Me And You

Me And You
Cukup Menegangkan


__ADS_3

Pagi hari di kafe Toni


"Selamat ya, Rosa. Akhirnya," kata Mia antusias sambil memeluk Rosa.


Rosa tersenyum sumringah. Hatinya bahagia saat ini. Walau agaknya ragu, tapi Fino berhasil juga menyakinkannya.


"Iya, say. Selamat ya," tukas Angel ikut meneluk Rosa. Mereka bertiga janjian bertemu untuk memberi dukungan pada Rosa yang sebentar lagi akan menikah.


"Tapi aku masih khawatir," ucap Rosa resah setelah pelukan mereka terurai.


"Apa lagi yang kamu pikirkan?" tanya Mia sambil duduk. Angel juga menatap Rosa bingung.


"Ntahlah, walau sudah yakin, tapi belum seratus persen. Baru sembilan puluh persen lah."


Angel dan Mia tertawa mendengar ucapan Rosa.


"Kalo kita mau nikah, wajarlah kalo punya pikiran begitu," kata Angel bijak.


"Betul," tambah Mia setuju.


Rosa menatap keduanya. Dia malu mau berterus terang kalo dia khawatir soal perasaan Fino ke Clara.


"Kamu khawatir tentang Clara?" tebak Angel yang sudah mengerti. Begitu juga Mia.


Rosa hanya mengangguk lemah.


"Dia memang nyebelin," ketus Angel.


"Clara malah minta Vandra nerima dia jadi istri kedua," kekeh Mia ngga ngerti dengan isi pikiran Clara.


"Dia memang aneh," kekeh Angel melanjutkan.


"Memang," timpal Rosa sebal.


Bisa bisanya Fino menyukai gadis yang ngga meliriknya hingga bertahun tahun, batin Rosa.


"Aku kasian sama Ando," lirih Mia. Dia tau, sepupunya mau menggantikan posisi Vandra demi dirinya. Clara juga tampaknya nyaman jika bersama Ando. Tapi kabar Belinda dan anaknya membuat Ando kebingungan dan resah.


Ingat pembicaraannya tadi malam dengan Ando yang sedang mengunjunginya.


"Ando, aku dengar dari Vandra, kamu mau jadi pacar Clara," cecar Mia ketika mereka berdua saja di teras rumah orang tua Vandra.


"Kenapa? Kamu ngga suka kalo ntar sama Clara jadi sodaraan," ledek Ando dengan wajah usil.


Mia memukul bahu Ando.gemas.


"Heh, nanti suamimu cemburu," kekeh Ando sambil melambaikan tangannya pada Vandra yang sedang menyorotnya kesal ngga jauh dari tempat mereka berada.


Mia memang ingin ngobrol berdua dengan sepupunya tanpa suaminya. Vandra kalo ikutan, malah bikin Mia ngga bisa konsen ke.fokus yang ingin dia bicarakan dengan Ando.


Lagian siapa yang mau sodaraan dengan perempuan yang katanya cinta mati sama suami kita, batinnya alergi.


Ando terus aja tertawa menikmati wajah masam Vandra padanya.


"Kata kamu mau nyari Belinda," semprot Mia sebal.


Mia harus mempercepat obrolannya dengan Ando, apalagi Mia sudah merasa tatapan menusuk dari Vandra padanya.


Padahal Ando, kan, sepupunya, batinnya ngga abis pikir sama kecemburuan aneh Vandra.


DEG


Tawa Ando terhenti, tapi mimik usil tetap terpancar di wajahnya.


"Jangan khawatir. Kamu pikirkan saja kelahiran calon ponakanku ya. Semoga mirip sama aku," kekehnya mulai lagi membuat Mia kembali merengut.

__ADS_1


Dia akan meminta bantuan Vandra untuk mencari Belinda. Mia akan lebih senang Ando bersama Belinda yang sudah dikenalnya sangat baik.


Mia ngga bisa membayangkan Ando bersama Clara yang pasti akan punya kesempatan lebih besar lagi untuk mendekati suaminya. Dan juga Nesa yang selalu julid dengannya dan selalu mendukung Clara.


end


Mia memejamkan matanya ketika merasa ada gerakan kuat di perutnya. Wajahnya yang menahan sakit membuat keduanya menatap Mia khawatir.


"Mia, kamu ngga pa pa?" Angel reflek memegang legannya cemas.


