
Aldi yang sudah menyelesaikan pekerjaannya memutuskan pulang. Tapi tanpa dia sadari, mobilnya kini terparkir di rumah abangnya, Ilham.
Kenapa.aku di sini, rutuknya kesal dalam hati.
Oiya, dia tetap ngajar Melia ngga ya? Mungkin tetap ngajar. Kalo ngga, Kak Luvi pasti udah ngasih tau, batin Aldi tenang.
Aldi pun membuka pintu mobilnya.
Dimana ya, mereka belajarnya?
Aldi berjalan sambil.mengawasi rumah abangnya.
Teras sepi, ruang tamu sepi, ruang keluarga sepi. Di taman mungkin?
Aldi melangkahkan kakinya ke taman. Dia tersenyum melihat ponakannya sedang sedang serius menbaca buku sendirian.
Kok sendiri? hati Aldi bertanya heran.
"Om Aldi," seru Melia senang ketika melihat Omnya datang.
Aldi tersenyum nelihat wajah ceria Melia.
"Belajar sendiri?" tanya Aldi melirik tas kecil yang suka dibawa gadis itu.
Perasaannya lega mengetahui gadis itu masih tetep menjadi guru les ponakannya.
"Bu Aurel lagi ke kamar mandi," kata Melia polos.
"Ooo," sahut Aldi dengan senyum muringnya.
"Kamu belajar dulu ya, Om haus" kata Aldi mengusap kepala ponakannya sebelum pergi.
"Iya Om," sahutnya kini meneruskan bacaannya.
Aldi langsung menuju kanar mandi yang terdapat di dapur.
Ngga mungkin kan, dia berani masuk kamar nandi di dalam kamar?
Pintunya terbuka ketika Aldi baru saja nenyandar di dinding dekat pintu.
Mata Aurelia membesar melihat Aldi yang menatapnya tajam sambil melipat tangan di dadanya.
"Kenapa ngga datang?"
Aurelia berusaha meredakan deburan ombak di dadanya.
Tanpa menjawab pertanyaan Aldi, Aurelia yang sudah berjanji ngga mau berhubungan dengan orang brengsek ini, berjalan cepat melewati Aldi.
Tapi Aldi cepat menarik tangannya dan menaksanya ikut ke kamarnya kalo menginap di rumah Ilham, abangnya.
"Lepas," seru Aurel pelan penuh tekanan sambil berusaha melepaskan tangannya dari genggaman Aldi.
Tapi genggaman Aldi begitu kokoh.
Aldi menutup pintu kamarnya dan dengan kasar mendorong Aurelia ke dinding.
Saat Aldi akan menciumnya, Aurel menekukkan lutut kanannya dan menendang senjata Aldi membuat Aldi terdorong ke belakang hampir jatuh.
Sialan, maki Aldi dalam hati sambil meringis ngilu karena sakutnya benar benar luar biasa.
Tanpa membuang kesempatan, Aurelia langsung keluar dari kamar dan bergegas menuju taman dengan jantung berpacu kencang.
Rasakan, rutuk Aurelia sambil pergi.
"Tante ngga ketemu Om Aldi?" tanya Melia yang melihat gurunya sudah kembali.
"Engga," dustanya sambil duduk di samping muridnya.
"Ayo baca lagi. Bu guru mau dengar," kata Aurelia lembut
"Iya bu," sahut Melia antusias . Diapun mulai membaca dengan suara keras.
__ADS_1
Aurelia tersenyum wakau hatinya cemas.
Dia ngga pa pa, kan?
Sementara di kamar Aldi masih menggeram menahan sakit pada senjatanya.
Kenapa dia marah? Bukannya kemarin dia senang, maki Aldi dalam hati dengan wajah meringis.
Telpon di saku jasnya bergetar. Dengan malas diraihnya dan bertambah ngga mood melihat wajah sodara barunya di layar hp.
"Muka Lo kenapa? Kok, seperti kesakitan?" tanya Eri heran ketika sudah terpampang wajah sepupunya yang seperti menahan sakit.
