
"Hai, sendirian?"
"Zaki?" respon Rosa sambil memperhatikan laki laki yang barusan menyapanya.
Rosa mengembangkan senyumnya. Senang bertemu dengan teman lama yang satu negara dengannya. Dari kemarin kemarin orang asing melulu. Salahnya sendiri liburan ngga ngajak ngakak teman atau sepupunya.
Rosa ingin sendirian. Menata lagi hatinya. Dia benar benar butuh healing, dari pertunangan bertahun tahunnya yang kandas begitu saja karena hadirnya gebetan terindah Fino.
"Kamu di sini juga?" tanya Zaki yang terlihat semakin tampan dan gagah.
Rosa hanya mengangguk. Udah hampir lima tahun juga mgga bertemu Zaki. Tapi Rosa masih bisa mengenalnya. Begitu juga Zaki. Mungkin mereka ngga berubah terlalu drastis.
"Duduk di sini dimarahin Fino, nggak?" tanya Zaki setengah meledek.
Rosa tertawa getir.
"Kami sudah putus."
"Aku kirain mau dapat undangan nikah," tukas Zaki sambil mengerutkan alisnya. Dia pun dengan santai duduk di sebelah Rosa sambil memandamg taman yang dipenuhi aneka bunga tulip di sekitar mereka.
"Kamu ngapain di sini?" tanya Rosa mengalihkan topik.
"Kerja," sahut Zaki ringan.
"Ooo."
"Kamu?"
"Liburan."
Keduanya terdiam.
Hening.
"Kabar Mia dan Vandra gimana?" tanya Zaki memecah kesunyian.
Rosa menoleh, kemudian tersenyum tipis.
"Mia sedang hamil."
Zaki belum move on juga? Ah, dunia penuh dengan laki laki gagal move on, batin Rosa ngenas.
"Ngga kebayang sepintar apa anak mereka ntar bermusik," tukas Zaki sambil menatap jauh ke depan. Bukan ke arah bunga bunga tulip yang indah.
"Iya." Rosa melirik Zaki. Dia teringat Fino.
"Kamu masih suka sama Mia?" tanya Rosa mengusik.
"Kelihatan ya," kekeh Zaki ringan.
Rosa pun balas tertawa.
Dulu Zaki sempat patah hati karena Mia jadian sama Vandra.
"Kamu udah punya istri?" pancing Rosa kepo.
"Belum. Lagi nyari, sih. Kamu mau nggak daftar?" tanya Zaki setengah menggoda.
Rosa tertawa lepas.
"Seperti bukan kamu aja," tukasnya dalam derai tawanya. Ternyata Zaki sudah bermetamorfosa.
Zaki ngga marah, malahan terus tertawa.
"Kok, bisa putus? kalian sudah lama banget tunangannya, kan? Sorry, kepo," ucap Zaki agak sungkan karena ngga bisa meredam rasa ingin taunya.
"Dia belum move on," tukas Rosa jujur.
"Dari siapa?" tanya Zaki penasaran. Selama SMA, Zaki belum pernah mendengar kedekatan Fino dengan perempuan
"Clara. Tapi Claranya suka sama Vandra. Ngga nyambung banget, kan," kekeh Rosa berusaha santai.
Zaki terdiam. Dia tau siapa Clara. Bidadari dari SMA musuh bebuyutan sekolah mereka. Zaki pernah mendengar selintingan kabar kalo Clara naksir Vandra.
Sampai sekarang? batin Zaki seolah bercermin pada dirinya sendiri.
Dia pun butuh waktu yang sangat lama untuk melupakan Mia. Walaupun akhirnya Zaki jadi lebih suka bekerja dari pada berkencan untuk menghabiskan hari harinya.
"Kamu udah suka sama Fino?" tanya Zaki serius
__ADS_1
"Mungkin karena terbiasa."
Zaki terdiam sebentar.
"Gimana kalo kita pacaran?"
