
Doni menatap ngga percaya pada sosok Erika yang kini menggigil karena demam.
Dia selamat, batinnya ngga percaya campur kasihan.Setelah apa yang dialaminya, pasti dia mengalami trauma yang sangat berat.
Dokter pun sudah memberikannya cairan infus dan menyuntikkan obat ke dalam selang infusnya.
"Kakak nona hanya kelelahan. Besok dia akan sembuh," kata dokter yang berusia kira kira empat puluh tahunan
"Terimakasih, pak dokter," ucap Mikaela sambil duduk di samping Erika. Dia menghapus keringat di kening Erika.
Cepatlah sembuh, Kak, batinnya penuh harap. Mikaela lega dia tidak kehilangan Erika seperti dia kehilangan orang tuanya.
"Saya pulang dulu," kata Doni pamit dan sekali lagi memandang Erika dengan banyak pikiran yang berkecamuk di dalam otaknya.
"Iya, pak. Terimakasih," katanya dengan mengukir senyum tulus.
"Namamu siapa?" tanya Doni yang tiba tiba ingat dia belum tau nama cewe SMA ini.
"Mikaela," ucapnya pelan.
Tanpa kata, Doni pun keluar dari kamar itu bersama sang dokter.
"Gadis itu cantik," pancing dokter Arka, sepupunya sambil melangkah bersamanya.
"Masih kecil, SMA," jawab Doni malas.
"Sayang sekali. Paling engga kamu nunggu dia tiga tahun lagi, baru matang semuanya," kekeh dokter Arka yang baru saja punya baby.
Doni melirik malas. Telinganya menangkap langkah buru buru di belakangnya, dia pun menoleh.
"Pak, saya ijin besok ngga masuj sekolah, ya," ucap Mikaela begitu berada di dekat Doni dan sang dokter.
"Kalo mau ijin, kasih kabar ke wali kelasmu. Bukan ke saya," kata Doni cuek dan langsung membalikkankan tubuhnya dan melangkah pergi.
Dokter Arka rersenyum geli melihat kelakuan sepupunya, dia pun menatap jenaka pada wajah manyun Mikaela.
"Pasti di ijinkan. Jangan khawatir," katanya sambil mengedipkan sebelah matanya sebelum menyusul Doni yang telah meninggalkannya.
"Dasar kepsek aneh. Yang dibawanya beneran dokter ngga, ya. Kelakuannya sebelas dua belas sama si kepsek," gumam Mikaela kesal. Dia sempat terkejut mendapat kedipan mata dokter tadi.
Kemudian dia melangkahkan kakinya kembali ke kamarnya, tempat Erika dirawat.
Sementara di mobil, Doni masih belum menghidupkan mesinnya. Dia bingung apa yang harus dia lakukan. Doni ingin mengatakan pada Vandra, tapi dia takut telpon mereka akan disadap.
"Kamu akan tetap merahasiakannya?" tanya dokter Arka santuy.
Dobi menoleh. Pasti sepupunya curiga.
"Dia Erika, kan? Aku tadi terkejut melihatnya," lanjut dokter Arka lagi.
"Kenal dimana?" tanya Doni penuh selidik.
"Dia teman sosialita istriku. Kami pernah beberapa kali bertemu," jelas dokter Arka.
"Tolong rahasiakan. Nyawanya masih dalam bahaya," tegas Doni.
Juga cewe SMA itu, batinnya melanjutkan.
"Tentu. Tapi sepertinya kamu lebih cemas pada anak SMA itu. Dia cantik, ya?" kekeh dokter Arka menggoda Doni.
Doni menatapnya kesal.
"Sekarang apa yang akan kamu lakukan?" tanya dokter Arka setelah tawanya reda.
"Bisakah kamu pulamg sendiri? Aku akan menginap di sini," ucap Doni terus terang.
Dokter Arka terkekeh lagi.
__ADS_1
"Oke, aku mengerti," kata dokter Arka membuat Doni tersenyum.
