
Aldi menunggu Aurelia keluar dari gerbang sekolahnya. Setelah mengantar Celon, Aldi melajukan mobilnya ke sekolah Aurelia.
Kejadian tadi benar benar membuka lebar pikirannya. Betapa kematian bisa begitu cepat datang di depan mata. Tanpa di duga sama sekali.
Sudah dua kali dia mengalami peristiwa yang membuatnya hampir kehilangan nyawa. Tapi hari ini yang paling mengerikan
Kalo saja Bang Valen tidak secepat mungkin menangkap dan melempar bom itu, tentu mereka semua akan mati saat itu. Mengingat efek ledakannya yang cukup besar.
Saat bom itu dilempar, mendadak Aldi ingat perasaan berdosanya pada Aurelia. Gimana kalo dia langsung meninggal dengan membawa dosa zinanya pada Aurelia. Dia belum bertobat, belum dimaafkan dan juga belum bertanggungjawab.
Entah bagaimana nasib gadis itu nantinya. Apakah ada yang akan menikahinya setelah tau dia ngga virgin lagi. Apalagi yang melakukannya sedang disiksa di dalam kubur karena ngga sempat bertobat
Ald menghela nafas kasar.
Karena itu dia langsung menawarkan diri mengantarkan Bang Celon pulang. Aldi bingung cari alasan yang wajar dan logis untuk pergi menemui Aurelia. Tanpa mengundang banyak pertanyaan. Apalagi ada Kak Luvi dan abangnya, Ilham.
Kini para murid satu persatu sudah dijemput oleh orang tua. Aldi menunggu dengan sabar. Sekarang akhirnya para guru pun keluar.
Aldi membuka pintu mobilnya ketika melihat Aurelia yang berjalan bersama dua orang teman gurunya.
Dengan langkah panjang Aldi berjalan mendekat, membuat Aurelia dan kedua temannya sama melihat ke arah Aldi yang dengan tenang menghampiri Aurelia. Kedua temannya pun tersenyum, karena pernah melihat Aldi mengantar dan menjemput ponakannya.
Tapi keduanya sangat kaget melihat Aldi yang langsung menarik Aurelia dalam pelukannya.
Keduanya sempat mematung sebelum akhirnya pergi demgan semyum malu di bibir.
Aurelia pun terpaku dalam pelukan Aldi. Jantungnya seakan beradu dengan jantung Aldi. Sama sama berirama cepat.
"Kita nikah, yuk," ucap Aldi serius membuat Aurelia terpana.
Dia mengangkat wajahnya, menatap laki laki yang sudah menodainya dengan tatapan ngga percaya.
"Apa?" tanyanya bingung. Tetap ngga mau percaya tapi degup jantungnya semakin keras memukul dada Aldi.
"Kita temui mama kamu. Kita menikah," ucap Aldi membuat dada Aurelia rasanya mengembang saking bahagianya.
Benarkah? tanya Aurelia dalam sorot matanya yang bersitatap dengan sepasamg mata Aldi yang berbinar. Wajah laki laki kurang ajarnya ini semakin tampan dengan senyum hangatnya.
"Mau kan?" tanya Aldi memastikan.
Tanpa sadar Aurelia menganggukkam kepalanya. Wajahnya langsung merona dan terasa panas. Sementara degup jantungnya semakin kencang berdetak. Aurelia pun dapat merasakan debaran keras jantung Aldi. Kedua tangannya terulur begitu saja memeluk Aldi.
Aldi tersenyum lebar. Dia pun mengeratkan pelukannya.
"Bayi kita bisa sesak nggak kalo kita gini terus," goda Aldi membuat Aurelia tersipu.
Dia menenggelamkan kepalanya di dada Aldi yang tertawa lebar melihat tingkah malu malunya.
"Aku ngga hamil," katanya pelan.
__ADS_1
Aldi makin keras tawanya.
"Kan udah aku bilang, kamu mungkin cuma setres."
"Iya, Iya," sungut Aurelia kesal.
Aldi terus saja tertawa. Dia akan mengatakan pada mama dan papanya yang akan tiba di rumah sore ini untuk melamarkan Aurelia. Kejadian pagi tadi membuat orang tuanya meninggalkan pekerjaannya di Bangkok dengan hati was was.
Nggak perlu memaksa, orang tuanya pasti sangat senang melakukannya. Aldi yakin sekali.
*
*
*
"Kamu udah ngelamar, Aurelia? ck ck ck," decak Irfan dengan senyum lebar.
Aldi terkekeh, begitu juga Fino, Doni dan Toni.
"Apa.gara gara hampir mati di lempar bom," sarkas Toni masih dengan derai tawanya.
"Kali," cicit Doni ngga acuh.
