
Fino terpaku ketika melihat Clara di ruang meeting. Seperti pinta papanya, Fino akhirnya mendatangi salah satu perusahaan.yang dimiliki teman papanya. Kejutan untuknya, ternyata salah satu putri sahabat papanya adalah Cintya.
"Kamu?" tanya Clara reflek berdiri. Dia pun tersenyum kaku karena masih terkejut. Ngga nyangka Fino yang datang. Kakaknya meliriknya penuh arti sambil tersenyum.
"Kamu Fino, anak keduanya Om Hanggara?" sapa Cintya ramah.
"Kalian saling mengenal?" lanjutnya lagi. Semula Cintya mengira Fano, putra tertua Om Hanggara. Karena dia pernah bertenu dengan Fano beberapa kali.
"Eh, i iya," sahut Fino baru tersadar. Fino mengutuk matanya yang selalu terpesona melihat Clara. Itu pun yang membuat Rosa memutuskan dirinya untuk memikirkan ulang pertunangan mereka.
Gimana perasaan tunangannya ngga cemburu melihatnya masih saja ngga bisa mengalihkan tatapan terpesonanya pada Clara.
Rosa cemburu? Fino agak tersentak juga dengan pikiran absurdnya.
Nggak mungkin, bantah Fino yakin dalam hati. Selama mereka tunangan, Rosa bersikap biasa aja. Awalnya mereka kaku karena merasa kepaksa. Lambat laun seiring berjalannya waktu mereka mulai akrab dan santai.
Tapi saat bertemu Clara, Fino masih saja terkesima dan itu mungkin membuat Rosa jadi berpikir ulang dengan hubungan mereka.
Padahal Rosa sudah move on dari Vandra. Dan bodohnya lagi Fino baru tau kalo Clara masih belum move on dan bahkan masih mengharapkan jadi istri kedua Vandra.
Dirinya memang bego. Apa yang dia harap dari perasaan gagal move on nya pada Clara. Fino merutuk abis abisan dalam hatinya.
Tapi dia ngga bisa bohong. Perasaan lamanya yang hadir, susah untuk dia singkirkan dari relung hatinya. Perasaan itu begitu dominan. Sekian tahun lamanya ngga bertemu Clara, Fino salah kalo mengira perasaan sukanya sudah mati.
"Ayo, kita bisa mulai meetingnya." tukas Cintya ramah, untuk memecahkan suasana kaku ini.
"Oke," kata Fino berusaha menenangkan hatinya. Dia pun mengeluarkan laptopnya. Papanya sudah mengirimkan rancangan apartemen yang akan dibangun perusahaan mereka.
"Bisa saya presentasikan?" tanyanya dengan memgulas senyum tipisnya dan membuatnya terlihat semakin tampan.
"Of Course," sahut Cintya ringan. Dalam hati dia suka dengan apa yang sudah direncanakan kedua orang tua mereka.
Laki laki di depannya sangatlah tampan. Ngga jauh beda dengan Vandra yang sangat digilai adiknya. Seperti dirinya dulu terhadap Valen, kakak laki laki Vandra.
Mengapa salah satu dari mereka tidak ada yang dapat memiliki keturunan Dewantara. Padahal dirinya dan adiknya ngga kalah cantik dari pasangan dua V itu.
Cintya membuang nafasnya perlahan sambil melihat Fino mempresentasikan rancangan dan struktur bangunan apartemen. Sekretaris Fino turut membantunya.
Cintya melirik adiknya yang sepertinya agak kurang fokus. Membuatnya heran. Apakah hubungan mereka sejak awal udah memburuk? batin Cintya menduga.
Begitu selesai, Cintya yang sudah mempelajari proposal dari Om Hanggara menyetujui tanpa banyak revisi. Dia sudah cukup puas melihatnya. Mereka masih memerlukan beberapa meeting untuk menentukan perusahaan rekanan yang menyediakan material dan tenaga ahli.
Cintya yang ingin memberikan waktu untuk Fino adiknya, pamit meninggalkan keduanya. Sekretaris Fino dan sekretaris Clara pun dibawanya serta menjauh.
"Aku ngga nyangka kamu putrinya Om Lakasoka" ucap Fino membuka percakapan karena melihat Clara yang sepertinya kurang nyaman.
