Me And You

Me And You
Memutuskan Target


__ADS_3

"Nes, kamu temenin aku, kan," pinta Clara ketika Nesa membantunya mendandaninya.


"Ya engga lah. Mengganggu ntar. Nanti pas Ando jemput, aku nunggu kamu di kamar aja," sahut Nesa sambil menatap hasil karyanya di cermin dengan kagum.


"Kamu cantik banget. Mia aja lewat. Mata Vandra kelilipan kali ya sampe ngga bisa ngelihat kamu dengan jelas," puji Nesa senang campur kesal.


Dia lebih ridho kalo Vandra berjodoh dengan sahabatnya Clara.


Clara hanya tersenyum tipis. Dalam hati ingin menangis mengingat apa yang sudah dia alami.


Laki laki itu memang sangat tampan. Tapi dia terlalu beringas. Clara sangat berharap ngga pernah bertemu dengan laki laki itu lagi. Biarlah dia ngga menikah. Kasian suaminya mendapatkan sisa, pikirnya sedih.


Begitu bunyi bel berbunyi, keduanya saling pandang.


Nggak lama kemudian ketukan di pintu kamar Clara terdengar pelan.


Clara pun membuka pintu dan menatap pelayannya yang masih muda menunduk hormat.


"Nona, ada tamu,'" kata pelayan perempuan yang lebih muda dari usianya dengan santun.


"Oiya, makasih, ya," balas Clara ramah.


"Sudah sana temuin Ando. Sepupuku sangat berkualitas," tegur Nesa cepat sambil mendorong pelan sahabatnya.


"Tapi," ucap Clara ragu. Insiden yang menimpa dirinya beberapa hari yabg lalu masih membekas. Bahkan masih ada sisanya di banyak tempat sensitifnya.


Clara mengutuk kembali laki kaki ganas itu yang sudah mengisapnya sangat dalam. Tapi mengingat itu membuat jantungnya berdebar aneh.


Gila, kenapa dia membiarkan laki laki itu sangat bebas dan semena mena, serapahnya dalam hati.


"Malah melamun. Ayo," cecar Nesa ngga sabar melihat Clara masih berdiri di tempatnya.


Jangan sanpai Ando berubah pikiran, batin Nesa.


"Ya." Clara menghela nafas panjang. Baginya Ando sangat baik. Hanya itu. Ando pasti akan tertekan menjadikannya sebagai pacar. Mereka sempat dekat karena Ando beberapa kali membantu menenangkan perasaan patah hatinya.


Dengan terpaksa Clara melangkahkan kakinya menuju ruang tamu, tempat Ando menunggu.


Nesa yang awalnya ngga ingin menemui Ando, mendadak merasa penasaran dan menguntit Clara diam diam.


Hati Clara tiba tiba berdesir melihat sosok tinggi yang berdiri membelakanginya. Clara sangat yakin, itu bukan Ando. Rambutnya berbeda. Walaupun sama sama gondrong, tapi jelas potongan rambutnya beda. Clara merasakan perasaan yang mencekam. Rasanya takut. Padahal Clara belum melihat siapa laki laki ini.


Laki laki itu seperti tau kalo Clara sudah ada di dekatnya. Dia pun membalikkan badannya. Matanya menyorot tajam pada Clara seakan hendak menguliti gadis cantik di depannya.


Clara tanpa sadar memundurkan kakinya selangkah. Jantungnya makin bertalu. Wajahnya pucat.


DIA? kagetnya bagaikan dihempas ke jurang hang sangat terjal dan dalam. Clara berusaha menenangkan perasaan ngga menentu dalan rongga dadanya.


*


*


*


Tiga Jam Sebelumnya

__ADS_1


"Gue dengar Lo mau kencan dengan Clara," todong Toni sambil menggeser kursi dan langsung duduk di depan Ando. Begitu juga Eri yang mengambil tempat di samping Toni.


Ando menghembuskan asap rokoknya dengan perasaan kesal. Mereka saat ini berada di kafe milik Toni.


Toni yang sedang mengobrol bersama Eri, sedari tadi mengamati Ando yang terus menerus merokok dengan wajah kusut. Sudah setengah jam berlalu


"Kalo lo ngga suka, ngga usah dijalani," tukas Eri kasian. Dia tau alasan Ando melakukan ini.


Ando ngga menjawab, malah terus sibuk dengan rokoknya. Asbak kecil di mejanya uda .penuh dengan puntung puntung rokok.


Toni menatapnya kasian..Dia pun mengambil sebatang rokok milik Ando dan ikut merokok. Eri yang awalnya mendelik melihat kelakuan dokter yang sudah tau bahaya rokok itu akhirnya ikut mengambil juga sebatang rokok milik Ando.


Sesekali, batinnya membela diri.


"Lo jangan ikutan. Ntar mandul," kecam Toni enteng.


"Sialan! Angel sudah hamil tau," ketus Eri keceplosan. Reflek.dia menutup mulutnya. Padahal Eri sudah berjanji ngga akan mengumumunkan kehamilan muda Angel. Angel yang memintanya dengan amat sangat, karena Angel takut ada apa apa kalo kehamilannya sudah di woro woro, padahal belum genap satu bulan.


"APA?.SERIUS LO?" seru Toni kencang saking takjubnya dengan keberhasilan Eri.


Beberaoa pasang mata di kafe menatap Toni dengan eksoresi terganggu dengan suara teriakannya.


