
Toni penasaran juga dengan gadis ber long dress putih yang akhirnya bisa dioperasi ibunya berkat kartu sakti Aldi.
Aurelia Zahra, umur 20 tahun, mahasiswi jurusan ilmu pendidikan matematika, Perumahan Cendrawasih 10 A.
Toni tersenyum miring. Lumayan buat ngasih info Aldi.
Dia pun berlalu dari ruang administrasi. Ada aja alasannya untuk mengetahui identitas gadis itu yang tentu saja membuat para perawat percaya.
"Jadwal operasi kemarin dokter?" tanya perawat perempuan itu heran.
"Iya, ada pengunjung yang menanyakan apakah keluarganya sudah dioperasi kemarin."
"Oke, dokter."
Perawat perempuan yang baru aja lulus itu pun mencari berkas yang dimaksud.
"Nama pasien yang dioperasi siapa ya dokter?" tanyanya setelah menemukan map itu ngga lama kemudian.
Toni mengeluarkan senyum mautnya membuat perawat itu terpesona. Jarang jarang mendapat senyuman dari sang dokter idola.
"Biar saya aja yang nyari. Kamu kelihatannya sangat sibuk," kata Toni sambil mengambil map di tangan **p**erawat itu yang hanya diam masih memandangnya.
"Oh, eh, iya dokter," kata perawat itu malu.
Toni tersenyum lagi.
"Santai saja," katanya ringan sambil mulai membuka lembaran kertas itu.
Memang pesonanya menghanyutkan, tawa sombong Toni dalam hati sambil pergi setelah mendapatkan info yang dia cari
Begitu sampai di ruangannya, Toni langsung mengirimkan pesan pada Aldi.
Tinggal nunggu keberanian Lo, batin Toni menghina.
*****
Aldi yang mengantar ponakannya Melia ke sekolah bertemu dengan Vandra dan Mia yang juga sedang mengantarkan Ezra dan Erza.
Melia yang centil menjadi malu malu saat melihat duo kembar yang tampan tampan.
"Kenapa Mel?" goda Aldi berbisik. Dia tau ponakan cantiknya salah tingkah karena ada duo kembar yang dingin itu.
"Om, jangan bikin Mel malu," kesal Melia juga berbisik.
Aldi tertawa kecil sambil mengusap puncak kepala Melia gemas.
"Ngantar juga?" tanya Vandra ketika sudah mendekati Aldi dan Melia.
"Halo cantik," sapa Mia lembut. Sedangkan duo kembar bersikap acuh ngga acuh.
Melihat sikap duo kembar membuat Aldi tersenyum.
Harusnya si kembar jadi anakmu Van. Bukan anaknya Bang Valen.
Hanya Abhi yang benar benar kloning Valen. Dua kembar ini kloning asli Vandra.
"Halo juga tante," balas Melia senang sambil melirik si kembar.
"Nanti malam datang ya, tante Mia, Om Vandra. Iqbal ulang tahun," undang Melia dengan suara cemtilnya.
"Iya, kembar diundang nggak?" goda Mia membuat Melia jadi malu malu kucing sambil menatap si kembar yang tetap dengan ekspresi datarnya.
__ADS_1
"Diundang, dong."
Aldi dan Mia pun tertawa kecil. Sedangkan Vandra hanya menaikkan sudut bibirnya. Si kembar sendiri tetap dengan ekspresinya. datar dan ngga peduli.
"Tante, bilang sama abang kembar, aku dibeliin boneka beruang," pintanya kemudian bersembunyi dibalik kaki tinggi Aldi.
Mia tertawa lepas.
Kamu kenapa agresif gini, sih, batin Aldi gemas.
Vandra hanya menggelengkan kepalanya sambil melirik ponakan kembarnya yang sama sekali ngga menanggapi.
"Ayo, nanti telat," kata Aldi akhirnya pada ponakan gemesinnya.
"Iya, Om," ucap Melia patuh.
"Ayo masuk bareng abang kembar," ucap Mia sambil mendorong kedua ponakannya yang masih tegak ngga bergerak.
"Iya, tante," ucap Ezra sambil mengambil tangan Mia dan tangan Vandra buat disalim dan dicium.
Begitu juga Erza yang tanpa bicara melakukan hal yang sama.
"Om Al, aku masuk ke kelas ya," kata Melia juga sambil menyalim tangan Omnya dan juga menciumnya.
Aldi tersenyum sayang.
"Belajar yang rajin ya," pesannya membuat Vandra menahan tawanya. Mis sampai menyenggolnya.
Masa lalu mereka jangan sampai terbongkar.
Aldi pun pahan akan reaksi Vandra. Dia pun merasa ngga pantas memberikan petuah yang baik mengingat kelakuannya waktu sekolah dulu.
Ketiga orang dewasa itu pun menatap kepergian tiga mahluk kecil yang berjalan beriringan memasuki kelas.
