
Mia tersenyum lega melihat Vandra keluar dari mobil yang berhenti kemudian pergi lagi.
Vandra pun tersenyum senang dan bergegas menghampiri istrinya yang sudah ngga tenang di depan pintu sebuah butik ternama.
"Vandra, kalian ngga apa apa, kan?" tanya Mia ikut menghampiri Vandra yang langsung merengkuhnya dalam pelukan.
"Syukurlah, kita semua selamat," ucap Vandra lembut.
"Aku khawatir sama kamu," Mia berucap sambil menyandarkan kepalanya di dada Vandra. Sedari tadi dia cemas. Baby mereka untungnya tetap tenang di perutnya.
"Baby kita ngga rewel, kan?" tanya Vandra sambil mengusap perut babynya.
"Dia baik baik saja," balas Mia tetap masih betah di dada Vandra. Perasaan takut dan cemasnya sirna perlahan. Dia sangat khawatir tadi.
"Di dalam udah ada siapa?" Vandra pun mengurai pelukannya.
"Kak Rasya sama anak anak. Oma juga ada. Oiya, Abhi gimana?" Mia teringat ponakannya yang membuat Vandra harus membuatnya sangat cemas.
"Dia keserempet. Sekarang di rumah sakit. Tapi tenanglah, sudah ngga apa apa," jelas Vandra ketika melihat kepanikan istrinya.
"Syukurlah. Kapan kita akan melihatnya?" tanya Mia sambil menyandarkan kepalanya ke bahu Vandra. Vandra pun merengkuhnya. Mereka berjalan pelan ke arah butik.
"Setelah ini," ucap Vandra yang menghentikan langkahnya melihat seorang gadis cantik keluar dari pintu butik yang barusan dibukanya.
Gadis itu terpana melihat Vandra sebelum kemudian tersenyum. Di sebelahnya ada Nesa, sepupu Mia.yang belum berubah juga sifat juteknya pada Mia.
"Kamu mau beli gaun juga?" tanya Nesa julid
"Iya," jawab Mia tenang.
Vandra meneruskan langkahnya.
"Kamu sudah lupa sama Clara?" pancing Nesa ingin membuat panas hati Mia.
Mia sampai menghentikan langkahnya dan menoleh menatap gadis di sebelah Nesa yang juga menariknya pergi. Tapi Nesa tetap tegak mematung.
Clara yang dulu? Seingat Mia, setelah lulus SMA, Nesa memilih kuliah di tempat yang sama dengan Clara. Dia lebih mengakui Clara dari pada dirinya yang jelas jelas sepupunya.
"Maaf," ucap Clara lembut sambil mengulaskan senyum pada Mia. Sementara Vandra, menoleh pun enggak.
"Ayo, Nes," lanjutnya sambil menganggukkan kepalanya dan menarik paksa Nesa agar cepat pergi sebelum nyinyir lagi.
Mia mengikuti langkah Vandra sambil menatap punggung tetap suaminya.
Gadis itu cantik sekali. Benarkah Vandra ngga ada perasaan apa pun dengannya? batin Mia sangsi.
"Kamu jangan mikir yang aneh aneh.," ucap Vandra sambil menoleh pada Mia. Tersenyum lembut. Seakan tau yang ada di dalam hati Mia.
"Tapi dia cantik banget," rajuk Mia tiba tiba insecure. Sejak hamil perasaan rendah diri begitu mendominasi.
"Kamu lebih lebih cantik," jawabnya sambil mengecup kening Mia dan berjalan masuk ke dalam butik.
__ADS_1
Jantung Mia semakin berdebar ngga menentu mendapatkan perlakuan lembut Vandra.
Clara yang masih menatap keduanya di pintu mobil menarik nafas panjang.
"Aku juga heran Vandra bisa betah dengan Mia. Padahal cantikan kamu dimana mana," cerocos Nesa sebal sambil masuk ke dalam mobil.
Clara hanya tersenyum getir. Padahal dia sudah berusaha melupakan Vandra. Sekian tahun ngga bertemu, tapi sekalinya bertemu, pertahanannya jebol. Dia masih mencintai Vandra.
Hatinya tambah terluka melihat kehamilan Mia. Vandra sudah bahagia.
*
*
*
"Fino, sampai kapan kita seperti ini?" tanya Rosa ketika mereka sedang ngopi di kafe favorit mereka.
Dia bingung dengan ikatan mereka yang ngga jelas. Juga cincin yang melingkar di jarinya, membuatnya seperti terpenjara tanpa membuat batas waktu yang pasti.
"Maaf," kata Fino pelan.
Orang tua mereka sudah membebaskan mereka. Tapi karena kesibukan akhirnya mereka lupa. Pernikahan Eri dan besok pernikahan Aldi membuat keduanya mulai memikirkan kembali keputusan nenek dan kakek mereka yang sudah tiada.
Rosa cantik dan menarik. Tapi perasaannya masih datar aja. Sepertinya Rosa sudah move on dari Vandra. Malahan Rosa cukup akrab dengan Mia. Dirinya sendiri ngga tau. Apakah sudah move on dari Clara atau belum. Sudah lama.dia ngga bertemu gadis itu. Ingin dicarinya sesuai informasi dari Eri, tapi seolah ada batu yang memberatkan hati dan langkahnya.