"Lo.tau sendiri aja, gimana rasanya tadi. Nyaliku langsung lenyap," kekeh Aldi jujur.
"Iya, rasanya shock banget," tambah Doni jujur.
Lantai tempat mereka berpijak, bergetar hebat. Mereka dan para preman yang udah mereka amankan pun ada yang sampai jatuh terduduk atau bersandar di dinding dengan perasaan mgga menentu. Ngga nyangka masih ada bom yang belum dijinakkan.
"Kita khawatirin Lo Lo yang lagi di bawah," ucap Irfan kesal.
"Akhirnya lepas juga si bos mafia itu," kesal Fino.
Padahal lantai masih bergetar, tapi Bobby si bos mafia itu setelah berhasil melepaskan cengkeraman Om Nirwan, langsung saja melompat. Walau Om Nirwan sudah menembak tepat memgenai kakinya saat dia melompat, tapi dia berhasil lolos juga. Begitu pula dengan beberapa anak buahnya yang nekat melompat dari lamtai tiga ke bawah.
"Kita teledor, ngga periksa Anastasia dulu. Tapi kita malah membawanya pergi ke basemen," cicit Toni memyesal.
"Betul," sergah Aldi juga mangkel.
"Gue kagum sama Bang Valen. Padahal itu bom, tapi bang Valen seperti nangkap bola basket aja. Trus di lempar begitu saja ke arah luar," sambung Doni juga penuh sesal. Hampir saja mereka mati sia sia karena kecerobohan mereka.
"Ngga kepikir di kepala gue Anastasia membawa bom," sambung Aldi yang disetujui teman temannya.
"Betul," timpal Doni.
"Syukurlah Lo mau nikah juga, Al. Gue ada barengannya," kekeh Irfan diikuti tawa Aldi.
"Fin, Lo kapan nikahnya?" pancing Toni mengejek.
__ADS_1
Tunangan udah jaman kapan. Sampai kapan si Rosa Lo gantung, hina Toni dalam hati.
"Gue barengan ama Lo," sahut Fino santuy.
"Adik Lo udah siap gue lamar?" tantang Toni terkekeh.
"Kata Ami ogah. Lo masih nempel sana sini sama perawat dan dokter di sana," ejek Fino juga terkekeh.
Toni ngga tersinggung, malah melanjutkan tawanya.
"Gue kasian sama Ami. Suruh cari yang lain aja. Jangan sama dokter gebleg ini," canda Doni dengan nada menghina. Dia pun tertawa lagi.
"Gue juga heran. Lo ngga takut adik Lo sakit hati. Si Toni kelakuannya sangat minus," tambah Irfan memgompori.
"Tau sendiri gimana Ami. Susah dikasih tau," sahut Fino tetap santui membuat para sahabatnya tambah keras tawanya.
Toni pun terus saja terkekeh. Apalagi membayangkan wajah cantik adiknya Fino. Model sekaligus desainer. Gadis cantik nan seksi itu selalu dibawanya ke acara acara pesta dan diakuinya sebagai pacarnya. Ami senang senang saja. Ngga pernah protes dan menanyakan status jelasnya.
"Sandrina udah bisa nerima Lo?" tanya Aldi ingin tau.
"Harus maulah. Kami punya anak di perut Sandrina," jawab Irfan senang."
"Iya, syukurlah. Baek baek aja Lo ya, selamanya," kata Doni ikit senang.
"Aamiin," sambar Irfan cepat.
"Tinggal Lo Doni. Jodoh Lo belum nampak hilalnya," sarkas Toni sinis.
"Gue masih lama. Lo duluan aja," kata Doni santuy.
Memang masih cukup lama bagi Doni menunggu Mikaela cukup umur.
Doni menggelengka kepalanya kesal. Nggak mungkin, kan, dia menunggu gadis yang masih SMA itu, batin Doni mendumel.
*
*
*
"Mereka selalu saja beraksi tanpa aku," omel Eri sambil merebahkan dirinya di samping Angel. Rasanya dadanya penuh dengan rasa kekesalan yang menggunung.
Angel tersenyum geli melihat sikap kekanakan Eri.
"Kita kan lagi bulan madu. Mungkin mereka nggak enak nau ganggu," ucap Angel lembut.
Eri.menghembuskan nafas dengan kasar.
"Aku ingin cepat pulang, Angel. Kamu marah, nggak?" tanta Eri hati hati. Sudah tiga hari mereka di Puket.
__ADS_1
Eri sudah penasaran mendengar cerita nereka secara langsung. Juga ingin memarahi mereka karena ngga menunggunya pulang.
"Ngga, kok. Aku ngikut kamu aja," jawab Angel lembut. Saat ini Angel sedang menahan tawanya melihat raut wajah Eri yang kesal.