
Erza, Ezra dan Melia baru saja pulang sekolah. Tumben dadynya menjemput mereka tanpa mama atau oma yang menemani, benak Ezra diliputi banyak tanya.
Setelah mengantarkan mereka sampai di rumah, kemudian dady yang sok sibuk itu pergi lagi.
Begitu sampai di rumah, Rahel langsung menyambut kedatangan mereka dengan berlari lari kecil. Sementara Ariel hanya berjalan santai di belakang kembarannya.
"Haiii.... Rahel, I miss you," jerit Melia heboh. Dia pun berlari menyongsong Rahel yang juga mengembangkan senyum lebarnya. Keduanya pun berpelukan dengan erat.
"Ariel, kemarilah, kamu lelet banget," seru Melia sambil menarik tangan Ariel yang akhirnya menaikkan sudut bibirnya lebih lebar sedikit dari biasa
Erza dan Ezra yang sudah tau akan kehadiran si kembar hanya bergeming menatap kehebohan di depan mata mereka.
"Senangnya," jerit Melia dan Rahel bersamaan.
"Bang E, apa kabar?" seru Rahel setelah melepaskan pelukan hebohnya.
Erza tersenyum lebar mendengar panggilan khas Rahel.
"Baik," jawabnya singkat Sementara Ezra hanya menaikkan sedikit sudut bibirnya.
"Oiya Mel, Bang E, tadi Ariel hanpir dibunuh orang," lapor Rahel dengan perasaan memggebu, ngga sabar untuk bercerita.
Keduanya langsung melirik Ariel kaget. Bahkan Ezra yang paling cuek dan dingin, melangkah cepat mendekati sepupumya.
"Apa? Ada yang mau membunuh kamu? Kapan? Kenapa?" tanya Ezra beruntun saking kagetnya begitu sampai di depan Ariel.
"Satu satu bang, nanyanya," protes Rahel spontan, apalagi kedua tangan Ezra sampai memegang bahu kembarannya.
Melia pun bergeming melihat reaksi Ezra yang jauh di luar kebiasaannya.
Ariel yang terkejut akan reaksi berlebihan Ezra hanya bisa mengangguk. Erza pun melangkah mendekati kedua sepupunya.
"Kalian ngga apa apa?" tanya Erza juga ngga kalah cemas sambil menatap kedua sepupunya bergantian.
"Syukurnya engga, Bang," sahut Rahel cepat.
"Syukurlah," balas Erza lega. Dia melirik tangan Ezra yang berada di bahu Ariel.
Sepertinya belum sadar, batin Erza cuek.
"Dimana kejadiannya?" lanjutnya penuh selidik pada Ariel.
"Di bandara," jawab Ariel pelan. Dia masih kaget melihat tangan Ezra yang memegang bahunya.
Tumben amat care, batin Ariel heran.
Erza dan Ezra saling pandang. Mereka baru ngerti kenapa dadynya yang jemput dan langsung pergi lagi.
"Tapi kamu ngga luka kan?" Lagi Ezra bertanya sambil menatap cemas wajah Ariel yang malah terlihat bingung.
"Aku baik, bang."
__ADS_1
"Syukurlah," kata Ezra kemudian melepas pegangan tangannya di bahu Ariel. Seakan baru tersadar.
Melia sempat terpana juga melihat Bang Ezranya bisa begitu cemas dengan Ariel. Ada sedikit rasa iru terbit di hatibya, tapi cepat ditepisnya.
Wajarlah sampai Bang Ezra khawatir banget, Melia pun ngga bisa bayangin kalo dia yang akan dibunuh.
"Orang itu bawa pisau gede, Bang. Untung dady bisa mengalahkannya. Tante Elka juga cepat ngelindungi Ariel," tambah Rahel antusias bercerita.
"Untung kamu ngga apa apa ya, Riel," ucap Melia sambil menahan nafas.
"Aku aja nangis dipeluk mami. Takut, Mel. Pisaunya bersinar banget," sambung Rahel lagi. Badannya agak bergidik membayangkan pisau yang biasa digunakan maminya untuk memotong daging ayam dan sayuran digunakan untuk memotong kembarannya.
"Pokoknya Rahel takut banger. Tapi Ariel hebat, ngga nangis kayak Rahel," kekehnya membuat Melia ikut tertawa. Sedangkan Erza, Ezra dan Ariel hanya tersenyum tipis.
"Melia juga takutlah kalo ada di situ."
"Oiya, Mel, aku mau pindah sekolah kamu. Tapi Ariel ngga mau," sungut Rahel dengan menatap kesal Ariel yang pura pura melihat ke arah lain.
"Kenapa kamu mau pindah?" tanya Ezra sambil menatap Rahel heran. Belum satu pertanyaannya terjawab, ternyata ada lagi.
"Kita hampir diculik, bang," cicit Rahel lagi, tapi agak bergetar suaranya. Mengingat kebodohannya yang terlalu percaya saja dengan dua perawat palsu bohongan itu. Lagi lagi Ariel menyelamatkannya. Rahel ngga bisa membayangkan kalo dalam hidupnya ngga ada Ariel. Makanya Rahel takut waktu Ariel akan ditusuk dengan pisau. Rahel benar benar takut kehilangan Ariel.
