
"Ada apa kamu menemui Om, Erika?" tanya Om.Halim heran. Ini kali keduanya Erika datang ke kantornya. Tadi pagi sama.sekarang, malam hari.
"Entahlah Om. Hatiku rasanya ngga tenang saja," kata Erika sambil mendudukkan dirinya di kursi di depan meja Om Halim.
"Apa karena perjodohannu?" kekeh Om Halim.
Beliau tau, Erika agak keberatan dijodohkan. Apalagi Erika belum mengenal calon imamnya sama sekali.
Erika tersenyum kaku.
Rasanya bukan itu, batinnya dalam.hati.
"Percaya saja pada oma oma dan opa opa mu. Pasti mereka sudah memilih yang terbaik buatmu," kata Om Halim bijak.
"Iya Om," kata Erika patuh.
Hening.
Sepi.
"Om, tolong jaga perusahaan papa selama Erika pergi ya," katanya membuat Om Halim menatapnya aneh. Perasaannya sedikit terusik.
"Kamu hanya liburan," tukas Om Halim berusaha santai dan membuang jauh pikiran buruknya.
Ada sesuatu yang mengganggu di dalam rongga dadanya karena perkataan anak sahabatnya itu.
"Om tau kan, Aku ngga pernah pergi lama ninggalin perusahaan," kata Erika setengah merajuk.
"Hanya dua minggu, Erika," kekeh Om Halim mulai mengerti kegundahan Erika.
Rupanya dia hanya ngga tenang ninggalin perusahaannya lama lama, pikir Om Halim geli. Padahal Om Halim sempat berpikir yang nggak nggak melihat sikap Erika.
Erika tersenyum tipis tapi tetap saja hatinya masih gelisah. Padahal Erika sengaja datang menemui Om Halim agar perasaannya bisa tenang seperti biasanya. Tapi kali ini ada yang beda. Entah apa.
*
*
*
Jam empat lewat tiga puluh menit di subuh hari, tiga iringan mobil keluar dari gerbang mansion mewah milik Danutirta. Sesuai kesepakatan dulu, Anastasia meminta sejumlah uang pengganti atas kepemilikan rmansion yang sekaramg sudah menjadi milik sah Erika.
"Cucu teman Oma itu ganteng, pintar karate. Umurnya lebih tua empat tahunan gitulah dari kamu," jelas Oma Swasti.
"Iya, dia juga sama seperti kamu, ngga ingat cari pendamping, sibuk kerja terus," canda Oma Widya yang membuat mereka tertawa.
"Opa jamin, kamu sama dia pasti saling suka. Dia pun kalo ketemu kamu pasti langsung suka. Cucu opa cantik banget," puji opa Rahmat senang.
"selain cantik, baik, pekerja keras, ngga ada cacatnya," tambah Opa Heri yang disetujui senua yang ada di mobil termasuk pak supir mereka.
"Cucu teman opa juga tampan banget. Beberapa kali juara nasional karate. Kamu akan aman kalo dengan dia," timpal Opa Rahmat penuh semangat.
Erika tersenyum senang melihat kebahagiaan di wajah kedua opa dan omanya. Pak supir yang sudah seumuran dengan opa opanya pun juga tertawa senang. Erika sangat bahagia mendengarnya. Calonnya nanti bersama keluarganya akan menunggu mereka di bandara.
Mansion mereka terletak agak jauh di luar kota dan butuh waktu cukup lama untuk sampai ke sana. Karena itu mereka berangkat setelah shalat subuh.
DOORR!
DOORR!
DOORR!
DOORR!
PRAANGGG!
PRAANGGG!
__ADS_1
Mobil menjadi oleng karena tembakan yang bertubi tubi menghantam ban dan kaca depan mobil mobil Erika dan pengawal pengawalnya.
Suasana riang genbira menjadi panik seketika. Jeritan jeritan oma omanya yang ketakutan membuat Erika mengeluarkan senjatanya. Begitu juga opanya.
