Me And You

Me And You
Keinginan Aldi yang tercapai


__ADS_3

Aldi memgangkat telpon yang sedari tadi bergetar. Ngga ada namanya. Sudah beberapa kali dia biarkan. Tapi ternyata orang ini benar keras kepala. Ini getaran ketujuh kalinya. Dengan kesal akhirnya Aldi pun mengangkat telponnya.


"Siapa?" tanyanya ngga ramah.


"Maaf, ini saya, Aurelia," balas Aurelia takut takut karena mendemgar suara Aldi yang kasar.


Dia telpon?


"Ehem."


Aldi berusaha menenangkan degup jantungnya.


"Ada apa?" tanyanya dengan suara dingin.


"Makasih ya, saya udah diterima jadi guru privatnya Melia," ucapnya mulai ceria. Lupa dia tadi dengan suara kasar Aldi.


Aldi tersenyum mendengarnya.


"Kenapa kamu ngga kasih tau kalo Melia murid di sekolah saya?" tanya Aurelia masih dengan nada cerianya.


"Sekolah kamu?" tanya Aldi menyindir.


Aurelia tertawa renyah mendengar sindiran Aldi karena baru sadar kalo dia salah bicara.


"Maksudnya sekolah tempat saya kerja, tuan," jelas Aurelia dengan nada menyebalkan di telinga Aldi.


Karena Aldi masih diam, Aurelia meneruskan ucapannya.


"Melia anaknya pintar. Dia juga baik. Saya senang mengajar dia di kelas," puji Aurelia tiada henti tentang keponakannya.


Aldi tersenyum senyum mendengar kalimat kalimat antusias dari Aurelia.


"Saya ngajarnya sore, seminggu tiga kali, pak Aldi," ucap Aurelia lagi.


Senyum di bibir Aldi langsung hilang mendengar kata pak yang diucapkan Aurelia.


"Udah ngomongnya, saya sibuk," ketus Aldi badmood.


"Eh, iya, maaf, saya mengganggu ya," ucap Aurelia jadi gugup. Dia pun menyalahkan dirinya yang terlalu cerewet.


Tanpa kata Aldi langsung menutup panggilan itu dan menggusar rambutnya.


Mengapa dia ngga bisa mengubah panggilannya, umpat Aldi kesal dalam hati.


Moodnya untuk melanjutkan pekerjaannya jadi hilang. Dia lalu berdiri dan melangkah ke jendela besar di ruangannya. Matanya menatap ke arah luar dengan perasaan kesal.


TOK TOK TOK!


"Masuk," katanya tetap memandang ke arah luar jendela.


"Pak Aldi, ada kiriman makanan ringan dari Bu Luvi."


Suar Hesty membuat dia menoleh. Bibirnya langsung mengembangkan senyumnya. Dua OB sedang menaruh empat kantomg plastik besar yang berlogo minimarket tertentu di atas sofa.


Tanpa ragu Aldi menyerahkan satu kantong plastik besar pada salah satu OB.


"Buat kalian."


Hesty dan dua OB pria itu saling pandang dengan wajah senang.


"Makasih Pak," jawab mereka berbarengan.


Aldi tersenyum melihat kepergian ketiganya yang keluar dari ruangannya dengan wajah sangat cerah.


Baru aja Aldi mendudukkan dirinya di kursi, pintunya terbuka lagi.


Dan yang membuatnya kaget, yang datang ternyata gadis yang tadi sudah membuatnya kesal.


"Maaf, mengganggu," ucap pelan, dengan lamgkah takut takut dia memasuki ruangan sementara Aldi sama sekali ngga mau melihatmya.


Aldi berusaha mendinginkan wajahnya, padahal di hatinya saat ini sudah menghangat akan kehadiran gadis itu.


"Tadi pas nelpon, saya udah di loby," katanya memberitau.


Aldi ngga merespon.


"Saya membawakan anda makan malam. Setelah dari rumah kakak anda, saya langsung ke pasar dan cepat cepat masak. Kata Melia, anda akan lembur," jelasnya sambil mengeluarkan mangkok bekal.


"Ini ngga dihitung. Anggap saya traktir anda," kata Aurelia cepat ketika melihat Aldi mengangkat wajah dinginnya yang tampan.


"Anda mau makan sekarang?" tanya Melia jiper juga karena Aldi masih saja diam ngga bersuara.


Hatinya bergetar aneh melihat tatapan tajam Aldi.


Ake kenapa? batinnya sambil melengos. Menghindari tatapan yang bisa membuat dia merasa lemah.

__ADS_1


Aldi menarik sedikit sudut bibirnya melihat rona di wajah Aurelia sebelum melegos.