"Hati hati," lanjutnya lagi.
"Situasinya mencekam. Bisa saja ada anak buah penjahat itu yang menyadari kehadiran Erika," lanjut dokter Arka.
Doni mengambil paper bag nya di jok belakang. Baju ganti lengkap dengan perlengkapan mandinya.
"Sudah dipersiapkan ternyata," kekeh dokter Arka membuat Doni menyeringai.
"Kamu juga hati hati, Bang," kata Doni pada sepupunya yang menganggukkan kepalanya.
Setelah dokter Arka pergi, Doni kembali memasuki mansion.
"Tuan?" tanya wanita berumur lima puluhan kaget melihat kedatangannya lagi. Beliau adalah kepala pelayan di mansion. Bu Jeni.
"Aku akan tidur di sofa. Jangan katakan pada nonamu," kata Doni cuek dan langsung membaringkan tubuhnya di sofa.
Bu Jeni tersenyum. Setelah mengangguk, dia pun mulai pergi meninggalkan Doni yang sudah memejamkan matanya.
Tapi Doni ngga bisa tidur. Vandra harus tau kehadiran Erika agar dapat memberitahukannya pada abangnya. Tapi gimana kalo mereka disadap? Lagi lagi itu yang menjadi ketakutannya.
Doni menghembuskan nafas kasar. Dia memutuskan besok pagi saja mengabarkan pada Vandra. Malam ini semua orang butuh istirahat. Karena besok pastilah mereka membutuhkan energi yang super fit.
Mungkin akan terjadi penyerangan lagi? duganya dalam hati.
*
*
*
Mikaela yang terbangun di subuh hari heran karena lampu ruang tamunya terang benderang.
Dia yang bermaksud mengambil minum, jadi memutar haluan ke ruang tamu.
DEG
Dia tidur di sini?
Ngga bisa dipungkiri, hati Mikaela merasa senang mendapat perhatian tak terduga dari kepseknya yang nyebelin ini.
Wajahnya sangat tampan. Apalagi kalo sedang tidur, puji Mikaela dalan hati sambil menatap Doni penuh binar di matanya dan dan jantung yang berubah irama detakannya.
Bibir Mikaela pun menyunggingkan senyum. Dia tau, kepseknya pasti sudah tau apa yang menimpa kakak angkatnya, Erika.
Ternyata walau terlihat cuek, tapi penuh perhatian juga, batin Mikaela dengan wajah senang.
Kenapa sampai sekarang belum nikah juga ya? pasti terlalu pemilih, hinanya dalam hati.
Mikaela agak kaget melihat tubuh Doni yang tadinya tidur terlentang kini miring ke arahnya sambil memeluk bantal sofanya.
Wajahnya terlihat kiyut banget. Padahal udah tua, pujinya lagi dakam hati. Tapi kemudian cepat cepat pergi ke dapur dengan jantung berdebar debar. Takut ketahuan.
Begitu Mikaela sudah menjauh, Doni membuka matanya dengan menaikkan sedikit sudut bibirnya.
Anak kecil, kamu jangan menggodaku pagi pagi.
Doni berjalan perlahan mendekati dapur. Kini jaraknya udah ngga jauh lagi dengan Mikaela.
Benar benar masih kecil, batin Doni mengejek melihat baju tidur yang dikenakan Mikaela. Kaos katun lengan pendek dan celananya yang dibawah lutut. Penuh dengan gambar pokemon.
"EH," kaget Mikaela ketika berbalik dengan botol minumannya. Hampir saja dia menjatuhkan minumannya.
"Bapak kok di sini?" tanyanya reflek. Wajahnya merona.
"Memangnya saya dimana?" tanya Doni cuek sambil mendekati kulkas membuat Mikaela menggeser tubuhnya.
__ADS_1
Doni pun mengambil sebotol air putih dingin.
"Kalo mau minum, duduk, jangan bengong aja," kata Doni sambil menarik kursi disampingnya buat Mikaela.
