Me And You

Me And You
Eri love Angel


__ADS_3

"Ayo, aku antar kamu pulang. Kita jalan jalan aja. Aku akan suruh Handy menghandle kerjaan," kata Eri sambil menarik tangan Angel yang masih terkesima akan pernyataannya tadi.


Eri sendiri memaki dalam hatinya, kenapa dia bisa se alay itu.


Melihat wajah marah Angel yang hampir menangis, membuat dia kelepasan mengungkapkan isi hatinya.


Tapi keduanya terhenti langkahnya melihat Sandrina yang terduduk di meja sekretaris dengan Handy dengan wajah masih pias.


Sial, banyak saksinya lagi, umpat Eri kesal, apalagi melihat Handy yang walaupun kaget tapi tersenyum miring seakan meledeknya.


Kupotong gajimu bulan depan kalo berani menyebarkannya, geram Eri dalam hati.


Angel tentu tambah ngga enak perasaannya, dia spontan bersembunyi dibalik punggung Eri.


Mengapa dia belum pulang? batin Angel kasihan.


Eri melirik aneh pada Angel yang kelihatan takut ketemu Sandrina.


Tapi kemudian dia menatap galak Handy.


"Handy, aku mau pergi sama Angel. Tolong urus kerjaanku, ya," titahnya langsung pergi. Tapi Eri sempat mengangguk kecil pada Sandrina yang menatapnya dengan mata basah.


"Apa benar mereka akan menikah?" tanya Sandrina begitu keduanya sudah menjauh.


"Iya," jawab Handy singkat.


Dalam hati dia memaki bosnya yang selalu seenaknya saja melimpahkan pekerjaannya padanya.


Untung gajinya gede, batin Handy menghibur dirinya sendiri.


Memang Eri memberikannya gaji yang sangat besar. Belum lagi bonus bonus spektakuler. Jalan jalan ke luar negeri sampai dibelikan unit aparteman. Tapi itu resikonya, wajib menerima perlakuan semena mena dari Eri. Walau kadang kadang Eri sedikit berperikemanusiaan juga.


"Kita minum kopi dulu," kata Handy menawarkan begitu ob nya membawakan dua cangkir kopi.


Sebenarnya buat Eri dan Angel, tapi mereka udah pergi. Mending buat mereka, lumayan untuk menenangkan jantung juga yang masih belum normal berdetak.


"Ya," ucap Sandrina sambil menyesap kopi itu untuk menenangkan pikirannya.


Pernyataan cinta Eri yang spontan membuat Handy salut. Bosnya yang slengean, suka sembarangan, punya banyak teman cewe yang ngga disadarinya dikasih harapan, ternyata sangat setia.


Handy jadi tersenyum sendiri. Ternyata si sombong itu bisa alay juga.


"Mereka sudah pacaran lama?" tanya Sandrina pelan dengan perasaan heran. Dia masih ingat betapa ketusnya Eri terhadap Angel pada malam itu.


"Mereka dijodohkan sejak kecil," kata Handy memberitau.


"Ooo," kata Sandrina tercekat.


"Kapan mereka akan menikah?" tanya Sandrina dengan bibir bergetar.

__ADS_1


Handy kasihan juga melihatnya.


"Bentar lagi. Aku juga ngga tau kapan."


"Ooo."


Sandrina terdiam, kemudian bangkit berdiri. Apa yang akan dikatakannya pada papanya yang selalu saja percaya pada ceritanya. Teman temannya yang kemarin dia tunjukkan foto foto yang dia jepret saat ulang tahun Iqbal juga. Dia sudah mempermalukan dirinya. Menganggap Eri punya perhatian khusus padanya.


"Mau pulang?" tanya Handy juga ikut berdiri.


"Iya, terimakasih kopinya," kata Sandrina sambil melangkah pergi dengan lunglai.


*


*


*


Eri membawa Angel ke pantai. Sepanjang perjalanan mereka hanya diam saja.


Angel keluar dulu sambil menikmati sapuan angin laut yang cukup kencang. Melihat laut luas di depannya, pikiran beratnya seolah terbang jauh ngga tau kemana.


Eri tersenyum menatap punggung Angel. Rambutnya yang indah beterbangan ditiup angin.


Eri menggelar tikar di samping Angel. Dengan ngga acuh, Eri menurunkan kanvas dan alat lukisnya.


Angel yang melihatnya langsung tertarik dan duduk di samping Eri.


