
Vandra menatap pantulan Mia yang sedang membersihkan wajahnya di depan kaca rias. Wajah yang dia suka sejak dulu. Senyumnya terbit saat melihat perut istrinya yang sudah membuncit. Mereka tinggal menunggu dua bulan lagi. Sampai sekarang Vandra dan Mia belum tau jenis kelamin ank mereka.
"Kenapa?" tanya Mia setelah membuang kapasnya dan membalikkan wajahnya ke Vandra.
Vandra mendekat dan mengalungkan kedua tangannya di leher Mia.
"Ada yang belum aku ceritakan," ucap Vandra lembut.
"Apa?" tanya Mia sambil menyandarkan wajahnya di dada bidang suaminya.
"Tadi waktu ngambil puding aku ketemu Clara," kata Vandra sambil menempelkan dagunga di kepala Mia.
Dada Mia berdesir ngga enak. Setiap mendengar nama Clara, selalu timbul rasa kesal di dalam hatinya.
Ketika lulus SMA, Mia dan Vandra ngga pernah bertemu Clara. Menurut kabar dari Ando, Clara kuliah di Singapura bareng Nesa sepupunya. Bahkan sempat kerja di sana. Nesa pun ngga datang ketika dirinya menikah.
"Tapi cuma sebentar," ucap Vandra lembut ketika melihat wajah Mia agak berubah.
"Aku janji, akan selalu menghindari dia," lanjut Vandra kemudian mengecup lembut rambut istrinya.
"Kalian bicara apa?" tanya Mia mulai ngga nyaman. Wajahnya terlihat manyun.
Vandra tersenyum kemudian mengangkat Mia ala bridal membuat Mia terpekik. Reflek Mia ganti mengalungkan kedua tangannya di leher Vandra. Keduanya pun tersenyum lebar dengan mata penuh binar.
Perlakuan Vandra membuat perasaan ngga nyaman di hati Mia sirna sudah. Mia menyandarkan wajahnya dengan manja di dada suaminya.
Vandra pun membaringkan Mia, dan Vandra juga ikut membaringkan tubuhnya sambil membelai lembut perut istrinya.
Gerakan gerakan bayi di perut Mia membuat Vandra dan Mia terkekeh.
"Anak kita tau kalo dady nya sayang banget sama mamy nya."
"Masa?"
Vandra mencubit ujung hidung Mia gemas membuat Mia cemberut.
"Kamu itu ngga tergantikan," kata Vandra membuat Mia kembali tersenyum. Hatinya penuh bunga.
"Penasaran, Clara ngomong apa sama kamu?" cicit Mia tetap ingin tau.
Vandra menarik nafas pelan. Dia ngga ingin Mia tau dari orang lain dan membuat hati istrinya kesal.
"Dia minta jadi yang kedua, tapi udah aku tolak."
Mia manyun lagi.
"Ada ban serep dong," tukasnya agak kesal.
Vandra malah tergelak, kemudian mencium kening Mia lembut.
"Namanya juga orang ganteng. Aduuh, Mia, kan udah aku tolak," seru Vandra sambil meringis karena lengannya dicubit Mia cukup dalam.
"Rasain," ledek Mia ngga peduli. Walaupun kesal, tapi Mia percaya apa yang dikatakan Vandra.
Dalam hati Mia kasian juga dengan Clara. Dulu gadis itu merekayasa fotonya dengan Vandra. Sekarang malah meminta jadi yang kedua. Secinta itu Clara dengan Vandra. Bahkan Nesa sangat menyayangi Clara.
"Kamu ini kalo cemburu, mengerikan. Lihat lemganku sampai matang biru," protes Vandra pura pura kesal.
__ADS_1
Mia tersenyum lebar tanpa dosa.
"Sakit ya. Kalo sama Clara pasti dibelai terus, ngga bakal dicubit," ledek Mia sambil mengerling menggoda.
"Bukan hanya dibelai, sayang. Dicium juga kali," balas Vandra membuat Mia yang tadinya hanya iseng pengen menggoda malah jadi terbakar hatinya.
"Ya udah sana pergi ke Clara," kata Mia kesal sambil mendorong Vandra membuat Vandra ngga bisa menahan tawa kerasnya.
Kemudian Vandra pun meraih Mia dan mendekapnya dengan hati hati.
"I love you. Always. Forever," bisik Vandra lembut ditelinga Mia membjat kekesalan Mia kembali menguap.
Mia menempelkan wajahnya di dada Vandra dengan manja.
"Aku takut, Van. Clara cantik banget," lirih Mia jujur. Dia insecure. Apalagi sekarang dia bertambah gendut.
"Kamu paling cantik. Apalagi ada anak kita di perut kamu," bisik Vandra sambil mengecup lembut puncak kepala Mia membuat hati Mia bagai disiram es.
Vandranya yang dulu kaku dan datar, kini menjadi sangat lembut dan hangat. Vandra yang selalu dia cintai. Mia ngga akan sanggup membagi Vandra untuk gadis lain. Ngga akan pernah sanggup. Vandra adalah miliknya seorang
Vandra pun merasakan hal yang sama. Dia nggak akan bisa memberikan sedikitpun kepingan hatinya untuk gadis lain. Semua sudah terisi dengan Mia.
Gadis yang disukainya sejak SMA. Gadis yang membuatnya melakukan banyak hal konyol. Sekarang sudah menjadi istrinya dan sedang mengandung anaknya.
