Me And You

Me And You
Tujuan Aldi Tercapai


__ADS_3

Aldi heran melihat Melia yang berlari cepat dan bersembunyi di belakang kakinya ketika dia baru sampai di teras rumah abangnya Ilham.


"Ada apa Mel?" tanya Aldi lembut.


"Mama lagi marah besar, Om," katanya minta perlindungan, apalagi melihat mamanya mulai mendekat.


"Om mu ngga bisa ngelindungi kamu," sentak Luvi simis.


Aldi tertawa kecil melihat wajah Luvi yang murka.


"Ada apa, Kak?" tanyanya sambil membiarkan Melia berlindung di belakangnya.


Luvi menghembuskan nafas kesal.


"Kakak tadi ditelpon bu kepsek Melia. Diminta datang sekarang. Ternyata dia abis berantem sama temannya karena marah dikatai ngga bisa baca. Anak itu sampai terkilir tangannya, bengkak lagi," sembur Luvi masih dalam mode kesal.


"Bikin malu aja," omelnya lagi.


"Si Ana selalu ngejek Mel, Ma. Baru kali ini Mel balas," bela Melia ngga terima disalahkan.


"Kamu! Menyahut aja!" geram Luvi bermaksud menjewer, tapi Aldi cepat melindungi ponakannya.


"Bentar, kak," katanya sambil menahan tangan Kak Luvi dengan sopan.


Aldi berusaha menahan tawanya agar istri abangnya ngga semakin murka.


"Kamu apain si Ana?" tanya Aldi pada ponakannya yang memang sudah berlatih karate sejak umur empat tahun.


"Kan Ana mau jambak Mel, Mel tarik tangannya, terus Mel putar sampai Ana jerit jerit, Om," cerita Melia polos membuat Aldi menggeleng gelengkan kepala sambil mengeluarkan tawanya yang udah ngga bisa ditahan lagi.


"Tuh, kamu dengar sendiri, kan, Al. Untung ngga sampai patah tulang tangan temannya," tukas Luvi betul betul geram dan kesal.


"Ya ngga mungkin lah, kak, sampai patah. Tenaga Mel ngga sekuat itu," kata Aldi membela ponakannya setelah tawanya reda.


"Kakak, kan, takut kalo sampai patah, Al," seru Luvi agak emosi.


"Iya, sih, Kak," kata Aldi maklum.


Pasti tadi Kak Luvi merasa ngga enak hati waktu ketemu sama orang tua anak yang berantem sama Melia.


"Ya udah, tolong kamu urusin dulu si Mel. Kakak harus balik ke perusahaan lagi. Meeting nya mau dilanjut bentar lagi," ucap Luvi sambil mengambil tas tangannya.


"Bentar, Kak. Ini udah aku siapin berkas sama flasdish yang kak Luvi suruh Eri periksa," kata Aldi sambil memberikan tas plastik yang diterima Luvi.


"Kamu yang kerjain?" tebak Luvi mulai kesal lagi kali ini karena sepupunya.


"Nyantai, kak. Kan bentar lagi dia merried," kekeh Aldi.


Luvi pun jadi tertawa


Iya, akhirnya si tengil itu merried juga.


"Ingat ya Mel. Jangan keterlaluan kalo mau balas perlakuan buruk teman," kata Luvi melunak sambil mengelus kepala anaknya penuh sayang


"Iya, Mi. Mel minta maaf," kata Melia sedikit menyesal karena sudah membuat maminya marah.


"Mami pergi dulu. Nanti kita bicarakan lagi soal guru les," kata Luvi sambil melangkah pergi.


"Iya, Mi."


Guru les?


"Buat siapa guru lesnya, kak?" tanya Aldi yang tiba tiba teringat Aurelia.

__ADS_1


"Buat Melia, Al. Dia belum lancar baca," kata Luvi sambil menghentikan langkahnya di depan mobilnya.


"Aldi punya teman, Kak. Nanti biar Aldi tanya teman Aldi, bisa ngga ngasih Mel les," ucapnya membuat Luvi mengangguk lega.


Satu masalah teratasi lagi dengan cepat.


"Oke, kakak tunggu secepatnya, ya. Makasih, Aldi," kata Luvi sambil masuk ke dalam mobil dan langsung menjalankan mobilnya meninggakan rumahnya.


"Kamu memangnya belum bisa baca?" tanya Aldi heran.


"Bisa dikit," ngeles Melia membuat Aldi gemas. Dia pun mengacak rambut Melia dengan sayang. Melia sendiri hanya cengengesan.


Tingkah Melia benar benar mirip banget dengan om tengilnya itu. Gimana Luvi ngga stres. Untung sekarang udah ada pawangnya. Sudut bibir Aldi pun tertarik ke atas.


*


*


*


TOK TOK TOK


Aldi yang sudah kembali ke ruangannya menoleh ketika pintu ruangannya terbuka.


"Ada apa Hes?" tanya Aldi kemudian melanjutkan kembali kerjanya.


