Me And You

Me And You
Zaki dan Misela


__ADS_3

"Undangan nikahan ku dengan Fino," kata Rosa ketika manpir di kantor Fino. Tentu saja sendirian. Setelah ini dia akan ke butik untuk fitting gaun pengantin. Salah sendiri Fino ngga bisa menjemputnya.


Pernikahan mereka yang terkesan tergesa gesa membuat setumpuk pekerjaan harus cepat dituntaskan. Fino saat ini sedang meeting di dekat lokasi butik.


"Akhirnya kalian jadi menikah," tawa Zaki sambil melihat undangan bersampul biru laut itu.


Rosa hanya mendengus melihat Zaki membuka undangan dan membacanya.


"Datanglah bersama dokter bedah itu," sarkas Rosa membuat tawa Zaki kembali terdengar. Dia tetap terlihat santai.


"Aku pulang ya. Aku sibuk, kamu beruntung undangan langsung diantar calon mempelai," pamit Rosa sinis sambil membalikkan badan hendak pergi.


"Kita bisa minum teh dulu," tawar Zaki menahan langkah Rosa.


Rosa melipat kedua tangannya di dada saat membalikkan tubuhnya ke arah Zaki lagi.


"Jangan membuatku terlihat seperti sedang selingkuh padahal bentar lagi akan menikah."


Zaki tertawa lagi.


"Oke, oke," ucapnya masih tergelak.


Rosa mendengus sebelum membalikkan tubuhnya dan benar benar keluar dari ruangannya.


"Apa Fino bisa bertahan dengan omongan judes Rosa setiap hari. Untung cantik," gumamnya geli.


Fino yang tenang dan santai, berpasangan dengan Rosa yang walaupun cantik tapi onongannya setajam silet.


Zaki ngga menoleh ketika melihat pintu ruangannya terbuka lagi tanpa di ketuk. Dia pikir Rosa datang lagi untuk mengambil kembali undangannya. Tapi sosok yang berdiri di depannya membuatnya bergeming.


"Apa aku mengganggu?" tanya Misela yang sempat ragu untuk melanjutkan langkahnya. Sebelah tangannya memegang paper bag.


"Masuklah," sahut Zaki temang sambil terus menyorot Misela yang terlihat salah tingkah.


"Mami meminta aku mengantarkan ini untukmu. Bisa ditaroh di sini?" tanya Misela sambil.menunjuk meja tempat Zaki biasa menerima tamu.


"Ke dalam aja," kata Zaki sambil membuka pintu ruang istirahatnya.


Tangan Misela yang akan meletakkan paper bag di meja jadi terhenti. Pikirannya sudah aneh aneh ketika laki laki muda nan serius dan terlihat seperti laki laki baik ini sedang memperlihatkan sisi negatifnya.


Kita baru mau dijodohkan, masa sudah ngajak buat khilaf, cibir Misela membatin.


"Kenapa?" Alis Zaki berkerut melihat Misela bergeming dan memandangnya alergi.


Otak cerdas Zami langsung tau apa yang dipikirkan Misela.


"Kamu udah ngga sabar, ya?" candanya ringan membuat Misela.menatapnya kesal.


"Aku terpaksa nawarin kamar ini karena bentar lagi klien papi akan datang. Nanti kamu rikuh," lanjut Zaki santai sambil memasuki ruang privatnya.


Oooh, dengan agak malu Misela mengikuti Zaki memasuki ruangan itu.

__ADS_1


"Pintunya dibuka atau ditutup aja?" tanya Zaki kembali menggoda.


"Dibuka," tegas Misela sudah telanjur malu. Dia pun segera membuka isi paper bag. Ada dua mangkok bekal yang isinya sama.


"Sepertinya mami ingin kita makan bersama," kata Zaki sambil mengambil salah satu mangkok bekal dan mulai menikmatinya.


Misela pun dengan camggung juga ikut makan. Sesekali dia melirik Zaki yang terlihat serius dengan makanannya.


Apa iya laki laki setampan ini bisa patah hati?


Ada keinginan dalam hati Misela untuk menanyakan apa benar yang katakan rekan sesama dokternya, Toni.


"Ada yang ingin kamu tanyakan?"


"Tid tidak," gagap dan gugup Misela menjawab. Dia pun merutuki ketak tenangannya. Untung dia ngga batuk seperti di novel novel. Tapi kalo dia batuk, apa Zaki akan mengambilnya minum?


Ngga mungkin, batinnya menolak.


"Nih, minum. Biar ngga keselek," tawar Zaki sambil mengulurkan sebotol air mineral padanya. Dengan bodoh dan malu Misela menerimanya.


"Terimakasih "


"Sama sama."


Hening.


