
"Ada mayat," kata Ferdi memberitahu teman temannya setelah menutup telponnya.
Anak buahnya baru saja menelpon.
"Ternyata mereka memang masih dikejar," tukas Valen.
Saat ini mereka sudah berada di ujung sungai.
Mata Arven yang tajam menarik robekan kain halus, sepertimya tersangkut ketika seseorang buru buru pergi.
"Aku sudah meretas cctv sepanjang jalan ini. Mereka sudah naek angkutan kota. Dan berhenti di sebuah gang kecil. Tapi ngga ada cctv lagi. Kita harus cari di sekitar situ," jelas Ilham.
"Cctvnya sudah dihapus?" tanya Valen cepat.
"Sudah. Semoga belum terlambat," ucap Ilham agak gugup.
Mereka saling pandang. Memang wajar kegugupan Ilham, mereka terlambat selangkah soal waktu dari musuh mereka. Semoga musuh mereka ngga menyadari cctv itu, harap keempatnya dalam hati.
"Itu mungkin robekan pakaian Erika," cetus Celon ketika mengamati robekan kain yang dipegang Arven.
"Di cctv sepertinya dia memakai warna ini," kata Celon lagi sambil melihat ke hp Ilham.
"Sepertinya mereka mengawasi mansion Erika, rumah dan kantor Pak Halim. Erika dan pengawalnya ngga boleh langsung pulang atau ke rumah Pak Halim," jelas Ilham lagi.
Mereka kembali saling pandang.
"Sepertinya kita ngga berhadapan dengan penjahat biasa," desis Celon lirih.
Hp Ferdi bergetar, dia pun langsung mengangkat telponnya.
Wajah Ferdi yang berubah keruh membuat teman temannya menyadari ada kabar buruk yang diterimanya. Mungkin dari anak buahnya.
Setelah menutup telponnya, Ferdi mengusap wajahnya sambil memghembuskan nafas kasar.
"Ditemukan bom di mansion Erika, di rumah dan kantor Om Halim."
Kata katanya membuat Keempatnya terkejut, ngga nyangka sampai sejauh itu para penjahat melakukan kejahatannya.
"Gue jadi penasaran, mereka dari grup mafia mana?" tanya Valen sambil menatap ketiganya.
"Nanti kita bisa selidiki," tukas Celon.
"Kita harus cepat mencarinya. Kita harus menyamar," usul Celon.
"Wajah kita terlalu familiar, terutama wajahmu," sarkas Valen pada Ferdi yang berambut cepak, pasti langsung dikenali sebagai anggota polisi.
"Aku bawa wig," kata llham sambul memberikan wig yang masih tersegel dalam plastiknya.
"Itu yang kusuka darimu," kekeh Ferdi sambil menerima wig itu dan merobek segelnya, kemudian memakainya di kepalanya yang dihiasi rambut cepaknya.
"Kita harus mengikuti upacara pemakaman. Waktu kita ngga banyak," sela Arven.
"Sore ini ya. Ok, kita susuri gang ini" putus Valen cepat. Dia dan Celon langsung menguncir rambut mereka. Mereka pun memakai masker dan topi, begitu juga Ilham pun memakai masker dan topi.
"Kamu tadi ke sini naek apa?" tanya Valen sambil mengikuti langkah Ilham.
"Motor," jawabnya singkat.
"Harusnya Lo bawain kita motor. Atau gue telpon sekaramg agar kuta dikirimkan motor," cicit Valen.
"Nggak perlu lagi, Val. Ilham udah ngurus semuanya," kekeh Celon ketika sudah sampai di tempat mereka memarkir mobil.
Valen, Arven dan Ferdi pun terkekeh.
"Lo memang selalu bisa dihandalkan," kata Ferdi sambil menepuk pundak Ilham yang hanya mengangkat dikit sudut bibirnya.
Valen pun menyerahkan kunci mobilnya pada dua pengawal Ilham yang tadi membawa dua motor balap untuk mereka.
__ADS_1
"Ini bahaya, jangan sampai identitas kita kebongkar," ucap Ferdi memperingatkan teman temannya.
Dulu mereka masih single, sekarang mereka sudah punya istri dan anak. Lebih banyak yang harus dilindungi selain orang tua dan saudara mereka.
