
"Bang Bobby yakin, semua persiapan sudah oke?" tanya Anastasia yang baru saja selesai melayani naf*su laki laki berjambang tipis itu. Entah sudah beberapa kali laki laki seumuran papanya menghajar organ intinya sampai terasa mulai perih.
Dia dengan cepat mengenakan underwear nya didepan laki laki itu yang masih menatapnya penuh naf*su.
"Sekali lagi," kata Bobby sambil menerkam kembali tubuh Anastasia.
"Bang, sebentar lagi aku harus pergi meeting," tolaknya tapi tidak dengan tubuhnya.
Bobby ketawa melihat reaksi tubuh Anastasia yang terus bernaf*su padanya dan akhirmya penolakan itu pun berakhir dengan desa*han panjang Anastasia begitu senjata Bang Bobby menghajarnya tanpa ampun.
"Tenang saja, manis. Semua sudah beres. Percaya sama abang. Ah... kamu wangi sekali dan rapat," kata Bobby terus melakukan penetrasi pada Anastasia. Dia betul tergila gila pada tubuh Anastasia yang sekarang. Setelah menjadi kaya raya, agaknya gadis itu sudah melakukan perawatan super intensif. Dan dirinyalah yang pertama menikmati perubahan yang sangat drastis itu.
Anastasia sudah ngga bisa berkata apa pun lagi selain desa*han panjang yang hanya bisa dia keluarkan dari mulutnya.
*
*
*
Vandra yang melihat kehadiran Doni dengan dua orang gadis cantik di sampingnya jadi tersenyum.
"Siapa ini?" tanya Vandra ketika Doni sudah mendekat.
"Sekretaris gue," kekeh Doni di sambut kekehan Vandra yang menatap salah satu gadis itu dengan curiga. Seperti pernah lihat baru baru ini. Dan yang satu lagi juga rasa rasanya kenal. Tapi Vandra ngga bisa mengingatnya.
"Ini adiknya presiden direktur Dewantara group, Vandra Dewantara," kata Dobi mengenalkan.
Mikaela mengangguk sopan. Sedangkan Erika tersenyum tipis. Dulu dia pernah beberapa kali berjumpa dengan Vandra. Kalo abangnya lebih sering lagi.
"Kalian duduklah dulu. Ada yang ingin saya obrolkan," kata Doni mempersilakan keduanya untuk masuk dulu.
"Susah banget Lo dihubungi," kesal Vandra begitu melihat keduanya sudah menjauh.
"Lo ngga tau aja apa yang gue alami," tukas Doni sambil menghembuskan nafas kasar.
"Apa yang Lo alamI memangnya? Gue lihat Lo baik baik saja," sarkas Vandra masih kesal.
Dono melebarkan cengirannya.
"Salah satu dari sekretaris gue.....," kata Doni menggantungkan ucapannya, kemudian dia mendekatkan telinganya pada Vandra.
"Erika," bisiknya pelan.
"APA? Kenapa lo baru bilang?" kaget Vandra, walaupun pelan tapi nadanya penuh tekanan.
"Gue takut telpon Lo disadap," kata Doni membela diri.
"Penjahatnya ngga secanggih yang kita kira," sergah Vandra meremehkan.
"Benerkah? Padahal kepala gue udah pusing dari kemarin malam karena mau cerita apa engga sama Lo," sungut Doni kesal.
"Heh, anak hilang," sapa Aldi yang datang bersama Toni.
"Ngapain Lo bawa dokter kandungan ke sini?" cerca Doni saat melihat Toni ikut datang bersama Aldi.
__ADS_1
Toni menyeringai sinis bareng Aldi.
"Sekarang gue jadi sekretaris," katanya kalem membuat Doni dan Vandra langsung melebarkan senyum geli mereka.
"Fino sama yang lain dimana?" tanya Aldi yang belum.melihat teman teman mereka yang lain.
"Sedang mencari posisi strategis," ucap Vandra dengan senyum misteriusnya.