"Ada tamu perempuan mau nemuin bapak. Di terima ngga pak?"


"Siapa?" tanya Aldi ngga acuh.


"Namanya Aurelia. Katanya udah ada janji sama bapak," kata Hesty agak takut takut. Soalnya beberapa hari ini bosnya moody banget. Suka marah marah ngga jelas.


DEG


DEG


DEG


Aldi terdiam bentar untuk meredakan degup jantungnya yang ngga menentu.


"Suruh masuk," jawabnya datar.


Ketika Hesty menutup pintu ruangannya, senyum miring tercetak di bibirnya.


Akhirnya kamu datang juga.


"Permisi," ucap Aurelia sambil melangkah masuk ke dalam ruangan Aldi. Dia pun berdiri di depan meja Aldi yang terlihat masih sibuk dengan laptopnya.


"Maaf, saya cuma mau mengantar ini," kata Aurelia sambil menunjukkan paperbag nya.


Aldi mengangkat wajahnya. Matanya meneliti penampilan gadis di depannya membuat Aurelia merasa canggung.


Apa bajunya jelek, ya, batin Aurelia insecure.


Sejak mengurusi pengobatan mamanya, Aurelia udah ngga bisa lagi berbelanja dress dress di butik butik langganannya dulu sewaktu papanya masih ada.


Tapi tadi sebelum kesini, dia meyakini kalo dress chanel lamanya masih cukup pantas dikenakannya untuk menemui tuan muda sombong ini.


"Apa itu?" tanya Aldi sambil menunjuk paperbag nya dengan pulpennya.


"Hmmm, saya membawakan makan siang," sahut Aurelia grogi.


Kepedean banget dia membawakan seorang bos makanan, umpatnya dalam hati.

__ADS_1


Tapi.dia harus melakukannya sebagai basa basi sebelum menjelaskan maksud kedatangannya.


"Kamu beli?" Aldi masih terus menatap Aurelia, membuat gadis itu salah tingkah.


"Saya.... masak sendiri," ucap Aurelia sambil mengeluarkan mangkok bekal dari paperbag dan menaruhnya di meja Aldi.


Aldi memandang mangkok bekal itu dan Aurel bergantian.


"Kamu masak apa?" tanya Aldi minat. Hatinya senang karena gadis itu memasak untuknya.


"Nasi sama dendeng sambal merah," sahutnya sambil membuka mangkok bekal itu.


"Kelihatannya enak," kata Aldi sambil menyingkirkan laptopnya dan mengambil mangkok bekal yang diberikan Aurelia.


Aurelia tersenyum saat melihat Aldi menikmati makanan yang dibawanya.


"Beneran kamu sendiri yang masak?" tanya Aldi sangsi karena masakan itu sangat enak.


"Bener, kok," kata Aurelia tegas.


Aldi tersenyum sambil menyodorkan sesendok nasi beserta sepotong daging pada Aurelia.


"Ayo," paksa Aldi sambil mendekatkan sendoknya ke wajah Aurelia membuat gadis itu mau ngga mau membuka mulutnya dengan wajah merona.


Aldi tersenyum kemudian menikamati lagi makanan itu sampai abis.


"Kanu bisa masak apa aja?" tanya Aldi setelah meneguk minumnya.


"Emmm.... yang ngga susah susah," kata Aurelia bingung mau menjelaskan menu menu yang bisa dia.masak.


"Nih minum dulu," kata Aldi sambil memberikan botol air mineral untuk.Aurelia.


"Terimakasih," kata Aurelia waktu menerimanya dan langsung meneguknya sedikit.


"Ada apa kamu kesini? Ngga cuma ngasih saya makan aja, kan?


Aldi tau, pasti gadis ini datang menemuinya ngga semata mata hanya untuk mengantarkannya makan siang. Pasti ada maksud lainnya.


"Saya mau minta keringanan. Bulan besok baru saya bisa mengangsur pinjaman saya," kata Aurelia menunduk menahan malu.


"Oke," jawab Aldi cepat membuat Aurelia mengangkat wajahnya.


"Benarkah? Terimakasih," ucap Aurelia senang.


Syukurlah. ternyata dia memang baik, batin Aurelia.


"Ponakan saya membutuhkan les privat membaca. Tapi kamu bisa ajarkan dia berhitung juga. Saya akan bebaskan pinjaman kamu sampai ponakan saya lancar membaca," ucap Aldi dengan wajah serius.


Aurelia tertegun.


Begitu saja? batinnya ngga percaya.


"Nanti kakak saya tetap akan membayar kamu. Kamu cukup bayar saya dua kali seminggu makan siang dengan menu yang berbeda.Harus kamu yang masak."


Aurelia masih terdiam. Ngga menyangka dengan apa yang di dengarnya.


"Baiklah."


"Hari ini ngga dihitung. Hitungan mulai besok. Paham?" kata Aldi merasa menang.


Akhirnya dia bisa meminta gadis ini menemuinya tanpa gadis itu menyadari tujuannya yang sebenarnya.


"

__ADS_1


__ADS_2