Me And You

Me And You
Hari Bahagia Eri


__ADS_3

"SAH."


"SAH."


"SAH."


"YESSS!!" seru Eri heboh. Setelah dua kali salah mengucapkan kalimat sakralnya, akhir Eri ngga bisa membendung perasaan senangnya ketika berhasil dan mendengar kata sah.


Dia langsung mengacungkan dua tangannya yang terkepal di udara membuat suasana bergemuruh karena tawa keras para tamu.


Bahkan orang tua Eri dan Angel ngga dapat menahan tawanya, termasuk penghulu yang menikahkan mereka.


"Tuh anak, tengilnya sampai kebawa nikah," omel Luvi sambil menggelengkan kepalanya. melihat kelakuan sepupunya. Tapi bibirnya mengembangkan senyum lega.


Suasana yang harusnya khidmat dan tenang berubah seperti berada di gedumg stand up comedy.


Ilham pun ngga dapat menahan tawanya. Apalagi mendengar omelan Luvi.


"Masih mending gue, sepupu Lo benar benar, deh, Luv," kekeh mengejek Valen yang sudah pulang dari kemaren bersama Sarah.


Sarah hanya bisa mengulum senyum melihat kelakuan Eri.


Ferdi pum ikut terkekeh


"Iya, Lo yang gokil masih bisa ja-im. Eri memang parah," gelaknya.


Ferdi masih mengingat betapa ja-im dan gugupnya temannya saat akad. Termasuk dirinya. Karena itu adalah perjanjiannya dengan Yang Di Atas untuk bertanggung jawab secara lahir dan batin terhadap wanita yang akan menjadi istrinya.


Vandra dan teman temannya pun masih saja ngga dapat menghenttikan tawa mereka.


"Parah memang," kekeh Toni sambil memegang perutnya.


"Kalo ngga gitu bukan Eri, bro," timpal Doni yang juga memegang perutnya saking ngga bisa menahan tawanya.


"Udah halal dia," timpal Aldi senang. sekaligus iri.


Dilangkahi sudah, batinnya.


"Semoga gue besok kalo nikah ngga kayak Eri saking stresnya," tambah Igo dalam tawanya.


Gimana Eri ngga stres, bisa ngga lancar gitu ngucapin kalimat akadnya. Padahal sudah latihan menghapal dari malam hingga dini hari. Igo, Aldi dan Toni menemaninya sampai ngga tidur.


"Emang Lo udah ada calon," sindir Toni.


"Belum sih."


"Rosa, kapan Lo di akad kan sama Fino," sindir Toni usil.


Rosa hanya tersenyum saja.


"Lo harus antri kalo mau nikah sama adik gue," sarkas Fino membuat mereka kembali tergelak.


"Santai, adik Lo masih kecil," kekeh Toni enteng.


"Kecil kecil udah bisa buat anak, tau," kekeh Fino membuat dada Irfan merasa ngga enak. Langsung merasa kesindir.


"Adik Lo ngga ikut, Fin?" tanya Irfan pura pura seolah mencari Amy, adik Fino. Padahal sekalian matanya nyari Sandrina.

__ADS_1


Kok, dia ngga datang? batin Irfan agak kecewa.


Aldi melirik Aurelia yang berada di samping Rosa dan Mia. Mata mereka bersitatap sebentar sebelum gadis itu membuang mukanya.


Dia marah? batin Aldi heran. Seharusnya dia yang marah. Besok masih bisa fungsi ngga senjatanya gara gara sikutan lutut Aurelia. Aldi misuh misuh dalam hati.


"Ehem...."


Tawa yang masih mengudara mulai reda akibat deheman seorang wanita paruh baya dengan dandanan sangat elegan.


Kini semua pasang mata menatap wanita itu yang kini berfokus tajam pada Eri.


Eri yang pernah mengenal wanita ini sebagai mamanya Sandrina tersenyum ramah.


Begitupun dengan orang tua Eri dan Angel. Karena mamanya Sandrina dan suaminya adalah rekan bisnis mereka.


"Eri, selamat ya," kata mama Sandrina sambil berjalan mendekat.


"Terimakasih, Tante," jawab Eri sopan.


"Terimakasih Sofia, sudah hadir," sapa mami Eri sambil menyambut mama Sandrina.


"Sandrinanya mana? Kamu sepertinya kurang sehat," ucap mama Angel juga mendekati rekan bisnisnya.


DEG


Irfan menatap lurus pada wanita paruh baya yang merupakan mama Sandrina dengan wajah terkejut.


Irfan merasa pengadilan buatnya semakin dekat.


Wajah mama Sandrina yang terlihat agak pucat tersenyum pahit.


HAAHHHH


Teman teman Eri sontak menatap Eri. Begitu juga Angel. Hanya Aldi dan Irfan yang saling tatap. Aldi dapat melihat wajah Irfan berubah pucat. Eri yang kadar pekanya sangat tipis hanya kaget biasa saja mendengarnya.


"Sakit apa tante?" tanyanya polos membuat Toni dan Doni ingin menjitaknya.


"Maaf sebelumnya, Mengganggu hari bahagia kalian," ucap mama Sandrina agak ragu. Apalagi melihat reaksi Eri yang hanya biasa aja tingkat kecemasannya. Seperti cemas dengan sesama teman.