"Yang lain?" tanya Doni heran.
"Kecuali Eri," kekeh Aldi yang diikuti tawa Toni dan Vandra.
Doni yang baru mengerti ikut terkekeh geli. Dia bisa bayangkan bagaimana kesalnya Eri kalo dia tau, dia tidak dilibatkan lagi dalam peristiwa yang menegangkan ini.
"Eh, itu Om Halim dan Bang Arven," kata Vandra yang melihat keduanya berjalan mendekat.
"Bang Arven tunangan Erika," kata Vandra memberitau.
Doni manggut manggut.
Apa harus dia katakan kalo tunangannya selamat? batin Doni bertanya ragu.
Wajah Om Halim pun nampak murung, sama seperti wajah Arven.
"Bang, Om," sapa mereka bersamaan.
Keduanya tersenyum menatap Vandra dan teman teman mereka.
"Apa sudah hadir semua?" tanya Om Halim sambil melirik ke dalam ruangan yang sudah dipenuhi beberapa orang.
"Sekarang tinggal menunggu Anastasia. Dia mengabarkan akan datang," kata Vandra menjelaskan.
Akhirnya mereka masuk ke dalam dan langsung memulai pembahasan tentang proyek baru mereka tanpa menunggu kedatangan Anastasia. Sebuah resort yang sangat mewah, megah dan tentu sangat luas.
"Laki laki di samping Om Halim itu tunanganmu," bisik Doni membuat Erika mengangkat wajahnya yang sedari tadi menunduk.
"Kamu ngga bohong?"
"Tentu saja enggak. Kakek dan neneknya di mansionmu. Mereka kemarin menangis terus."
Erika terdiam. Dia kembali mengingat opa dan omanya. Kemudian Erika melakukan inhale dan exhale untuk menahan gejolak perasaannya.
Ketika dia membuka mata, tatapannya beradu pandang dengan Arven yang juga sedang memandang ke arahnya. Erika cepat menundukkan pandangan.
"Dia tampan, kan?" goda Doni tapi ngga ada reaksi apapun dari Erika.
Tapi Doni hanya tersenyum tipis sambil melemparkan pandangannya pada Arven yang masih melihat Erika.
TOk TOK TOK
Sementara Anastasia mengutuki Bang Bobby yang benar benar membuat organ intimnya menjadi sangat perih. Saat ini dia berjalan dengan langkah yang benar benar perlahan. Walaupun sudah diberikan salep, tapi perihnya masih terasa.
Dia memasuki ruang meeting yang ternyata sudah dihadiri oleh semua pemegang saham Arwana Grup.
Dia menegapkan tubuhnya dan sedikit memgangkat wajahnya dengan angkuh saat para pemegang saham menatap ke arahnya.
__ADS_1
Om Halim sama sekali ngga mempedulikannya. Dia pun kembali melanjutkan pembahasan tentang resort sampai akhirnya Anastasia melakukan interupsi.
"Ada yang ingin kamu sampaikan?" tanya Om Halim kurang ramah.
Anastasia tersenyum miring. Ada tiga orang pemegang saham yang sudah setuju jika dirinyalah yabg menjadi CEO mereka..Tentu saja dengan imbalan tubuhnya. Anastasia benar benar ngga peduli. Dari dulu tubuhnya juga sebagai alatnya untuk mencari uang. Apa salahnya menggunakannya lagi untuk mencapai puncak kekayaan yang lebih tinggi lagi. Ralat, sangat tinggi.
"Pasti semuanya sudah tau, kan, tentang kejadian yang menimpa keluarga Arwana Grup," kata Anastasia tenang saat membuka pembicaraan.
Beberapa dari mereka mulai kasak kusuk. Sedangkan Vandra tampak santai. Begitu juga Valen dan Celon, walaupun belum tau kenyataan kalo Erika ada di tengah mereka.
"Erika, adik tiri saya, keadaannya belum diketahui sampai sekarang. Bagaimana untuk sementara saya yang menduduki jabatan CEO sebelum diadakan pemilihan ulang," ucap Anastasia tegas.
