
"Wajah kamu jangan ditekuk," kata Angel kemudian tersenyum geli melihat wajah Eri yang masih manyun.
"Aku masih kesel dengan yang tadi," ucap Eri tetap dengan wajah sewotnya.
"Yang penting kamu terbukti ngga ngelakuinnya," kata Angel menyabarkannya.
"Ya iya lah. Aku ngga pernah ngapa ngapain dia. Masa bisa hamil," bisik Eri gusar.
"Iya, sabar ya," kata Angel sambil menepuk bahu Eri lembut.
"Irfan tega banget ngga langsung ngaku. Untung ada Aldi, walaupun telat," omelnya masih dengan wajah kisruh.
"Sejak kapan ya mereka tau Sandrina hamil?" tanya Angel sambil menatap Eri.
"Mana aku tau, Angel. Awas aja nanti kalo ketemu Irfan. Enak aja ngelempar tanggung jawabnya ke aku," omel Eri lagi masih ngga terima.
"Jangan marah dulu. Kamu dengerin dulu penjelasan Irfan, ya," ucap Angel lembut.
Eri terdiam. Mungkin bener juga yang dikatakan Angel. Pasti Irfan juga shock karena Sandrina hamil. Tuh anak kan, mau nikahnya kalo udah umur tiga puluh tahun. Padahal sekarang aja umurnya baru dua puluh tujuhan, seperti dirinya.
"Apalagi Irfan tau kalo Sandrina sukanya sama kamu," kata Angel sambil mencubit pinggang Eri membuat Eri menjerit kecil.
"Sakit tau," kesalnya tapi hatinya yang panas mulai terasa hangat.
Iya juga, batinnya menyetujui pendapat Angelnya.
"Makanya jangan suka kasih harapan sama perempuan," sindir Angel agak kesal.
"Itu juga karena kamu. Niatku cuma buat panasin hati kamu, Angel," bantah Eri jujur.
Benarkah? batin Angel tersanjung.
Eri menatap Angel dalam seakan menembus ke dasar relung hati Angel.
"Kalo tadi kamu ngga percaya sama aku, aku bisa gila, Angel," ucap Eri sambil meraih tangan Angel dan meremasnya lembut.
Angel ngga menjawab, tapi mengukirkan senyum lembutnya.
"Bener kata teman teman kita, aku beruntung dapatin kamu. Tapi aku bukan musibah, kan, buat kamu," ucap Eri mulai tambah mengendur saraf marahnya.
Angel tertawa mendengarnya hingga dua lesung pipitnya semakin dalam terlihat membuatnya semakin cantik.
"Aku beruntung dapatin kamu. Kamu baik dan bertanggung jawab. Kamu juga ngerti agama. Itu poin plus kamu," kata Angel memuji membuat hati Eri mengembang saking senangnya.
"Aku ngga gitu ngerti agama banget, Angel. Tapi seenggaknya aku ngerti tentang dosa," katanya sedikit menyombong. Wajahnya sekarang udah full senyum.
"Iya," kekeh Angel.
Eri pun tertawa sambil menatap penuh cinta ke Angelnya
Kamu cantik, kamu baik, kamu bidadari Angel, batin Eri penuh syukur akhirnya bisa menikah juga dengan Angel. Walaupun ada gangguan menyebalkan.
Luvi yang memperhatikan kedua mempelai tersenyum.
__ADS_1
"Kamu lega sekarang?" tanya Ilham yang ngerti arah pandangan Luvi.
"Iya," jawab Luvi dengan wajah penuh senyum.
"Angel hebat, bisa tetap percaya sama Eri," puji Ilham.
"Iya," tukas Luvi singkat. Belum tentu dia sanggup meneruskan acara pernikahan dengan tuduhan mengerikan seperti itu.
Luvi menggenggam tangan Ilhan dan menyandar di bahunya membuat Ilham tersenyum.
"Eri dan Angel udah saling suka sejak mereka tk nol kecil," kata Luvi menjelaskan.
"Jodoh mereka bagus. Belasan tahun saling suka akhirnya bisa mengantarkan mereka ke pernikahan," kata Ilham salut.
Mempertahankan cinta dari kecil sampai dewasa termasuk susah juga.
"Seperti kita ya," ucap Luvi sambil nyengir.
Mereka juga teman dari tk nol kecil.
"Kamu ngaku akhirnya suka sama aku sejak tk nol kecil?" ledek Ilham dengan senyum nakalnya.
"Bisa dikatakan begitu," sahut Luvi cuek.
Udah punya anak gini, ngapain gengsi, batin Luvi geli.
Ilham tertawa mendengarnya.
Dulu aja, susah banget buat ngakunya, cibir Ilham dalam hati.
Ilham tertawa sambil menjentikkan pelan jarinya ke hidung Luvi.
"Jangan kamu pikirkan. Ezra atau Erza sama saja," pungkas Ilham cuek kemudian tergelak bersama Luvi.
*
*
*
"Sandirina sudah sadar, pa, ma," ucap Axel ketika melihat orang tuanya sudah kembali dengan orang orang yang ngga dia kenal.
"Syukurlah," ucap papa dan mama Sandrina berbarengan.
