
"Gimana rasanya dicampakkan?" kekeh Eri menyindir Fino yang ketangkap basah sedang menatap Rosa. Rosa saat ini sedang berkunpul dengan orang tua Zaki, juga bersama pasangan Toni.
Fino ngga menyahut.
Apa Rosa sudah move on darinya? batinnya masih saja belum.bisa percaya. Belum ada sebukan mereka memutuskan break sementara.
"Gue khawatir sama Vandra," bisik Toni yang ikut gabung bersama Eri dan Fino.
Ketiganya melirik Vandra yang sedang berdua dengan Clara. Tadi Vandra mengobrol sebentar dengan koleganya, tapi ketika akan kembali bergabung bersama mereka, Clara lagi lagi mencegatnya.
"Lo kok bisa sama Clara," kesal Eri menyalahkan Fino.
"Clara dan gue kerja sama. Gue juga baru tau karena awalnya kliennya papa," jelas Fino.
"Kakaknya yang minta gue nemenin dia," sambung Fino lagi ketika dua temannya hanya memdengatkan tanpa berkomentar.
"Lo masih ada perasaan dengan dia?" tanya Eri penuh selidik.
"Sama Clara maksud gue," tanyya Eri lagi, memgoreksi pernyataannya barusan.
"Gue bingung. Jujur, mata gue suka lihat dia. Dia cantik banget," aku Fino jujur.
"Sialan," maki Eri gedek, Toni malah tertawa..
Dalam hati Toni juga setuju dengan perkataan Fino. Clara cantik banget.
Hanya Vandra yang matanya juling, arahnya cuma ke Mia aja, batinnya lanjut tertawa.
"Coba lihat wajah Vandra, dia kelihatan kesal. Harusnya Lo jaga dia jangan ke Vandra. Dia kan pasangan Lo," tukas Eri menyalahkan.
"Dia punya kaki, terserah kemana saja dia pergilah," tepis Fino sarkas.
"Susah Lo diomomgin," sungut Eri.
"Sabar," kata Toni menyabarkan Eri sambil menepuk pundak Eri berkali kali.
Bukannya Fino ngga ngerti perkataan Eri, tapi dia sedang mengetes perasaannya, sesuai yang dikatakan Ando.
Fino lagi menimbang, perasaannya sekarang lebih condong ke Clara atau Rosa.
Dulu waktu Rosa masih mengejar Vandra, Fino biasa saja. Kemudian selama bertahun tahun bersamanya karena pertunangan yang dipaksa, dia merasa mereka hanya dekat karena terbiasa. Saat Rosa memutuskan untuk break, Fino mulai merasa ada yang hilang. Kehadiran Clara yang dia pikir bisa menutupi ruang kosong dalam hatinya, ternyata ngga berarti apa apa.
Sekarang melihat Rosa begitu dekat dengan Zaki dan keluarganya, hatinya panas. Apalagi Rosa seperti ngga menganggap mereka pernah ada hubungan.
Vandra yabg sudah selesai mengobrol dengan salah satu koleganya menghentikan langkahnya karena melihat Clara sudah berdiri di depannya.
"Van," panggil Clara lirih. Matanya menatap.penuh cinta dan rindu.
Vandra ngga menjawab. Dia melamgkahkan kakinya melewati Clara.
"Kita ngobrol sebentar ya," pinta Clara memohon.
"Sorry, gue sibuk," tolak Vandra tetap melangkah.
Tapi Clara nekat. Dia meraih tangan Vandra membuat laki laki yang dipujanya menatapnya kesal.
"Maaf, cuma sebentar," mohon Clara hampir menangis.
Vandra melepaskan tangan Clara yang memegang tanganya pelan. Walau Vandra berhati kaku, dia ngga tega melihat perempuan yang hampir menangis.
"Jangan permalukan dirimu lagi. Dulu aku menyelamatkanmu hanya ingin menolong saja. Ngga lebih," tukas Vandra mencoba memberi pengertian.
