkan Eri mengecup pipi kanan Angel membuat Sandrina memalingkan wajahnya. Dia masih belum membiasakan perasaannya yang masih menyukai Eri.
Irfan tersenyum miring melihatnya.
CUP
Sandrina terkejut dengan wajah merona ketika Irfan mengecup pipinya dan kini sudah duduk di sampingnya. Wajahnya merona dan hatinya menghangat.
"Kok, kalian bisa bertemu?" tanya Eri dengan satu tangannya merapikan rambut di dahi Angel.
Angel tersenyum lembut. Dia baru teringat akan kejadian yang menimpa mereka. Sesaat dia larut akan perlakuan manis Eri.
"Tadi kita hampir ditabrak orang pake motor."
"Apa? Tapi kamu ngga apa apa, kan?" kaget Eri khawatir sambil memeriksa keadaan Angel.
"Enggak pa pa," sahut Angel cepat.
Eri pun mendekap Angel erat. Perasaannya mulai lega walau ada kecemasan dalam hatinya.
"Benar, San? Kamu gimana?" tanya Irfan juga cemas.
"Anak kita ngga apa apa, kan?" lanjutnya lagi sambil memegang wajah Sandrina membuat wajah Sandrina tambah merah.
"Kalo bisa kamu bawa Sandrina ke dokter kandungan. Aku juga takut, soalnya tadi kaget banget," kata Angel memberitau.
"Aku ngga pa pa, kok. Cuma kaget aja tadi," kata Sandrina gugup.
"Nggak. Kita harus check kandungan kamu," kata Irfan tegas.
"Tapi naek motor ngga apa ya?" sambungnya ragu.
"Emm, mobilku di parkir di depan butik," ucap Sandrina pelan sambil menunjuk mobil Audinya.
"Oke, mana kuncinya?" tanya Irfan sambil menyodorkan tangannya.
Sandrina pun memberikannya.
"Kamu tunggu di sini, aku akan bawa mobilmu ke sini," kata Irfan sambil berdiri.
"Er, suruh pegawaimu bawa motorku pulang ya," titahnya sambil berjalan ke depan untuk menyeberang.
"Ya," jawab Eri santuy membuat Angel meliriknya heran.
Tumben ngga marah.
"Hati hati," seru Sandrina pelan tapi masih bisa di dengar Irfan. Dia masih trauma dengan kejadian tadi.
Laki laki tegap dan tampan ini menoleh dan tersenyum.
"Ya, honey," katanya kemudian berlari secepatnya ke seberang ketika jalanan sudah agak sepi.
Sandrina menundukkan kepalanya, malu karena ada Angel dan Eri, laki laki yang masih disukainya.
Suasana canggung melanda mereka bertiga.
Sandrina pun mengambil nafas dan menghembuskannya pelan untuk meredakan kegugupannya.
"Eri, aku minta maaf atas sikap mama dan papa," katanya sambil menatap Eri sebentar. Dia merasa sungkan dan malu atas perbuatan kedua orang tuanya yang melabrak Eri di pesta pernikahannya.
Sandrina pun sempat mengurung diri dan menutup seluruh akun sosial medianya. Dia merasa efek domino akibat perbuatan orang tuanya.
Untunglah ada Irfan yang selalu memasang badan untuk menutupi rasa malunya.
"Ya," sahut Eri ngga acuh. Tangannya masih terus merangkul pundak Angel.
Eri ngga mungkin memarahi Sandrina. Dia juga salah sempat menggunakan gadis itu untuk membuat Angel cemburu.
__ADS_1
Lagi pula itu bukan fokusnya lagi. Sekarang yang ada di otaknya adalah pertanyaan siapa yang berani beraninya mau menabrak Angel.