"Iya," balas Clara lembut kemudian tersenyum.
Suaana keduanya kembali hening. Rasanya ada yang beda dengan hatinya, kali ini Fino ingin cepat cepat meninggalkan ruangan, meninggalkan Clara. Padahal dulu rasanya dia ingin bisa memulai percakapan spesial dengan Clara.
"Fino, emm... aku minta maaf soal banner." Clara yakin Fino tau soal banner, karena dia salah satu teman dekat Vandra. Karena itu Clara merasa sungkan dan ngga enak hati berhadapan dengan Fino.
"Lupakan saja. Lagian Vandra juga sudah melupakannya," balas Fino sambil menatap lekat wajah cantik Clara.
"Aku juga mau minta maaf, karena ngga sengaja mendengarkan obrolanmu bersama Vandra, saat pesta Aldi," katanya menjeda menunggu reaksi Clara.
Dan dia pun berhasil. Wajah gadia cantik di depannya merona merah menahan malu.
Fino tersenyum tipis. Wajah itu semakin cantik. Fino benci dirinya yang sangat memuja Clara. Padahal gadis itu memuja Vandra. Benar benar ngga nyambung.
__ADS_1
"Aku mau minta tolong," ucapmya dengan nada mengambang. Ragu tapi tetap harus dia katakan.
"Ya?" tanya Clara heran dan menunggu sampai Fino menjawabnya dengan dada dipenuhi debaran. Apalagi tadi Fino mengatakan mendengar apa yang dia ucapkan ke Vandra.
Fino menghembuskan nafasnya kasar.
"Tolong jangan ganggu hubungan Vandra dan Mia. Sebentar lagi Mia akan melahirkan. Kuharap kamu mengerti," tanda Fino penuh tekanan, tapi tetap dengan suaranya yang lembut.
Clara kembali mendongakkan kepalanya yang tadi sempat tertunduk
"Kamu mengkhawatirkan Mia?" tuduh Clara lembut.
Fino tersenyum miring.
"Mia, juga Vandra. Mereka sangat dekat denganku," tegasnya membuat Clara memalingkan wajahnya ke arah lain.
"Akan aku coba," ucap Clara lirih. Sejujurnya dia ngga mau mengganggu pernikahannya dengan Mia dan Vandra. Tapi hatinya begitu berbunga ketika melihat Vandra.
"Aku permisi," pamit Fino sambil melangkah pergi. Dia ngga ingin goyah lagi. Apa perlumya berharap pada sesuatu yang ngga pasti.
Clara hanya menatap punggung tegap itu pergi. Dia masih mengingat, mata elang itu selalu menatapnya diam diam. Dulu.
Tapi sosoknya selalu tertutupi pesona Vandra. Padahal Fino ngga kalah tampan dan gagah dari Vandra.
*
*
*
"Sendirian?" sapa Fino ketika memasuki sebuah kafe ngga jauh dari perusahaan Clara.
"Ngapain Lo di sini? Ada proyek di sini?" tanya Ando sambil menyesap kopinya. Dia sudah setengah jam duduk di kafe ini. Setelah urusannya selesai dengan salah satu kliennya di dekat perkantoran sekitar kafe.
"Iya," kata Fino sambil memesan kopi yang sama dengan Ando.
"Gue lagi bingung," kata Ando sambil memutar cangkir kopinya.
Fino ngga menjawab, hanya menatap Ando serius. Ingatannya tentang Clara yang menangis di pelukan Ando berputar putar kembali di kepalanya.
"Clara kelihatannya serius dengan Vandra."
Fino ngga menjawab. Tapi dalam hatinya membenarkan.
"Mia bentar lagi melahirkan, aku ngga mau dia banyak pikiran," lanjutnya kemudian menyesap kopinya lagi. Ando benar benar resah.
"Tadi gue udah memperingatI Clara, jangan mengganggu Vandra," kata Fino setelah keduanya cukup lama terdiam.
"Kalian bertemu?" tanya Ando terkejut.
"Kita dalam satu proyek."
Ando manggut manggut.
"Sorry, gue pernah dengar katanya Lo suka sama Clara," tanya Ando acuh ngga acuh.
"Ya."
