Me And You

Me And You
Toni, Dokter Kandungan yang laris


__ADS_3

Vandra sedang memasukkan baju baju Mia ke dalam koper, dibantu mama Mia dan kakak perempuannya, Elka. Mia sudah dipaksa Vandra untuk duduk di kursi roda bersama bayi mereka.


"Rumah pasti akan rame sekali," ucap. Mama.Reta dengan nada senang. Rumah besannya saat ini dipenuhi banyak sekali anak kecil.


"iya mama Reta," sambut Elka sambil merapikan tas milik bayi Al.


Andre dan Rasya masih menghabiskan liburannya dengan tinggal bersama orang tua Rasya. Andre harus merubah rencananya untuk memboyong anak anaknya pindah. Walaupun putri kembarnya yang kedua minta pindah sekolah bersama sepupunya, Andre dengan berat hati teroaksa membatalkannya.


"Udah mau pulang nih?" tanya Toni yang masuk ke kemar perawatan Mia dengan jas dokternya.


Mia mengangguk dan tersenyum. Begitu juga mama Reta dan Elka.


"Kamu nggq ada pasien?" tanya Elka melihat ada seorang perawat di belakangnya.


"Tadi periksa pasien di kamar sebelah, kak," jelas Toni.


"Soalnya pasien yang ini ngga boleh aku periksa," sindir Toni kemudian nyengir.


Elka terkikik, begitu juga Mia. Sementara Vandra pura pura ngga dengar dan pura pura ngga lihat keberadaan Toni di depannya.


"Loh, kenapa? Toni dokter kandungan juga, kan?" sela mama Reta cukup heran dan menatap Mia penuh tanys.


"Jadwal Toni sudah penuh, ma," bohong Mia kemudian tersenyum geli sambil melihat Toni yang jadi tergelak. Demikian juga Elka. Vandra tetap datar dan cuek.


"Oo begitu ya. Toni laris manis ya, jadi dokter," puji mama Reta kagum.


Mia hampir tersedak mendengarnya. Elka tersenyum sambil memandang ke arah lain sambil memgedipkan sebelah matanya pada Toni yang masih tergelak.


"Dokter Toni, di sini rupanya," tegur seorang gadis cantik yang juga berjas dokter sambil mengangguk hormat dan tersenyum pada mama Reta, Elka dan Mia. Dia hanya menlihat punggung Vandra. Tapi begitu Vandra berbalik, gadis cantiik yang ternyata dokter Misela menatap Vandra heran sesaat. Mencoba mengingat.laki laki tampan itu.


""Ada apa?" tanya Toni langsung.


"Ada pasien yang bentar lagi mau operasi cesar, dok," kata dokter Misela cepat. Dia tersadar dengan tujuannya mencari dokter Toni.


"Oke. Tante, Kak Elka, Van, Mia, saya pamit dulu," ucap Toni sopan.


"Daaag bayi Al." Toni mengusap rambut tebal Alano sebelum ngacir karena tatapan horor Vandra.


"Ya," sahut mama Reta dan Elka kompak. Mia hanya mengembangkan senyumnya. Dia merasa aneh karena dokter perempuan di depannya menatapnya dan bayinya sebelum pergi.


"Kamu kenal, Van?" tanya Mia setelah keduanya meninggalkan kamar Mia.


"Calonnya Zaki," respon Vandra ngga acuh. Masih malas dia menyebut nama mantan saingan beratnya dulu.


Mia membulatkan matanya.


"Kamu bertemu Zaki?"


"Kenapa? Kamu pengen ketemu juga," tanya Vandra dengan menaikkan sebelah alisnya. Suaranya pun ngga ramah membuat ketiga wanuta itu tersenyum simpul.


"Cemburu dia Mia," ejek Elka membuat Vandra melengos kesal.

__ADS_1


Miq tersenyum melihatnya. Dia suka melihat Kak Elka membuat Vandra naik darah.


"Ngapain," elaknya dengan wajah menyimpan kesal yang sangat jelas membuat Elka gemas dan tambah ingin menggodanya.


"Mantan Mia ya?" tebak Elka sambil menyilangkan kedua tangannyd di.dada.


"Bukan," jawab Mia dan Vandra kompak.


"Teman SMA kita dulu, kak," ralat Mia sambil menahan senyum melihat wajah cemberut Vandra.


"Ooo," lirik Elka dengan tatapan menggoda pada adiknya yang terlihat mulai panas.


"Sudah, ayo kita pulang," lerai mama Reta yang tau kalo menantunya cemburu sambil berjalan melewati Vandra. Bibirnya mengembangkan senyum lebar. Mama Reta jadi penasaran juga dengan hubungan antara Mia dan Zaki. Apalagi melihat Vandra terlihat kesal.


*


*


*


"Bukannya itu laki laki yang buat perempuan dulu itu sampai pingsan?" tanya Misela setelah teringat kejadian malam itu, saat menjejeri langkah Toni.