"APAA?!" Si kembar E berseru kaget.
"Kamu serius?" seru Melia juga kaget.
"Iya. Untung ada Ariel, kita ngga jadi diculik," jelas Rahel agak membingungkan.
"Pas pulang sekolah ada dua perawat yang jemput kita, alasannya mami sama dady kecelakaan dan sedang di operasi. Aku langsung mau ikut, tapi Ariel nahan aku, sambil mencubit lenganku sampai sakit banget. Nih, ada bekasnya," lanjut Rahel panjang lebar sambil menunjukkan dua bekas cubitan sadis Ariel yang masih membiru di lengan kanannya.
Melia melihat ngeri sambil membayangkan rasanya pasti super sakit.
Si kembar E melengos sambil menyembunyikan senyumnya. Begitu juga Ariel.
"Karena itu, kamu bantu aku bujukin Ariel ya, biar mau pindah di sekolah kamu," rayu Rahel sambil memegang lengan Melia manja.
"Oke oke," tutur Melia membuat Rahel langsung memeluk Melia senang.
Ariel hanya memggelengkan kepala melihat sikap kakak kembarnya yang benar benar childish.
"Ya udah, nanti Bang Erza aja yang ngomong ke dady, buat daftarin kalian di sekolah kita," sela Erza. Dia jelas ngga mau kedua sepupu kembarnya kenapa kenapa. Kalo mereka bersamanya di sekolah yang sama, akan lebih aman.
"Bang," protes Ariel sambil mendelikkan matanya ke Erza
Bukannya Melia yang harus membujuknya?
"Kamu nurut aja. Nanti Erza yang akan ngurus," pungkas Ezra sambil melangkah menjauhi mereka.
Ezra masih agak malu mengingat tadi tangannya memegang pundak Ariel. Spontan aja tadi dia ngelakuinnya. Dia bingung, harusnya perasaannya biasa aja, bukannya mereka sepupu?
*
__ADS_1
*
*
"Polisi ngga menemukan apa apa, tuan. Kita masih aman," lapor salah satu anak buah Bobby.
Bobby terdiam. Di awal pembalasan dendamnya, dia sudah mengorbankan tiga anak buahnya yang setia.
Kemudian dia berpaling pada hp di tangannya.
"Kamu yakin, dia anaknya Valen Dewantara?" tanya Bobby yang masih memakai topeng tipisnya pada salah satu anak buahnya. Mereka berada di salah satu apartemennya yang belum terendus polisi.
Matanya masih tajam menyorot foto yang dikirimkan anak buahnya ke hpnya.
Seorang remaja tampan yang tanggung.
"Dia masih sekolah?" tanya Bobby dengan suara berat.
"Iya, tuan. Masih SMA," jawab anak buahnya lagi. Penampilannya pun ngga seram lagi, dia memakai setelan jas agar polisi dan orang orang ngga curiga dengannya.
"Bagus. Bunuh sampai mati. Valen Dewantara harus merasakan kehilangan seperti yang aku rasakan," katanya penuh dendam.
Kematian Anasatasia sangat mempengaruhi perasaannya. Teman tidurnya yang cantik, meninggal dengan tubuh hancur ngga bersisa. Tangannya mengepal erat menahan kemarahannya.
Nyawa di bayar nyawa!
"Persiapan besok di resort sudah matang?" tanya Bobby lagi sambil melihat penuh benci wajah anak dari pembunuh kekasihnya.
"Sudah, tuan. Juga besok," jawab anak buahnya tegas.
"Bagus."
"Arabella juga minta dipasangkan bom ditubuhnya," tambah anak buahnya lagi.
Bobby tercekat, mengingat kelancangannya menaruh bom di jas Anastasia. Jika waktu bisa diputar, dia lebih memilih Anastasia ditangkap saja, karena akan tetap bernafas.
Bobby membuang nafasnya gusar. Dia ceroboh.
"Terserah, lakukan apa yang dia inginkan," kata Bobby malas.
Nirwan sialan berhasil menembakkan peluru ke pangkal pahanya. Saraf saraf kejantanannya tidak berfungsi lagi. Dia membenci hari itu. Hari dia kehilangan Anastasia dan hari yang membuat dia impoten. Dendam ini harus dibalaskan. Mereka semua harus mati.
"Baik, tuan," sahut anak buahnya sambil menunduk hormat dan berlalu pergi. Siap melaksanakan perintah bosnya.
Ternyata Arabella berhasil membius tiga orang wanita di selnya. Dan memakaikan topeng tipis seperti wajahnya dan mengenakan cincin berliannya pada wanita itu. Tentu saja atas rencana dan bantuan Bobby.
Apalagi salah satu petugas penjara itu berhasil disogok hingga terjadilah drama tragis yang mengerikan. Wanita yang ngga tau apa apa itu dimasukkan ke sel isolasi dan terbakar hidup hidup.
Arabella pun bebas tanpa dicurigai, karena wanita itu harusnya memang keluar dari penjara di hari terjadinya kebakaran itu.
Tugas pertamanya adalah menampilkan dirinya ke mantan pacar Anastasia. Dan itu sudah dilakukan dengan sukses. Sayangnya tugas anak buah Bobby lainnya gagal dan berakhir dengan kematian mereka.
__ADS_1