"Jangan sampai mereka tau kelakuan kita. Ngga bakal dianggap ntar," kekeh Aldi akhirnya.
Vandra dan Mia pun ikut tertawa.
"Aku nggak ya," protes Mia di sela derai tawanya.
"Iya sayang," ucap Vandra masih juga tergelak.
"Kamu pengecualian," kekeh Aldi.
Mengingat masa masa sekolah dulu, apalagi waktu SMA terasa menyenangkan sekarang. Hanya saja mereka sudah berjanji untuk menyimpan rapat rapat kelakuan buruk mereka dari para keponakan. Untuk menjaga kewibawaan tepatnya.
"Angel juga datang?" tanya Mia agak berharap sambil melangkah ke parkiran. Sudah cukup lima tahun rentang waktu keduanya terpisah. Sudah saatnya bersama.
"Kayaknya iya," jawab Aldi dengan cengiran khasnya, membuat bibir Vandra tersenyum tipis.
Aldi langsung fokus ketika melihat gadis yang dikiranya hantu berjalan cuek melewatinya dan memasuki sekolah Melia.
Aldi dan Vandra saling lirik.
"Sana, tegur," ejek Vandra.
Aldi hanya tersenyum ngga menggubris. Dia terus menatap gadis itu sampai hilang ke dalam gerbang sekolah.
"Siapa?" tanya Mia ingin tau.
"Idamannya Aldi," kekeh Vandra membuat Mia juga ikut tertawa.
__ADS_1
Ketika ketiganya sedang berjalan menuju parkiran, wajah Vandra, Mia dan Aldi yang tadinya senang berubah.
Kalo Vandra dan Mia menjadi kesal, sedangkan Aldi mencoba mengingat penampilan gadis seksi yang sedang memamerkan senyum manisnya.
Gadis itu melangkah dengan tenang dan anggun menghampiri mereka.
Arabela.
"Itu cewe di tempat pameran Eri, kan?" bisik Aldi.
Vandra hanya mendengus kesal. Mengingat sikap ngga tau malunya cewe itu di basemen perusahaannya.
"Halo, kita ketenu lagi Vandra. Apa kita jodoh?" tanyanya sambil menghentikan langkahnya di depan Vandra.
Aldi paham kini kenapa wajah Vandra terlihat marah. Juga Mia yang jadi sinis. Malahan keduanya kini berlalu begitu saja meninggalkan Arabela.
"Kita pernah ketemu juga, kan?" kata Arabela sambil mengulurkan tangannya pada Aldi.
Aldi hanya menatapnya sekilas. Benar benar ngga minat.
Memang cantik dan seksi, tapi nurut Aldi ngga ada kesan mahalnya.
Akhirnya Aldi membiarkan tangan itu tergantung dan melangkahkan kakinya mengikuti Vandra dan Mia yang sudah duluan pergi.
Arabela hanya tersenyum ngga peduli akan pandangan orang orang yang ada di situ. Dia mengambil hpnya dan menekan nomer adiknya yang menjadi salah satu guru di sekolah elit ini.
"Aku udah di luar," katanya begitu telpon tersambung.
Ngga ada jawaban, Arabela men off kan hpnya dan menyimpan ke dalan tas mahalnya.
Begitu dia melihat seorang guru dengan blazer biru dan rok selutut keluar dari gerbang, Arabela langsung menghampirinya.
"Mana uang hasil penjualan rumah," todongnya tanpa basa basi.
"Udah abis buat operasi mama," kata gadis itu tenang.
"Bohong. Aku tau pacarmu yang membayarnya. Hmm... hebat juga kamu punya pacar kaya raya," tuduhnya meremehkan.
"Aku ngga kenal. Tapi uangnya sudah aku kembalikan."
Belum, karena mama masih harus operasi sekali lagi, batinya berbohong.
Terpaksa dia lakukan demi mama. Kakaknya yang sudah menghabiskan semua aset peninggalan papanya untuk traveling dan hidup hura hura di Inggris.
Hanya rumah yang bisa dia selamatkan. Dan sudah terjual kemarin.
"Kamu jangan bohong," sentak Arabela jengkel.
"Sudah ya. Kalo mau lihat mama, di ruang Anyelir 5," katanya sambil berlalu pergi.
"Aurelia, kamu jangan ngga sopan ya," sembur Arabela marah.
Tapi gadis yang dipanggil Aurelia terus aja memasuki gerbang sekolahnya tanpa mempedulikan kemarahan saudaranya.
Aldi yang belum menjalankan mobilnya, mengamati kedua gadis itu dengan serius.
Apa mereka punya hubungan?
Nggak lama kemudian, hp Aldi bergetar. Sebuah notifikasi pesan masuk di hpnya.
Bibir Aldi tersenyum saat membaca pesan yang dikirimkan sahabat jinnya.
__ADS_1
Aurelia Zahra.