
Pesta ulang tahun anak kedua Ilham dan Luvi ngga main main. Mereka menggunakan salah satu hotel Emir yang tentunya gratis untuk memanjakan para undangan.
Yang diundang pun hanya teman dekat mereka yang sudah sukses semua. Tepatnya ini adalah acara reuni keluarga besar dan teman teman mereka. Dan acara spesial penyambutan kembalinya Eri.
"Ma, Om Eri kok belum datamg," ucap Melia gelisah karena om kesayangannya belum datang.
"Kan ada om Aldi," kata Aldi gemas karena selalu kalah saing dengan Eri dalam hal kasih sayang Melia.
"Eh iya, cuma ada yang kurang Om," ucap Melia dengan bibir yang tersenyum lucu.
"Kemana dia belum datang juga," kata Luvi gemas.
"Sabar," kata Ilham menenangkan Luvi.
"Aku telpon ya Bang," kata Vandra menawarkan diri.
"Iya Van," sahut Ilham setuju.
"Kak Luvi, aku ngga bisa lama lama ya," kata Angel juga resah. Dia belum siap ketemu Eri.
"Kenapa? Deg degan ya," goda Luvi mulai kumat isengnya.
"Bukan kak, ada presentasi buat besok yang belum aku cek," bohongnya sungguh sungguh agar dipercaya.Luvi dan diijinkan cepat cepat pulang.
"Alaa,,,, diundur aja jadwal presentasinya," jawab Luvi ringan.
"Kamu, kan, bosnya," lanjut Luvi dengan wajah menggodanya membuat Angel salah tingkah.
Apalagi teman teman Eri menatapnya dengan pandangan jahil.
"Ngga usah takut ketemu Eri," kata Mia pelan yang menyadari kegugupan Angel.
Angel hanya tersenyum. Pengen ketemu, iya. Kangen juga, iya. Tapi lebih besar rasa takutnya.
"Bukan takut, cuma ngga enak aja," dusta Angel balas berbisik membuat Mia mengangguk maklum.
Hebat juga Eri, bisa membuat Angel ngga nyaman untuk bertemu dengannya, batin Mia sambil melirik Vandra yang sedang sibuk dengan hpnya. Menelpon Eri yang belum juga datang.
Tapi Eri sekarang memang beda. Mia juga udah tau grafik perkembangan positif Eri.
"Halo cantik, ganteng. Tante sama om bawa banyak kado ni," sapa Elka yang datang bersama Emir dan rombongan bocilnya.
"Tantee,,,,," panggil Melia manja campur senang. Apalagi melihat abang kembarnya dan si kecil Malik yang memakai jas, sangat tampan dalam pandangannya.
Bersama Iqbal, Melia mendekati rombongan tantenya.
"Met Ultah, Bal. Ni mami beliin lego kapal selam buat kamu," kata Malik sambil menyodorkan hadiahnya yang disambut dengan senang oleh tangan mungil Iqbal.
"Makcih, Bang," ucap Iqbal cadel tapi terdengar sangat lucu. Om om dan tante yang ada di situ tertawa gemas termasuk Luvi dan Ilham.
"Sama sama, Bang. Ini boneka beruang buat kak Mel, ya," ucap Malik sambil menyodorkan boneka beruang sebesar dirinya yang tadi dibawakan papinya.
__ADS_1
"Aduh bagus banget. Makasih ya, Malik sayang," kata Melia langsung mencium pipi Malik yang tentu saja ditolak Malik, membuat yang melihat jadi tertawa lagi.
"Jangan cium Malik, Kak. Bukan muhrim," protesnya agak galak membuat tambah keras tawa yang lain.
Melia teraenyum miring.
"Iiih, kak Mel kan udah anggap Malik adik kakak."
"Tetep ngga boleh cium cium, Kak. Tanya aja sama Abang kembar," katanya sambil menunjuk pada si kembar yang sama datar ekspresinya.
"Abang?" tunjuk Ezra pada dirinya sendiri.
"Iya," tegas Malik.
Ezra hanya menggelengkan kepalanya.
Matanya mengarah pada Melia yang kini menatapnya.
"Nih, buat kamu," kata Ezra ngga acuh sambil memberikan boneka beruang yang ngga gitu besar.
"Buat kamu juga," lanjut Erza juga menyodorkan boneka beruangnya yang satu ukuran dan satu warna sama Ezra. Pink.
"Makasih, ya, Bang," kata Melia yang menerimanya dengan malu malu membuat Luvi menghela nafas berat.
