
"Clara?" panggil Tini ketika melihat Clara juga berada di cafe, tempat dia berada bersama Vandra dan Mia.
Setelah dari rumah sakit, Toni yang sudah ngga ada pasien lagi memaksa pada pasutri itu untuk ikut ke cafe.
Tentu saja Vandra kesal karena Mia dengan polosnya mengatakan tujuan mereka setelah dari rumah sakit. Toni pun ikut masuk ke dalam mobil Vandra lebih dulu tanpa bisa Vandra cegah.
Mia hanya tertawa kecil bersama Toni melihat raut wajah masam Vandra. Sudah lama Vandra ngga menunjukkan tampang menyebalkannya padanya.
Mereka sudah meghabiskan separuh hidangan mereka, ketika melihat Clara masuk ke cafe bersama Nesa.
"Hai," sapa Nesa membalas dengan sangat antusias. Matanya melirik sebel pada perut Mia yang sudah membesar. Sedangkan Clara menatap Mia iri.
"Kita gabung ya," kata Nesa cuek sambil menarik tangan Clara untuk ikut duduk di sampingnya.
Clara sempat terpana sesaat ketika melihat Vandra. Keinginannya untuk move on sedikut mencair. Vandra yang dingin, hanya menatapnya sekilas sebelum mengalihkan pandangannya ke Toni yang spontan menyapa Clara.
Vandra memandang Toni horor, sedangkan Mia berusaha menahan peraaaan ngga enaknya. Yang satu sepupunya, yang satu lagi pencinta suaminya.
"Gaya rambut kamu baru, Cla?" tanya Toni sambil memperhatikan penampilan baru Clara tanpa mempedulikan reaksi kesal Vandra. Rambut panjangnya kini dipotong sebahu dan ditata bergelombang.
Gimana kalo Fino lihat. Oleng lagi ngga, batin Toni mengagumi Clara yang semakin cantik.
Clara hanya tersenyun mendengar pujian Toni. Matanya melirik Vandra, tapi hatinya kembali kecewa karena Vandra tetap cuek, bahkan melingkarkan tangannya di bahu Mia. Laki laki yang dicintanya hanya menatap Mia saja.
"Iya, tambah cantik, kan, sahabat gue," puji Nesa sarkas sambil melirik Mia yang tetap tenang.
Toni mengangguk setuju. Sebagai laki laki yang memuja keindahan, kecantikan Clara ngga bisa dilewatinya. Tapi hanya sekedar kagum. Mungkin Fino juga begitu. Yang aneh memang Vandra, ngga tau pelet apa yang diberikan Mia padanya. Dari dulu sampe sekarang tetap lempeng aja.
"Bentar lagi kamu melahirkan, ya, Mia," ucap Clara berbasa basi.
"Iya," jawab Mia singkat. Keduanya beradu tatap.
Toni yang melihatnya berdo'a dalam hati agar Mia ngga mengalami kontraksi awal.
Ibu hamil ngga boleh stres, kan, batinnya.
"Om dan tante katanya mau pulang. Kamu ntar balik ke rumah?" tanya Nesa mulai menye menye.
"Ya," jawab Mia tetap singkat. Mama dan papanya berjanji akan menungguinya melahirkan.
"Iya, sesekali kamu juga tinggal di rumah oma. Keluarga kamu bukan Vandra aja," tukas Nesa menyindir.
Mia memang ngga betah di rumah omanya. Apalagi kedua orang tuanya sudah di luar negeri. Sekarang keluarga Nesa yang menempati rumah mewah almarhum omanya.
Kedua orang tua Nesa sangat baik padanya. Sebelum Nesa kembali dari Singapura, Mia dan Vandra sesekali menginap.di sana. Tapi sejak kehadiran Nesa, Mia ngga pernah lagi menginap. Paling dia bersama Vandra mengunjungi tante dan omnya saja.
Mia harus menghindari aura negatif demi perkembangan janin dalam perutnya. Nesa yang masih julid bahkan terang terangan mendekatkan Clara dengan Vandra, bisa membuat Mia nanti lepas kontrol. Mia ngga mau itu sampai terjadi.
__ADS_1
Vandra meneguk jusnya sambil mengelus bahu istrinya. Dia ngga suka situasi ini.
"Sayang, kita pulang, yuk," bisik Vandra mesra di telinga Mia membuat istrinya menoleh hingga pipinya mengenai ujung hidung Vandra. Tentu saja momen romantis ini ditangkap dengan baik oleh ketiganya.
Toni tersenyum miring, Clara menahan nafasnya, sedangkan Nesa mendengus kesal.
"Aku udah kenyang. Kamu?" tanya Mia pelan.
"Udah. Kita masih harus belanja buat bayi Lano," kata Vandra membuat Mia tersenyum senang. Akhirnya, Toni berhasil membuat Vandra mengubah nama panggilan anak mereka.
Melihat senyum di wajah Mia membuat Vandra mengacak rambut depan Mia gemas. Lagi lagi momen romantis ini ditanggapi reaksi berbeda ketiganya.
Kenapa mereka selalu bermesraan ngga lihat tempat, batin Toni mengomel.
"Ton, Lo naek taksi online aja yah," titah Vandra sambil membantu Mia berdiri bersamanya.
"Ngga bisa gitu, dong," protes Toni ngga terima. Seenaknya saja meninggalkannya.
"Emang Lo ngga balik ke rumah sakit lagi?" sinis Vandra melihat sikap menyebalkan sahabatnya yang ngga tau situasi itu.