Tanpa kata Aldi memgambil mangkok bekal yang diulurkan Aurelia. Dengan sengaja, Aldi menyentuh tangan gadis itu.


Wajah gadis itu memerah merasakan sentuhan yang sepertinya disengaja? Tapi mengapa wajah di depannya tetap ngga acuh dan dingin?


Tanpa merasa bersalah sudah membuat jantung anak orang berdebar ngga menentu, Aldi pun membuka mamgkok bekalnya.


"Kelihatannya enak," gumam Ald i sambil menyuapkan nasi dan seiris daging yang dimasak dengan kecap.


Padahal Aldi baru saja menghabiskan satu porsi besar sate padang dari Kak Luvi. Tapi melihat makanan yang dibawa Aurelia membuat Aldi merasa seakan belum makan dari pagi.


Aldi kemudian memberikan suapannya pada Aurelia yang masih berdiri di depan mejanya.


"Duduk," titah Aldi sambil mendekatkan sendok yang penuh berisi makanan.


"Terlalu banyak, Pak," tolak Aurelia halus sambil duduk.


"Ngga apa, biar cepat abis," kata Aldi tetap maksa. Makin sebal dengan kata pak yang diucapkannya.


Akhirnya Aurelia membuka mulutnya agak lebar menerima suapan itu.


Pipinya pun memggembung dengan rona merah membuat Aldi tambah gemas.


Lalu dia pun menyuapkan untuk dirinya lagi.


"Mama kamu keadaannya gimana?" tanya Aldi setelah menelan makanannya.


Toni juga belum mengabarinya lagi. Agak aneh, padahal biasanya tanpa diminta pun Toni akan rutin mengirimkan update tentang Aurelia dan mamanya.


"Sudah lebih baik.Tapi kata dokter Toni, masih dipantau, jadi belum boleh pulang," jelas Aurelia setelah dengan susah payah menelan makanannya.


Toni, kan, dokter kandungan. Kok ngurusin area dokter jantung, batin Aldi merasa aneh.


"Ooo." Hanya itu jawabnya.


"Nih, makan lagi," ucap Aldi sambil memberikan suapan pada.Aurelia. Masih sebanyak tdi membuat dalam hati Aurel merasa kesal.


Aldi menahan senyumnya. Dia suka gadis penurut, walaupun terpaksa.


Akhirnya bekal yang dibawa Aurelia abis juga.


"Pak, saya pulang dulu," pamit Aurelia sambil membereskan magkok bekal yang kosong itu.


Aldi kembali merasa ilfeel dengan panggilan pak untuknya.


"Pak Aldi mau perg?"


"Aku antar kamu pulang," katanya datar. Walaupun kesal akan panggilan pak lagi yang terucap dari bibir Aurelia, tapi perasaan ngga teganya muncul ke permukaan.


Udah terlalu sore, hampir magrib. Nyari taksi onlie atau ojol tetap berbahaya untuk perempuan pulang sendiri.


Tanpa kata Aurelia mengikuti langkah Aldi di depannya.


Hesti dan beberapa OB yang sedang menikmati terkejut melihat sang bos sudah di depan mereka.


"Kàlo Pak Irfan datang, katakan saya pergi bentar," ucap Aldi datar.


"I...iya, pak," jawab Hesty gugup melihat wajah bosnya yang berubah dingin.


Tanpa kata apa pun lagi, Aldi menarik tangan Aurelia yang sempat menegang karena terkejut.


Tapi tarikan tangan Aldi begitu kuat hingga membuatnya menuruti langkah kaki Aldi.


Aldi membawa Aurelia ke dalam lift CEO.


Gadis itu hanya diam aja. Kalut dengan keagresifan Aldi.


Aldi melonggarkan dasinya sambil menggelengkan kepalanya. Rasanya sulit sekali bernafas kalo emosi gini.


"Maaf, apa saya salah bicara?" tanya Aurelia pelan.


Aldi mendorong bahu Aurelia sampai ke dinding lift dan mengurungnya dengan kedua tangannya.


Nafasnya terasa panas di wajah Aurelia.


"Panggil saya Aldi. Hanya Aldi. Mengerti," ucap Aldi dengan nada mengintimidasi.


Aurelia terdiam.


Dia marah karena dipanggil Pak?


"Kamu dengar?" tanya Aldi dengan suara tegasnya.


"I... iya," ucap Aurelia tambah gugup. Wajah Aldi semakin dekat dengan wajahnya membuatnya ngga nyaman. Ada getar getar aneh di rongga dadanya.

__ADS_1


TING


"Kalian ngapain?" tanya Irfan begitu lift CEO terbuka di basemen.