"Resikonya bisa kena ke keluarga kita juga," tambah Celon setuju.
"Kita ngga bisa seenaknya seperti si jomblo ini," lanjut Celon meledek.
"Lebih baik kalian ngga usah ikut. Gue bisa sendiri aja, kok," sela Arven sambil menatap teman temannya yakin.
"Mentang mentang Lo sering juara karate. Kalo mereka maen keroyokan, Lo bisa semaput juga," sarkas Ferdi ngga terima diketepikan begitu saja.
"Santai bro. Kita juga pengen lihat Lo nikah. Bukan hanya kawin aja," canda Valen membuat mereka terkekeh.
Arven ngga marah, dia malah merasa beruntung punya sahabat seperti mereka.
"Terimakasih," ucap Arven tulus.
"Lo mau ikut siapa?" tanya Ferdi yang sudah menggas motor balapnya.
"Lo sama Ferdi aja. Gue eneg sama dia terus," kata Valen sambil duduk di belakang Celon.
Ferdi tambah keras tawanya sambil menggelengkan kepalanya.
"Cepat sama gue," tawar Ferdi pada Arven yang terkekeh juga dan mendekati Ferdi.
*
*
*
Mikaela kembali berdiri di belakamg tembok sekolah.Walau pun dia punya kenangan buruk dengan pohon ini gara gara cowo ngeselin itu, tapi Mikaela ngga peduli.
Dia harus bisa keluar dari sekolah. Berita viral di berbagai sosial media membuat hatinya ngga tenang. Belajar pun sudah ngga konsentrasi
Ini terlalu kejam. Mikaela benar benar berharap kakak angkatnya selamat. Kalo perlu dia akan menghajar para penjahat itu.
Mikaela menarik nafas dan menghembuskannya perlahan. Dia melakukannya berulang kali. Dia benar benar memerlukannya untuk membuang rasa sesak di rongga dadanya. Dia begitu mengkhawatirkan Erika.
Setelah rasa sesaknya berkuramg, Mikaela mulai memanjat pohon itu lagi. Tapi baru setengah jalan dia memanjat, Mikaela kembali terkejut mendengar suara kepseknya yang lagi lagi sudah berada di bawahnya. Untung kali ini Mikaela memakai leggingnya.
"Kamu mau bolos lagi?"
Ah, kenapa si underwear merah ini lagi. Bisa bintilan mataku, omel Doni kesal dalam hati.
Ngga sengaja memang Doni melewati jalan yang biasa dilewati para siswanya yang suka bolos. Dan Doni kembali menggerutu melihat si underwear merah sudah nangkring di atas pohon. Tapi Doni bersyukur karena siswinya ternyata memakai leggingnya.
"Maaf, Pak, saya harus pulang. Ini urgent," seru Mikaela ngga peduli dan terus memanjat. Bentar lagi dia akan sampai ke tembok yang memisahkan sekolahnya dengan jalan besar.
Doni menepuk jidatnya. Siswinya ini keterlaluan banget. Jaman dia sekolah dulu, cewe cewenya ngga ada yang se bar bar ini. Dia sebagai kepsek pun ngga dianggap apalagi dihormati. Doni misuh misuh dalam hati.
"Kamu turun nggak, atau saya keluarin kamu dari sekolah!"
Mikaela menghentikan gerakannya. Dia terdiam. Doni tersenyum.melihatnya.
Ternyata ancaman itu masih manjur, batinnya senang.
Tapu senyum di wajah Doni langsung hilang melihat cewe itu melanjutkan lagi memanjat.Tinggal dikit lagi dia akan mencapai tembok.
Dengan kesal, Doni melompat dan menggantungkan tangannya ke dahan yang agak tinggi, mengayunkan tubuhnya dan dengan sangat cepat sudah berada di depan Mikaela yang terpana melihatnya.
Baru kali ini Mikaela menatap kepseknya dalam jarak yang sangat dekat. Jantungnya jadi berdebar ngga menentu. Wajah Mikaela pun merona.
Doni sendiri juga merasa aneh dengan dirinya. Jantungnya berdebar keras ketika beradu pandang dengan siswi bar barnya.