Toni nga menjawab, dia terus saja berjalan semakin cepat. Baginya keselamatan.pasiennya lebih penting dari segala keingintahuan Misela.


"Kalian saling kenal, kan? Perempuan yqng duduk di kursi roda tadi itu istrinya? Seperti baru melahirkan," cecar Misela betubi tubi. Dia harus mendapatkan jawaban.


Toni mengacuhkannya sampai terdengar hentakan kaki Misela membuat Toni menatapnya datar.


Misela nyengir, menyadari dia terlalu kepo.


"Aku masih bingung dan masih sangat penasaran," kekehnya ringan.


Toni menghela nafas.


"Bagaimana hubunganmu dengan Zaki?" Toni balik bertanya. Dia juga kepo dengan hubungan Misela dan Zaki.


"Setelah pesta malam itu kami belum pernah bertemu lagi," ungkap Misela.jujur. Dia ngga sedih, atau kecewa. Misela menyadari kesibukan Zaki. Juga hubungan aneh mereka. Hanya kejadian malam itu meninggalkan terlalu banyak tanda tanya.


Toni hanya meliriknya sekilas tanpa berkimentar. Misela pun ngga bertanya lagi. Mereka pun tiba di depan kamar pasien yang akan melahirkan. Perawat yang mengikutinya dari belakang langsung berbaur dengan beberapa perawat yang sudah menunggu mereka di depan pintu.


"Bawa ke ruang operasi," putus Toni yang dengan cepat direspon para perawat dan keluarga pasien. Mereka pun membawa pasien ke ruang operasi.


*


*


*


"Mereka teman teman SMA ku," jelas Toni setelah operasi caesar sukses mereka dilakukan. Mereka kini sedang berada di root top hotel sambil menikmati secangkir kopi panas.


Misela diam menatap Toni. Rekannya itu sangat jarang mengobrol panjang lebar. Walaupun terkenal usil dan menyebalkan, tapi Toni tetaplah laki laki yang sangat irit bicara, apalagi sekarang seperti ingin membuka sedikit topengnya.

__ADS_1


Toni menyesap kopi panasnya tanpa berniat melanjutkan membuat Misela yang menunggu jadi kesal.


"Perempuan yang pingsan itu berkali kali ditolak Vandra," lanjut Toni tiba tiba sambil menatap lurus ke depan.


Jadi namanyaa Vandra, batin Misela sambil terus menatap Toni seakan berkata, lanjutkan.


Tapi wajar.perempuan secantik itu tergila gila dengannya. Laki laki itu sangat tampan dan dingin. Perempuan mana pun pasti akan suka saat melihatnya.


"Vandra sangat mencintai istrinya." Toni kembali menyesap kopinya.


Misela masih diam. Berusaha mencerna penjelasan Zaki yang ngga terstruktur.


"Zaki dulu ditolak Mia."


Haaah, siapa lagi Mia.


"Mia? Siapa dia?" tanya Misela bingung campur terhenyak.


Zaki pernah patah hati ternyata, batin Misela tambah penasaran akan perempuan idaman Zaki.


Toni tersenyum melihat reaksi cepat Misela saat dirinya menyebut nama Zaki.


"Mia itu yang tadi duduk di kursi roda. Dia istrinya Vandra," jelas Toni geli ketika melihat raut wajah Misela berubah.


Cemburu lo, ejeknya dalam hati.


Misela mencoba mengingat perempuan yang disebut Toni dalam alur ceritanya. Sangat cantik dan lembut. Seperti itu idaman Zaki? Tentu dirinya berada jauh di luar kriteria Zaki, monolog Misela dalam hati. Ada setetes rasa kecewa menyiram hatinya yang panas.


"Malam itu sangat aneh, " sambung Toni.


"Aku bersama kamu, Fino bersama Clara, Zaki bersama Rosa. Abaikan Vandra dan Eri."


Toni menggelengkan kepala sambil meremas gelas kertas kopinya yang sudah habis diteguknya.


Sudah cukup, hatinya memperingatkan. Dia ngga perlu terlalu ikut campur urusan orang lain.


Misela mencoba mencocokkan nama nama yang disebut Zaki sesuai kejadian malam itu.


"Kalo kamu pengen lanjut dengan Zaki, teraplah seperti ini. Jangan berubah seperti Mia," nasihat Toni sambil pergi.


Misela ngga menjawab. Juga ngga bertanya lagi. Dia pun membiarkan Toni pergi.


Kejadian malam itu tergambar jelas di pelupuk matamya.


"Hubungan yang aneh," gumamnya dalam hati.


Hebat juga yang namanya Mia, bisa membuat dua laki laki tampan itu takluk padanya, kagumnya membatin.


Misela belum terlalu mengenal Zaki. Setahun yang lalu mereka diperkenalkan oleh orang tua mereka yang mengharapkan hubungan mereka berkembang jauh.


Zaki bukan kriterianya. Walau pun wajah tampannya akan dapat membuat teman teman se gengnya histeris.

__ADS_1


Laki laki itu terlalu serius.


__ADS_2