
"Kenapa kalian berkumpul semua di sini? Kalian bolos," canda Valen sambil terkekeh pelan. Wajahnya agak mengernyit menahan rasa sakit di dadanya.
Valen baru saja membuka matanya. Dia tersenyum lebar melihat keluarganya berkumpul lengkap.
"Dady," panggil Abhi dan si kembar bersamaan senang campur cemas.
"Apa masih sakit?" tanya Sarah sangat lembut. Matanya berkaca kaca.
Papi merangkul pundak mami yang mulai tersenyum lega melihat anak tengilnya sudah sadar.
Vandra pun tersenyum pada Mia yang juga berada dalam rangkulannya.
"Kamu hebat, Bang. Kita selamat karena kamu," kata Vandra tulus.
Valen melebarkan senyumnya, tapi kemudian wajahnya berubah keruh.
"Gue ngga sengaja," sesalnya ketika mengingat kematian Anastasia.
"Bukan salah Lo, Bang. Lo udah berusaha menyelamatkan dia," kata Vandra menjelaskan.
"Dady, syukurlah dady ngga apa apa," tukas Abhi mengalihkan topik dady dan omnya. Abhi ngga ingin dadynya banyak pikiran dulu paska operasi.
Valen menatap putra sulungnya dengan seringai jahilnya.
"Dady ngga apa apa. Harusnya kalian tetap sekolah. Terutama kanu, Abhi."
Ketiga anakmya saling pandang.
"Kamu ngga usah nyuruh anak anak rajin sekolah.Mereka udah tau sendiri. Mereka itu nggak kayak kamu tau," omel Sarah membuat kedua orang tuanya dan Vandra tergelak. Mengetawakan Valen.
Abhi hanya cengengesan sedangkan Ezra dan Erza tetap dengan wajah datarnya.
Dengan menahan sakit, Valen pun tertawa pelan.
"Awas kalo besok ada kejadian gini lagi, kamu suruh aku shopping sama mami," tandas Sarah masih kesal.
"Sorry honey," ucap Valen lembut setelah tawanya reda.
"Jangan ada kata lagi," kata Valen agak trauma. Baru kali ini dia membunuh, apalagi perempuan dengan sangat kejam, walaupun tanpa di sengaja.
Sarah menganggukkan kepala, mengerti apa yang dipikirkan suaminya.
Walaupun sering mendengar kelakuan buruk Anastasia, tapi Sarah pun ngga tega membayangkan kematian mengenaskan Anastasia. Pasti dalam hati Valen masih terguncang.
"Bener itu, Sarah. Apa papi juga terlibat?" tuding mami jadi ikutan kesal dengan suaminya.
"Papi juga ngga tau, Mi. Indarsono sama Antoni ngga pernah cerita," kata papi membela diri. Vandra menyembunyikan tawanya melihat papi yang kalang kabut mencoba membuat mami percaya.
Memang aneh kalo papi ngga tau, karena Om Nirwan dan Om Arif terlibat. Mereka oang kepercayaan Om Indarsono-papa Doni, dan Om Antony-papa Bang Celon. Teman teman dekat papi.
"Harusnya papi juga ikut, bisa bisanya membiarkan Valen sampi terluka begini," omel mani yang rasa kesalnya masih belum berkurang
"Iya, Mi. Tapi papi beneran ngga tau," kata papi bersikeras membela diri.
"Sudahlah, mi. Valen yang ceroboh," kata Valen mencoba menenangkan maminya.
Valen sebenarnya tertawa dalam hati melihat papi yang tetap berusaha mempertahankan kebohongannya di depan mami.
__ADS_1
"Kapan dady bisa kembali ke rumah?" tanya Ezra yang pusing melihat pertengkaran opa dan omanya.
"Secepatnya," tukas Valen cepat. Ngga betah dia lama lama di rumah sakit.
"Besok kamu baru boleh pulang, sayang. Dokter harus ngecek keadaan kamu dulu," ucap Sarah sambil menggenggam tangan Valen.
Valen tersenyum menatapnya. Hampir saja dia kehilangan mereka semua. Dan turut membawa adiknya serta. Padahal istrinya lagi nengandung. Sungguh mukjizat yang tiada tara dia berhasil menangkap bom yang dilemparkan Anastasia.
Waluou Anastasia sudah melakukan kejahatan luar biasa kejam, Valen tetap ngga berhak membuat dia celaka. Harusnya penjaralah tempatnya.
Tapi nasi sudah menjadi bubur. Keadaan waktu itu sangat genting dan dia hanya menikirkan keselamatan orang orang yamg berada di dalam gedung.
Tapi seingatnya dia melempar bom itu menjauhi Anastasia. Tapi gadis itu sendiri yang berbalik cepat karena kaget melihat bom yang berhasil ditangkap Valen dan tanpa dia sadari malah berlari ke arah lemparan bom Valen.
"Tulamg selangkamu ngga patah, habya bergeser. Tapi tetap saja kamu harus istirahat di rumah," kata Sarah lagi.
"Nanti aku yang akan mengurus masalah kantor, Bang. Begitu juga Bang Emir dan Kak Ekka akan membantu," sambung Vandra membuat Valen tesenyum.
