
Saat ini kamar perawatan Mia sudah dipenuhi anggota keluarga maunpun teman teman dekat mereka. Mereka sangat gembira dengan kelahiran putra Vandra dan Mia.
"Anak Lo jadi pemimpinnya ntar, Van," kekeh Doni sambil mengagumi wajah tampan malaikat kecil Vandra dan Mia.
"Bisa aja Lo. Kapan lo nikah?" tanggap Vandra santai.
"Gampang ntar," tepis Doni ngga kalah santainya.
"Iya, kapan lo nikahnya? Jangan mikir buat anak dulu," sarkas Aldi sambil melirik Irfan yang tegelak.
"Nyindir Lo," balas Irfan dalam kekehannya.
"Lo jangan mentang mentang ngga jadi anak malah jelekin temen terus," ejek Toni telak membuat Aldi menggeleng gelengkan kepala dengan tetap tertawa.
Untung istrinya ngga ikut, syukur Aldi dalam hati. Bisa panjang urusannya di rumah.
"Kalian ini berisik," sergah Luvi yang baru datang bersama Ilham.
Langsung saja teman teman Vandra jadi menciut dan menghentikan tawa mereka
"Kamu jangan galak galak terus, Luvi," komentar Ferdi yang kasian melihat reaksi Aldi dan teman temannya.
"Biarin. Tuh, kan, dedek bayinya jadi bangun," omel Luvi membuat berpasang pasang mata menatap pada bayi Alano yang mulai membuka kelopak matanya.
"Itu, sih, gara gara suara kamu kayaknya," tuduh Emir dengan cemgiran yang menyebalkan menurut Luvi.
"Ada tante galak datang," ejek Ferdi menyambung membuat Oln tersenyum saat berpandangan dengan Elka.
"Biar aku yang gendong ya," sela Rosa sambil mendekati box bayi Alano. Sedari tadi Rosa hanya diam sambil memandang bayi Alano yang tertidur pulas. Lagi pula, Eri sudah mengantar Angel pulang setelah melihat keadaan Mia dan Alano. Eri masih khawatir dengan keadaan Angel dan calon anaknya, hingga memintanya untuk beristirahat di rumah.
"Iya Rosa," ucqp Mia sambil tersenyum. Vandra memggenggam tangan Mia lembut.
Fino mendekati Rosa yang kini sudah menggendong bayi Alano.
"Tampan ya," puji Rosa sambil melirik Fino yang hanya mengangguk sambil terus menatap Rosa. Ngga nyangka, Rosa yang ketus dan sedikit kasar bisa sangat lembut memperlakukan bayi Alano.
"Sudah pantas Rosa jadi ibu" celutuk Luvi juga kagum melihat Rosa yang terlihat percaya diri menggendong bsyi yang masih sangat lemah itu.
"Tau nih, anak orang digantung terus," kecam Irfan sinis, tapi Fino hanya melebarkan senyumnya.
"Kapan kalian nikahnya? Tante udah ngga sabar," ujar mama Vandra sambil.melihat pasangan yang sudah sangat lama bertunangan itu.
"Jangan mau kalo digantung lagi Rosa," racun Toni membuat mereka pun sama sama tersenyum.
"Aku punya teman yang mau nikah cepat cepat," sambung Doni ikut memanasi
__ADS_1
"Si Zaki aja," usul Aldi yang sudah tau cerita Rosa dan Zaki hingga membuat Fino panas dingin.
"Secepatnya, tante," sambar Fino agar ngga banyak opini nyeleneh lagi yang muncul.
"Tante tunggu undangannya," sambut mami Vandra demgan senyum hangatnya.
"Fittingnya di tempat mama abang aja. Nanti abang kasih diskon gede," sambar Emir mendukung.
"Sip, bang. Fino setuju aja. Ya kan, Rosa?" respon Fino sambil menatap Rosa lembut.
Rosa hanya mengangguk dengan wajah malu.
"Di endorse dong," tawa Irfan membuat ruangan itu kembali dipenuhi gelak tawa. Dan bayi Alano seakan ngga terganggu, dia malah memejamkan mata dan terlihat sangat tenang dipelukan Rosa.
"Tante ganti gendong ya," ucap Reta-mama Mia mendekati Rosa.
"Iya tante, silakan," kata Rosa sambil.memberikan bayi Alano pada mama Mia.
"Di panggil bayi Al aja gimana?" tanya papa Mia minta persetujuan Vandra.
"Boleh juga. Dari pada mereka berdua ributin panggilannya," sambar Toni langsung setuju.