"Haaah!" kaget Rosa ngga percaya akan ucapan Zaki yang dulunya terkenal kalem kini bisa ngomong absurd. Lagian dirinya bukan seperti keledai bodoh yang akan jatuh sampai dua kali di tempat yang sama.
Sudah cukup Rosa membuang waktunya yang berharga dengan laki laki yang ngga bisa move on. Jangan lagi dia mengulang hal yang sama. Bisa hancur beneram ntar hatinya.
Rosa sampai terus menatap laki laki tampan di depannya penuh selidik membuat Zaki tertawa lepas.
"Kenapa? Aku kurang ganteng ya," Zaki memasang mimik wajah memelas setelah tawanya reda.
"Agak aneh aja dengar kamu ngomong gitu," aku Rosa jujur. Bibirnya masih menyisakan tawa yang membuat Zaki kembali tertawa
"Gimana kalo kita buat kesepakatan. aku bantu kamu buat panas panasi Fino. Tapi kamu bantu aku nemenin ke pesta ulang tahun perkawinan orang tuaku," usul Zaki serius.
"Aneh aneh aja kamu," tolak Rosa sambil menggeleng gelengkan kepalanya.
"Aku serius."
Rosa tersenyum menampakkan deretan gigi putihnya ala iklan pasta gigi.
"Kamu mau dijodohkan?" tanya Rosa mengejek.
"Iya."
Rosa ganti mentertawai Zaki yang hanya meringis.
"Kamu ganteng gini susah dapat jodoh. Udah move on, kan?" sindir Rosa membuat raut meringis Zaki hilang, ganti tertawa lepas.
"Oke, aku bantu kamu. Kalo soal panas panasin Fino, ngga perlu lah." Rosa akhirnya mengalah.
"Kamu takut kecewa ya," ledek Zaki, tertawa lagi.
"Kamu seperti bukan Zaki," kata Rosa gemas sambil menggelng gelengkan kepalanya membuat Zaki tambah tergelak.
Setelah lama ngga ketemu, penampilannya masih rapi, tapi kelakuannya jadi beda seratus delapan puluh derajat. Zaki yang dia kenal waktu SMA adalah Zaki yang pembawaannya tenang dan kalem. Mungkin waktu memang bisa merubah sikap seseorang.
*
*
*
Fino cepat meraih hpnya yang bergetar. Tapi dia agak kecewa, karena yang menelpon bukan Rosa. tapi Cintya.
"Ya, kak?"
"Fino, malam minggu besok kamu ada acara?"
Fino terdiam. Sebenarnya dia mau pergi ke rumah Rosa. Tapi Rosa sepertinya masih marah.
"Ngga kak."
Terdengat hembusan nafas lega Cintya.
"Kamu bisa nemanin Clara ke pesta Om Akbar? Kakak sama orang tua kakak ngga bisa ke acara itu." Suara Cintya terdengar sangat berharap.
Fino terdiam. Dia mau menolak, tapi ngga enak sama Cintya.
"Oke kak."
"Makasih ya, Fino. Clara mau ngomong sendiri ngga pede," tawa Cintya terdengar renyah.
"Ya kak."
Apa iya, Clara memang niat mengajaknya? Bukan idenya kak Cintya.
Tanpa sadar Fino tertawa.
"Ngapain kamu ketawa sendiri?" tegur maminya bingung melihatnya. Maminya barusan keluar dari kamar tidurnya.
Setelah memutuskan pertunangannya, Fino memang agak berubah. Lebih pendiam. Maminya yakin kalo anaknya sudah suka sama Rosa, tapi belum disadarinya.
"Eh, ngga mi," kaget Fino dengan senyum lebar campur malu.
"Mami kangen sama Rosa," kata maminya sambil mendudukkan dirinya di sofa.
__ADS_1
Rosa selalu menyempatkan waktu menemaninya shopping, bahkan mencoba resep resep cake terbaru. Sejak mereka memutuskan untuk break dulu, Rosa belum lagi main ke rumahnya. Udah hampir dua minggu. Kata Fino, Rosa lagi liburan ke Eropa.