"Anastasia, Erika sudah mewakilkan pada Om selama dia ngga ada," tangkis Om Halim cepat.
"Itu untuk situasi biasa Om. Kenyataannya Erika bukan berlibur, tapi mengalami kecelakaan hebat. Om sebagai pengacara seharusnya mengambil sikap tegas. Karena pewaris Arwana Grup masih ada seorang lagi, yaitu saya," kata Anastasia tegas, ngga terbantahkan.
Om Halim pun terdiam. Beliau tau apa yang dikatakan Anastasia benar semua. Tapi kecurigaannya kalo Anastasialah dalang pembunuhan keji ini, membuat Om Halim akan menghalangi semaksimal mungkin keinginan Anastasia.
"Benar, Pak Halim, kita tidak bisa menunggu Nona Erika lebih lama. Banyak kontrak yang membutuhkan tandatangannya," sambung Pak Rodi, salah satu pemegang saham dua puluh persen dari Bintang Perkasa Grup.
Anastasia tersenyum miring. Ternyata si tua ini benar benar ingin pelayanan s*x darinya.
"Untuk menjadi CEO, selain dari garis keturunan, kemampuan juga penting. Nona Erika sudah kita ketahui dengan prestasi prestasinya, sedangkan Nona Anastasia, maaf sekali, saya belum pernah mendengarnya," tukas Pak Rasyid nggak kalah tegasnya.
Wajah Anastasia memerah karena menahan malu akan sindirian kolega bisnis almarhum papanya.
"Saya bisa belajar pak Rasyid," kata Anastasia lantang.
"Anda terlambat kalo mengatakan sekarang mau belajar," kata Ibu Hartati separuh menyindir.
"Kami membutuhkan CEO yang kompeten, karena uang yang kami investasikan tidaklah sedikit," tambahnya lagi.
"Bagaimana kalau selama menjadi CEO, Om Halim akan selalu mendampingi saya, seperti yang dia lakukan pada Erika. Tentu kemampuan Om Halim, sudah saat terpecaya, bukan?"
Keadaan mulai kasak kusuk kembali.
Hampir saja Om Halim mengatakan nggak sudi, tapi Arven menggelengkan kepalanya. Mereka harus menunggu sampai nona yang paling berhak tampil. Vandra sudah mengirimkan pesannya, kalo Erika sudah ada di sini.
Karena itu sedari tadi dia terus menatap serius salah satu sekretaris Doni. Dia terus terang curiga karena tatapan gadis itu yang tetap tenang dan seperti mengintimidasi Anastasia.
"Nona Anastasia, seperti yang anda katakan, keluarga anda sedang dalam duka yang dalam. Sebaiknya beberapa hari ke depan saja kita bicarakan masalah ini," kata Celon bijak.
"Saya bukannya ingin mengambil kesempatan. Tapi beberapa hari kedepan, Arwana grup memiliki banyak sekali kontrak yang harus segera ditandatangani dan di alokasikan," bantah Anastasia penuh tekanan.
"Karena hanya saya pewaris satu satunya yang tersisa, saya akan belajar untuk bisa seperti Erika, bahkan melampauinya," kata Anastasia penuh janji. Padahal bullshit baginya Arwama grup. Akan dia hancurkan kebanggaan papanya ini. Sampai ke dasar.
Hening.
Lima detik.
Sepuluh detik.
Lima belas detik.
"Kamu tidak perlu melakukannya, Anastasia," kata Erika memecah kesunyian. Semua orang terpaku padanya yang berjakan mendekati Om Halim dengan tenang dan anggun.
__ADS_1
Mikaela menatap kagum pada aura yang diciptakan kakak angkatnya. Begitu dominan sampai mereka hanya bisa terus memandangnya tanpa berucap satu kata pun.
Suara ini? batin Om Halim kaget. Dia menatap tajam pada gadis cantik yang menghampirinya. Arven pun terus menatap Erika tanpa kedip.