Me And You

Me And You
Tuduhan Menyakitkan Hati Eri


__ADS_3

"Kalo si Arabela memang gatal. Tapi Sandrina kelihatan gadis baik baik," bisik Toni memberikan pendapatnya.


Vandra terdiam mendengarnya, tapi kemudian dia menggelengkan kepalanya.


"Eri bukan orang seperti itu," belanya berbisik juga.


"Siapa tau dia khilaf," bantah Doni ikut berbisik.


"Bukan Eri," bisik Aldi ikut membela. Apalagi dia tau tokoh bejat sebenarnya yang dibicarakan.


"Siapa? Kamu tau?" tanya Igo juga berbisik.


"Entahlah. Kalo gentle dia pasti ngaku," sindir Aldi sinis.


Irfan makin ngga tenang.


Vandra melirik Aldi tajam.


Apa dia tau sesuatu?


"Kamu tau ya," tuduh Igo langsung.


"Nggak," jawab Aldi membuat Irfan meliriknya.


"Angel bisa yakin banget sama Eri. Tuh anak dikasih apa sama Eri, bisa bucin gitu," bisik Doni kemudian melebarkan cengirannya.


Walau ngga menjawab, dalam hati Fino setuju pendapat Doni.


Apa Rosa bisa seyakin itu ngga sama aku ya, kalo aku dituduh ngehamilin perempuan di acara nikah?


Mata Fino melirik Rosa yang juga lagi kasak kusuk dengan Mia yang duduk di sebelahnya


"Eri itu cupu, alim. Aku yakin bukan perbuatan dia," bisik Vandra berusaha meyakinkan teman temannya.


"Sejak dia di Manchester, mungkin dia berubah, Van. Waktu pameran lukis itu aja, dia ganjen. Dicium sana sini sama perempuan. Perempuan berani nyium karena dia ngasih kesempatan," bisik Toni yakin dengan argumennya.


"Aku oleng, soalnya perempuannya Sandrina. Bukan Arabela yang nakal," bisik Doni menambahkan.


Sementara debat antara Luvi, Valen dan Ferdi juga memanas. Ilham hanya diam sambil menggenggam tangan Luvi agar emosi istrinya surut.


"Aku tau siapa Eri, luar dalam. Anak itu ngga mungkin ngelakuim hal itu," bela Luvi dengan menahan emosi.


Ferdi tertawa pelan.


"Luar dalam? Lo lihat dalamnya Eri," ledek Ferdi dalam tawamya.


Luvi menatap Ferdi kesal.


Udah tua tetap bodoh aja, makinya dalam hati.


"Mungkin pas mabok, trus khilaf," kata Valen memberikan pendapatnya.


"Lo mungkin. Eri ngga gitu," bantah Luvi sinis.


Valen tergelak mendengarnya. Bahkan Ferdi menepuk bahu Valen sambil terus tertawa.


"Sabar, kita cari jalan untuk nolongin Eri," kata Ilham menenangkan hati istrinya.

__ADS_1


Sandra dan Olin menatap kesal pada suami lacnat mereka yang sedang tertawa padahal suasana masih sangat tegang.


"Kadang aku berpikir, apa benar Ferdi polisi," bisik Olin kemudian menghela nafas panjang.


Sandra tersenyum mendengarnya.


"Suami kita memang agak aneh," timpalnya membuat Olin tersenyum juga.


"Om ingin melakukan tes dna, tapi belum bisa karena janin baru berusia tiga minggu. Om hanya ingin kebesaran hati kamu untuk mengaku, Eri," kata papa Sandrina mencoba bersabar.


Beliau terpaksa datang ke acara akad bersama istrinya karena putri mereka yang masih belum sadarkan diri akibat depresi hebat.


Rasa malu bercampur marah membuat mereka menguatkan langkah mereka untuk segera membuka tabir pelaku yang sudah merusak Sandrina.


Melihat sikap Eri yang tetap ngga mau bertanggungjawab dan terus menyangkal membuat hati papa Sandrina makin geram


"Sekarang mau kamu apa, Hendra?" tanya papi Eri mencoba tetap tenang walaupun dadanya rasanya mau meledak karena masalah ini.


Beliau baru saja mensahkan pernikahan putranya dengan anak sahabatnya yang udah sekian lama beliau dan sahabatnya nantikan.


Kenapa timbul masalah besar di luar perkiraannya.


Kalo benar anaknya pelakunya, papa Eri ngga akan segan segan menjadikan Eri sebagai samsaknya.


"Aku mau Eri menikahi Sandrina, di rumah sakit. Semoga setelahnya Sandrina cepat sadar," pinta papa Sandrina tegas.


Eri bergetar tubuhnya menahan marah. Dia menunggu apa yang akan dikatakan papinya dengan ngga sabar.


Dia benci kenapa harus ada tuduhan menjijikkan di hari bahagianya.


Papi Eri menarik nafas panjang. Istrinya masih yakin Eri ngga melakukannya. Walaupun di hati kecilnya juga ada sedikit keraguan tentang itu. Mereka sangat mengenal kelakuan Eri. Bahkan Luvi kalo ngga ditahan Ilham akan membela Eri secara frontal.


"Eri baru saja menikah. Begini saja, aku akan menghubungi dokter keluargaku untuk membantu merawat Sandrina. Setelah Sandrina sadar, kita bisa menanyainya. Kalo memang Eri pelakunya, aku akan langsung menikahkan mereka," kata papi Eri panjang lebar.