"Pak Syukri, hati hati," teriak Opa Rahmat yang duduk di depan.
Mobil pengawal mereka yang memjaga di belakamg merangsek maju untuk melindungi mobil tuan besar mereka. Baku tembak pun terdengar memekakkan telinga.
"Ban kita kena," seru Opa Heri ketika mendengar bunyi letusan ban yang pecah akibat ditembak peluru.
"Kalian merunduk," teriak Opa Rahmat memberi perintah.
"Nunduk Oma," teriak Erika sambil melirik ke samping kanan mereka. Jurang yang biasa terlihat indah kini tampak menyeramkan.
Erika dan Kedua omanya saling menatap dengan panik.
"Kamu harus hidup," seru Oma Widya walaupun pikirannya kalut.
"Benar kamu harus hidup. Aaahh," seru Oma Swasti sambil. merunduk.
Sementara para pengawal Erika menemukan lawan yang ngga seimbang. Musuh terlalu banyak.
"Aahh," teriak Pak Syukri sambil memegang dadanya yang terkena tembakan.
"Pak Syukri! Aaahhh," seru Opa Rahmat yang juga terkena tembakan di dada.
"Pak Syukri! Papa," teriak Oma Swasti kalut dan panik melihat suami dan supir mereka kena tembakan.
Tiba tiba mobil bergetar.
Erika dan Opa Heri saling pandang dengan debaran di rongga dada yang ngga menentu.
"Apalagi ini," desis Opa Heri sambil menatap ke depan. Jantung Opa Heri langsung berpacu sangat kencang begitu tatapannya melihat ke depan kaca mobil yang sudah pecah.
Ternyata yang membuat mobil bergetar karena datangnya sebuah buldoser yang langsung menghantam mobil pengawalnya yang berada di paling depan.
Oma Swasti meraung mendapati suaminya-Opa Rahmat sudah ngga bergerak.
Air mata Erika mengalir dengan deras. Pak Syukri dan Opanya sudah ngga bergerak, dan stir mobil bergerak ke arah kanan tanpa ada yang bisa mengontol dalam suasana hiruk pikuk dan kepamikan yang luar biasa. Mobil semakin mendekati bibir jurang.
"Aaahhh, kita akan jatuh ke jurang. Berpegangan!" teriak Opa Heri sambil melindungi istrinya dan besannya sambil terus menembak bersama Erika.
"Allahu Akbar!"
"Innalillahi!"
"Ya Allah!"
Buldoser terus merangsek mobil yang dia tabrak hingga mendoromg dua mobil di belakamgnya.
"Erika, kamu ... harus ...hidup!" ucap Opa Heri terbata bata karena punggungnya terkena tembakan.
Air mata Opa Heri mengalir, begitu juga dengan kedua omanya dan Erika.
"Pegang pistol Oma, Aaahhh," teriak Oma Swasti sambil mengepalkan pistolnya ke tangan Erika.
"Bener sayang. Kamu harus hidup," seru Oma Widya demgan nafas tersengal.
Kembali terdengar suara teriakan dari dalam mobil karena mobil mereka pun akhirnya terguling guling bersama mobil mobil pengawalnya, masuk ke dalam juramg yang terjal.
Mobil terus terguling guling. Oma Widya dan Oma Sasti dengan nekat melindungi Erika dari guncangan dan pecahan kaca yang masuk ke dalam mobil.
Hati Oma Swasti dan Oma Widya hancur sudah melihat suami suami mereka yang sudah ngga bersuara dan ikut berguling ke sama kemari menghantam kaca dan dinding mobil.
"Opa," desis hati Erika pilu melihat kedua opanya dan Pak Syukri yang sepertinya sudah kehilangan nyawa.
"Omaaa! Jangaaan!" teriak Erika sambil menangis karena kedua omanya benar benar melindungi dirinya dari hantaman mobil maupun serpihan kaca yang berterbangan pada batu batu yang berada di dinding jurang.
