Me And You

Me And You
Akhirnya cerita


__ADS_3

"Banyak banget kerjaannya. Ngga mungkin kelar ini pas hari pernikahannya si geblek itu," omel Irfan sambil mengecek kecocokan isi berkas dengan yang ada di flashdisk.


Kemudian dia meneguk kopi kaleng yang banyak sekali di beli Aldi.


"Makanya, gue pusing banget. Oiya udah malam ni. Biar besok lagi aja. Mau pecah nih kepalaku," keluh Aldi mumet.


"Besok coba gue nanya Vandra atau yang lainlah. Siapa tau bisa bentu. Besok pulang kantor, gue bantuin Lo," kata Irfan berjanji.


Dia pun merapikan berkas berkas di meja Aldi yang tadi dikerjakan. Jam di ruangan Aldi sudah menunjukkan pukul sepuluh.


"Makasih ya. Untung gue punya teman kayak Lo," kata Aldi dengan senyum senang tersungging di bibirnya.


Irfan ngga menggubris, pikirannya mulai kemana mana.


"Al, Lo pernah ngga berbuat kesalahan yang fatal banget?" tanya Irfan sambil menyusun berkas berkasnya pelan pelan.


Aldi sudah curiga kalo Irfan pasti punya masalah berat. Dia dapat melihat kegelisahan temannya sejak pertama kali bertemu tadi sore.


"Misalnya?" pancing Aldi pura pura bodoh.


Irfan menggusar rambutnya sambil menghela nafas beberapa kali.


Dia ngga ragu buat cerita, karena Aldi, Fino atau Vandra, mereka bertiga bisa dipercaya dalam menyimpan rahasia.


Tapi dia takut juga dengan reaksi temannya. Irfan takut akan dikecam Aldi atas tindakan ngga bermoralnya pada Sandrina.


"Ada apa?" tanya Aldi mulai tertarik.


Sepertinya serius, batin Aldi yang melihat temannya makin gelisah.


"Tiga minggu lalu gue ke club dengan Igo dan Doni. Seperti biasa, kita sibuk sendiri sendiri. Sampai akhirnya gue ngelihat Sandrina menari erotis bersama beberapa pria. Sepertinya dia mabok berat."


Aldi mulai sedikit paham mengapa tadi dia melihat Irfan memperhatikan Sandrina yang menangis di dekat mobilnya.


"Aku bermaksud menolongnya. Apalagi saat itu tiba tiba dia pingsan dan dipeluk beberapa laki laki yang menari dengannya. Akhirnya aku membawanya ke hotel Fino."


Irfan kembali diam dan menghembuskan nafasnya dengan kasar.


Aldi sudah menebak apa yang terjadi selanjutnya.


"Kamu menidurinya?"


"Ya, berkali kali. Gila, dia begitu nikmat, aku ngga pernah puas," kata Irfan jujur.


"Sial," kata Aldi sambil.melempar pulpennya ke jidat Irfan. Tapi sebagai mantan pemain basket, dengan mudah Irfan menangkapnya.


Irfan membuang nafasnya kasar.

__ADS_1


"Sungguh, niat awalku hanya mau menolongnya. Tapi malah aku yang merusaknya. Apalgi dia masih perawan," kata Irfan frustasi.


"Menang besar, domg, Lo," sarkas Aldi gemas.


Irfan menyeringai.


Iya, dia memang menang besar, batinnya.


"Tapi aku pengecut. Paginya sebelum dia bangun, aku pergi meninggalkannya sendiri. Aku beruntung karena Eva berkata ada meeting mendadak," cerita Irfan lagi sambil memijat kepalanya.


Dasar penjahat kelamin, hina Aldi sambil menggelengkan kepala. Ingin banget dia menonjok wajah temannya.


Sandrina bukan gadis nakal. Mungkin dia begitu akibat patah hati karena tau Eri akan menikah sebentar lagi. Sebagai pemuja Eri pasti dia sangat terguncang. Mengapa tiap masalahnya selalu ada sangkutannya dengan saudara kurang ajarnya itu.


Aldi terdiam, sibuk dengan pikiran pikirannya sendiri yang membuatnya gusar.


"Aku lupa ngga pake pengaman," kata Irfan dengan suara stresnya.


"Apa tadi Sandrina menangis karena dia hamil dan ngga tau bajingan mana yang menghamilinya?" tebak Aldi kasar.