"Kalo Alano kepanjangan," komen Aldi memberi pendapat.
"Tapi mirip nama Lo ya, Al," kikik Luvi pada adik iparnya membuat Ilham menaikkan sedikit sudut bibirnya.
"Iya sih," respon Luvi sambil manggut manggut.
Dulu gue juga kan yang sering bantu bantu lo berdua sampai bisa jadian, batin Aldi agak sok.
Kening Vandra agak mengernyit.
"Ngga apa Van. Nanti kalo udah gede terserah dia mau dia panggil apa," ujar mama Mia memberi solusi.
"Iya, Vandra, bagus itu. Bayi Al, seperti anak artis," timpal papi Vandra juga setuju. Dia pun pusing mikirin apa panggilan cucunya, karena Mia dan Vandra belum sepakat dengan nama panggilan bayi mereka.
"Keren malah," timbrung Valen yang diangguki Sarah.
Mia memandang Vandra.
"Ya, Vandra setuju," kata Vandra akhirnya sambil mengecup kening Mia membuat mereka kembali bersorak.
Vandra yang datar, dingin dan kaku bisa berubah hangat dan lembut di dekat Mia.
Akhirnya mereka pun membubarkan diri dari kamar Mia.
__ADS_1
"Ngga nyangka, kamu lembut banget sama bayi," puji Fino kagum.
"Kenapa? kamu pikir aku ngga bisa jadi ibu yang baik," sengit Rosa tiba tiba jutek. Alam bawah sadar Rosa merasa kalo Fino sedang membandingkannya dengan si lembut Clara.
"Awalnya," kekeh Fino sambil mengacak rambut depan Rosa gemas..Kemudian dia membukakan pintu mobilnya untuk Rosa. Dengan wajah masih cemberut Rosa.masuk ke dalam mobil membuat Fino menatapnya gemas.
Baru dia sadari sekarang, selama ini dia ngga pernah memperhatikan inner beauty Rosa. Ngga pernah tau apa yang di suka dan ngga di suka Rosa. Juga ngga pernah tau kalo ternyata Rosa juga wanita yang lembut. Semua ketutup dengan sikap julid dan ketusnya
"Aku ingin lebih mengenal kamu," kata Fino begitu masuk ke dalam mobil. Suaranya sangat lembut.
Rosa menatapnya kesal.
"Buat apa?" tanya Rosa judes.
Fino tergelak melihat kekesalan Rosa.
"Kan kita mau secepanya nikah," ucapnya sambil menghidupkan mesin mobil, sisa tawa masih ada di wajahnya. Sebelah matanya mengedip nakal pada Rosa.
Rosa terdiam. Dia mengalihkan pandangannya keluar jendela mobil.
"Kamu mau, kan, kita percepat pernikahan kita?" tanya Fino sambil melirik Rosa.
Rosa menghembuskan nafas. Sejujurnya dia masih belum.bisa mempercayai kalo Fino ingin menikahinya. Nikah tapi mencintai perempuan lain, buat apa.
"Kamu ngga ragu, kan?" tanya Fino mendadak merasa cemas. Sekarang dia yang takut kalo Rosa meninggakkannya dan berpaling pada Zaki.
"Emang kamu udah cinta sama aku?" tanya Rosa sambil menatap Fino lekat dan dalam. Seakan ingin mengukur kadar keseriusan laki laki yang katanya siap menikahinya secepatnya.
"Udah. Tapi bodohhnya aku ngga sadar," aku Fino jujur sambil fokus dengan stirnya.
Wajah Rosa merona dengan bibir berkedut menahan senyum. Dia bahagia mendengarnya.
"Aku hanya ngga yakin," ngeyel Rosa berusaha percaya.
"Yakinlah. Sungguh, maafkan kesalahanku selama ini, ya," tegas Fino lembut sambil menatap Rosa, karena rambu lalu lintas berwarna merah. Satu tangannya memggenggam tangan Rosa erat membuat Risa balas menatapnya.
Beberapa detik kemudian.
TIN TIN
TIN TIN
Keduanya spontan tertawa karena dikagetkan klakson di belakang mobil mereka. Ternyata rambu lalu lintas sudah berubah hijau.
"Jalan Fin," kekeh Rosa membuat Fino menganggukkan kepala dalam tawanya saat menjalankan mobilnya menembus lampu hijau.
__ADS_1
Yap, Rosa mulai meyakinkan dirinya dengan keputusan yang akan diambilnya. Menerima Fino sebagai suaminya.
"