Me And You

Me And You
Yang dirasakan Aldi


__ADS_3

Aurelia terbamgun beberapa jam kemudian. Dia terkejut menyadari ini bukan kamarnya.


Begitu Aurelia akan bangkit dari tidurnya, dia sampai menjerit karena merasa perih di organ intinya.


Aurelia kembali menjerit menyadari dirinya yang dalam keadaan polos dibalik selimutnya.


Dia merasa ngeri melihat warna kebiruan yang bertebaran di dadanya.


Perlahan Aurelia berusaha mengingat apa yang terjadi.


Kini Aurelia hanya bisa menangis dan menjerit pilu.


Semua sudah terjadi. Aurelia masih bersandar di pinggiran tempat tidur dan menutupi tubuhnya dengan selimut. Air matanya masih saja memgalir deras di pipinya.


Aurelia akhirmya melihat ada sebuah pil di atas sebuah piring kecil, dan segelas air putih.


Ada kertas yang diselipin di bawah piring kecil itu.


Pil anti hamil, batinnya sedih.


Tanpa pikir panjang, Aurelia langsung menelannya dan meneguk air putih di sana.


Aurelia ngga mau hamil tanpa menikah. Tapi bodohnya dia sudah melakukannya tanpa ada ikatan dan hubungan serius sama sekali.


Aurelia menghapus air matanya. Dia men support hatinya. Anggap saja lunas semua hutang hutangnya. Walaupun di awal ngga ada niat menjual keperawanannya demi operasi ibunya.


Dengan tertatih, Aurel mengenakan bajunya yang berserakan di lantai. Aurel menatap dirinya yang begitu pucat di cermin.


Ini terakhir. Ngga akan pernah lagi, janjinya dalam hati.


Dengan langkah perlahan dan tubuh terasa sangat lemah karena sangat capek dan juga lapar, Aurel meninggalkan kamar mewah Aldi. Dia pun sudah memesan taksi online.


*


*


*


"Udah puas Lo," tuding Irfan kesal begitu melihat Aldi datang dengan wajah penuh senyum.


Aldi hanya nyengir melihat teman temannyamenikmati jajanan yang dibelikan Luvi.


Aldi pun mengambil kopi kaleng. Tapi saat meneguknya Aldi teringat hanya meninggalkan segelas air putih dan pil anti hamil.


Lapar ngga ya tu anak, batinnya sambil menghabiskan isi kopi kalengmya.


"Al, Lo jangan macam macam dengan gadis tadi," kata Doni memperingatkan. Doni menatap Aldi tajam sambil menikmati keripik kentangnya.


"Kalo Lo butuh penyaluran, maen sama model biasa Lo aja," tambah Doni lagi masih dengan tatapan tajamnya.


Aldi ngga menjawab, malahan kini ikut mengambil keripik kentang punya Doni.

__ADS_1


"Tu anak sepertinya akrab dengan Eri. Lo bisa dihajar dia kalo macam macam sama gadis itu," lanjut Doni tanpa perasaan kesal karena keripik kentang di tangamnya sudah berpindah ke.Aldi. Dia tinggal ambil yang yang belum dibuka kemasannya. saja.


Stok jajanan buat mereka lembur cukup banyak.


Irfan memalingkan wajahnya ke tenpat lain dengan jantung berdebar hebat.


Gimana kalo Eri tau gue yang menghamili Sandrina? batinnya mulai ketar ketir.


Aldi sendiri ngga menggubris kata kata peringatan dari Doni.


Paling ditonjok, pikirnya ringan. Dia teringat kembali aktivitasnya bersama Aurelia yang begitu panas. Ternyata gadis itu masih virgin. Aldi sama sekali ngga menduganya, apalagi gadis itu pernah cukup lama tinggal di luar negeri.


Vandra mengamati reaksi Aldi yang tetap datar, sementara Vandra merasa aneh melihat Irfan yang kurang nyaman dengan kata kata Doni.


Vandra meneguk kopi kalengnya sambil memperhatikan laptopnya. Dia ngga boleh kemalaman pulangnya, kasian Mia yang kelamaan menunggunya di rumah.


Akhirmya Doni melanjutkan lagi kerjaannya tanpa bertanya lagi. Teman dekatnya dan gadis tadi bukan anak kecil lagi. Mereka akan menanggung sendiri konsekuensi yang akan mereka terima dari perbuatan mereka.


Mereka pun larut lagi dengan pekerjaan di depan mata. Aldi sudah memesan makan malam buat dirinya dan teman temannya. Juga buat Aurelia. Tapi pesan yang didapat dari ojol yang mengantar makanan itu ke kamarnya, membuat pikirannya terbang jauh.


Dia sudah pulang?


Akhirnya Aldi menulis pesan ke ojol agar membawa pulang makanan itu untuk keluarga ojolnya.