Suasana mulai terasa beda. Untungnya ruang akad hanya menerima tamu keluarga dan teman dekat.


"Ada apa ini?" tanya papi Eri langsung bangkit dari duduknya dna menatap papa Sandrina yang hanya diam saja mengikuti di belakang istrinya. Begitu juga dengan papa Angel.


Vandra dan teman temannya begitu juga Luvi, Ilham, Valen dan Ferdi mulai merasa ada sesuatu yang besar akan terjadi.


Aldi melihat Irfan yang semakin gelisah.


Saatnya mengaku, bro.


"Maaf, Sofia, setelah ini kita akan ke rumah sakit melihat Sandrina," kata papi Eri berusaha mencairkan suasana.


Pak penghulu yang merasa ngga enak, juga ikut berdiri. Kini mereka memandang serius pada kedua orang tua Angel.


"Kami ke sini ingin meminta pertanggungjawaban Eri," ucap papa Sandrina tenang tapi bagai petir keras di telinga yang hadir.


"Apa?" Luvi yang ngga bisa menahan seruan kagetnya kini cepat menutup mulutnya.

__ADS_1


"Sandrina hamil," ucap mama Sandrina dengan suara lemah.


Tapi suasana kaget begitu mendominasi. Bisik bisik mulai berdengung. Mami Eri dan Mama Angel hampir aja jatuh saking kagetnya. Untung ada Valen dan Ferdi yang menahan tubuh keduanya.


Mereka sama memandang Eri penuh tuntutan jawaban. Tapi Eri hanya menampilkan ekspresi herannya, bahkan sempat bengong. Bisik bisik semakin jelas terdengar.


"Kenapa harus saya?" tanya Eri bingung. Loadingnya kembali lemot. Dia menatap bingung ke Angel yang kini menatapnya kesal.


Makanya jangan kasih harapan. Baru nikah, masa langsung punya madu, umpat Angel dalam hati.


"Kamu percaya, kan, sama aku? Kamu aja masih perawan," kata Eri membuat yang mendengar semakin gondok dan kesal. Ada juga yang tersenyum miring memdengar kalimat yang sangat ngga sopan itu.


Wajah Angel pun merona, antar malu dan bertambah kesal.


"Eri, om cuma mau kamu jujur," kata papa Sandrina pelan menahan perasaan marahnya. Seakan kehamilan anaknya hanya buat candaan saja.


"Eri jujur kok, Om. Eri ngga pernah ngapa ngapain Sandrina. Ngga pernah kontak fisik aneh aneh, apalagi bikin hamil," seru Eri kesal.


"Eri!" bentak papinya keras. Dia menatap marah anaknya yang baru saja sah menikah.


"Apakah janin Sandrina baik baik saja?" tanya mama Eri setelah kekagetannya hilang.


"Baik, tapi ngga tau nanti," ucap mama Sandrina getir.


"Maksudnya?" tanya mama Angel berusaha tenang. Ini sungguh diluar dugaannya. Hatinya masih ngga percaya Eri bisa berbuat sejauh itu.


"Sandrina masih belum sadarkan diri," kata mama Sandrina dengan suara menahan tangis.


Suasana kembali hening.


"Jadi Sandrina belum bisa ditanya ya, tante?" tanya Luvi memecah kesunyian.


"Belum. Kami kaget, dokter menyatakan Sandrina hamil. Setau tante, Hanya Eri yang dekat dengannya."


"Karena itu tante menuduh Eri?" tanya Luvi agak kesal.


"Honey," panggil Ilham sambil menggelengkan kepalanya ketika Luvi menatapnya horor.


"Luvi," tukas mami Eri juga menggelengkan kepalanya.


Ini agak rumit, batinnya kelu.


"Tapi sumpah. Nyium bibir Sandrina aja ngga pernah. Gimana caramya saya bisa ngehamilin dia," seru Eri frustasi.


"ERI!" bentak papinya menggelegar.


"Kenapa papi marah sama Eri. Jadi kalo semua yang suka sama Eri ngaku hamil, Eri harus nikahin semua!" gedek Eri marah membuat papi Eri terdiam.


Suasana kembali hening.


Kali ini Angel merasa kalo Eri ngga salah. Melihat sikapnya yang heran dan biasa saja, malah cenderung telanjur marah membuat perasaan Angel yakin Erinya ngga mungkin berbuat sejauh itu. Apalagi selama mereka tidur satu kamar, Eri ngga pernah melakukan tindakan yang melebihi batas dengannya.


Dia pun maraih tangan Eri dan meremasnya lembut agar kemarahan Eri reda. Ini adalah hari kebahagiaan mereka. Ngga boleh ada satu pun yang boleh merusaknya.


"Kamu percaya, kan, sama aku," ucap Eri dengan nada putus asa. Kegembiraannya karena udah sah menjadi suami Angel hilang sudah karena kabar sialan yang dibawa keluarga Sandrina.


"Aku percaya," kata Angel lembut membuat arah pandangan kini tertuju ke Angel yang meletakkan kepalanya di dada Eri.

__ADS_1


Eri pun merengkuh Angel dalam pelukan. Dia benar benar membutuhkan dukungan Angel di saat banyak orang terdekatnya ngga mempercayainya.


__ADS_2