Me And You

Me And You
MELEDAK?


__ADS_3

"Kamu siapa?" bentak Anastasi dengan jantung berdebar.


Kini semua perhatian tertuju pada Erika yang melangkah tenang ke kursi CEO yang kosong, yang diapit kanan dan kiri oleh Om Halim dan Arven yang menatapnya penuh selidik.


Erika tersenyum manis.


"Bisa kita lanjutkan pembahasan resort?" tanyanya dengan datar.


Erika, Syukurlah kamu masih hidup, batin Om Halim dengan senyum haru terkembang di bibiirnya. Beliau yakin gadis di depannya Erika. Dari suara dan pembawaannya terlihat jelas.


Gadis ini boleh juga, batin Arven kagum. Dia pun tersenyum miring.


Valen dan Celon saling pandang, kemudian melihat ke arah Vandra yang cuek memainkan hpnya.


"Anak itu main rahasia rahasian dengan kita," sarkas Valen dengan seringai di wajahnya. Begitu juga Celon. Permainan segera dimulai.


Tentu saja Anastasia tambah geredek melihatnya.


"Kursi itu milikku! Wanita Gila!" teriak Anastasia histeris.


"Kamu benar benar ngga mengenalku Anastasia?" tanya Erika sambil menatap Anasatasia dengan tajam.


"Tidak, kau hanya wanita gila!" hina Anastasia berusaha mengusir dugaan di hatinya. Dia menatap berkeliling pada para pemegang saham dan para investor yang hanya diam membisu menatap ke arah wanita itu.


Nggak mungkin dia masih hidup, batinnya ngga mau percaya.


Anastasia menatap pada Om Halim yang menatapnya kasihan.


Sudah terbongkar? Secepat ini?


Anastasia benar benar ngga bisa percaya. Rencana yang sudah disusun sangat matang, ambyar sekejap mata. Dia malah belum bisa menemui Andrenya.


Erika cepat membuka wignya dan membuka ikatan rambutnya, sehingga rambutnya yang panjang bergelombang tergerai indah.


Arven terpesona melihatnya. Gadis kecil itu sekarang amat sangat cantik, batin Arven dengan senyum miring tersungging di bibirnya.


"Erika," seru Om Halim dan beberapa pemegang saham, ada yang senang, ada yang kecut. Apalagi yang sudah berjanji akan mendukung Anastasia.di meeting hari ini.


"Om senang kamu selamat," ucapnya dengan bibir bergetar.


Erika meraih tangan Om Halim dan menggenggamnya erat.


"Iya, Om. Untungnya banyak orang orang baik yang menolomgku," katanya sedih.


"Iya, karena kamu sangat pantas dilindungi," balas Om Halim menguatkan hatinya.


Beberapa pemegang saham menghampirinya dan memberi.ucapan ikut berduka cita atas musibah yang dia dan keluarganya alami.


"Syukurlah kamu selamat, nak," kata Bu Hartati sambil memeluk anak sahabatnya. Beliau benar benar terharu.


"Ya Tante," kata Erika pahit.


"Ibu turut sedih yang menimpa opa dan oma mu," kata Bu Rosa juga ikut memeluknya.


Suasana menjadi haru biru. Erika pun menghapus air matanya yang mengalir.


"Sabar ya nak," kata Pak.Rasyid sambil menepuk bahunya.


"Terimakasih Om," ucapnya sambil menghapus air matanya.


Dia menatap Mikaela yang tersenyum sambil memberikan dua jempolnya, membuat Erika tersenyum.


Masih banyak orang orang yang perhatian padanya. Opa, Oma, Erika akan kuat, tekatnya dalam hati.


Kemudian Erika menatap tajam Anastasi yang berdiri dengan resah.


"Anastasia, aku harap kamu ngga terlibat dalam pembunuhan kejam opa dan opa, juga para pengawal Arwana Grup," kata Erika dingin.


Anastasia melengak kaget.


"Tentu aku ngga terlibat. Aku .... aku hanya menggantikan posisimu yang sedang kosong saja," sela Anastasia cepat.Wajahnya mendadak pucat.


"Aku akan mencari bukti keterlibatanmu. Jika kamu bersalah, aku ngga akan memaafkannu," tandas Erika penuh dendam.


Anastasia sampai bergidik mendengarnya. Dia hanya berharap Bobby berhasil mengatasi keadaan di luar.


"Aku ngga takut. Cari saja. Aku bisa melaporkanmu akan pemcemaran nama baik," tegas Anastasia berusaha menakuti Erika


Erika hanya tersenyum meremehkan.


"Lakukanlah," katanya santai.


Arven tersenyum smirk mendengar perdebatan dua gadis di depannya.


"Erika, kenallan ini Arven. Kakek dan neneknya menunggumu di mansion," kata Om Halim mengenalkan laki laki tampan yang berada di sampingnya yang sejak tadi terus menatapnya.


Erika menjadi rikuh bercampur sedih, karena dia tau kalo pria itulah yang ingin dikenalkan kedua opa dan omanya. Bahkan Oma Swasti sempat menyebutkan namanya sebelum beliau menutup mata.


Erika memejamkan mata untuk menahan air matanya.


"Maaf," kata Arven lembut.


"Ngga apa apa," balas Erika setelah bisa mengendalikan perasaannya.

__ADS_1


Anastasia menatap tajam pada Arven. Dia ingat, ini laki laki yang menolaknya setelah Andre.