Mereka melanjutkan makan dalam diam. Saking sunyinya, bahkan Miseka sangat memelankan suara kunyahannya karena terdengar cukup jelas.


"Kenal," jawab Zaki tenang. Dia sudah yakin kalo Toni pasti udah cerita. Apalagi kalo Misela sudah melihat Vandra di rumah sakit. Dari papinya dia mendengar kalo Mia sudah lahiran, karena papi mereka rekan bisnis yang cukup dekat.


Kok, singkat amat jawabannya? batin Misela kesal. Bingung kan, dia nyari pertanyaan baru lagi.


"Emm... apa kamu belun nukah , ka karena masih emm... patah hati." Susah payah akhirnya kalimat itu tersampaikan juga.


"Itu kisah lama. Aku sempat beberapa kali punya pacar, tapi ngga lama," jelas Zaki tetap tenang. Dia sudah menyelesaikan makannya dan kini menatap lekat gadis di depannya.


"Kamu sendiri, udah berapa kali pacarannya?" todong Zaki langsung.


"Haaah," kaget Misela ngga nyangka Zaki bakal balik nanya. Dia merasa kerongkongan kering, langsung saja meneguk abis minumannya yang masih tersisa tadi.


"Kurang?" tanya Zaki sambil mengambil minuman kemasan dalam kulkas dan memberikannya pada Misela.


"Terima kasih," ucap Misela, tapi hanya memegang saja. Buat jaga jaga kalo nanti keselek.


"Pacar kamu udah berapa?" tanya Zaki lagi


Masih ingat juga pertanyaannya, kesal Misela membatin. Tadi dia berharap Zaki lupa.


"Berapa ya? Emm.... lupa," jawabnya sambil nyengir. Sejujurnya dia belum pernah pacaran. Dia lebih suka menghabiskan hari liburnya dengan kumpul bersama teman temannya. Baginya pacaran akan mengikat geraknya. Apa apa mesti ijin, males.


Zaki tersenyum samar. Menurut maminya, gadis di depannya belum pernah punya pacar. Keluarganya sangat ketat mengawasinya. Maklum, anak perempuan bungsu dari tiga kakak laki laki. Tapi anehnya mereka membebaskan adik perempuannya clubbing.

__ADS_1


"Malam minggu besok, jadwalmu di kosongkan, ya," ucap Zaki sambil meletakkan undangan dari Rosa.


"Undangan nikah?" tanya Misela sambil menerima undangan dan membaca nama yang tertera sebagai mempelai.


"Aku ngga kenal," tolaknya halus.


"Kamu kenal," bantah Zaki dengan senyum miringnya.


"Nggak," tegas Misela bersikukuh.


"Coba baca nama yang nikah," tukas Zaki sambil menunjukkan nama Rosa dan Fino.


"Rosa, Fino. Anak relasi papi kamu ya?" tanya Misela masih belum bisa mengingat.


Zaki tertawa, ngga menjawab. Biar saja, nanti pasti ingat sendiri, batinnya.


"Aku jemput jam tujuh malam," tegas Zaki setelah tawanya reda ngga bisa ditawar.


Misela memanyunkan bibirnya. Tapi pikirannya berkata ada yang dia lewatkan. Tapi Misela ngga bisa ingat.


"Aku pulang dulu," pamitnya sambil merapikan kotak bekalnya.


"Kamu bawa mobil sendiri, kan? Aku ngga bisa antar kamu ke rumah sakit, ada meeting bentar lagi," ucap Zaki agak ngga enak. Sudah diantar makan malah pulangnya ngga di antar. Benar benar laki ngga guna.


"Iya, ngga apa apa," kata Misela santai. Dia malah bingung nolaknya kalo Zaki maksa akan mengantarnya. Dia belum siap berduaan saja dengan Zaki sekarang.


*


*


*


"Zaki mengajakmu ke acara nikahan?" tanya Toni kepo ketika mereka bertemu di parkiran. Mobil Misela baru saja sampai di parkiran rumah sakit, berbarengan dengan mobil Toni.


"Kok, kamu tau. Kamu juga diundang?" tanya Misela bingung. Kini mereka berjalan beriringan.


"Iyalah. Teman dekat gue," sambut Toni ringan


"Teman kamu yang mana? Rosa atau Fino?"


Toni menatap gadis itu dengan geli.


"Dua duanya dokter," sahutnya tergelak


Misela terdiam. Terasa aneh.


"Rosa kemaren yang datang bareng calon suami lo. Kalo Fino yang datang bareng perempuan yang pingsan itu," jelas Toni kembali tergelak melihat wajah Misela yang kaget karena baru mengerti.


Pantasan Misela merasa Zaki tadi mentertawakan kebodohannya.


Si*alan, makinya dalam hati.

__ADS_1


__ADS_2