Irfan agak tersentak karena temannya memakinya. Tapi wajar. Dia memang bajingan.


"Sekarang Lo tinggal mengaku saja, kan, kalo Lo yang menghamili Sandrina," kata Aldi gemas campur kesal.


"Masalahnya gue takut Sandrina marah," kata Irfan membuat Aldi tertawa sinis.


Irfan menggusar lagi rambut gondrongnya, kali ini dengan dua tangannya. Benar benar stres dia.


"Gue juga takut papa sama mama marah sama kelakuan gue," kata Irfan lagi sambil memejamkan mata.


"Resiko Lo," tukas Aldi datar.


Ya, resiko gue ngga bisa nahan diri karena hidangan lezat di depan mata, batinnya lagi.


Malam itu Sandrina benar benar beda. Dia memakai baju yang sangat seksi berbahan tipis dengan menampilkan sebagian besar dadanya. Roknya pun sangat pendek dan dihiasi renda renda yang hanya bisa menutupi sedikit bokongnya.


Apa dia sudah gila berpakaian seperti itu dan pergi sendirian ke club yang penuh dengan laki laki brengsek seperti dirinya?


Sejak membawanya keluar club, Irfan sudah susah payah menahan gairahnya. Apalagi saat Sandrina didudukkannya di mobil. Hampir dia khilaf memangsanya.


Tapi pertahanan Irfan hancur begitu dia sampai di kamar hotel. Irfan udah ngga bisa menahan juniornya yang sudah minta masuk ke tempat yang benar. Saking bergairahnya, Irfan lupa memasang pengamannya.


Apa dia bisa menikah hanya untuk menuntaskan gairahnya saja. Apa bisa awet pernikahannya.


Irfan membuang lagi nafasnya dengan kasar.


Aldi memandang Irfan yang benar benar stres.

__ADS_1


Aldi tau prinsip temannya yang mau menikmati surga dunia dulu sebelum umur tiga puluh tahun. Tapi bodohnya dia kebablasan dengan Sandrina.


"Sorry, gue ngga maksud mengecam Lo. Masalahnya yang buat gue kesal, ada anak yang butuh diakui bapaknya," kata Aldi berusah menahan kekesalannya.


Irfan terdiam.


"Gue belum siap nikah sekarang. Lo tau kan target umur gue menikah?" ucap Irfan ngga lama kemudian.


"Salah Lo, masa Lo tega dia besarin anak Lo sendirian?" tanya Aldi makin gemas akan kelemotan daya pikir sahabatnya.


"Bukan begitu. Tapi papa dan mama sepertinya akan menjodohkan gue," kata Irfan akhirnya.


"Sama siapa?"


"Besok siang gue diajak mama dan papa makan bersama keluarga gadis itu."


Aldi menghela nafas.


"Terserah Lo..Tapi nurut gue Lo terus terang sama orang tua Lo kalo udah merusak anak gadis orang," tandas Aldi pedas.


"Gue tau gue salah. Tapi menikah ngga maen maen, Al. Vandra dan Eri sama sama nikah dengan orang yang dia cinta. Sedangkan gue? Hanya karena kesalahan sekali tok itu aja," kata Irfan membela diri.


"Paling engga Lo nikahin dia karena dia mengandung anak Lo," kata Aldi tajam membuat Irfan ngga bisa membantah lagi.


"Mungkin abis anak Lo lahir, terserah kalo Lo berdua mau cerai atau lanjut," kata Aldi terpaksa memberi alternatif gila.


Aldi hanya ingin anak itu lahir sudah memiliki nama belakang Irfan sebagai ayahnya.


Ngga kebayang masa depan anak itu bakal di bully teman temannya karena lahir tanpa ayah.


Apalagi kalo yang lahir berjenis kelamin perempuan. Dia kan butuh wali buat nikah besoknya. Bukan wali.hakim.


Irfan kembali terdiam.


Kata kata Aldi ada benarnya juga, batinnya.


"Gue pikirin lagi. Gue pulang dulu."


"Langsung pulang. Jangan ke bar."


Irfan tertawa.


"Nggak lah. Gue mau pikirin kata kata Lo barusan," tukas Itfan sedikit melegakan hati Aldi.


"Jangan terlalu lama mikirnya. Perut Sandrina bentar lagi kelihatan," kata Aldi mengingatkan.


Irfan terdiam.

__ADS_1


"Ya," katanya sambil keluar dari ruangan Aldi.


__ADS_2