"Balik lah. Antar gue dulu ya," pintanya tetap memaksa. Toni ikut berdiri tanpa mempedulikan wajah ngga suka Vandra. Yang penting baginya wajah Mia yang tetap welcome.
"Sorry ya Clara, Nesa, kita pamit," katanya sambil menoleh pada Clara dan Nesa.
"Oke," sahut Clara ramah sementara Nesa hanya mendengus kesal.
Mia yang sudah berdiri dengan tangan Vandra merangkulnya menatap tenang sepupunya yang selalu julid dan suka caper.
"Gue ada keperluan lain sama Vandra," jawabnya masih berusaha mengontrol emosinya. Marah marah ngga baik untuk perkembangan janinnya.
Vandra mencoba menahan kekesalannya, dari dulu Nesa selalu saja mengintinidasi istrinya.
Apa dia ngga lihat Mia sedang hamil besar. Kenapa gadis ini selalu ngga bisa bersikap baik, Vandra mendumel dalam hati.
"Bukan karena ada Clara di sini lo pengen cepat cepat kabur. Lo cemburu, kan. Lo pasti takut kalo Vandra tambah suka dengan Clara," kekeh Nesa julid.
Vandra menatap Nesa dengan sorot tajamnya, begitu juga Toni. Beberapa penghuni cafe yang berada di dekat mereka mulai memperhatikan. Dalam hati Toni baru muncul penyesalan karena sudah menyapa Clara. Apalagi melirik sebelah tangan Vandra yang sudah mengepal erat. Mungkin karena Nesa perempuan, Vandra berusaha meredam kemarahannya. Andai Nesa laki laki, pasti sudah babak belur dihajar Vandra.
Alih alih marah, Mia malah tersenyum tipis. Sudah terbiasa dengan sifat julid Nesa.
"Ngga, kok. Cuma aku langsung kenyang aja ngelihat kamu."
Toni tergelak mendengarnya. Vandra pun tersenyum miring dengan hati cukup lega. Jarang jarang Mia membalas ucapan jahat Nesa.
Wajah Nesa berubah abu abu saking kesalnya mendengar balasan Mia yang ngga terduga.
Dia akan membuka mulutnya untuk mengeluarkan rudalnya, tapi Clara menahan tangannya lembut.
__ADS_1
"Sudah," larang Clara membuat Nesa nurut. Hanya matanya saja yang masih kesal menyoroti kepergian ketiganya.
"Kamu tambah pintar Mia," kekeh Toni.
"Memang harusnya begitu. Sesekali dilawan," tambah Vandra membuat Mia tertawa pelan.
Vandra pun mengusap kepala Mia dengan lembut dan penuh sayang.
Clara terus melihat kepergian ketiganya sampai menghilang dari pandangannya. Dia menghembuskan nafas kasar. Dia iri dengan perhatian Vandra pada Mia. Vandra begitu posesif.
"Oiya, gimana ceritanya dengan laki laki yang mengikuti kamu beberapa hari yang lalu? Aku jadi penasaran," ucao Nesa mengalihkan perhatian Clara.
"Ngga pernah ketemu lagi," jawab Clara lega. Clara terpaksa bercerita kalo dia menghindari laki laki yang membuntutinya sejak dari club. Hanya itu, ngga sampai detil.
"Apa karena itu kamu ganti gaya rambut?" tanya Nesa penuh selidik. Setaunya, Clara sangat menyayangi rambut panjangnya.
"Ya. Aku takut dia akan mengenaliku."
Nesa mendengus.
"Laen kali kamu ngajak aku kalo mau clubbing. Jangan pernah pergi sendirian lagi. Bahaya. Banyak orang mabok," nasihat Nesa yang diaminkan Clara dalam hatinya.
"Syukurlah kamu ngga apa apa."
"Ya," jawab Clara dengan lidah kelu. Untung Nesa kini sibuk berbicara dengan pelayan kafe jadi ngga memperhatikan wajah Clara yang sedikit pucat.
Aku sudah ngga virgin, batinnya sedih. Menyesal. Sangat menyesal karena lebih mementingkan emosinya tanpa memikirkan resiko yang didapatkan. Sangat ngga sebanding.
"Ando udah menghubungi kamu?" tanya Nesa setelah pelayan kafe itu pergi
Clara menggelengkan kepala, menatap sahabatnya dengan heran.
"Aku mau jodohin kamu dengan Ando. Gimana? Dia juga sama tampannya dengannya Vandra," kata Nesa penuh semangat.
Clara hanya tersenyum. Ando. Dia juga sangat tampan, dewasa dan baik. Tapi apa Ando mau nerima dia yang sudah ngga virgin lagi?
"Kalo kamu setuju, nanti aku akan nyuruh Ando ngajak kamu diner," lanjut Nesa lagi. Wajahnya berbinar binar. Dia akan sangat bahagia jika Clara menjadi saudaranya. Lagian Ando bukan laki laki abal abal. Mereka berdua sangat serasi. Sahabatnya harus bisa nunjukin ke Vandra, sudah move on. Biar ganti Vandra yang mengejar Clara.
Rasakan, batin Nesa puas. Dia sudah membaca artikel, biasanya laki laki baru sadar kalo perempuan pemujanya sudah ngga mempedulikannya. Baru dia merasa kehilangan. Selama ini Vandra terlalu berada dalam zona nyaman. Saatnya melihat Vandra kepanasan. Bibir Nesa mengembangkan senyum jahatnya.
Jika sudah terjadi, dia akan puas mentertawai sepupunya yang bernasib malang.
*
*
*
__ADS_1