
Om Halim kaget karena sinyal SOS berkedip kedip di hpnya. Sinyal itu menunjukkan lokasi tempat sinyal dikirimkan.
Beliau berusaha menelpon Erika, tapi ngga tersambung. Begitu juga pengawal yang mengiringi rombongan Erika. Perasaan cemas mendadak menyelimuti dirinya.
Akhirnya Om Halim menelpon satuan pengawal yang terdiri atas dua belas orang untuk mengikutinya ke arah lokasi itu berada.
Betapa mereka terhenyak melihat asap hitam yang masih mengepul dari balik jurang yang dalam dan terjal. Om Halim menekan nomer telpon polisi wilayah untuk menyelidiki kejadian ini.
Dengan susah payah, api berhasil dipadamkan. Mereka pun bersama polisi dan tim sar segera menuruni jurang dengan hati hati.
Begitu sampai.di dasar jurang, bau sangit daging yang terbakar tercium menusuk indra penciuman sangat tajam. Sambil memeriksa tiap mobil, perasaan mereka terguncang. Mayat mayat para pengawal bergelimpangan dengan tubuh hangus. Apalagi saat melihat mobil yang membawa Erika bersama keluarga besarnya. Om Halim sampai jatuh berlutut dan menutupi wajahnya demgan kedua tangannya.
Sebenarnya apa yang terjadi, batinnya nyeri. Apalagi mengingat keanehan Erika yang mengunjunginya sampai dua kali. Apakah Erika bisa merasakan kalo sesuatu yang buruk akan terjadi pada dirinya dan keluarganya?
Om Halim menghela nafas panjang untuk membuang rasa sesak melihat pembantaian kejam di hadapannya.
Kalo Erika meninggal, Anastasia akan mengambil alih. Perusahaan keluarga mereka pasti akan hancur lebur dalam waktu singkat. Tapi Danutirta sudah tidak punya pewaris yang lain.
Apakah ini perbuatan Anastasia? geramnya dalam hati.
Gadis itu apa mungkin bisa senekat ini?
"Tuan, sepertinya yang menyerang nona dan tuan besar sangat banyak dan sudah mempersiapkan dengan matang," kata ketua pengawal sambil menyerahkan beberapa selongsong peluru dan tutup pemicu granat yang tersisa.
Darah Om Halim mendidih. Ngga bisa dibayangkan kekalutan dan kepanikan besar yang dialami orang tua dan besan sahabatnya.
Mereka ditembak dan di bom dengan granat sebelum dijatuhkan ke jurang?
Tangan Om Halim mengepal erat saking menahan emosi yang sudah meluap luap.
"Tuan, ada sedikit jejak buldoser yang belum sempat dihapus," kata salah satu pengawal sambil menunjukkan foto di hpnya.
Ya Allah!
Dada Om Halim benar benar bergemuruh hebat. Kakinya terasa lemas, tapi dia berusaha tetap berdiri tegak.
"Buldoser itu yang mendorong semua mobil ke jurang," kata ketua pengawal itu dengan menahan marah yang amat sangat. Tubuhnya bergetar.
Dia dapat membayangkan apa yang menimpa rekan rekannya dan keluarga tuan besarnya.
Betapa kejamnya!
"Jangan berikan bukti ini pada polisi. Biarkan mereka menyelidiki dan mengambil kesimpulan sendiri," putus Om Halim dengan gigi bergemeretak.
"Siap, tuan."
"Adakah yang selamat? Apakah nona Erika juga termasuk korban?" tanya Om Halim sambil memperhatikan kantong kantong mayat yang sudah membungkus jasad jasad yang sudah hangus.
Hatinya sangat sedih. Beliau sudah meminta polisi memisahkan kantong mayat keluarga dan pengawal, agar memudahkan penyelidikan.
"Anak buah saya nanti akan melaporkannya tuan. Sekarang mereka sedang membantu polisi mengamankan korban," ucap Ketua pengawal itu sedih.
"Alex, tolong berikan kehidupan yang sangat layak untuk keluarga pengawal yang jadi korban. Kalo mereka mau jadi pengawal, langsung terima. Kalo mereka mau sekolah yang tinggi, kabulkan. Nona Erika sudah menyiapkan semuanya semalam. Apa dia sudah punya firasat?" titah Om Halim dengan suara bergetar.
__ADS_1
Pengawal dan wakil pengawal tercengang mendengarnya. Hati mereka sangat sedih dan masih berharap agar nonanya selamat.
Om Halim kaget, karena ada berkas yang diantarkan pengawalnya begitu Erika keluar dari ruangannya malam itu.
Berkas itu berisi cek senilai seratus milyar.
Om Halim masih ingat isi surat yang dibuat dengan tulisan tangan Erika yang dibuat tergesa gesa.
Maaf Om, lupa tadi mau aku kasihkan. Ini untuk kesejahteraan pengawal Om selama aku pergi. Erika
Om Halim memejamkan matanya. Air matanya bergulir perlahan.
"Em....., maaf. Bisa saya mengganggu sebentar."
Kepala polisi wilayah, batin Om Halim begitu membuka mata dan melihat tiga orang pria berpakaian olah raga di depannya. Om Halim mengenal salah satunya sebagai kepala polisi wilayah yang sudah dihubungi pengawalnya.
"Pak Ferdinan," sapa Om Halim sambil mengulurkan tangan dan disambut Ferdinan.
"Maaf, saya tidak mengenakan seragam," ucapnya sopan.
"Tidak mengapa," katanya sambil melirik kedua temamya yang sepertinya pernah beliau lihat. Tapi beliau lupa.
"Apakah keluarga almarhum bapak Danutirta mempunyai musuh?"
