Me And You

Me And You
Rencana di kafe


__ADS_3

"Lama banget," omel Irfan begitu melihat Aldi, Eri dan Toni datang.


Ketiganya hanya nyengir.


"Sudah, ayo pesan," kata Vandra sambil melambaikan tangannya pada pegawai kafe yang sedang berjalan ke arah mereka sambil menunduk.


Tapi kemudian mata Vandra melirik Aldi dan Toni agak terkejut, karena pegawai kafe yang dipanggilnya ternyata idamannya Aldi.


Kok? batin Vandra heran. Tapi kemudian dia tersenyum miring melihat Aldi yang mencuri pandang ke perempuan yang sebelumnya dikira hantu.


"Pesan apa tuan?"


"Yang enak enak bawa semuanya, Rel," kata Eri santai.


Teman temanya menatap ngga percaya pada Eri.


Gila, gaya Lo Er, banyak banget fans Lo. Cantik cantik lagi, batin Irfan iri.


Fino tertawa sambil menggelengkan kepala.


Sampai pegawai kafe pun Lo kenal.


"Eh, Bang Eri," ucap Aurelia dengan mata berbinar membuat Aldi terpesona melihatnya.


Toni tersenyum melihat wajah oon Aldi. Belum pernah dia melihat Aldi jadi tolol gini lihat perempuan. Biasanya Aldi terlalu cuek dan ngga pedulian sama perempuan.


"Kalian kenal?" tanya Igo yang ikut bergabung setelah mendapat pesan dari Irfan. Dia menatap keduanya dengan tatapan penuh selidik.


Aurelia hanya tersenyum.


"Siap, Bang," ucap Aurelia sambil berlalu pergi.


"Emang kalo dia bawa banyak makanan ke meja, bisa kita habiskan?" respon Fino sambil menggelengkan kepala.


"Kalo ngga abis, bungkus aja. Kasih anak anak jalanan," jawab Eri santai.


Oiya juga, batin Fino nyengir.


"Kok Lo kenal, Er?" tanya Vandra kepo. Kalo bukan karena mencari info buat Aldi, malas Vandra nanya nanya hal begituan.


Untung teman temannya ngga ada yang menyadarinya keanehan sikap Vandra. Semuanya serius menatap Eri, butuh jawaban dari mulutnya. Kecuali Aldi dan Toni yang udah tau.


"Namanya Aurelia, adiknya Arabela."


"APA?!' kaget Fino dan Irfan berbarengan


Vandra menatap ngga percaya. Langsung jadi ilfeel.


Igo hanya diam saja sambil menanti kelanjutan omongan Eri.


"Dia hampir dijual sama Arabela di Manchester. Arabela itu beneran gila uang. Tadi udah gue ancam jangan deketin Lo, Vand. Tapi tetap mau deketin Lo. Kita kerjain aja," jelas Eri panjang lebar sekalian memberi usul.


"Brengsek banget. Kakak macam apa itu," umpat Igo marah.


"Kakak Iblis," timpal Fino emosi.


"Sumpah ada yang begitu," kata Irfan ikut mengumpat.


"Gue setuju kita kerjain," tanggap Fino masih ngeredek.


"Pake cara apa ya. Tapi gue najis pake tangan gue," tolak Igo ngga sudi

__ADS_1


"Gue malas berurusan dengan perempuan model begitu," tambah Vandra walau masih diliputi kekesalan.


Mengapa dia harus jadi incaran kakak iblis itu, geram Vandra dalam hati.


"Santai Vand, gue yang akan kerjain," janji Eri.


"Gue bantu Lo," kata Irfan mendukung.


"Gue juga. Perempuan ngga benar itu," timpal Igo.


"Pokoknya kita deal ngerjain tu kakak iblis," kata Toni yang ngga dibantah sama sekali dengan yang belum bersuara.


Aldi tentu saja setuju dalam hatinya. Hanya dia heran, kenapa Aurelia tidak menyapanya. Padahal tadi mereka sempat bertatapan. Tapi tadi memang Aldi langsung melengos. Cukup Toni dan Vandra yang tau.


Dasar sombong, omel Aldi dalam hati.


Akhirnya makanan mereka pun sampai. Aurelia di bantu dua orang teman temannya menghidangkan steak wagyu ke Eri cs. Ada berbagai puding, cake dan juice


Entah di sengaja atau tidak. Aurelia yang memberikan piringnya ke Aldi.


Keduanya kembali bersitatap. Tapi Aldi kembali melengos.


Dalam hati Aurelia ngomel ngomel juga. Tapi dia harus memperlakukan pembeli di kafenya dengan baik, apalagi laki laki di depannya yang dia pinjam sangat banyak uangnya.


"Silakan dinikmati," kata Aurelia sebelum pergi. Dia kembali melirik Aldi yang tetap cuek dan tidak memperhatikannya.


Mentang mentang aku punya hutang. Sama sekali ngga dilihat, batin Aurelia mengomel.


"Mantap, ayo makan," kata Irfan sambil memotong steaknya.