__ADS_1
"Aku tau," ucap Clara sambil menahan air matanya yang akan mengalir. Hatinya tetap saja terguncang mendengar perkataan jujur Vandra. Walaupun dia sudah menyadari sejak lama.
"Aku mencintai Mia, jauh sebelum mengenalmu," tandas Vandra lagi.
"Kalo misalnya kita ketemu lebih dulu, sebelum kamu ketemu Mia, apakah kau akan menyukaiku?" tanya Clara sambil menatap Vandra dengan matanya yang basah.
"Enggak," tegas Vandra.
Clara menatap Vandra dengan tatapan terkejut hingga air matanya mengalir pelan.
Vandra berbalik pergi, meninggalkan Clara yang kini menghapus air matanya dan juga melangkah gontai berlawanan arah dari Vandra.
Tapi ngga lama kemudian suasana pesta heboh karena Clara ambruk dan pingsan. Fino, yang melihatnya langsung berlari menghampiri Clara, karena Vandra sama sekali ngga peduli. Zaki sebagai tuan runah juga mendekati Fino yang sudah mengangkat tubuh Clara ala bridal.
"Bisa pinjam kamar hotel dan panggilkan dokter?" tanya Fino langsung pada Zaki yang cepat menganggukkan kepalanya.
"Tentu, ayo," kata Zaki sambil menuntun Fino ke lift. Matanya melirik pada punggung Vandra yang terus menjauh dengan beragam pertanyaan.
Zaki juga tau cerita lama tentang Clara dan Vandra. Tapi kenapa Vandra secuek itu.
"Aku yang akan ngecek keadaannya," timbrung Toni yang sudah berada di samping Zaki.
Zaki menganggukkan kepalanya. Dia nanti akan bertanya kenapa calon jodohnya bisa bersama Toni, teman SMAnya.
Sambil menggendong Clara, Fino menatap sekilas pada Rosa yang ternyata menyorot kesal padanya.
Maaf aku terpaksa, batin Fino.
Melihat Clara jatuh pingsan setelah nampak terhuyung memegang tiang, membuat hatinya ngga tega. Tadi pun Eri dan Toni berlari bersamanya. Sementara Vandra seolah ngga mendengar, terus berlalu begitu saja.
"Lo ngomong apa sama Clara, Van?" tanya Eri sedikit kesal melihat kecuekan Vandra. Untung kepanikan dalam pesta cepat teratasi karena kepintaran sang MC memgembalikan suasana pesta. Lagian ngga semua memperhatikan. Karena sedang sibuk dengan urusan masing masing. Tetap saja saja dalam pesta, lobi lobi kerja sama terjadi. Kejadian Clara hanya hanyalah gangguan sesaat.
Bukan dia ngga mendengar suara jatuhnya gadis itu ke lantai. Tapi dia ingin Clara tau, kalo dirinya ngga berarti apa apa untuk Vandra. Jangan mengharapnya lagi.
"Van," ketus Eri kesal karena Vandra hanya diam saja.
"Apa?" tanya Vandra juga ketus.
"Lo ngomong apa sampai Clara semaput," sambar Eri masih ketus.
"Gue bilang, dia ngga ada artinya buat gue," pungkas Vandra sambil berlalu meninggalkan Eri yang menghembuskan nafas kasar sambil menghentakkan kakinya dengan kesal.
Vandra ngga bisa di salahkan. Eri pun ingat saat Sandrina ataupun Arabela dulu mengejarnya. Sangat tidak mengenakkan berada dalam situasi seperti ini.
*
*
*
"Dia ngga apa apa," kata Toni setelah memeriksa keadaan Clara.
"Syukurlah," kata Zaki lega.
"Kalian saling kenal?" tanya Misela sambil menatap dokter Toni, juga gadis yang bersama calon jodohnya dan laki laki tampan yang menggendong gadis yang pingsan itu penuh selidik.
"Ya," sahut Toni, karena ngga ada yang menjawab.