"Gue mau boker. Lo mau lihat?" tanya Aldi menantang.
"Sialan Lo," makinya sambil menampilkan raut ji-ji nya.
"Cepat mau ngomong apa!" sentak Aldi tambah badmood.
"Iya - iya," balas Eri galak.
"Gue mau ngucapin makasih karena kerjaan gue udah Lo handle semua," katanya dengan intomasi berubah sopan.
Aldi ngga menjawab.
Tumben ingat ngucapin terimakasih.
"Gue akan kirimkan no telpon Aurel, gue akan promosikan Lo dengannya," sambungnya penuh semangat.
"Nggak perlu," kata Aldi sambil menutup telponnya. Sakitnya masih terasa lagi membuatnya kini membaringkan tubuhnya di tempat tidur dengan posisi meringkuk.
Eri kaget karena temannya menolak kebaikannya dan sambungan telpon pun diputus begitu saja.
"Dasar teman kurang ajar," makinya sewot.
"Ada apa?" tanya Angel yang sudah dalam balutan kebayanya yang sangat mewah dan indah membuat Angel terlihat seperti bidadari di mata Eri yang bergeming melihatnya.
"Eri," panggil Angel malu karena tatapan penuh binar di mata Eri. Eri juga sangat tampan dengan jas yang senada dengan warna kebayanya.
"Aku cinta sama kamu," ucap Eri pelan dengan jantung berdegup kencang.
Angel memberanikan diri menatap ke dalam manik mata yang penuh binar itu.
Seakan terhipnotis, Angel memejamkan matanya ketika merasakan kecupan Eri di bibirnya.
Eri menahan wajah Angel dengan tangannya setelah menjauhkan bibirnya yang selalu saja ingin mampir ke sana.
Tenanglah jantung bodoh, maki Eri dalam hati.
Mama Eri dam mama Angel yang mengintip di balik tembok sama tersenyum senang melihat kemesraan mereka.
"Kita nikahin sekarang aja mereka," usul mama Angel dengan wajah sumringah.
"Aku setuju," timpal mama Eri ngga kalah semangatnya. Mama Eri udah ngga sabar memiliki Angel sebagai mantu. Angel yang sangat cantik dan baik, yang bisa meng handle kelakuan absurd Eri.
Eri anaknya yang nakal, yang selalu membangkangnya dan suaminya, selalu bertengkar dengan Luvi sepupunya, bisa ditaklukan Angel akhirnya.
*
*
*
"Kamu bolos juga?" tanya Abi kaget melihat seorang cewe manis, kakak kelasnya SMAnya berdiri di dekat pohon kesayangannya.
"Kamu ngapain nanya," balas cewe itu sinis.
Abi tertawa mendengarnya. dia memperhatikan penampilan cewe itu yang udah siap menaiki pohon di belakang sekolahnya.
Pake rok lagi.
Abi pun menggelengkan kepalanya.
__ADS_1
"Aku duluan," katanya sambil mendorong cewe itu hingga hampir jatuh.
"Sialan Lo. Gue duluan yang nyampe sini!" kesalnya dengan mode galak.
Abhi menatap cewe itu dengan seringai nakalnya.
"Oke, tapi jangan salahkan gue ngelihat cela na da lam merah Lo," kata Abhi frontal.
Wajah cewe itu memerah menahan malu. Dia lupa memakai hotpant lagi. Tapi mengapa cowo kiyut ini tau warna underwear nya.
Cowo kurang ajar, marahnya dalam hati ketika menyadari mungkin saat roknya ditiup angin barusan underwear nya cukup terlihat.
Abhi hanya memamerkan cengiran nakalnya. Tanpa membuang waktu, Abhi langsung memanjat pohon itu.
"Abhi!" seru Doni yang ngga sengaja melihatnya ngga jauh ari tempatnya berdiri.
"Gawat, ketahuan," omelnya sambil tambah cepat meraih dahan pohon karena melihat teman omnya mulai berjalan cepat ke arahnya.