"Aku akan telpon Vandra," kata Rosa cepat sambil mengambil hp dalam tasnya.


"Aku ngga apa apa. Mungkin kontraksi palsu. Sekarang aku udah ngga ngerasa sakit lagi," kata Mia sambil.membuka mata kemudian tersenyum membuat keduanya lega.


"Syukurlah. Tapi kita akan mengantarkanmu ke rumah sakit ya. Mungkin kamu memang mau lahiran. Bukannya sudah cukup, kna," sergah Risa panjang lebar.


"Iya sih. Tapi katanya kalo mau lahiran, akan sakit berulang dengan jarak waktu yang ngga lama," ucap Mia berusaha menenangkan Rosa yang masih cemas. Angel pun masih memijat lengannya.


"Saat itu terjadi kanu sudah berada di rumah sakit, Mia. Rosa, telpon Vandra, kita mau antar Mia ke rumah sakit Toni," tukas Angel berusaha membuat Mia mengerti akan situasinya.


Angel sempat membaca buku tentang tanda tanda akan melahirkan sejak dia dinyatakan hamil oleh dokter. Gejala yang Mia tunjukkan seperti gejala awal sesuai buku yang dibacanya.


"Oke. Kamu ngga boleh anggap remeh Mia," sambung Rosa menasehati.


"Iya, makasih," ucap Mia ngga enak sudah membuat keduanya khawatir. Mendengar kata kata Angel dan melihat kecemasan keduanya membuat Mia kepikiran juga.


Angel pun merapikan tasnya dan tas Mia. Kemudian membayar makanan dan minuman mereka Sementara Rosa menelpon singkat Vandra, mengabarkan mereka akan membawa Mia ke rumah sakit. Ngga terbayang di pikiran Mia betapa paniknya Vandra saat ini.


"Ayo, kita pergi sekarang," tukas Rosa ketika Clara sudah memghampiri mereka. Baru aja ketiganya berdiri, seseorang menyapa Mia membuat Rosa menatapnya kesal.


"Hai Mia," sapa Clara dengan senyum manis di bibirnya.


"Hai," balas Mia rberusaha ramah walau enggan.


Tumben ngga ada Nesa, batin Mia.


"Iya. Maaf kami buru buru," pamit Mia kemudian menganggukkan kepalanya.


"Hati hati," ucap.Clara tulus karena melihat perut Mia yang sudah sangat besar. Hatinya iri.


Mendengar itu Mia menghentikan langkahnya membuat Angel dan Rosa ikut menghentikan langkah mereka dan menatap Mia heran.


"Clara, tolong jangan paksa Ando," ucap Mia pelan.


Clara terdiam sebentar sebelum.mengulas senyum tipisnya.


"Maaf, aku membutuhkan Ando untuk melupakan Vandra," balas Clara pelan. Keduanya saling bersitatap. Mia menelan salivanya berat.


Gadis ini nekat, batinnya tercubit.


Rosa menatap mangkel, tapi tatapan Angel menahannya untuk mengomeli gadis yang sempat jadi pujaan Fino.


"Kita permisi. Ayo, Mia," pamit Angel, dan tanpa menunggu reaksi semua orang, Angel menggamit tangan Mia dan memaksanya pergi. Rosa pun menyusul setelah melemparkan tatapan sengitnya pada Clara.


Setelah sampai di tempat parkir, Mia kembali menahan langkahnya. Perutnya kembali terasa sakit.


"Sebentar," ucap Mia sambil.menyandar di bahu Angel sambil memejamkan mata.


"Oke Mia," ucap .Angel agak panik dan Rosa pun menunjukkan wajah cemasnya. Mia sudah mengalami kontraksi berulang. Mereka harus segera ke rumah sakit.


"Masih sakit?" tanya Rosa cemas karena mata temannya masih terpejam.


"Ya, sebentar," ucap Mia perlahan. Keringat dingin mulai membasahi keningnya. Angel dan Rosa saling tatap dengan cemas.


Ngga lama kemudian Mia membuka matamya dan wajahnya terlihat lega.

__ADS_1


"Udah ngga lagi," sahut Mia membuat kedua temannya membuang nafas panjang.


Saat Rosa akan membukakan pintu mobil untuk Mia, sebuah mobil sport muncul dengan cepat di samping mobil mereka.