Toni yang cepat sadar langsung berdiri dan mengangkat kedua tangannya pada para pengunjung kafe sebagai permohonan maaf. Tamu adalah raja.


Eri hanya mendengus sedangkan Ando malah memejamkan mata.


Harusnya dia juga sangat bangga bisa menghamili Belinda. Ando merutuki kebodohannya. Ternyata dia lebih bodoh dari Eri yang sering bersikap bego.


Harusnya dia sadar ketika Belinda sering pucat setelah beberapa minggu mereka melakukannya. Ando sangat menyesalinya.


Empat kali mereka melakukannya. Pada dua hari yang berbeda. Setelah itu mereka disibukkan dengan ujian semester. Dan akhirnya Belinda menghilang tanpa kabar, selama bertahun tahun.


"Gue harap dengan sangat, dia mengambil semua dari Angel. Jangan sampai dia menuruni bapaknya," lanjut Toni dengan kekehannya membuat Eri kembali mendengus sebal.


Ando membuka matanya dan tersenyum menatap tingkah keduanya.


Putrinya, mirip siapakah? Lebih dominan Belinda atau dirinya?


"Lo ngomong lagi, gue lempar asbak!" ancam Eri mulai naik darah membuat Toni tambah terkekeh.


"Cepat juga gue punya banyak ponakan. Vandra yang bentar lagi, Irfan, Aldi dan sekarang lo," masih tertawa Toni melanjutkan komentarnya.


"Oiya, dari lo juga, Do," tambah Toni dengan sisa kekehannya.


Ando tertawa garing.


Gue aja belum pernah ketemu anak gue.


"Pasti anak lo cantik banget," kata Eri tulus.


"Ya, pasti," timpal Toni sangat yakin sambil menganggukkan kepalanya.


Ando hanya mengangguk.


Makasih, batinnya. Ando kembali menghisap rokoknya.

__ADS_1


BUK


"Di sini Lo rupanya."


Ketiganya menoleh pada sapaan yang datang. Termasuk.Ando yang tadi ditepuk bahunya.


Vero dan Reksa menyeringai sambil duduk di samping Ando.


"Masih belum ketemu Belinda?" tebak Vero prihatin. Dari banyaknya puntung rokok membuat Vero yakin kesimpulannya ngga salah.


"Belinda pake ilmu apa sampai bisa ngga ketahuan sama kita," sahut Eri ngga abis pikir. Dia pun bersama teman temannya sudah mengerahkan banyak orang untuk mencari keberadaan Belinda. Tapi masih nihil.


"Tu anak mewarisi bakat intel almarhum papinya banget," seloroh Toni membuat mereka melebarkan senyum. Termasuk Ando.


Entah dimana Belinda tinggal. Ando harus mencarinya lebih keras lagi.


"Lo ngga usah khawatir. Reksa mau menggantikan lo," kata Vero mengalihkan topik membuat beberapa pasang mata kini beralih menatap Reksa yang mulai menghisap rokok milik Ando.


"Lo mau?" Seringai mengejek terpancar di wajah Toni.


Dasar sadboy, ejeknya dalam hati. Sudah ditolak Mia, kini mencoba peruntungan dengan Clara yang jelas jelas mengejar Vandra.


"Kepaksa dia," bela Vero yang tau arti ucapan Toni. Vero melirik Reksa yang menampilkan ekspresi ngga pedulinya.


"Emang Clara mau sama lo," cibir Eri menohok, membiat Toni terkekeh. Ando seakan ngga mendengar, begitu juga Reksa. Hanya Vero yang menatap Eri dan Toni dongkol.


"Lo serius?" tanya Ando setelah menghembuskan asap rokoknya. Rokok yang dihisapnya udah tinggal setemgah.


"Gue penasaran, secabtik apa cewe yang jadi saingan Mia," jawab Reksa ngga acuh.


Eri dan Toni saling pandang dengan seringai meremehkan.


"Sangat cantik," sela Toni.


"Gue ngga bohong, kan," tandas Vero puas. Biar Reksa tau kalo dia tak membual.


"Gue juga pengen lihat lo berhasil," tambah Eri walau ngga gitu yakin.


Belasan tahun Clara menyukai Vandra. Ngga tergoyahkan.


Eri juga sama seperti Toni, kini mulai mengamati Reksa. Walau pun hatinya ngga yakin, tapi apa salahnya mencoba. Eri juga tau betapa mangkelnya Vandra yang terus saja didekati Clara.


Vandra, si bodoh itu, ternyata sangat setia dan keras kepala. Eri jadi mengulum senyum mengingat bagaimana kerasnya perjuangan Vandra mendapatkan Mia.


"Tolong jangan sakiti dia. Dia gadis yang baik," kata Ando mengingatkan.


Reksa ngga menjawah, dengan ngga acuh Reksa menghisap rokoknya kembali.


"Gadis baik macam apa yang masih mengharap pria beristri," hina Reksa santai setelah menghembuskan asap rokoknya.


Ketiga temannya terdiam. Mengakui kebenaran ucapan Reksa.


"Oke, semoga kamu berhasiil," tukas Ando setengah berharap.


Kalo Reksa berhasil, sepupu cengengnya akan tenang hidup bersama Vandra.

__ADS_1


Kalo gagal? Ando membuang nafas kesal.


Kembali wajah Belinda terbayang di pelupuk matanya. Rasa sesak memenuhi rongga dadanya.


__ADS_2