Mikaela pun duduk dengan canggung. Dia merutuki kegugupannya.
Bukankan dia tuan rumahnya? batinnya sebal.
Saking kesalnya, Mikaela pun meneguk minuman itu dengan cepat membuat Dobi tersenyum geli.
"Kalo minum pelan pelan. Kamu, kan perempuan," kekeh Doni pelan. Tapi cewe SMA itu kelihatan ngga peduli. Setelah tawanya reda, Doni pun meminum air mineralnya.
"Kamu punya mie instan yang kuah? Saya lapar," kata Doni setengah memaksa. Dari kemarin belum ada makanan yang masuk ke dalam lambungnya. Hanya kopi saja.
"Punya, tapi....," kata Mikaela ngga meneruskan. Dia bimbang, haruskah dia membangunkan bu Jeni untuk memasakkannya. Dia juga pingin.
"Kenapa? Masakin ya. Mienya direbus sebentar saja. Pake telor dua, jangan terlalu matang kuningnya. Saya lihat kamu punya banyak telor di kulkas," kata Doni memberi perintah.
Buset. Banyak banget maunya, omel Mikaela dalam hati.
Tapi untuk membalas kebaikan kepseknya yang sudah membawakan dokter untuk merawat kakak angkatnya, Mikaela mau mengalah.
"Bentar," katanya sambil berdiri dan melangkah meninggalkan dapur membuat alis Doni terangkat sebelah.
"Kamu, kok, malah pergi?"
"Mau bangunin Bu Jeni. Tapi kalo ketukan ketiga ngga bangun, ngga jadi ya mie nya," jawab Mikaela polos sambil meneruskan langkahnya.
"Kamu ngga bisa masak mie?" tanya Doni sambil mengusap wajahnya frustasi.
Aje gile, masak mie doang ngga bisa?
"Nggak," jawabnya tanpa beban.
"Udah, sini, saya ajarkan kamu masak mie," ucap Doni pasrah. Kasian kalo harus membangunkan asisten rumah tangga yang pasti sedang menikmati waktu istirahatnya yang sangat berharga.
"Bapak bisa masak mie?" tanya Mikaela ngga percaya.
Laki laki ini ngga terlihat gemulai untuk bisa menggunakan alat alat dapur, pikirnya ngga yakin.
"Masak kamu juga saya bisa," tukas Doni sebal membuat Mikaela jadi melebarkan senyumannya.
Awawaw, dia terlihat manis, batin Doni sejenak terpana.
"Mana mie nya?" tanya Doni pura pura ketus untuk mengenyahkan debaran di rongga dadanya.
Masih kecil, hatinya terus mengirimkan sinyal penguatan.
Dengan santuy Mikaela mengukurkan tiga bungkus mie kuah soto dengan dua butir telur. Lagi lagi Doni menaikkan sebelah alisnya.
"Kok tiga? Saya cuma minta dua," protesnya sambil mengisi air di panci kecil yang terbuat dari keramik warna kuning.
"Saya juga mau, Pak. Buatin sekalian ya, Pak," pintanya malu malu dengan senyum innocentnya.
Doni meliriknya sadis.
"Kamu berani menyuruh kepala sekolah kamu?"
"Sekali ini aja, Pak. Kasian kalo harus membangunkan Bu Jeni," pinta Mikaela dengan mata puppy icenya.
Doni melengos kesal. Baru kali ini ada cewe yang berani menyuruhnya. Masih kecil lagi.
"Siapkan dua mangkok," titah Doni sambil menghidupkan kompor gasnya.
"Terimakasih ya, Pak," sahutnya dengan wajah sangat senang.
DEG DEG
__ADS_1
Jantung Doni memukul keras tulang rusuknya ketika melihat wajah semerah tomat matang yang ada di depannya.
Gila, kalo gini aku bisa khilaf, rutuknya sambil mengkonsentrasikan dirinya di depan panci keramiknya yang mulai mendidih.