"Apa karena itu pertunangan Lo putus?"
__ADS_1
"Ya."
Ando terkekeh pelan mendengar jawaban jawaban singkat itu.
"Hubungan Lo sendiri dengan Clara gimana?" Fino ngga bisa lagi menahan rasa penasarannya.
"Temen aja."
"Kenapa? Lo cemburu?" lanjut Ando meledek.
"Sedikit," aku Fino jujur kemudian menyesap kopinya, diikuti Ando.
"Gue berusaha menjauhkan Clara dari Vandra. Tapi dengan cara halus. Dia lembut dan rapuh. Gue takut Vandra memberikannya harapan tanpa dia sadari," jelas Ando panjang lebar.
Fino mengangguk mengerti.
"Dulu Eri pernah ngasih nomer telpon Clara. Tapi Vandra ngga pernah telpon katanya. Fokusnya ke sepupu Lo," senyum Fino merekah. Membayangkan betapa cemburunya Vandra dengan Ando.
Ando pun terkekeh mendengarnya. Si Childish.
"Cinta memang aneh ya. Sekarang kamu mau lanjut dengan Clara?"
Fino ngga menjawab. Dari tadi dia menghubungi Rosa, tapi gadis itu ngga mengangkat telponnya. Pesannya pun ngga dibaca.
"Gue bingung. Gue masih belum bisa berkedip kalo lihat Clara. Tapi hati gue ragu. Kalo sama Rosa, gue bingung, perasaan gue teman atau udah kekasih," curhat Fino membuat Ando terkekeh.
"Nurut gue, ni kesempatan Lo ngebuktiin, hati Lo sama siapa. Mungkin dengan Clara hanya kagum saja. Soalnya dia cantik banget," nasihat Ando.
"Gaya Lo. Kenapa bukan Lo aja?" cibir Fino merendahkan. Ando terkekeh lagi.
"Awalnya gue mau mengorbankan diri. Tapi ada Lo yang mau buktiin perasaan Lo," lanjut Ando terkekeh.
"Karena Belinda ya," tuding Fino balas mengejek.
Ando ngga menyahut, masih betah dengan tawanya.
"Kira kira anak siapa yang digandeng Belinda?" cicit Fino menyindir.
"Gue takut anak gue. Tapi kenapa dia ngga menghubungi gue ya minta pertanggungjawaban?" jawab Ando ringan. Tapi engga dengan pikirannya. Udah beberapa hari ini Ando suntuk sejak mendengar kabar Belinda kembali ke kota ini dengan seorang anak perempuan kecil.
"Gilaaa, Lo sembarangan buang?" kali ini Fino benar benar ngakak.
Ando hanya tersenyum lebar ngga menjawab. Dengan Belinda, dia ngga pernah pake karena dia tau kalo Belinda cewe baik baik biarpun kelakuannya diluaran cukup berani. Belinda masih perawan. Karena itu Ando merasa bertanggung jawab.
*
*
*
Rosa yang sedang mengamati bunga bunga tulip yang indah di keukenhof, agak heran menerima panggilan telpon dari Fino. Tapi karena masih kesal, dia ngga mengangkatnya. Fino terus menghubunginya sampai beberapa kali. Rosa hanya menatapnya datar hpnya.
Dia sudah berusaha melupakan Vandra demi Fino. Mereka menjalani pertunangan mereka dengan santai. Bahkan Fino sesekali memanggilnya sayang membuat hatinya tercubit.
Harapannya untuk segera menikah dengan Fino kandas begitu saja ketika melihat tunangannya itu ngga berkedip menatap Clara. Tatapannya berbeda saat melihatnya. Rosa sadar, hati Fino masih untuk Clara.
Padahal Rosa sudah bisa melupakan Vandra. Jantumgnya yang dulu selalu berpacu cepat saat berdekatan dengan Vandra, kini sudah normal. Sudah biasa saja. Rosa akui, waktu yang lama lah yang membuatnya juga bisa melupakan cintanya untuk Vandra.
Mungkin sekarang saatnya memberikan Fino kesempatan untuk berdekatan dengan Clara. Biarpun ada perasaan ngga rela, tapi rasanya Rosa perlu mengetes Fino. Siapa yang akan dipilih hati Fino.
__ADS_1