Laki laki yang keluar tergesa gesa sambil membanting pintu mobil membuat mereka tersenyum. Terutama Mia.


"Untung aku meeting ngga jauh dari sini," tukas Vandra yang langsung meraih Mia dalam gendongannya. Nafasnya terlihat memburu dam kepanikan terpancar di wajahnya. Apalagi tadi dia sempat melihat wajah Mia yang menahan sakit..


"Vandra," kaget Mia malu sambil mengalungkan tangannya di leher Mia. Angel dan Rosa tersenyum melihatnya.


Vandra yang dingin dan kaku bisa selembut dan seromantis itu pada Mia. Tanpa sadar Angel membayangkan wajah Eri.


Ngga mungkin, bantahnya dalam hati dan tanpa sadar menggelengkan kepala dengan bibir berkedut.


"Masih sakit?" tanya Vandra lembut. Mia menggeleng dengan rona merah semakin jelas di wajahnya.


"Kita langsung ke rumah sakit," kata Vandra sambil membuka pintu mobilnya. Angel menahan pintunya sampai Vandra mendudukkan Mia di kursi di samping pengemudi.


"Kalian ikut?" tanya Vandra sambil menutup pintu mobil.


"Ya," jawab keduanya kompak.


"Oke, aku duluan," tukas Vandra setengah berlari memutari bagian depan mobil dan membuka pintu mobilnya.


Tanpa kata Vandra melajukan mobilnya meninggalkan keduanya.


"Apa nanti Fino bakal sepanik Vandra ya," kekeh Rosa sambil melangkahkan kaki ke mobil mereka.


"Aku juga sempat kepikiran gitu," Angel balas tertawa.


Sambil tertawa keduanya menyusul Vandra dan Mia ke rumah sakit.


*


*


*


Reksa melirik Clara yang terus saja menunduk sambil menggenggam tas tangannya.


Reksa berusaha mengingat cewe yang bersamanya pada malam itu. Tepatnya wajahnya. Karena kini Reksa yakin wajah cewe itu mirip dengan wajah Clara.


Ketika lampu merah, Reksa cepat mengetikkan pesan untuk Vero.


Keduanya saling diam. Tapi Reksa ngga peduli. Dia sudah tau lokasi tempat diadakannya pesta keluarga Clara.


Gadis ini memakai gaun yang ngga menutupi lehernya. Hal ini yang membuat Reksa bingung. Harusnya hasil karyanya masih ada di sana. Paling engga masih bisa cukup terlihat. Tapi leher dan pundaknya terlihat ngga ada noda. Karya otentik itu harusnya baru bisa hilang setelah beberapa hari lagi.


Mereka saling diam sampai akhirnya mobil Reksa memasuki tempat parkir hotel bintang lima tempat acara berlangsung.


Bersamaan dengan itu balasan dari Vero datang. Reksa tersenyum datar melihat foto Clara bersama Nesa dengan rambut panjangnya yang terurai.


That's YOU


Ada perasaan senang bergolak dalam hati Reksa. Ternyata cewe onsnya bukan perempuan gampangan. Pantasan waktu itu dia terus menolak. Dan Reksa beruntung menjadi yang pertama.


Clara yang ngga sadar kalo mobil Reksa sudah berhenti, terkejut ketika melihat Reksa sudah membukakan pintu untuknya. Kembali netra mereka bertemu cukup lama sebelum Clara mengalihkan tatapannya pada tangan Reksa yang terulur di depannya. Dengan ragu Clara menyambut tangan Reksa dengan hati yang terasa hangat


Ada yang aneh di hatinya begitu mereka berjalan bergandengan. Padahal Clara tau, Reksa sangat berbahaya. Tapi kebalikan rasanya saat ini. Clara malah merasa aman.


Diam diam Clara melirik bahu tinggi di sampingnya. Laki laki beringas ini pun sangat tampan. Tapi apa dia tau kalo dirinya adalah cewe malam itu?


Clara mulai resah lagi. Bingung, apa dia baiknya mengaku saja?


"Lihat depan kalo jalan," tukas Reksa datar membuat wajah Clara merona dan mengalihkan pandangannya.

__ADS_1


Reksa tersenyum simpul. Dia akan menahan perasaan senangnya dan menyimpannya sampai bisa membuat gadis ini tergila gila dengannya.


__ADS_2