
"Om Emir, tante Elka," seru Rahel kegirangan. Dia pun berlari menghampiri om dan tantenya dengan disusul Ariel.
"Ponakan yang cantik cantik," ucap Elka sambil memeluk si kembarnya dengan perasaan bahagia. Sudah hampir enam bulan mereka nggak bertemu.
"Hai, Bro," sapa Emir sambil memeluk Andre.
Andre pun balas memeluk Emir.
"Emir, tadi kamu lihat Anastasia nggak?" bisik Andre resah.
Emir sampai mematung sejenak. Terkejut, sama sekali ngga menyangka pertanyaan Andre. Dia pun melepas pelukan mereka. Matanya menatap wajah Andre dan Rasya bergantian. Keduanya yang nampak resah.
Emir melirik Elka yang sibuk dengan kedua ponakan kembarnya yang sibuk berkicau.
"Maksud kalian apa?" tanya Emir balas berbisik.
"Tadi gue sama Rasya ngelihat dia di sini. Apa kamu ngga sempat melihat?" bisik.Andre disertai anggukan Rasya.
Emir yang merasa sahabat dan istrinya ngga bercanda, terdiam. Dia pun bermaksud menelpon Ilham untuk mengambil langkah penting.
"Sebentar, gue telpon Ilham dulu," katanya agak menjauh dari Elka.
"Lho, Emir mau kemana?" tanya Elka heran ketika melihat suaminya pergi menjauh dari mereka.
"Mau nelpon relasinya. Katanya mau ada meeting, ya?" dusta Rasya asal membuat Andre tersenyum miring.
Dari dulu Rasya memang ngga pintar berbohong. Beda dengan dirinya. Tapi dulu, batin Andre membela diri sendiri.
"Iya, sih, kita mau meeting nanti siang. Makanya kita yang jemput. Bang Valen ada meeting dadakan," kata Elka ngga curiga. Dia terlalu senang bertemu dengan dua ponakan cantiknya.
Rasya dan Andre saling pandang, dalam hati bersyukur karena Elka belum curiga. Bukannya Rasya ngga mau cerita, dia masih terguncang melihat Anastasia yang kabarnya sudah meninggal tapi malah muncul di depan mereka.
Nanti setelah sampai di rumah, dan ada waktu berdua dengan Elka, dia akan berterus terang
"Lila udah bisa apa, tante?" tanya Rahel ingin tau. Dia memang lebih cerewet dibanding adik kembarnya yang irit ngomong.
"Udah bisa jalan, tapi masih pegangan gitu, sayang. Giginya udah ada empat. Dua di atas, dua di bawah," cerita Elka antusias.
"Rahel udah ngga sabar tante, mau gendong Lila. Melia sering gendong ya, tan," tanya Rahel dengan perasaan menggebu. Andre dan Rasya tersenyum melihatmya. Tapi mata mereka mengawasi orang orang yang ada di bandara. Siapa tau masih melihat Anastasia. Rasa penasaran begitu memenuhi dadanya.
Ariel juga ikut tersenyum melihat kekepoan kakak kembarnya. Mereka berdua memang kembar identik. Tapi karena Ariel ngga mau dibilang mirip dengan kembarannya, dia sengaja berpenampilan tomboy. Bahkan Arel ingin memotong pendek rambutnya, tapi selalu ngga diijinkan omanya.
"Kamu ngga kangen sama Malik, dan si kembar E?" usik Elka lagi. Tepatnya dia menggoda Ariel yang belum ada suaranya.
Elka terkikik melihat wajah Ariel yang melengos ke arah lain. Selalu begitu tiap membicarakan tiga bocah lelaki itu.
"Erza sama Ezra masih sekolah ya, tante? Berarti Melia juga masih sekolah dong," sambut Rahel agak kecewa.
"Ada Malik di rumah, Iqbal juga ada," tukas Elka sambil mengusap puncak kepala dua ponakannya gemas.
"Asyiiik," respon Rahel senang. Elka jadi terkikik lagi melihat wajah ngga suka Ariel.
Rasya dan Andre pun ikut tertawa. Ariel memang kurang akrab dengan empat bocah laki laki itu.
Sementara Emir menelpon Ilham dengan suara pelan.
"Lo yakin?" tanya Ilham tenang, walaupun dalam hatinya ada keterkejutan yang berusaha diredamnya.
"Yakin," tegas Emir.
__ADS_1
"Oke, gue akan check cctv bandara," ucap Ilham sambil memutuskan sambungan telponnya.
Emir pun berbalik dan melangkah ke arah keluarganya yang masih sibuk bercengkerama.
Tapi Emir mempercepat langkah kakinya ketika melihat ada seaeorang yang memiliki gelagat aneh mendekati keluarganya.
Mata Emir terbelalak melihat laki laki bertubuh besar itu mengeluarkan sebilah pisau dan dengan cepat mengarahkan pada salah satu ponakan kembarnya.
"AWAASSS!" teriak Emir membuat orang orang di sekitar situ kaget dan juga berseru keras melihat laki laki itu mengarahkan pisaunya pada salah satu anak perempuan. Ariel.
Rasya pun sampai terpekik kaget.Tapi Elka dengan sigap melindungi Ariel dan Andre ngga kalah tangkasnya menangkap tangan lakiaaa laki yang memegang pisau dan memelintirkannya sampai pisau terlepas.
Rahel memeluk mamanya dengan tubuh bergetar.
Andre pun membanting orang itu ke lantai bandara dan menguncinya.
DOR!