Cewe yang tadinya akan nunggu Abhi sampai di atas pagar baru akan mulai memanjat, jadi ikutan memanjat.
Abhi mendapat ide cukup gila. Ketika dia sudah sampai di atas pagar dan siap melompat, dia mengulurkan tangannya pada cewe tadi.
"Dua tangan," titah Abhi cepat.
Tanpa pikir panjang, Cewe itu mengulurkan dua tangamnya pada Abhi.
Sekilas Abhi tersenyum, dia melirik Omnya yang memalingkan wajahnya karena sudah melihat si merah yang lagi pamer.
Maaf Om, desisnya dalam hati sambil mendorong cewe itu ke arah omnya.
"Aaaahhhh," teriak cewe itu kaget karena dorongam keras Abhi membuatnya jatuh ke bawah dengan gaya bebas meluncur.
Cowo sialan! makinya pasrah dalam hati membayangkan rasa sakit di punggungnya yang akan bersentuhan dengan tanah.
Tanpa melihat apa yang akan terjadi Abhi langsung melompat keluar tembok sekolah. Dia ada audisi nyanyi. Selain maen gitar, suara Abhi juga bagus kalo nyanyi, ngebas tapi lembut.
Mata cewe itu terbuka karena merasa pelukan erat di tubuhnya. Menatap ngga percaya pada kepsek tampan yang wajahnya berada sangat dekat dengan wajahnya. Dia serasa dibawa terbang sebentar tadi. Wajahnya kini bersandar di bahu sang kepsek dengan tangan membelit leher Doni.
Ada yang menegang di celana Doni, saat berhasil menangkap tubuh cewe itu seakan sedang menangkap bolas basket. Dia melompat sedikit ketika melihat Abhi mendorong siswinya ke arahnya.
"Mau sampai kapan kamu meluk saya," kata Doni menyadarkan cewe itu.
"Ma... maaf pak," kata cewe itu buru buru melepaskan belitannya di leher Doni.
"Kenapa kamu bolos?" tanya Doni galak sambil bersyukur dalam hati karena cewe itu tadi ngga menyadari ketegangan senjatanya yang kini sudah lemas dan kembali ke bentuk awalnya lagi.
"Sa... saya.....," ucap cewe itu gugup dan ngga bisa meneruskan kata katanya karena tatalan tajam kepsek idola di sekolahnya menghunjam dadanya.
"Masuk ke kelas," titah Doni masih galak. Tapi ketampanannya makin bersinar.
"I... iya pak," kata cewe itu sambil membalikkan tubuhnya.
"Kancingin dulu baju sekolahmu," kata Doni membuat cewe itu menatap kemejanya. Wajahnya jadi panas karena sangat malu.
Dua kancing atas kemeja nnya ternyata telah terbuka dan bra merahnya terlihat jelas karena dia ngga memakai kaos dalam.
"Satu lagi, pake celana pendek. Cela na da lam merahmu terlihat jelas ketika kamu memanjat pohon," kata Doni sambil pergi meninggalkan cewe itu dalam keadaan malu luar biasa setelah mendengar kata katanya.
Dia sudah melihat dari tadi? Aaaarrrggg... dasar cowo sialan, gara gara dia aku jadi malu begini, marahnya dalam hati sambil menghentakkan sepatunya kesal di tanah.
Seringai tipis tersungging di bibir Doni. Kejadian ini mengingatkannya dulu waktu masih SMA. Dia suka bolos tapi barengan, ngga sendiri seperti Abhi.
Tapi kelakuan cewe tadi benar benar membuatnya menggelengkan kepala. Cewe cewe jamannya ngga se ekstrim itu kalo bolos.
Bayangkan kalo udah di luar, dengan pakaian dalam yang terlihat jelas, bisa abis diperkosa siswinya itu.
Juniornya saja sempat menegang.
Doni membuang pikiran gilanya. Dia kepsek, bukan pedofil, batinnya menegaskan.
Doni pun mengetikkan pesan dan mengirimkannya pada Vandra, mengabarkan kalo ponakannya berhasil bolos.
__ADS_1