Gila, dia bukan pedofil.
__ADS_1
"Ehem... kenapa kamu harus bolos kalo ada urusan urgent. Kamu tinggal minta ijin ke guru bp," ucap Doni berusaha menampakkan wibawanya.
Mikaela tergagap. Saking gugupnya dia melepaskan pegangannya pada dahan pohon.
"Aah," kaget Mikaela karena dia hampir jatuh tapi Doni dengan cepat meraih tangannya hingga tubuh Mikaela menubruk dada Doni yang tegap. Jantung Mikaela kembali berdetak ngga menentu karena kini malah dirinya menempel dengan tubuh kepsek idola sekolahnya.
"Kamu itu kalo ngga bisa manjat, jangan manjat," omel Doni sambil menggelengkan kepalanya.
"Gara gara bapak," bantah Mikaela kesal setelah kekagetannya hilang.
Doni tersenyum miring.
Beraninya ngga minta maaf.
"Kamu turun sama saya," kata Doni dengan satu tangannya merangkul punggung Mikaela untuk membawanya turun.
Ada gelenyar aneh saat Doni tanpa sengaja telah menyentuh salah satu gunung kembar siswinya saat memeluk punggungnya.
Tapi Doni berusaha tetap tenang sambil bergerak menuruni pohon.
Gue bukan pedofil, batinnya berulang ulang.
Akhirnya mereka menginjakkan kaki ke tanah juga dengan posisi masih berpelukan. Mikaela tanpa sadar memeluk leher kepseknya erat.
Doni bisa merasa senjatanya mulai mau naik, karenanya dia cepat cepat melepaskan pelukan mereka.
Mikaela yang tersadar pun melepaskan belitan tangannya di leher Doni. Jantungnya masih saja seperti habis lari maraton.
"Kamu mau kemana?" tanya Doni sambil menatap manik mata siawinya dalam.
"Kakak angkat saya kecelakaan bersama keluarganya. Dia masih dinyatakan hilang. Saya ingin keluar mencarinya," kata Mikaela jujur. Gestur tubuhnya ngga tenang karena dia merasa sangat cemas.
"Baiklah, saya akan mengantarmu pulang," kata Doni mengerti lalu menarik tangannya menuju ke parkiran. Beberapa guru yang melihat mereka sampai menahan nafas saking ngga percayanya melihat kepsek idola mereka menggandeng Mikaela. Siswi yang terkenal badung dan bar bar.
Mikaela terus mengikuti langkah kepseknya dengan jantung yang terus bertalu. Wajahnya terasa panas. Belum ada satupun cowo di dunia ini yang berani memaksanya. Tetapi kepsek ini sangat berani. Dia terus menarik tangan Mikaela hingga mereka sampai ke parkiran.
"Ayo naek ke mobilku. aku ingin tau, kamu beneran jujur atau engga," perintah Doni sambil membukakan pintu penumpang.
Mikaela mendelik kesal pada Doni yang tetap berekspresi datar. Dengan kesal, dia pun menurut.
"Saya ngga bohong," sangkalnya judes.
"Kita akan buktikan," tukas Doni dingin.
Gila, gue ini kepala sekolah. Ngga ada hormat hornatnya, batin Doni sewot.
Mikaela ngga menjawab. Setelah mengunci pintu mobilnya, Doni berjalan cepat memutar kap depan mobilnya dan akhirnya membuka pintu mobilnya sendiri.
"Katakan alamat rumah kamu dimana?"
Dengan malas Mikaela menyebutkan alamat mansion Erika.
Doni agak terkejut mendengarnya. Dia ingat berita viral pagi ini juga terjadi di dekat alamat rumah siswi bar bar nya.
"Siapa nama kakak angkat kamu?" tanya Doni sambil fokus menyetir.
"Erika."
"What?? Are you kidding me?"
Doni kembali merutuki mulutnya yang jadi latah seperti Irfan kalo kaget.
"Erika yang tadi pagi kecelakaan?" tanya Doni ingin memastikan.
"Ya, pak," sahut Mikaela dengan suara serak karena menahan tangisnya.
"Oh, My God," latah Doni lagi saking kagetnya dan menatap Mikaela ngga percaya.
__ADS_1