*
*
*
Clara menatap sedih foto Vandra yang selalu dia simpan di dompetnya. Foto lama waktu Vandra masih SMA.
Clara sudah berusaha menjalin hubungan dengan teman kuliah dan relasi bisnis anak teman papanya. Tapi belum ada yang bisa menyembuhkan luka hatinya dari Vandra. Nesa juga sudah mengenalkannya dengan teman teman kekasihnya. Tetapi Clara tetap saja belum bisa move on.
"Ngelamunin suami orang lagi?"
Suara sinis kakaknya mengagetkannya. Kakaknya baru dua tahun ini menikah. Setelah gagal menarik perhatian Valen dan Emir. Akhirnya dijodohkan. Mungkin dia juga akan bernasib sama dengan kakaknya.
"Lupakan aja kenapa, sih?" ketus Cintya lagi sambil mendudukkan dirinya di meja kerja adiknya.
Clara hanya tersenyum getir.
"Coba buka hati kamu. Buktinya kakak bisa," sambungnya lagi.
"Aku udah coba, kak. Tapi sulit" keluhnya dengan nada sedih.
Cintya menarik nafas panjang.
"Sekarang kamu maunya apa?" Cintya menatap lekat adiknya yang masih memainkan pulpennya dengan resah.
"Kemarin malam aku ketemu Vandra, kak. Aku bilang padanya, aku mau jadi yang kedua. Tapi Vandra tetap menolak," ucapnya sedikit terisak.
Cintya terdiam. Dia teringat pernah meminta Valen menjadikannya yang kedua. Tapi Valen juga menolak. Dan Emir. Laki laki itu juga sangat setia dengan istri lumpuhnya yang masih saudaraan dengan Valen dan Vandra. Apa mereka berdua dikutuk hingga susah meraih hati orang orang di lingkaran itu.
Cintya membuang nafasnya kasar. Sekarang hidupnya sudah bahagia..Mempunyai suami yang sangat mencintainya.
"Lebih baik kamu bersama laki laki yang mencintaimu. Seperti kakak. Dari pada kita yang mencintai, tapi selalu disakiti." Cintya memberikan nasihatnya.
__ADS_1
"Apa ada lagi laki laki setulus Bang Azil, kak?" tanya Clara pelan.
"Pastilah. Coba kamu ingat ingat, siapa laki laki yang selalu tulus sama kamu," tukas Cintya bersemangat.
Clara terdiam. Dio, batinnya sedih. Teman SMA nya yang sudah berkali kali ditolaknya. Tapi sekarang Dio sudah menikah. Andai saja dulu dia menerima Dio. Mungkin dia juga akan bahagia seperti kakaknya. Tapi sudah terlambat.
"Ada, sih, kak. Tapi dia sudah menikah," ucap Clara pelan.
"Coba diingat lagi. Pasti masih ada, kan?" tanya Cintya ngga memyerah. Paling engga dia sudah berhasil membuat adiknya sedikit berpalimg dari Vandra.
Clara tersenyum dan menggelengkan kepalanya. Cintya turun dari meja adiknya dan menepuk pundak adiknya lembut.
"Pelan pelan saja. Nanti jodohmu pasti akan datang."
Clara tersenyum lembut.
"Iya, kak."
Kedua kakak beradiknya ini sama tersenyum.
"Kakak ke sini mau ngapain?" tanya Clara sambil menatap map.di tangannya. Dia baru sadar kalo dari tadi kakaknya memegang map.
Cintya tertawa.
"Ini proyek apartemen yang baru. Kita akan kerja sama dengan Grup Hanggara," jelasnya setelah tawanya reda.
"Oke, kak," ucap Cintya sambil menerima map yang diulurkan Kakaknya.
*
*
*
"Fino, nanti kamu ikut meeting ya mewakili papi," ujar papinya ketika mereka makan siang bareng di kafe depan perusahaan Fino.
"Lho, papi mau kemana?" Fino menatap papinya heran. Ngga seperti biasanya.
"Ada janji meeting juga. Papi lupa, waktunya bersamaan," ucap papinya ringan.
Fino menatap papinya kesal. Selalu aja begitu, tetap santai dan ngga ngerasa bersalah.
"Buat kamu saja proyek ini. Bangun apartemen, kan, kamu ahlinya," bujuk papi membuat Fino melirik sebal.
"Teman papi menawarkan kerja sama ini. Katamya siapa tau berjodoh sama putrinya," kekeh Papi tamnbah keras apalagi melihat wajah masam yang diperlihatkan Fino
Proyek perjodohan. Malas banget, batin Fino sebal.
"Rosa gimana kabarnya, ya. Sudah lama juga papi mgga melihatnya?" tanya papi setelah reda tawanya.
"Dia lagi liburan ke Eropa bareng teman temannya, Pi."
Papi menghela nafas panjang.
"Papi suka sama Rosa. Dia baik dan dewasa. Sayang kalian ngga berjodoh," kata papi dengan nada menyesal.
Fino ngga menyahut. Setelah memutuskan pertunangan mereka, rasanya lebih santai ketika Fino mengobrol dengan Rosa. Seolah ngga ada beban lagi di dadanya. Sudah terangkat semua dan hilang entah kemana.
__ADS_1
Rosa pun sepertinya juga sama dengan dirinya. Dia menikmati kebebasannya dengan liburan ke negara negara di benua Eropa.
Mereka memang perlu memikirkan ulang pertunangan mereka yang sudah dilakukan sejak SMA.