Irfan, Vandra, dan Doni menatap kaget karena begitu pintu lift CEO terbuka, wajah Aldi begitu dekat dengan seorang perempuan. Seakan mau atau sudah berciuman?


Aurelia yang malu dengan cepat mendorong tubuh Aldi menjauh.


Aldi juga terkejut melihat kehadiran teman temannya mencoba bersikap biasa. Bahkan saat Aurelia akan keluar dari lift, Aldi ngga segan menahan tangannya.


"Aurelia, kan? Kalian lagi ngapain?" kaget Irfan lagi karena melihat Aurelia yang bersama Aldi.


Doni melirik curiga oada Vandra yang seakan ngga peduli. Walaupun Vandra terkejut, tapi wajah Vandra menunjukkan rasa senang yang berusaha dia sembunyikan.


"Aku antar dia dulu ya," ucap Aldi berusaha tenang.


"Oke, kita langsung ke ruangan Lo," kara Vandra sambil mendorong kedua temannya yang masih bengong ke dalam lift.


"Makasih," kata Aldi yang hanya diangguki Vandra sebelum pintu lift tertutup.


"Sa... saya pulang sendiri aja," kata Aurelia masih berusaha menolak. Dia masih merasa malu.


Jantungnya masih berdebar ngga menentu akibat perlakuan Aldi yang agresif dan tatapan terkejut teman teman Aldi yang diingatnya juga teman teman Eri.


Aldi ngga peduli. Dia terus menyeret Aurelia mengikuti langkahnya dengn kesal.


Dari tatapan Irfan dan Doni, sepertinya dia harus menjelasksn semuanya pada mereka berdua.


Aldi membukakan pintu mobil untuk Aurelia yang masih diam.


"Masuk," titah Aldi dingin membuat gadis itu akhirnya masuk ke dalam mobil.


Dengan sikap possesive, Aldi memasamgkan Aurelia safe belt.


Nafas Aurellia tertahan karena Aldi lagi lagi sangat dekat dengannya.


Keduanya bersitatap sebentar. Aldi mengusap pipi kemerahan gadis itu dengan lembut.


"Mau diantar ke rumah sakit atau ke rumah kamu aja?" bisik Aldi di telinga Aurelia membuat kulitnya meremang.


"Emm... rumah sakit," kata Aurelia sambil memejamkan matanya.


Aldi tersenyum smirk. Tanpa ragu Aldi mengecup bibir gadis itu. Mengisapnya dengan lembut. Lalu ciumannya jatuh ke leher gadis itu membuat Aurelia ngga bisa menahan desahanya.


"Mau jadi pacarku?" tanya Aldi di sela sela ciuman panas mereka.


"Ya...."


Tanpa sadar Aurelia menyetujuinya.


Dengan nakal Aldi meremas dada yang masih ditutupi kemeja biru muda itu, membuat Aurelia tambah mendesah panjamg.


"Jangan lupa, kamu yang mau jadi pacarku," kata Aldi kembali menyesap bibir yang ngga henti hentinya mendesah.


"Ya....."


Aurelia seakan udah hilang akal, dia hanya bisa mengiyakan saja kata kata Aldi.


Melhat Aurelia yang siap dia masuki, Aldi langsung membawa Aurelia ke apartemennya.


Kursi gadis itu sudah dia baringkan. Sambil menyetir, Aldi mengerjai gadis itu sampai se dalam dalamnya.


Aldi pun membawa Aurelia yang sudah lemas ke apartemennya.


Tanpa foreplay Aldi langsung menuntaskan hasratnya yang sudah tersimpan lama.


Setelah sejam melakukannya sampai berkali kali, Aldi meninggalkan Aurelia di kamar apatemennya begitu saja dan bergegas kembali ke perusahaannya.


Tentu saja Aldi sudah meletakkan sebuah pil anti hamil di meja kecil bersama segelas air.


Aldi ngga mau kejadian Irfan menimpanya. Dia masih ingin bersenang senang dengan gadis yang awalnya sangat sombongnya terhadapnya.


Aldi pun sudah mendapatkan suplemennya untuk lembur malam ini.


*


*


*


"Dasar dua saudara geblek itu. Kita pusing dengan kerjaannya, dia malah enak enakan ml," omel Irfan ngga terima sambil mengecek data data di laptop.


Vandra dan Doni hanya tertawa tanpa perlu melihat wajah kesal Irfan.


Mereka pun sibuk dengan laptopnya.

__ADS_1


Mereka memang cocok jadi saudara, batin Vandra dengan tawa yang masih berderai derai.


__ADS_2