Me And You

Me And You
Sabotase


__ADS_3

"Ada yang aneh. Banyak klienku dan klien papa mundur dari project yang sedang digarap," kata Andre via telpon dengan Emir.


Emir terdiam. Dia juga merasakan hal yang sama. Bahkan sebagian produknya yang akan diekspor ke Paris, dibatalkan tanpa alasan yang jelas. Tentu saja Emir merugi tidak sedikit.


Walaupun pinalti tetap dibayarkan, tetap saja perusahaan merugi untuk waktu ke depan.


"Kamu pernah dengar Arwana Grup?" tanya Andre lagi karena ngga mendengar suara Emir.


"Pernah."


Ya, itu adalah grup saingan keluarga mereka di sektor pertambangan.


"Anak perusahaannya yang baru juga bergerak di bidang modelling dan juga ke desain gaun pengantin."


"Biar aja. Biasa persaingan," ucap Emir santai.


"Sepertinya mereka berusaha mengambil desainer dan menjual produknya dengan harga lebih murah. Kamu ingat kasus dua tahun yang lalu, ketika ada pelanggan protes membeli gaun pengantin kita tapi bukan satu satunya?"


Tentu Emir ingat, karena Emir membandrol gaun pengantinnya secara eksklusif dan cuma ada satu satunya. Tapi pelanggan mereka menemukan banyak sekali tiruannya.


Kasus itu sempat heboh, karena belum seminggu gaun pengantin dibeli, udah tersebar duplikatnya.


Emir dan Elka langsung turun tangan. Ternyata duplikat gaun pengantin yang dijual secara masal dengan harga yang lebih murah itu berbeda jauh jenis bahan dan kristalnya.


Perusahaan Emir akhirnya menuntut perusahaan yang menduplikat karya desaigner nya untuk kasus pelanggaran hak cipta. Karena tiap desain gaun pengantin yang diorbitkan udah didaftarkan hak ciptanya.


Perusahaan Emir dan Elka tentu saja menang telak. Perusahaan itu bangkrut. Tapi sampai sekarang mereka masih curiga, seperti ada sabotase. Karena penyuntik dana terbesar perusahaan itu belum diketahui sampai sekarang.


Akhirnya Emir dan Elka mengkroscek pegawai mereka dan ngga disangka, ada tiga puluh pegawai yang ditemukan berkhianat di lima anak cabang perusahaannya. Kasus itu cukup menghebohkan. Setelah itu Emir pun mengkroscek di beberapa perusahaannya yang lain. Dam ternyata juga ditemukan puluhan pegawai yang berkhianat.


Waktu itu mereka sama menunjuk ke perusahaan baru yang bernama Angkasa Raya yang memiliki tiga cabang yang membayar mereka.


Angkasa Raya bergerak di bidang properti dan konstruksi. Perusahaan itu akhirnya pailit karena tuntutan Emir yang tidak sedikit. Dan pemiliknya dijebloskan ke dalam penjara. Begitu juga dengan pegawai Emir yang berkhianat. Mereka mendekam di penjara sampai belasan tahun.


Emir sengaja melakukan itu untuk membuat takut pegawai lainnya yang akan berkhianat. Sehingga mereka akan berpikir berulang kali untuk memberikan informasi ke perusahaan saingan mereka.


"Gue rasa mereka bergerak lagi, tapi ganti bendera perusahaan. Kita harus hati hati," lanjut Andre lagi.


Untuk tetap berada di puncak, mereka harus selalu waspada.


"Lo benar. Sepertinya mereka menggunakan jalan hitam untuk mendapatkan klien kita dan menggagalkan ekspor gue ke Paris."


"Sekarang gimana dengan gaun pengantin Lo yang gagal di ekspor?" tanya Andre kasian juga membayangkan kerugian Emir yang pasti sampai mengeruk cukup dalam kantong kekayaannya.


"Iya, gue juga sempat pusing sama Elka. Tapi syukurlah klien Bang Valen senang dengan desain desainnya. Tadi barusan nelpon minta dikirim ke klien dia aja," kata Emir dengan nada senang.

__ADS_1


"Rejeki memang ngga kemana," kata Andre kemudian tertawa, ikut senang karena temannya ngga jadi merugi.


"Coba alihkan ke klien yang di Jepang. Bang Valen punya banyak chanel," usul Emir memberi jalan agar masalah Andre dan Papinya bisa diselesaikan.


"Iya ya, gue akan ngebel dia. Oke, gue mau meeting dulu ya," kata Andre sambil mematikan telponnya.


"Teman kurang ajar," maki Emir kemudian menyimpan hpnya dengan bibir tersenyum.


*****


"Ini kesempatan terakhir yang gue berikan. Kalo samapi kamu membuat rugi Arwana Grup, Lo akan gue usir," kata Erika marah.


Anastasia menatapnya meremehkan. Dia tertawa sinis.


"Papa sudah mewariskan separuh kekayaannya untuk gue. Lo ngga akan bisa ganggu gugat," kata Anastasia sama sekali ngga takut dengan ancaman saudara satu darah dengannya.


Saat ini Anastasia dan Erika masih berada di kantor pengacara papa mereka, pemilik Arwana Grup.


Setelah menemukan Anastasia, pemilik Arwana Grup, Danutirta meninggal karena sakit kanker otak yang dia derita.