"Sudah sadar, Bro," sapa Ferdi yang masuk bersama istrinya, juga Ilham dan Luvi yang menggendong Iqbal. Emir dan Elka menyusul di belakang.
Melihat kamar yang jadi rame, Abhi berinisiatif membawa si kembar keluar.
"Melia mana, tante Luvi?" tanya Abhi yang ngga melihat anak perempuan kecil itu.
"Di kantin sama Oliv," kata Olin yang menjawab.
Valen dan Ferdi sama berdehem, tentu saja Abhi yang peka mengerti walau hatinya sempat ngedumel.
Om Ferdi tau juga pa ya rencana dady? tebaknya dalam hati.
"Abhi sama si kembar kantin dulu," pamit Abhi sambil menepuk.si kembar agar mengikutinya.
"Iya, Mi, Pi. Elka juga mau pulang. Malik dan Lila udah lama Elka tinggal," kata Elka sambil menatap kedua orang tuanya.
"Baiklah, kalo gitu. Ayo Mia ikut pulang. Kamu lagi hamil, jangan lama lama di rumah sakit. Luvi mau ikut pulang sama tante?" ucap mami Sonya sambil melihat Luvi dan mantunya.
"Luvi di sini aja, tante," tolakmya sopan.
"Oke."
"Kamu pulang dulu, ya, sama mami," titah Vandra pada Mia.
"Baiklah," kata Mia menurut.
Akhirnya Mia digandeng Mami dan mengikuti langkah Elka dan papi yang sudah berjalan di depan.
Abhi dan kembarannya pun mengikuti dari belakang.
Setekah semuanya pulang, Valen berdehem.
"Apa langkah kita selanjutnya?".
"Sementar belum ada. Cuma gue harap, keluarga harus dalam pengawalan," ucap Ferdi.
"Apa akan ada ancaman seperti ini lagi?" tanya Sarah agak cemas. Dia trauma dengan kejadian belasan tahun yang lalu. Waktu Abhi kecilnya diculik.
"Kamu tenang aja. Kita akan baik baik saja," janji Valen optimis.
__ADS_1
"Tapi...." tanya Sarah terpotong ucapan Valen.
"Tadi aku agak ceroboh. Aku akan lebih hati hati," ucap Valen menenangkan.
Yang lain hanya diam saja dan saling pandang. Mereka hanya berharap semoga ke depannya akan baik baik saja.
*
*
*
"Tuh, mereka lagj ngebakso," kata Erza yang melihat Oliv dan Melia yang berada di pojok depan kantin.
"Kalian mau apa. Biar abang pesankan," ucap Abhi sambil menatap kedua adiknya.
"Bakso tanpa mie," jawab keduanya kompak.
"Oke, tunggulah di sana," ujar Abhi sambil melangkah pergi untuj memesan bakso.
"Bang Erza, Bang Ezra," seru Melia senang melihat si kembar menghampiri mereka. Wajahnya pun merona merah saking senangnya melihat keduanya menyusul ke kantin.
"Kalian sama siapa?" tanya Oliv ketika melihat si kembar yang datang menghampiri mereka.
"Sama Bang Abhi. Lagi lesan bakso," jawab Erza sambil duduk di samping Ezra.
Oliv menatap arah yang ditunjuk Erza. Cowo itu begitu menyolok dengan postur tinggi dan ketampanannya.
Heh, protes batin Oliv mengingatkan.
Lihatlah, dia selalu saja genit tersenyum dengan perawat perawat di dekatnya. Dasar, maki Oliv dalam hati.
"Bang Abhi banyak yang liatin," puji Melia kagum.
Memang perhatian pengunjung khususnya perempuan, selalu tertuju padanya.
Oliv ngga menanggapi, begitu juga si kembar. Udah biasa melihat Abhi jadi pusat perhatian.
Setekah memesan bakso, Abhi pun mendekati mereka.
"Ntar lagi baksonya datang," kata Abhi sambil menduduki dirinya di samping Oliv yang pura pura ngga melihatnya.
"Gimana privat kamu, Mel? Lancar?" tanya Abhi perhatian.
"Lancar, Bang. Gurunya Bu Aurelia," kata Melia melaporkan.
"Bagus, dong. Melia jadi tambah cepat pintarnya," puji Abhi senang. Melia tertawa mendengarnya. Si kembar pun menaikkan sedikit sudut bibirnya.
"Melia les privat?" tanya Oliv heran karena baru tau. Setaunya gadis kecil ini cukup pintar.
"Iya, Kak Oliv. Melia belum lancar bacanya," ucap Melia jujur.
"Sekarang gimana?" tanya Oliv lagi.
"Udah lumayan," katanya dengan senyum cerianya.
"Syukurlah," ucap Oliv kemudian tersenyum manis membuatnya tampak semakin cantik.
__ADS_1
Abhi sempat terpesona melihatnya. Hampir ngga pernah si judes ini tersenyum. Tapi Abhi cepat melengos begitu Oliv balik menatapnya.
Entahlah, Abhi ragu mewujudkan harapan dadynya. Apalagi dia dan Oliv seperti kucing dan tikus. Sulit akur.