Om Halim terdiam. Ingin dia mengatakan pada polisi yang cukup terkenal akan sepak terjangnya dalam membuka kasus rumit tentang kecurigaannya pada Anastasia. Taoi beliau belum punya bukti.
"Saya kurang tau. Mungkin ada dari pesaing bisnis, tapi saya tidak bisa menuduh."
"Ini seperti perbuatan orang yang memiliki dendam yang besar. Siapakah yang paling diuntungkan kalo nona Erika dan keluarga besar tiada?" selidik Ferdinan lagi.
Karena Om Halim masih diam seolah bimbamg, ketiga pria itu saling pandang dan tersenyum tipis.
"Anastasia bukan?" tebak Ferdinan yang langsung membuat Om Halim tercengang, kaget.
Dia tau? batin Om Halim heran.
"Tapi anda bisa berharap, nona Erika dan dua pengawalnya mungkin selamat. Kami menemukan jejak mereka dipinggir sungai sebelum menceburkan diri ke sana," ucap Ferdinan membuat senyum bahagia merekah di bibir Om Halim.
"Benarkah? Ya, Allah. Syukurlah," seru Om Halim dengan bibir gemetar. Matanya menatap langit dengan penuh syukur. Air matanya pun semakin deras mengalir.
*
*
*
"Mengapa mereka belum datang juga. Pesawat sebentar lagi akan berangkat," omel Nenek Rani sambil terus melihat ke arah luar bandara. Setengah jam lagi mereka akan terbang ke Belanda. Tapi bayangan teman temannya belum terlihat juga.
"Aneh, Heri dan Rahmat tidak mengangkat telpon. Telponnya ngga aktif," ucap Kakek Handy sambil terus menekan nomer kedua sahabatnya. Kening keriputnya berkerut.
"Ngga ada sinyal mungkin," tukas Arven menenangkan keduamya.
Apa perempuan itu menolakku? Makanya mereka belum datang juga, batin Arven mengambil kesimpulannya sendiri dengan perasaan yang tiba tiba kesal.
__ADS_1
Padahal harusnya dia bertemu dengan teman teman gilanya yang hari ini sudah janjian untuk melakukan jogging bersama.Tapi dia malah harus terlibat dalam urusan yang ngga jelas ini.
"Salahmu, Ven. Kan, kakek udah bilang, kita nginap di mansion calon istrimu saja agar bisa berangkat bersama. Tapi kamu banyak alasan buat nolak," omel Kakek Handy marah.
Apalagi sekarang nomer nomer telpon keduanya ngga tersambung.
"Selamat pagi. Tuan besar Handy, nyonya besar Rani, tuan muda Arven," sapa dua orang pria yang menggunakan jas hitam yang tampilannya seperti pengawal pengawal orang kaya raya.
"Kalian siapa?" tanya Arven sambil menatap keduanya penuh selidik.
"Kami diutus Tuan Halim. Ada kabar duka, mobil yang membawa tuan dan nyonya besar beserta nona mengalami kecelakaan. Sekarang Tuan Halim sedang menuju ke lokasi," jelas salah seorang pengawal panjang lebar.
DEG!
"APAAA!" teriak Kakek Handy dan Nenek Rani kaget.
Nenek Rani sampai terhuyung dan hampir jatuh kalo aja Arven tidak memegangnya.
Arven langsung merasa bersalah karena sudah menduga yang bukan bukan pada calon istrinya.
"Bagaimana keadaan mereka?" tanya Kakek Handy dengan raut sangat cemas.
Nenek Rani ngga bisa berkata apa pun, karena dia sudah menangis di pelukan cucunya.
Kedua pengawal saling pandang.dengan wajah muram.
"Kami akan membawa tuan besar ke lokasi kecelakaan.Apa nyonya besar dan tuan muda akan ikut?" tanya pengawal yang tadi sudah bicara.
"Mengapa ke lokasi kecelakaan? Bukan ke rumah sakit?" tanya Arven curiga.
Kedua pengawal sama menhela nfas panjang dengan raut wajah sedih.
"Dua mobil pengawal dan satu mobil tuan besar jatuh ke jurang dan meledak," jelas salah satu pengawal pelan tapi seolah bunyi petir yang memekakkan telinga.
"APAAA!" jerit Nenek Rani histeris. Tubuhnya semakin lemah, tenaganya lemyap. Matanya pun berkunang kunang.
"Rani!" kaget Kakek.Handy melihat istrinya pingsan.
"NEK!" kaget Arven dan memeluk tubuh neneknya agar tidak tumbamg.
"Apakah mereka selamat?" tanya Kakek Handy dengan suara bergetar.
"Tidak. Tapi kemungkinan besar nona muda selamat. Tim sar sedang menyusuri sungai untuk mencari nona. Tapu kami sangat berharap nona muda selamat," kata pengawal itu sedih.
Kakek Handy memegang dadanya sambil memejamkan mata. Baru kemarin mereka berjanji untuk menjodohkan cucu mereka dan merencanakan perjalanan ini untuk perkenalan mereka. Kehilangan ini begitu mendadak dan sangat nyata.
"Sebaiknya kita langsung pergi," kata Kakek.Handy sambil menganggukkan kepalanya pada Arven.
Arven yang mengerti langsung menggendong neneknya ala bridal.
"Ikuti kami," kata pengawal itu kemudian berjalan cepat meninggalkan bandara menuju ke arah empat mobil yang terparkir.
"Kenapa banyak sekali pegawal?" tanya Kakek Handy curiga.
__ADS_1
Sebenarnya apa yang terjadi, batinnya.
"Karena keadaan darurat tingkat satu, tuan Halim meminta kami membawa pengawal yang cukup banyak untuk melindungi anda dan keluarga," info pengawal tadi sambil membukakan pintu mobil umtuk istri Kakek Handy.