
Eri menatap kepergian Angel dengan hati bimbang.
"Sono, kejar," kata Toni memberi perintah.
"Nggak," tolaknya cepat.
Saat ini Eri malah ngga gerak. Dia berdiri bagai patung menatap punggung Angel yang menjauh. Dia bingung harus bersikap gimana dengan Angel setelah tau semua kebenarannya dari Luvi.
Toni menggusar rambutnya kasar.
Kenapa punya teman sama bodohnya soal perempuan, keluh Toni gusar dalam hati. Dia teringat sama Aldi yang juga sama bodohnya dengan Eri. Mengapa dua bodoh ini harus bersatu jadi keluarga? Toni mencak mencak dalam hati.
"Ada apa?" tanya Aldi yang berjalan menghampiri mereka.
"Tuh, sodara yang sama bodohnya dengan Lo," ketus Toni sambil pergi ke arah teman temannya yang lebih pintar.
"Ada apa dengan Toni?" tanya Aldi heran melihat temannya pergi sambil misuh misuh.
"Entahlah. Tapi mengapa dia bilang kita sama bodohnya. Sialan banget," rutuk Eri sewot.
Aldi terdiam, mencoba memikirkan kata kata Eri barusan.
Akhirnya Aldi tersenyum mengerti.
"Lo belum ngobrol sama Angel?"
"Belum. Mau ngobrol apa?"
Aldi tertawa kecil.
"Bilang kalo Lo udah tau semuanya. Gitu aja, kok, repot," tawa Aldi sambil pergi.
Eh, iya juga ya. Kenapa ngga kepikiran, batin Eri tersenyum.
Dengan langkah lebar Eri pun menyusul Angel.
Vandra dan teman temannya melihat kepergian Eri sambil tertawa.
"Akhirnya pintar juga," sarkas Toni kemudian tergelak.
"Dia udah pintar, cuma lama mikirnya," timpal Aldi sambil menoyor jidat Toni. Tapi Toni tambah tergelak.
"Nggak kayak Lo," ledek Toni yang terus aja dengan tawanya.
Aldi juga ikutan tertawa, mengakui kalo dia juga masih bodoh.
Dasar, omelnya dalam hati.
"Nggak lama lagi kita dapat undangan," tawa Fino.
"Elo dilangkahin. Kapan Lo nyusul?" ledek Irfan membuat Fino dan Rosa salah tingkah.
"Iya, Lo berdua kapan meridnya. Tunangan terus," kata Doni mengganggu.
"Nunggu Lo lah," kata Fino menghindar dari topik yang paling sakral itu.
Rosa hanya tersenyum tipis. Mereka memang sudah bisa berkomunikasi secara normal. Bahkan Fino kadang menyisipkan panggilan sayang kalo mereka lagi bersama teman temannya.
Tapi bukan Fino aja, dia pun masih ragu dengan hatinya pada Fino. Apa mereka bisa bahagia kalo menikah. Secara mereka dua manusia korban patah hati.
"Kita intip yuk," kata Toni mulai kumat isengnya. Tanpa menunggu jawabn yang lain, Toni melangkah cepat menyusul Eri.
Aldi, Irfan, Igo, dan Doni juga langsung menyusul.
"Ayo, Rosa. Seru Lo ngintipin Eri," kata Fino sambil menarik tangan Rosa yang mengikutinya dengan perasaan ngga enak.
__ADS_1
"Apa Eri ngga marah?" tanya Rosa ragu, tapi tetap aja ngga menolak.
"Jangan sampai ketahuanlah," jawab Fino ringan.
"Ayo Van," panggil Fino sebelum melangkah jauh.
"Oke. Ayo Mia, ngga apa," kata Vandra yang masih berdebat dengan Mia.
"Ngga ah. Kamu aja," tolaknya sungkan. Ingat dulu pernah ngintip Bang Ilham dengan Kak Luvi. Rasanya sih, seru campur deg degan. Cuma setelah itu Mia merasa ngga enak tiap ketemu Kak Luvi.
Apalagi ini, Angel temannya sendiri. Intensitas bertemunya mereka lebih sering.
"Udah, mereka juga pernah ngintip kita," kata Vandra sambil memaksa Mia agar mengikutinya
"Haaah? Kapan?" kaget Mia.
"Waktu di halaman depan ruang ganti basket," kata Vandra sambil mengedipkan sebelah matanya.
Wajah Mia memerah. Waktu itu kan......
Mia jadi benar benar malu.
Kurang ajar banget mereka, omel Mia dalam hati
Vandra tersenyum lebar melihat kini Mia melangkah tanpa ragu mengikutinya.