Akhirnya selesai juga pekerjaan yang dihibahkan Eri padanya. Dia bersyukur teman temannya selalu ada kalo dibutuhkan.


"Pulang. Udah malam," kata Vandra sambil menenteng laptopnya.


"Sayang dong. Lagi hamil anak gue juga," timpal Vandra dengan wajah senang.


DEG


Harusnya gue senang kalo Sandrina hamil anak gue, batin Irfan tercubit.


Aldi melirik reaksi Irfan yang sempat tertegun.


Kena karma tau rasa Lo, sumpah Aldi dalam hati.


"Selamat lah buat Lo, Van. Kita kita masih lama nyusulnya," kekeh Doni.


Aldi hanya tersenyum miring, sedangkan Irfan memaksakan ikut tertawa. Entah mengapa dia merasa ucapan Doni juga untuknya.a


"Lebih enak yang halal. Percaya sama gue," kata Vandra sombong.


"Iya," timpal Doni sambil membuka pintu.


"Ruangan Lo kotor gini," kata Doni sambil menoleh ke Aldi yang di belakangnya.


"Besok OB yang bersihin. By the way, makasih ya," ucap Aldi senang karena besok sudah ngga direpotkan tugas tugas Eri kampret itu lagi.


"Sama sama," jawab ketiganya berbarengan.

__ADS_1


"Lo ngajak siapa pas acara lusa?" tanya Vandra pada Doni yang berjalan di sampingnya.


"Sendiri aja gue. Moga aja di pesta ketemu yang alone juga," kekeh Doni. Vandra pun ikut tertawa.


"Lo berdua bawa siapa?" tanya Doni setelah tawanya reda sambil melihat pada Irfan dan Aldi


"Sama seperti Lo. Gue alone," tukas Irfan. Ngga yakin Sandrina mau pergi bersamanya di acara nikahnya Eri.


"Ooo."


"Lo sama gadis tadi aja, Al," ucap Doni lagi memancing. Penasaran juga dia, Aldi udah ngapain aja sama Aurelia. Padahal udah diancam Eri malam itu.


"Bisa diinterogasi Eri Lo sepanjang acara," ledek Irfan mentertawai Aldi yang hanya tersenyum simpul.


"Bisa bisa Angel dianggurin," gelak Doni lagi membuat ketiganya tertawa. Lorong kantor yang sepi jadi bergema akan suara tawa mereka.


Akhirnya mereka berpisah dengan mobil masing masing.


Aldi pun melaju kencang, ngga sabar memastikan gadis itu sudah pergi atau malahan pingsan di apartemennya. Dia memang sudah keterlaluan. Padahal dia sadar kalo gadis itu masih virgin, tapi Aldi sudah memaksakan berbagai gaya dalam waktu sejam. Dari slowly sampai faster. Dari soft sampai harder.


Entah mengapa rasanya susah untuk berhenti setelah berhasil menaklukan gadis yang selalu memanggilnya pak. Dia ketagihan.


Aldi membuka pintu apartemennya dengan tergesa. Dia langsung memeriksa kamar tidurnya. Kosong. Aldi pun mengecek kamar mandi, kosong juga. Tapi senyum miringnya terukir begitu melihat pilnya sudah ngga ada dan air mineral di gelas yang tinggal separoh.


*


*


*


Aldi tanpa sadar menunggu kedatangan Aurelia mengantarkan makan siang sesuai janjinya.


Tapi sampai jam makan siang berakhir, gadis itu belum datang juga ke ruangannya.


Dengan kesal Aldi menelpon nomer yang digunakan gadis itu untuk menghubunginya kemaren.


Sama sekali ngga tersambung. Bibir Aldi tersenyum miring.


Gadis ini berani juga memblokir dirinya.


Aldi pun hanya meneguk kopi yang dibawa OBnya.


Pekerjaannya pun bentar lagi selesai. Lega rasanya. Suplemennya kemarin benar benar menambah daya pikir dan tenaganya.


Aldi pun beranjak ke ruang pribadinya dan memejamkan matanya sebentar untuk mengusir lelahnya.


Tapi di pelupuk matanya selalu terbayang pikiran mesum tentang Aurelia. Dia kepengen lagi. Dia benar benar ketagihan.


Sialan, makinya sambil bangkit dari tidurnya. Aldi mengusap wajahnya kasar. Baru sehari tanpa kabar, tapi konyolnya dia merasa sangat merindui gadis itu seakan sudah berbulan bulan ngga melihatnya.


Harusnya perasaannya biasa saja pada gadis itu. Just Fun, apalagi akhir akhir ini dia terlalu banyak pekerjaan. Yang dia butuhkan sedikit kehangatan untuk meringankan kinerja otaknya.

__ADS_1


Kalo tau begini, lebih baik ngga akan pernah disentuhnya, sesal Aldi masih mengusap kasar wajahnya.


__ADS_2