Danutirta menpunyai anak perempuan yang seusia dengan Anastasia dari istri sahnya yanqg juga sudah meninggalkannya lima tahun yang lalu akibat kecelakaan.


Setelah itu membawa Anastasia ke Amerika. Anastasia pun dikuliahkan di jurusan bisnis dan manajemen.


Erika yang awalnya kasian mendengar cerita penderitaan Anastasia akhirnya menjadi muak.


Anastasia berlagak seperti putri yang hilang dan kini ditemukan. Dia benar benar menikmati segala fasilitas yang papanya berikan. Bahkan Anastasia pun sempat membuat celaka beberapa teman teman modelnya yang dulu enggan membantunya. Sanpai mengalani kecelakaan dan menjadi lumpuh. Anastasia benar benar berbuat semaunya.


"Lo pikir menjalankan perusahaan itu mudah. Lo udah membuat bangkrut dua anak cabang yang kompeten. Bahkan Angkasa Grup sudah sangat berkembang. Gara gara Lo, kita rugi ratusan milyar!" bentak Erika panjang lebar dengan penuh emosi.


Gimana enggak, Anastasia masih meminta anak cabang perusahaan yang dia baru dirikan untuk menjadi miliknya.


Perusahaan itu bahkan sudah menunjukkan tanda positifnya sebelum dikacaukan Anastasia beberapa bulan sebelumnya.


"Gue cuma minta sedikit dari yang sudah Lo nikmati selama ini," kata Anastasia keras kepala.


Erika benar benar muak mendengar kalimat yang selalu saja dia umbar untuk mendapatkan keinginannya.


Bahkan sebelum meninggal dunia, papanya sudah memutuskan untuk membagi kekayaannya menjadi dua bagian.


Tidak masalah buat Erika. Yang buat Erika sangat kesal, saudara beda mamanya itu sudah membangkrutkan dua perusahaan demi dendamnya. Dan Erika yang bersusah payah menutupi perbuatan Anaatasia dari klien klien mereka.


"Kali ini aku akan bermain cantik. Kamu ngga usah khawatir," kata Anastasia lagi.


Dia menatap Erika dengan tatapan sinisnya. Saudara beda mama yang lahir beberapa bulan lebih awal darinya. Yang lebih beruntung dari pada dirinya. Tidak pernah hidup susah dan diremehkan seperti dirinya.

__ADS_1


"Dengan merayu desainer mereka untuk pindah dan menjual hasil desain itu dengan harga di bawah pasar?" cibir Erika benar benar meremehkan.


Dasar Idiot, maki Erika dalam hati dengan kekesalan memenuhi rongga dadanya.


"Lo benar benar!" geram Anastasia marah.


"Ehem."


Om Halim sang pengacara keluarga memasuki ruangannya bersama sekretarisnya, menghentikan pertengkaran jeduanya.


"Om, bisakan aku menjadi pemilik dari Dewi Kirana? Aku mau jadi CEO nya," katanya manja membuat Erika ingin muntah.


Om Halim menatap Erika, putri sahabatnya meminta persetujuan.


Di dalam hati Om Halim juga sependapat dengan Erika. Anastasia, putri yang baru ditemukan sahabatnya itu hanya bisa menghamburkan kekayaan saja. Sama sekali tidak bisa menggunakan otaknya.


Tapi beliau tidak bisa brrbuat apa apa. Sebelum meninggal dunia, sahabatnya benar benar meminta dirinya membantu putrinya yang baru ditemukan.


Awalnya Om Halim sungguh sungguh ingin membantu Anastasia sesuai amanat sahabatnya. Tapi lama kelamaan, beliau jadi merasa kasian dengan Erika yang bekerja sangat keras membangun perusahaan peninggalan papanya. Beberapa perusahaan baru yang dibangun dengan tangan dinginnya cukup berkembang. Tapi saudaranya dengan entengmya menghancurkannya.


"Aku janji Om, ini yang terakhir aku ikut campur dalam perusahaan," kata Anastasia sungguh sungguh.


"Baiklah kalo begitu. Om akan buat perjanjian hitam di atas putihnya. Setelah ini, kamu hanya akan menerima jatah bulanan. Gimana, deal Anastasia?" jelas Om Halim panjang lebar.


"Setuju Om," kata Anastasia girang. Walaupun bangkrut, dia tetap masih bisa hidup mewah dengan bulanan yang dia terima.


Om Halim menatap putri sulung sahabatnya lembut.


Terima Erika, ini kesempatan terakhir untuk menyingkirkan benalu ini, batin Om.Halim.penuh dukungan.


"Kamu setuju, Erika?"


"Erika setuju Om," kata Erika akhirnya.


Om Halim menghembuskan nafas lega.


Ini kesempatan terakhir Lo, sister, sinisnya dalam hati.


Walaupun dia tetap merasa ngga rela. Perusahaan ini dibangunnya dari titik nol hingga menunjuklan perkembangan yang cukup baik, dan sudah memiliki empat anak cabang dalam waktu yang sangat singkat. Kini akan dihancurkan begitu saja dengan gampangnya dalam beberapa waktu ke depannya.


Om Halim menatap Erika mengerti akan perasaan gusar Erika.


Setelah ini, kamu ngga akan diganggu saudaramu lagi, batin Om Halim agak senang.


"Tunggulah sebentar. Isi perjanjian akan dirubah," kata Om Halim sambil melirik ketikan sekretarisnya.

__ADS_1


__ADS_2