"Papi ngga boleh sembarangan dengan hidup Eri!" bentaknya keras.


Mami Eri memejamkan mata. Eri ngga ngerti kalo papinya sudah membelanya. Anak itu selalu memperturutkan amarahnya.


Luvi juga paham maksud dari kata kata omnya. Tapi hatinya masih ngga terima, acara bahagia sepupunya jadi berantakan begini.


Gimana mau menunggu selama dua minggu, sementara nama baiknya sudah hancur mulai hari ini.


Benar atau salah percuma saja. Kejadian ini pasti membekas di hati mereka. Terutama Eri dan Angel.


"Diam Eri!" bentak papinya ngga kalah galaknya membuat suasana hening.


"Tapi aku ngga bisa menunggu lama. Dua minggu aku kasih kesempatan. Kalo ngga, aku akan lapor kasus ini ke polisi," kata papi Sandrina mengancam.


"Saya ngga takut, om. Laporkan saja," sergah Eri yang sudah ngga ada sopan santunnya lagi. Tuduhan ini terasa begitu menyakitkan hatinya.


Aldi menginjak kaki Irfan yang hanya diam saja.


"Aku yang kasih tau aja apa?!" ancam Ald pelan.


Irfan masih terdiam. Wajahnya mengeryit menahan sakit di kakinya. Dia memejamkan mata. Ancaman Aldi ngga main main.


"Om kasih kamu waktu dua minggu, Eri."

__ADS_1


"Ngga perlu dua minggu, Om. Sekarang pun Eri siap di penjara," kata Er menantamg.


Papa Sandrina mengepalkan tangannya kuat kuat saking emosinya.


"Oke, kalo itu mau kamu," kata papa Sandrina sambil mengambil hpnya untuk melaporkan Eri ke polisi.


Kembali terdengar kasak kusuk.


"Eri," ucap Angel cemas.


"Ngga udah khawatir. Aku pasti bentar aja di penjara," kata Eri menenangkan. Di kembali memeluk Angel erat. Jantung keduanya sama bertalu dan dapat saling mereka rasakan di dada mereka.


Air mata Angel jatuh juga membasahi jas Eri.


"Tenanglah. Asal kamu percaya, itu lebih dari cukup buatku," kata Eri sambil mengecup kening Angel dengan berbagai perasaan.


Dia semakin menyesali dirinya yang bodoh. Seharusnya dari lima tahun yang lalu, dia sudah menikahi Angel.


"Saya polisi, Om," kata Ferdi sambil maju mendekati papa Sandrina yang sudah siap dengan hp di tangannya buat menelpon.


"Kamu?" tanya papa Sandrina sambil menatap penuh selidik dan ngga langsung saja percaya.


Ferdi mengeluarkan kartu anggotanya membuat papa Sandrina terdiam sebentar.


"Oke. Kamu bisa nyuruh anak buah kamu nangkap pengantin pria itu," kata nya sambil menunjukkan tangannya ke Eri.


Ferdi tersenyum miring.


"Oke," sahutnya sambil menjentikkan dua tangannya ke atas. Dua anggotanya yang ikut sedianya untuk menjaga kelancaran pesta tapi berubah tugasnya malah menangkap pengantin. Kini kedua melangkah tegap menghampiri Ferdi.


Semua orang menahan nafas. Mereka tau siapa Ferdi.


Ilham bahkan merengkuh bahu istrinya agar Luvi tetap tenang. Dia percaya pada tindakan yang akan diambil teman dekat mereka.


Tapi tidak dengan Aldi. Baginya sudah cukup kekacauan yang terjadi.


"Sebentar," ucap Aldi mengagetkan semua orang. Kini semua mata tertuju padanya yang sedang menyeret Irfan mendekati papa Sandrina. Irfan hanya diam mengikut saja.


"Lho, Al. Ngapain Lo," tahan Doni pada bahu Aldi.


Tapi Aldi ngga menjawab. Dia menepis tangan Doni di bahunya dan terus menyeret Irfan.


"Apa Irfan? Tapi kok, bisa?" tanya Toni sambil menatap tajam keduanya. Dia sedang berpikir keras.


"Aldi tau berarti," timpal Fino sambil melipat tangannya di dada.


"Kita tunggu pertunjukan selanjutnya," kata Igo kemudian tersenyum miring.


Vandra yang sudah yakin Eri memang ngga bersalah, agak kaget begitu tau Irfan pelakunya.


Eri sampai mendelikkan matanya heran.


"Om, saya Aldi. Ini teman saya Irfan. Malam itu teman saya bermaksud menolong Sandrina yang mabuk dan hampir diperkosa di club. Tapi sayangnya, teman saya ngga kuat imannya. Setelah menolong, teman saya malah ...." Aldi terdiam, memberi jeda. Suasana semakin hening. Orang tua Sandrina menatap Aldi dan Irfan tajam sambil menunggu kelanjutan ucapan Aldi dengan jantung berdebar keras.


Pikiran mereka sudah bisa menebak kelanjutan ucapan Aldi.


"Well, alkohol dan obat perangsang. Kombinasi yang susah untuk dihentikan. Teman saya mengaku, Sandrina saat itu masih perawan. Sekarang Om sudah tau kan, siapa pelakunya," kata Aldi tenang. Dia malah sempat mengedipkan sebelah matanya ke Eri yang masih shock mendengar penjelasannya.

__ADS_1


__ADS_2