Mereka pun makan dengan lahap, sampai ngga ada yang tersisa.


"Katanya mau di kasih ke anak jalanan," sindir.Eri pada Fino, membuat Fino tersenyum miring.


"Aku mau pesan pudingnya buat di rumah," kata Vandra sambil melambaikan tangannya juga pada pegawai kafe.


Kebetulan atau ngga, yang melihat lambaian itu Aurelia.


"Aku juga pesan. Puding buahnya segar," kata Igo ikutan.


"Al, kamu pesan ngga?" tanya Toni sambil menendang pelan kaki Aldi.


Saat ini Aurelia sedang mencatat pesanan mereka untuk di bawa pulang.


"Steak wagyu satu, pudingnya dua porsi. Di pisah tempatnya," kata Aldi tanpa melihat Aurelia.


"Oke," kata Aurelia sebelum pergi.


"Jangan dingin dingin, Bro," bisik Toni pada Aldi.


Aldi hanya menyeringai.


"Er, Lo ada ngga video waktu kakak iblis itu lagi transaksi ngga?" tanya Vandra membuat mereka yang masih konsen dengan sisa puding dan cake, menoleh ke Vandra.


"Punya. Buat apa?" tanya Eri ngga ngerti, kenapa tiba tiba Vandra bertanya. Tadi katanya malas ngurus masalah kakak iblis dan adiknya.


"Gue akan meminta Bang Ferdi untuk memberikan surat pemanggilan dari kepolisian untuk si kakak iblis."


"Boleh juga," tukas Irfan setuju.


"Ketar ketir pasti dia," tambah Irfan sambil menyeringai.

__ADS_1


Rasain, umpat Irfan dalam hati. Ifran masih ngga abis pikir, ada kakak yang begitu kejam dengan adiknya sendiri.


"Hebat juga ide Lo. Gue tadi kepikiran mau gue suruh orang untuk nyulik dan nyuruh kuli kuli perkosa dia," kata Igo enteng.


"Serem banget ide Lo, asem," kata Fino kaget.


Igo hanya tertawa. Idenya memang kadang di luar perikemanusiaan.


Walaupun memang pantas juga sih, digituin, batin Fino.


"Gue sebenarnya setuju, cuma ditambahin, dibuatin video. Biar dia tambah ciut," kekeh Eri ngga kalah gilanya.


"Perempuan gitu ngga ada gunanya. Sampah," ketus Toni juga.


"Kalian memang psycho," sarkas Irfan kemudian tergelak.


"Kita pake ide Vandra dulu. Kalo ngga manjur, baru pake ide Lo berdua," kata Fino sambil melihat Igo dan Eri bergantian.


"Oke. Setuju. Kapan Lo mau ngomong ke Bang Ferdi?" tanya Eri antusias.


"Sekarang lah. Gue lagi ngirim pesan ke dia. Cepat kirim videonya ke gue."


"Siap bos," kata Eri langsung membuka link video di hpnya. Begitu ketemu video yang dimaksud, Eri pun mengirimkannya ke nomer hp Vandra.


Ngga lama kemudian hp Vandra bergetar, dia tersenyum smirk melihat siapa yang nelpon.


"Bang Ferdi," kata Vandra tanpa ditanya. Dia pun berjalan menjauh sambil mengangkat telponnya.


"Langsung bisa dilaksanakan," kekeh Eri.


Yang lain pun tertawa.


"Ngga lama lagi nangis darah dia," kata Toni.


"Tau sendiri Bang Ferdi kalo ngerjain orang," tambah Aldi di sela tawanya.


"Kalo ada Bang Valen lebih seru lagi," timpal Eri lagi yang kali ini disambut koor heboh tawa mereka, sampai memancing perhatian tamu tamu kafe yang lain.


Tapi dasar anak anak sultan, mereka tetap cuek aja, tetep santuy dengan tawa hebohnya.


*


*


*


"Nih, buat kamu," kata Aldi sambil menyantelkan kantong kertas berisi steak wagyu dan kantong kertas yang berisi puding ke tangan Aurelia yang terkejut dan reflek menerimanya.


"Ngga usah. Kan kamu yang pesan," kata Aurelia tersadar dan langsung menjejari langkah Aldi.


"Iya, Aku pesan buat kamu," kata Aldi tanpa menoleh dan terus melangkah menjauhi Aurelia dengan satu kantong kertas di tangannya.


Aurelia tertegun. Agak tersipu mendengar jawaban laki laki cuek itu.


Aldi sendiri berusaha menahan debaran di dadanya sambil melangkah pergi.


Tadi dia beralasan mau ke toilet pada Eri dan Toni. Padahal Aldi mencari Aurelia ke belakang kafe.


Tapi dia jadi kesal melihat dua orang sahabat jinnya itu yang menunggunya sambil nyandar di badan mobil, tersenyum mengejeknya.


Vandra juga ternyata masih berkumpul dengan Eri dan Toni, melihatnya masih dengan gaya ngga acuhnya.

__ADS_1


Pasti tau, umpat Aldi kesal dalam hati.


__ADS_2