__ADS_1
"Kamu ... harus ... tetap ... hidup, nak.... kamu ... keturunan ... terakhir .... keluarga .... kita ....," kata Oma dengan nafas tersengal sengal sambil menahan tubuh cucunya di bawah tubuhnya dan tubuh besannya.
"Benar ... sayang ... kamu ... harus .... tetap .... hidup," lanjut Oma Widya susah payah.
Saat ini kedua omanya benar benar berusaha sekuat tenaga dan terus memanjatkan do'a semoga masih diberikan kekuatan untuk melindungi cucu kesayangan mereka. Cucu satu satunya yang selalu berbakti.
"Kamu ... harus ... hati .... hati ... dengan .... anas ... tasia," tambah Oma Swasti memperingatkan. Entah memgapa hatinya memintanya untuk mengatakan itu pada Erika.
Erika terhenyak.
Apa mungkin?
Karema harta?
Erika benar bemar menyalahlan dirinya. Dirinya ngga butuh segala harta, dirinya hanya menginginkan oma oma dan opa opanya.
"Oma .... Swasti .... benar....," ucap Oma Widya dengan nyawanya yang sepertinya sudah hampir hilang.
Akhirnya mobil pun berhenti berguling.
"Oma. Omaa...." tangis Erika sambil mengguncangkan tubuh kedua omanya yang ngga lagi bergerak. Saat ini Erika terhimpit tubuh keduanya yang tangan keduanya sudah terkulai lemah.
"Opa. Pak Syukri! Tolong!" teriak Erika dalam raung tangisnya yang memilukan.
"Uhuk ... uhuk ...."
"Oma!" seru Erika sambil mencium pipi Oma Swasti yang baru saja terbatuk.
"Dengar ... kamu ... harus ... selamat .... uhuk ... uhuk," kata Oma Swasti dengan menahan sakit di dadanya.
"Oma, jangam ngomong lagi. oma harus hidup. Untuk Erika, Oma," ucap Erika panik denga air matanya yang tambah deras mengalir.
Erika tau, Omanya ngga akan bisa bertahan lama lagi. Itu yang membuat hatinya pedih.
"Ingat ... sayang ... namanya ... Arven," kata Oma kemudian menutup mata dengan bibir yang tersenyum. Seakan akan suami, besan dan supirmya, sedang menunggunya untuk segera pergi.
"Omaaaaa!" jerit Erika. Dia meraung. Erika memeluk kedua Omanya sambil menatap kedua Opanya yang sudah lebih dulu pergi.
BRAAKK!
"Nona, ayo keluar!" ucap salah satu pengawalnya yang berhasil membuka paksa pintu mobil.
"Pak Oding," isak Erika dalam tangis kerasnya.
"Ayo nona, kita harus cepat," teriak pengawalnya yang lain yang selamat.
"Pak Samir," isak Erika penuh syukur, karena masih ada yamg selamat dari kejadian mengerikan ini.
"Ayo, nona," ucap keduanya sambil membantu Erika keluar dari dalam mobil.
"Kita harus cepat nona."
Keduanya kini sudah berhasil membawa nonanya keluar.
"Kami sudah mengirimkan sinyal sos ke Pak Halim, nona," lapor Pak Oding sambil menatap sedih pada tuan dan nyonya besarnya yang sepertinya sudah tidak bernafas lagi. Begitu juga pada rekannya Pak Syukri. Teman teman mereka pun yang ikut mengawal nonanya, sepertinya juga ngga ada yang selamat. Hanya tinggal mereka berdua yang memikul tanggung jawab untuk menyelamatkan nonanya sampai akhir.
"Pak Oding, Pak.Samir! AWAAASS!" seru Erika yang melihat beberapa buah granat meluncur ke arah mereka.
Secepatnya ketiganya melompat ke sungai yang nggak jauh dari tempat mereka berdiri.
BYUUURRR!
DUAARR!
DUAARR!
DUAARR!
__ADS_1
Mobil mobil yang terkena lemparan granat pun meledak dengan dahsyat. Asap hitam membumbung tinggi ke langit.