"Kita harus bicara," kata Fino sambil menarik tangan Rosa agar mengikutinya.
Karena ngga mau terjadi keributan, Rosa terpaksa mengikuti Fino. Tadinya dia enggan mengikuti kemana Fino akan membawa Clara. Tapi dia canggung berada di antara keluaraga Zaki dan calon istrinya. Makanya Rosa pun mengikuti Zaki, demikian juga Misela yang mengekorinya tanpa kata.
__ADS_1
"Loh, kok, gadis itu pergi dengan yang lain? Bukan sama kamu, Zak?" tanya Misela ngga bisa menyembunyjkan rasa heran dan bingungnya.
"Mereka ada urusan." Lagi lagi Toni yang menjawab, karena Zaki hanya diam saja.
"Mungkin kalian berdua juga ada urusan yang sama seperti mereka yang barusan pergi," sindir Toni membuat Zaki menoleh menatapnya.
"Kalian saling kenal?" tanya Zaki akhirnya pada Toni.
"Kami kerja di rumah sakit yang sama," jelas Toni.
Misela diam saja sambil memperhatikan gadis yang masih pingsan itu. Wajahnya sangat cantik, tapi sepertinya habis menangis. Gadis secantik ini patah hati sampai pingsan? Misela menggelengkan kepala. Bodoh sekali laki laki yang mensia siakan si cantik ini.
"Ooo."
Keduanya menatap Clara ketika gadis itu mulai membuka matanya. Clara nengerjapkan matanya untuk memperjelas penglihatannya.
"Toni?" ucapnya lemah.
"Ya. Tadi kamu pingsan," terang Toni kemudian tersenyum kecil.
Brengsek, Vandra. Kenapa Ami ngga seperti Clara, makinya dalam hati. Mengingat sifat cuek adik Fino. Beda sama abangnya yang hobi galau.
"Maaf, mengganggu acara," tutur Clara lembut sambil berusaha duduk. Misela membantunya.
"Jangan dipikirkan. Yang penting kamu ngga apa apa," ucap Zaki mengerti. Sangat mengerti. Walaupun sekaramg dia sudah bisa menerima kalo Mia bukan untuknya, tapi perasaan itu sedikitnya masih ada.
"Biar aku yang antar kamu pulang," kata Toni berinisiatif. Saat ini Toni yakin, Fino sedang bicara sangat penting dan moodnya pasti lagi ngga oke.
"Tadi aku sama Fino."
"Fino tadi yang menggendong kamu. Tapi dia sudah pergi, ada urusan," terang Toni lagi.
Clara merasa kerongkongannya pahit.
Ternyata bukan Vandra, batinnya sedih. Sangat sedih dan makin terluka.
"Bro, gue titip Misel ya," kata Toni sambil melihat Clara berdiri.
"Aku bisa pulang sendiri," tolak Misela.cepat membuat alis Zaki terangkat ke atas.
"Udah malam. Anak perawan ngga boleh pulang sendirian," cibir Toni kemudian meraih lengan Clara yang masih lemah.
Dokter Misela mencebikkan bibirnya kesal.
Zaki hanya tersenyum.
"Oke. Kalian hati hati," ucap Zaki ketika melepas keduanya pergi.
"Oke," tanggap Toni sambil mengedipkan sebelah matanya pada Misela yang masih menatapnya kesal.
"Terimakasih," ucap Clara lembut sebelum pergi bersama Toni.
Kini tinggallah Zaki bersama dokter Misela, berdua di kamar.
"Orang tua kita sudah menunggu," ucap Zaki sambil menatap Misela, menunggu respon calon jodohnya.
"Apa kamu mau kita ketahuan berada di kamar berdua saja?" pancing Zaki sambil menyeringai, menambah ketampanannya.
"Iiih,,,, enggak lah," tolak Misela sambil berjalan cepat meninggalkan Zaki.
Zaki tersenyum lebar sambil menyusul calon jodohnya, berjalan tenang di belakangnya.
__ADS_1