"AAHH".
Orang orang berteriak kaget mendengar bunyi pistol yang meletus.
Emir melempar melemparkan hpnya pada pistol yang mengarah pada Andre, sehingga pistol terlepas dari tangannya. Andre pun reflek melepaskan kunciannya pada laki laki besar yang akan menusuk putrinya.
Peluru pun meleset dan mengenai bahu laki laki itu. Tapi karena sudah terbebas, walaupun bahunya terluka, laki laki itu melarikan diri. Orang orang yang akan menangkapnya pun mundur karena efek kaget dari letusan pistol tadi. Mereka pun melarikan diri dengan cepat. Emir yang mengejar pun kehilangan jejak, karena banyaknya orang orang di bandara.
Tapi Emir sempat melihat mobil yang membawa keduanya yang sengaja mau menabrak para petugas keamanan bandara yang menghadang sehingga buru buru menghindar.
"Kamu ngga pa pa, kan, Ariel? Andre?" tanya Rasya cemas. Dia masih memeluk Rahel yang masih bergetar tubuhnya
"Aku ngga apa apa," kata Andre kemudian menghampiri Ariel yang bersama Elka.
"Aku ngga apa apa, tante, dady. Cuma kaget aja," kata Ariel dengan nafas yang masih memburu.
Mendadak tubuhnya limbung karena Rahel langsung memelukmya.
"Syukurlah kamu ngga apa apa," tangis Rahel kencang. Dia masih ingat bagaimana cepatnya orang jahat itu akan menusuk adik kembarnya.
"Aku ngga apa apa," kata Ariel mulai bisa menenangkan dadanya yang bergemuruh.
Elka baru bisa bernafas lega. Untung tadi peluru yang meleset itu ngga mengenai mereka atau orang orang yang ada di sekitar situ.
Andre menarik Rasya dalam pelukannya. Istrinya kembali terguncang.
Mereka liburan untuk melupakan kejadian buruk di Paris, tapi malah mengalami hal yang lebih mengerikan lagi.
Emir meraih hpnya yang sudah ringsek. Petugas keamanan bandara memungut pistol yang letaknya ngga jauh dari hp itu berada.
"Maaf, kami terlambat. Anda baik baik baik saja?"
"Begitulah," jawab Emir sambil menatap pistol yang berada di tangan salah satu petugas keamanan.
"Polisi sedang mengejarnya. Ini sungguh sungguh kejadian langka," katanya penuh sesal.
Emir tersenyum maklum.
"Ya pak. Kami juga terkejut. Maaf, saya mau menghampiri keluarga saya dulu," pamit Emir yang diangguki petugas keamanan itu.
"Silakan, pak."
__ADS_1
"Kamu ngga apa apa?" tanya Emir sambil merengkuh bahu istrinya. Dia selalu mengagumi ketepatan reaksi istrinya dalam bertindak.
"Ngga apa apa," jawab Elka sambil menatap si kembar prihatin.
"Andre, telpon Ilham. Hp gue hancur," perintah Emir sambil menunjukkan hp yang baru saja dia beli sebulan yang lalu.
"Oke."
Andre pun menekan nomor telpon Ilham.
"Ada apa?" tanya Ilham sambil melihat cctv bandara yang berhasil dia sabotase password nya.
"Ada yang nyerang kita," tegas Andre.
"Gue tau, barusan gue lihat. Bentar lagi diamankan Ferdi. Petugas bandara sudah menelpon polisi," jelas Ilham membuat Andre tenang.
"Mereka siapa?"
"Sisa sisa anak buah Bobby."
*
*
*
"Si kembar mau diculik?" kaget Elka, karena Rasya sama sekali belum menceritakan kejadian ini.
"Iya, makanya kita putuskan pulang dulu. Ngga nyangka, masih diincar juga di sini," keluh Rasya sambil menatap dua putrinya yang sedang makan es krim dan ditemani Andre dan Emir. Dirinya dan Elka sengaja memisahkan diri.
Keduanya sedang berada di resto cepat saji di dekat bandara.
Elka terdiam. Keadaan mulai bahaya buat keluarga mereka.
"Anak anak kita di sini di jaga ketat. Selama Bobby belum ketangkap, kita belum tenang."
"Kamu tau ,El. Tadi aku dan Andre melihat Anastasia di bandara," bisik Rasya pelan.
"Ngga mungkin," kaget Elka sambil membesarkan dua bola matanya.
"Karena itu, aku benar benar ngga tenang," kata Rasya terus terang.
"Tenanglah. Kita akan lebih mengetatkan penjagaan," ujar Elka kemudian terdiam.
"Tentang Anastasia, kurasa ada yang menyamar. Dia sudah meninggal dunia. Mungkin untuk membuat kita takut. Seperti warning," sambung Elka serius.
Rasya ngga menjawab. Memang ada rasa takut melihat sorot mata Anastasia yang dingin.
"Sebelum meninggal, hampir setiap tahun, tiap si kembar ultah, dia mengirimkan hadiah. Yang kami heran, dari mana dia tau alamat rumah kami. Aku seperti di teror setiap tahun olehnya," aku Rasya jujur sekaligus kesal.
"Kamu udah pernah cerita."
"Ya, aku mengulangnya saja."
Keduanya terdiam.
"Semoga semuanya cepat terbongkar," harap Rasya sambil memijat keningnya.
"Semoga," balas Elka dengan menarik sedikit kedua sudut bibirnya waktu melihat wajah khawatir kakak kembarnya.
__ADS_1