Apakah gadis itu masih belum move on dari Vandra?
Fino terdiam. Ada benarnya juga yang dikatakan Rosa. Pertunangan ini seakan menjadi beban buatnya. Apalagi keduanya sempat menyukai orang lain. Dan dia sendiri masih mengingat Clara sampai sekarang.
"Tapi kamu ngga apa apa?" Fino merasa menjadi laki laki brengsek. Memberikan ikatan tapi kemudian melepaskan begitu saja. Berapa banyak waktu yang sudah dibuang Rosa karena cincin polos di jari manisnya.
Fino malah terhenyak melihat Rosa yang terkekeh dengan ekspresi santainya.
"Ya enggak lah," selanya dalam derai tawanya.
Fino tersenyum melihatnya. Gadis di depannya lebih dewasa kini.
"Hai," sapa Nesa membuat keduanya menoleh.
Mata Fino seakan menancap dalam ke mata Clara yang tersenyum di samping Nesa.
"Kalian?" ujar Rosa agak sinis. Teringat perseteruannya dulu dengan Clara karena memperebutkan perhatian Vandra.
"Bisa kami bergabung?" tanya Nesa tanpa peduli sambil menggeser kursi membuat Rosa mendelikkan matanya.
"Kita ke sana aja, Nes," ucap Clara lembut sambil menepuk bahu Nesa.
Rosa melirik Fino yang masih terpaku melihat Clara. Gadis yang belum membuat Fino move on, batin Rosa getir.
Inilah yang membuat Rosa ingin melepaskan Fino dari keterpaksaannya menikahi dirinya.
__ADS_1
"Duduk aja," undang Rosa lembut. Dia akan memberikan Fino kesempatan untuk mendapatkan gadis yang dicintainya. Jika Fino bukan jodohnya, ya sudahlah. Untuk apa memaksakan hati. Paling dia hanya akan menangis semalam saja. Menyesali tahun tahun yang terbuang sia sia. Tapi dia malah akan lebih beruntung, karena akan menyelamatkan puluhan tahunnya di masa depan.
Jangan sampai menikahi laki laki yang sudah memberikan seluruh hatinya pada orang lain. Dia sama sekali ngga akan mendapatkan sisa apa apa, kecuali empedu yang sangat pahit.
Fino berdehem berusaha menstabilkan perasaan anehnya. Dia sangat kaget melihat Clara yang tiba tiba ada di depannya.
"Duduklah," ulang Fino kemudian menyesap kopinya.
"Kalian juga diundang?" tanya Rosa sambil menatap Clara. Gadis ini sangat cantik dan lembut. Apa Vandra sama sekali ngga tertarik? Rosa malah berpikir lain. Dia teringat ketika Vandra lebih memilih menyelamatkan Clara dibandingkan dirinya. Sangat menyeballkan untuk diingat.
"Almarhum papa Aurelia sahabat papaku," jelas Clara sambil memundurkan punggungnya ketika seorang pelayan mengantarkan kopi pesanam dia dan Nesa.
"Dunia ternyata kecil, ya," kekeh Rosa geli.
Clara tersenyum tipis.
"Tadi kami ketemu Vandra di butik. Vandra tetap ngga bisa bohong kalo pernah suka sama Clara. Kasian juga sepupuku," kekehnya dengan nada mengejek.
Fino dan Rosa saling pandang. Mereka tau kalo Nesa ngga pernah menyukai Mia. Tapi yang dikatakannya sama sekali ngga masuk akal.
Kalo terkesima mungkin, sepeeti dirinya, batin Fino menduga.
"Nesa, ngomong apa, sih," tukasnya dengan nada agak ditekan.
"Aku benarkan? Tadi Vandra sempat bengong menatap kamu," ngeyel Nesa.
Rosa ingin membantah, ngga tahan mendengar omongan Nesa. Tapi Fino menahan tangannya dengan lembut.
"Wajarlah. Kami juga sempat kaget melihat kalian. Sudah lama sekali kita ngga ketemu, ya," pungkas Fino sekaligus membela dirinya sendiri.
"Entahlah. Hanya Vandra saja yang tau," ucap Nesa tetap ngeyel.
Fino ngga menjawab. Wajar kalo dia dan Vandra sempat terpaku, Clara bertambah tambah cantiknya. Hati Fino sibuk menebak isi pikiran Vandra.
Rosa dan Clara menyesap kopi mereka tanpa mau mempedulikan omomgan Nesa.
"Setelah ini kalian akan menikah?" tanya Nesa mengganti topik pembicaraan.
"Belum sekarang," tukas Fino membuat Rosa heran.
Kenapa dia ngga bilang kalo udah batal, sungut Rosa dalam hati.
"Sampai kapan kalian akan bertunangan?" tanya Nesa kepo sambil menggelengkan kepalanya.
"Bukan urusanmu," tandas Rosa tegas.
"Sorry," kekeh Nesa ringan.
"Aku iri melihat kalian, masih tetap kompak. Anak anak SMA ku dulu ngga tau pada kemana. Memamg Ando, Dio dan Bagas masih sering kumpul," keluh Nesa.
"Kita kan juga," ucap Clara lembut.
__ADS_1
"Ya, itu yang aku syukuri," kekeh Nesa lagi.