Keliatan banget anak perempuannya suka pada si kembar. Tapi dia ngga tau yang mana yang disukai putrinya. Ezra atau Erza.
"Met ultah ya, Bal," kata Ezra sambil menyodorkan hadiah legonya.
"Met ultah juga. Ni dari abang," kata Erza juga menyodorkan hadiah legonya.
"Waaow, capal peciar. Makcih ya, Bang El," respon Iqbal makin bertambah senang.
Papinya juga membantu membawakan hadiah hadiahnya. Wajah IIqbal malam ini benar benar sangat ceria. Anak yang biasa minim ekspresi itu kini selalu memamerkan wajah penuh senyumnya.
Banyak sekali hadiah lego untuknya. Om om dan tante tante yang lain juga tadi sudah memberikan hadiah legonya.
Ilham dan Luvi memang menginfokan pada teman teman yang diundang agar membawa hadiah lego.
"Eh, itu si kunyuk," seru Fino begitu melihat si tukang terlambat yang ngga pernah berubah itu datang.
Tapi beberapa dari mereka langsung melirik Angel yang berusaha tetap berdiri tegak dengan tenang.
Eri membawa gandengan cantik yang hadir di pamerannya.
"Itu si Sandrina, kan," seru Irfan kaget.
"Iya," ucap Fino dan Igo membenarkan.
"Pasti pengen buat Angel cemburu," gelak Toni bersama Doni dan Igo. Fino dan Irfan saling tatap dengan cengiran khas mereka.
"Ngga pernah berubah mahluk transparan itu," cibir Aldi sambil menggelengkan kepala.
__ADS_1
Ya ngga mungkinlah. Udah sifat aslinya, komen Vandra dalam hati dengan seringai tipisnya.
"Harusnya dia bersyukur kalo Angel masih mau terima dia," cela Doni membuat teman temannya terus tertawa.
Eri yang melihat tawa teman teman jinnya jadi kesal. Sudah bisa ditebak, pasti dia sedang dihina abis abisan.
"Om Eri," seru Melia sambil berlari ke hadapannya dengan wajah senangnya membuat Luvi geleng geleng kepala.
Bisa bisanya putrinya mengidolakan sepupu tengilnya itu, batinnya gemas.
Eri langsung jongkok dan menyambut kedatangan ponakan cantiknya.
"Kok, telat, om," protesnya kesal.
"Tadi om ada kerjaan dikit," bohong Eri. Dia sengaja datang telat agar Angel yang menunggu kedatangannya.
Matanya melirik Angel yamg sama sekali ngga memandangnya. Hanya fokus pada hpnya. Eri jadi kesal sendiri karena Angel ternyata ngga mempedulikan kehadirannya.
Semula Eri berpikir Angel akan melototinya, bahkan meneriakinya. Atau paling engga menatap sinis padanya. Ini ngga sama sekali. Angel terlihat biasa saja.
"Ini beruang cantik buat kamu," ucap Eri sambil memberikan kadonya.
"Makasih ya Om Eri," balasnya sangat senang.
Sandrina yang sempat melihat banyaknya kado lego dan boneka beruang jadi merasa malu karena salah dalam membelikan salah satu kado.
"Maaf, tante ngga tau kalo kamu pengennya boneka beruang," kata Sandrina ngga enah hati saat menyerahkan kadonya. Boneka ikan hiu yang lucu.
"Ngga apa tante. Makasih ya," ucap Melia sopan membuat hati Sandrina lega.
Anak yang tau sopan santun. Padahal masih kecil, pujinya dalam hati.
Eri menggandeng tangan ponakannya untuk menghampiri Iqbal.
Sandrina mengikuti dari belakang sambil membatin, kenapa Eri ngga memberitau kado apa yang harus dibelinya.
"Om Eli," seru Iqbal sambil mendekatinya.
"Mana om, pecawatnya," todongnya sambil mengulurkan tangannya membuat banyak senyum mengembang karena melihat kelakuan manja Iqbal.
"Ini," kata Eri sambil memberikan kado legonya.
"Makcih, Om," serunya senang.
"Ini dari tante ya, selamat ulamg tahun," ucap Sandrina sambil memberikan kado legonya, tentang pesawat tempur F16
Untungnya Sandrina sudah membeli lego sebagai hadiah utama untuk yang berulang tahun.
"Makcih, tante," sambut Iqbal dengan mata berbinar binar.
Komplit sudah lego alat transportasinya Iqbal.
__ADS_1