Marah nih, ledek Vandra dalam hati.
*****
"Angel," panggil Eri ketika melihat Angel yang akan membuka pintu mobilnya.
"Ya?" tanya Angel tiba tiba deg degan.
Apalagi kini Eri berjalan semakin mendekatinya. Bahkan Eri menahan pintu mobilnya.
Tapi Eri menarik nafas panjang untuk menenangkan debar jantungnya yang benar benar ngga beraturan.
"Maaf," kata Eri sambil menatap Angel lekat lekat.
Wajah Angel semakin merona. Demikian juga Eri yang terlihat jelas berusaha menutupi kegugupannya.
"Buat apa?" tanya Angel pelan.
"Buat...," Eri terdiam.
Jantung, tenanglah, titahnya dalam hati.
Sementara itu teman temannya yang mengintip pun juga sama deg degannya.
"Ayo, ngomong Er, jangan bodoh terus," desis Toni penuh semangat.
"Berisik, nanti ketahuan," sergah Doni sambil melirik kesal.
Toni hanya nyengir. Mia dan Rosa saling bertatapan dengan bibir penuh senyum.
Dalam hati mereka sama membatin.
Seru ya.
Kembali ke Eri dam Angel.
"Kenapa kamu ngga bilang yang sebenarnya. Aku kan jadi salah paham."
Yes, berhasil juga, sorak Eri dalam hati.
__ADS_1
"Bilang apa?" tanya Angel ngga ngerti walau hatinya mulai menduga.
Kak Luvi, sudah cerita kah? batin Angel dengan jantung semakin deg degan.
"Pokoknya itulah," kata Eri bingung. Dia menggusar rambutnya dengan tangannya yang satu lagi.
Jantung, tenanglah, titah Eri kesal.
"Angel, kita...." ucap Eri dengan nada mengambang.
Detakan jantungnya yang semakin keras membuat Eri jadi kesulitan buat ngomong isi hatinya pada Angel.
"Ehem." Eri berusaha mengatur nafasnya.
Angel jadi salah tingkah melihat sikap Eri.
Drrrttt..... Ddrrrtt..... Ddrrrtt....
Eri merasa hpnya bergetar berulang ulang. Dengan ngga niat, dia menatap layar hpnya.
Sandrina? Ngapain dia telpon? batin Eri merasa aneh.
"Angkat dulu aja telponnya, mungkin penting," kata Angel agak kesal. Tadi dia sempat melirik nama penelponnya.
Apa perempuan yang bersamanya?"
Eri menolak panggilan itu dan langsung meng off kan hpnya.
Eri kembali menatap Angel. Mengambil nafas dalam dalam dan menghembuskannya pelan pelan.
"Nanti malam aku ke rumah ya. Sama mami dan dady."
Jantung Angel semakin ngga menentu.
"Mami sama papi kamu ada di rumah, kan?" tanya Eri berusaha tenang agar terlihat cool di mata Angel.
"Ada."
"Ya udah. Jam tujuhan ya," kata Eri dengan mata berbinar dan senyum yang terkembang.
"Iya," ucap Angel juga dengan senyum manis terukir di wajahnya. Dadanya berdesir hangat.
Keduanya bertatapan sebentar.
"Udah masuk ke mobil, kan mau pulang. Hati hati ya," kata Eri sambil melebarkan pintu mobil.
Angel masih menatap Eri sebelum masuk. Rasanya pipinya panas sekali. Tatapan Eri padanya mengingatkannya waktu mereka masih kecil. Juga senyumnya.
Eri pun menutup pelan mobil Angel dan menatap kepergian mobil itu sampai menghilang.
Senyum di wajahnya juga belum pudar. Hatinya rasanya melayang jauh tinggi dengan memancarkan warna warna terang.
Setelah mobil Angel sudah tidak kelihatan lagi, Eri bersiul menuju ke mobilnya. Dan ngga lama mobil Eri pun menjauhi basemen
"Lepas!" omel Toni kesal karena Vandra dan Doni sedang memegang lengannya, menahannya agar tidak merusak kebahagiaan Eri.
Aldi, Irfan, Igo akhirnya bisa melepaskan tawa yamg sejak tadi ditahan setelah melihat mobil Eri pergi.
Mia dan Rosa saling bertatapan sambil tersenyum.
****
Sementara di dalam kamar hotel Eri, Luvi dan Ilham yang bermaksud mencarinya kaget dengan menemukan banyaknya serpihan kaca di lantai.
"Sampai di rumah akan aku jewer dia nanti," omel Luvi sangat kesal.
__ADS_1
Ilham tertawa kecil melihat kelakuan Eri yang selalu membuat Luvi darah tinggi.