"Ayo kita masuk ke dalam," ajak papa Sandrina pada orang tua Angel, juga Irfan dan dua orang temannya.
"Kita nunggu di luar aja, Om," kata Aldi dan diangguki Fino. Mereka agak segan ikut campur dalan masalah sensitif temannya.
"Oke, Irfan, kamu ikut masuk," titah papanya ketika melihat Irfan akan bergabung dengan Aldi dan Fino yang sudah di kursi di depan kamar perawatan Sandrina.
"Iya, Pa," ucap Irfan patuh.
Axel menatap tajam pada Irfan seakan ingin menerkamnya. Dugaannya kalo pemuda inilah yang sudah menghamili adiknya dan lepas dari tanggung jawabnya.
__ADS_1
Awalnya dia mengira Eri yang melakukannya. Ternyata dia salah. Tapi mengapa bisa? Setaunya Sandrina menyukai Eri, tapi kenapa bisa hamil dengan laki laki lain.
Begitu Sandrina melihat Irfan, sepasang matanya langsung berkaca kaca. Dia memalingkan wajahnya ke arah lain.
"Syukurlah kamu sudah bangun, sayang," ucap mamanya sambil mengelus puncak kepala putri kesayangannya.
Sandrina ngga menjawab, dia tetap menatap ke arah lain. Sebenarnya Sandrina malu bertemu Irfan. Ingatannya langsung melayang pada kejadian malam panas itu. Betapa dia yang sudah menggoda Irfan karena pengaruh obat perangsang terkutuk itu.
"Sayang, ini mama dan papanya Irfan," kata mamanya lembut.
Sandrina akhirnya menoleh dan menatap takut takut pada wajah wajah ramah yang sedang tersenyum.
"Kamu sudah merasa lebih baik?" sapa mama Irfan ramah.
"Sudah, tante," jawabnya perlahan. Jantungnya berdebar ngga menentu. Dia takut karena sudah ketahuan hamil dengan anak lelakinya.
"Papa sudah dengar apa yang terjadi. Dalam hal ini nak Irfan ngga bersalah. Papa akan melepaskan tanggung jawab nak Irfan padamu," ucap papa Sandrina lirih tapi jelas.
Secara ngga langsung Irfan sudah menyelamatkan putrinya dari perkosaan banyak orang di club. Walaupun akhirnya dia ikut tergoda.
Tapi melihat keduanya yang canggung, apalagi papanya tau siapa yang dicintai Sandrina, membuatnya menerima taldir dengan ikhlas.
Tadi beliau bersemangat untuk mengusik pernikahan Eri, karena beliau mengira, Eri lah pelakunya. Walaupun Sandrina menjadi istri kedua Eri, asalkan putrinya mencintai Eri, ngga masalah buatnya.
Tapi Irfan berbeda. Beliau takut keduanya ngga bahagia kalo dipaksa menikah, karena keduanya hanya terperangkap khilaf satu malam saja. Dan harus menikah karena ada janin di dalam rahim Sandrina.
"Jangan begitu, pak Hendra. Irfan akan bertanggung jawab," sambar papa Irfan.
"Ngga perlu, Om. Saya yang salah," tolak Sandrina halus.
Sandrina masih ingat, karena obat perangsang itu, dialah yang terus memancing gairah Irfan.
"Iya, kami ngga akan memaksa Irfan," ucap papa Sandrina yang langsung mendapat lirikan kaget Axel.
Kenapa papanya malah melepas laki laki sialan ini, maki Axel marah dalam hati. Di pikirannya, Irfan telah memaksa Sandrina, karena setaunya adiknya sangat polos. Karena itu membuat hatinya sangat geram.
Mama dan papa Irfan saling pandang. Bingung. Bukannya tadi di pesta Eri, kedua orang tuanya begitu menggebu ingin Eri bertanggung jawab. Setelah tau Irfan pelakunya, malah melempen, dan menolak untuk dinikahi.
Papanya menyenggol bahu Irfan yang hanya diam saja.
"Aku akan nikahi kamu," dengan susah payah Irfan mengatakannya juga sambil menatap ngga yakin ke Sandrina.
Dulu dia memang sempat tertarik dengan Sandrina. Tapi just interested, no more.
Apalagi dia sekarang dalam posisi terpaksa harus menikah. Benar benar jauh dari bayangan pernikahan yang dia impikan.
"Jangan salah paham. Sandrina dan Irfan ngga saling mencintai. Kami hanya takut mereka ngga bahagia," kata mama Sandrina sedih.
"Soal cinta nanti saja dipikirkan. Anak yang dikandung Sandrina juga cucu kami. Biarkan mereka menjalani dulu," bantah mama Irfan tenang.
"Ya, mereka harus segera kita nikahkan," tegas papa Irfan.
Apa kata relasinya yang sudah tau tentang kehebohan ini. Bisa bisa kepercayaan mereka hilang jika beliau membiarkan anaknya lari dari tanggung jawab.
__ADS_1
Mama dan papa Sandrina saling pandang. Begitu juga abang Sandrina-Axel
"Baiklah. Kami setuju," ucap papa Sandirina membuat Sandrina dan Irfan saling pandang sambil menahan nafas.