Dulu biarpun Eri suka bersikap cuek, tapi dia ngga pernah marah kalo Angel menemaninya melukis.


"Iya," jawab Eri dan mengeluarkan satu set cat minyaknya.


Seperti dulu, Angel akan menyander di bahu Eri sambil menatap ke lukisan Eri.


Eri tersenyum. Dia tau kekesalan Angel sudah reda. Seperti dulu, Eri membiarkan bersandar di bahunya. Eri sama sekali ngga pernah terganggu. Malah dia senang.


Dari dulu, cuma Angel yang mengagumi kemampuan melukisnya. Bahkan saat mama dan papanya marah dulu, Angel mau mau aja membantunya menyimpankan alat lukis dan lukisan lukisannya.


Hubungan mereka memang aneh. Walaupun kesal, Eri tetap setia menemani Angel pemotretan. Menemani tidur yang paling Eri suka.


Entah apa yang dipikir orang tua mereka, selalu meminta Eri menemani Angel tidur kalo mereka lagi ngga di rumah. Hanya Luvi yang suka mencak mencak begitu tau kalo mereka suka tidur di kamar yang sama. Tapi tentu saja ngga satu ranjang.


"Ada orang lagi mancing di sana, Er. Dilukis ngga?" tanya Angel sambil menunjuk beberapa orang yang sedang memancing di atas perahu kecil.


"Kamu pengen orang orang itu masuk dalam lukisan ini?" tanya Eri sambil memalingkan wajahnya ke wajah Angel yang begitu dekat dengannya


"Iya, kelihatan alami ntar lukisannya," kata Angel manja. Bibirnya tersenyum manis.


"Oke," respon Eri sambil menambahkan obyek yang Angel minta.

__ADS_1


Angel menatap Eri yang kini sudah fokus melukis obyek yang dia minta dengan hati senang.


"Persis banget, Er. Aku seakan bisa memandang pantai ini secara langsung dari lukisan kamu," ucap Angel penuh kagum. Selalu saja dia mengagumi bakat lukis yang dimiliki Eri.


"Kamu suka?"


"Suka banget."


Keduanya kembali saling bertatapan dengan senyum merekah di bibir.


Eri pun menuliskan nama Angel dan gambar love , dilanjut dengan menuliskan namanya.


"Hiii, harusnya nama kamu dulu, dong," protes Angel ngga terima


Eri ketawa melihat wajah Angel yang manyun.


"Nanti aku buat yang gede gede, Eri love Angel," katanya membujuk karena wajah manyun Angel ngga hilang hilang.


Angel melengos kesal dari wajah Eri. Tapi matanya terus menatap lukisan Eri yang udah selesai.


Ngga terasa hari sudah semakin senja. Sinar matahari yang redup terlihat sangat indah menyentuh air laut.


"Dingin?" tanya Eri sambil melihat Angel yang menjauhkan kepalanya dari bahu Eri.


"Sedikit," kata Angel sambil merapatkab blazernya.


Eri tersenyum sambil merengkuh bahu Angel dalam pelukannya.


"Er, gadis tadi merasa seperti kamu bohongin," ucap Angel sambil merapatkan kepalanya di dada Eri.


"Ngapain kamu pikirin," jawab Eri cuek.


"Aku merasa kasian."


Eri menatap Angel dengan senyum miringnya.


"Jadi kamu ijinkan aku menerima dia juga?"


"Auww, sakit Angel," ringis Eri kemudian tertawa saat bahunya mendapat cubitan Angel.


"Kesal tau," marah Angel.


Selalu ngga peka, geram Angel dalam hati.


"Kan aku tadi udah bilang jangan dipikirin. Kamu malah maksa," bela Eri yang langsung bangkit berdiri menghindari cubitan cubitan Angel.


"Aku bilang kasian, kan. Kamu memang nyebelin," kata Angel juga bangkit dari duduknya dan terus saja mencubit Eri dengan perasaan marah.


"Trus aku mesti jawab apa. Kamu itu yang nyebelin. Aneh," cela Eri sambil menepis cubitan cubitan Angel yang cukup membuat lengannya merah.

__ADS_1


"Makanya jangan gatal jadi laki," omel Angel sambil terus melancarkan cubitan cubitannya.


Eri pun berlari menghindari cubitan maut Angel sambil tertawa tawa, dengan Angel yang terus mengejar tanpa lelah.


__ADS_2