Maminya sampai ngga abis pikir. Gadis sebaik Rosa disia siakan putranya. Entah seperti apa gadis yang menjadi idaman putranya sejak lama.
Rosa cantik, pintar di bisnis, bahkan cekatan di dapur. Buat maminya, Rosa adalah mantu idamannya.
"Malam minggu besok, kamu pergi sama Rosa? Papi mau kenalin kamu sama anaknya teman Akbar," tanya mami sambil tersenyum melihat Fino yang masih menatap hp nya.
"Anaknya perempuan apa laki, mi? Fino ngga mau di jodohkan lagi," tolak Fino cepat.
Masalah Rosa aja belum kelar, mi, batinnya.
Mami terkikik.
"Anaknya laki laki, sayang," tukas mami masih dengan kikiknya.
"Ooh." Fino tersenyum lega.
"Anak Om Akbar sukses di bidang periklanan. Siapa tau kalian nanti akan bekerja sama. Katanya dulu satu sekolah dengan kamu."
Fino hanya menganggukkan kepalanya. Pikirannya masih tersangkut pada Rosa. Jadi ngga mencerna ucapan maminya.
Mami sepertinya maklum, dan ngga menanyakan apakah Fino kenal atau engga dengan anak teman suaminya itu.
"Kamu pergi sama Rosa?" mami malah mengulang pertanyaannya yang tadi, yang belum dijawab Fino.
"Ngga, mi. Rosa ngga bisa di telpon. Nanti Fino perginya sama anak teman papi, yg meeting kemarin?"
Alis mama terangkat.
"Cintya?"
"Bukan, mi. Adiknya, Clara."
Agak berat lidah Fino menyebut nama Clara. Dia masih merahasiakannya dari mami, gadis yang disukainya sejak dulu.
"Ooh. Ya udah. Paling engga kamu ngga datang sendiri. Kata papi, anak Om Akbar pun katanya mau bawa pasangan. Terpaksa kali karena sudah diancam akan dijodohkan," jelas mami kemudian tertawa lepas.
Fino hanya tersenyum tipis.
Jangan jangan nanti dia juga akan dijodohkan, batinnya langsung mumet.
Tanpa sadar Fino menatap serius hpnya lagi.
Rosa, aku minta maaf. Kita harus bicara.
*
*
*
Fino membenci matanya yang selalu terkesima jika melihat Clara. Clara sekarang berdiri di hadapannya dengan dress biru selutut tanpa lengan. Dia memang sangat mempesona.
"Hai," sapa Clara kemudian mengembangkan senyum manisnya. Semakin cantik.
Fino berdehem, dan balas tersenyum tipis.
"Makasih, ya, sudah mau jemput aku," ucap Clara lembut.
Gadis ini memang selalu lembut, puji Fino dalam hati.
Vandra memang aneh. Disukai gadis selembut dan secantik ini malah mengejar Mia yang cuek mati matian.
Eh, bukan hanya Clara aja. Lika juga menyukai Vandra. Lika pun ngga kalah cantiknya.
Cinta memang aneh. Di depan mata ada yang mudah di dapat, malah memperjuangkan yang susah, bahkan hampir di dor.
"Bisa berangkat sekarang?" tanya Fino sambil melirik hp yang digenggamnya. Rosa masih belum membaca pesannya. Apalagi balas menelpon. Gadis itu benar benar marah. Tanpa sadar Fino menghembuskan nafas kasar.
"Kamu ada janji?" tanya Clara sungkan karena melihat ekspresi kesal Fino.
"Ngga kok." Tanpa menunggu jawaban Clara, Fino melangkah mendekati mobilnya.
Fino menoleh ke arah Clara yang bergeming saat membuka pintu mobilnya.
"Ayoh," titah Fino sambil masuk ke dalam mobilnya.
Clara hanya tersenyum malu dan membuka pintu mobilnya sendiri. Dia mengira, Fino akan membukakan pintu mobil untuknya. Tapi sangkaannya ternyata meleset.
__ADS_1