Kenapa laki laki berkualitas selau mencampakkan ku? batin Anastasia marah sekaligus sedih.


Apakah aku ditakdirkan untuk hidup dengan laki laki brengsek selamanya.


Andre, aku semakin sulit menggapaimu


Anastasia ingat kembali, pesan pesan yang dikirimkan ke Andre yang sama sekali.ngga pernah dibalas. Bahkan Andre selalu memblokir nomernya hingga dia terus menerus mengirimkan pesan melalui nomer nomer yang berbeda.


Lamunan Anastasi buyar saat mendengar kata kata dari Erika.


"Kita bisa lanjutkan pembahasan soal resort. Terimakasih, Om, Halim, sudah membantu," ucap Erika sambil menatap Om Halim dengan mata berkabut.


Tetaplah disampingku, Om.


Anastasia melirik jam tangannya.


Kenapa belum ada tanda tanda dari Bang Bobby? Apa dia gagal, kesal Anastasia dalam hati.


Dia benar benar ngga bisa berkonsentrasi, dia berharap sesuatu yang buruk segera terjadi.


Tapi setelah dua jam, ngga terjadi apa apa.


Sampai akhirnya Erika menutup meeting setelah mendapat tanda dari Doni.


"Maaf sebelumnya. Ada keadaan sedikit darurat. Silakan untuk jalan keluar, mengikuti Pak Valen dan Pak Celon," kata Arven menyela.


Erika.menatap Arven ngga nyangka kalo pria ini akan ikut membantu evakuasi para pemegang saham dan para investor.


Arven berpaling padanya, membuatnya kaget dan gugup dengan wajah merona.


"Tetaplah dibelakangku bersama Om Halim. Keadaan belum sepenuhnya aman," kata Arven memerintahkan membuat Erika tersentuh.


Dalam hati Anastasia bersorak. Seenggaknya Bang Bobby benar benar sudah berusaha memenuhi janjinya.


Beberapa pemegang sahan dan para investor mulai panik.


"Tenang, kami akan menjaga kalian," kata Valen tenang. Vandra dan Aldi ikut mengawal.


"Kamu jangan jauh jauh dari saya," kata Doni pada Mikaela.


"Pak, saya hari ini, kan, bolos, apa sudah diijinkan?" tanya Mikaela yang baru ingat dia ngga ke sekolah pagi ini.


Astaga, lupa.


Saking tegangnya mengurus persiapan kali ini, Doni juga sempat ngga ijin ke sekolahnya. Apalagi untuk Mikaela.


"Saya lupa," kata Doni dengan wajah cueknya.


"Nanti saya tolong. Kamu lupa, saya kepala sekolah," kata Doni membuat Mikaela tersadar.


"Saya besok aman ya, Pak," kata Mikaela dengan senyum leganya.


"Asal kamu berpakaian sopan, saya akan membantu," kata Doni membuat wajah Mikaela panas sampai ke telinga, teringat dia memakai underwear merah saja tanpa hotpant saat jatuh ke pelukan gurunya gara gara cowok bengal itu.


Doni ngga terlalu memperhatikan wajah malu Mikaela. Tapi dia kini mengamati Anastasia yang berjalan mendekati Erika.


"Silakan lewat jalan ini, ikuti saya," kata Valen setelah mereka tiba di basemen.


Ilham menghampiri mereka.


"Aman?" tanya Valen.


"Ya! Om Nirwan sama Om Arif masih di atas, mengamankan Bobby Gentho dan anak buahnya" ucap Ilham sambil melirik Anastasia.


Mengapa.dia tidak memisahkan diri?


Celon melangkah cepat menghampiri Ferdi.


"Ada satu bom yang belum terdeteksi," kata Ferdi pelan. Tapi matanya menyorot pada Anastasia.


"Mengapa dia ikut bersama kalian?" bisiknya lagi.


Celon terdiam ngga bisa menjawab.


Ini salah, salah, batin Celon berulang ulang.


Sampai kemudian Celon berteriak keras.


"JAUHI ANASTASIA!"


Orang orang pun tersentak. Terutama Erika yang berada sangat dekat dengan Anastasia yang langsung meraih tangannya dalam keterkejutannya.


Dia merasa ada detakan lain di saku jasnya.


"Lepaskan!" teriak Erika menendang kakinya. Tapi Anaatasia tertawa sambil menangkis dengan tetap memggengam erat tangan Erika.


Orang orang mulai panik, apalagi saat Anastasia mengeluarkan sebuah bom yang berbentuk seperti kotak cincin. Bom itu baru saja aktif.


"Kak Erika," teriak Mikaela panik.


"Jangan ada yang bergerak!" teriak Anastasia lantang.

__ADS_1


"Aku akan melempakan bom ini sekarang. Di mana pun arah kalian, kalian ngga akan selamat. Bom ini sanggup menghancurkan basemen dan lantai di atasnya," ancamnya lagi.


"Anastasia, kita sudah sepakat. Jangab bunuh Om," teriak Pak Rodi ketakutan.


"Oke, tolong Om ikat mereka semua," kata Anastasia memerintahkan.


"Oke," kata Pak Rodi. Lalu dia membuka dasinya.


"Buka dasi kalian," perintahnya cepat.


"Teganya anda, Pak Rodi," jerit Bu Rosa histeris karena marah.


"Saya terpaksa, Bu Rosa. Saya bgga ingin mati," kata Pak.Rodi membela diri.


"Anastasia, kita juga sepakat," teriak Pak Sapta membuat lagi lagi mereka terkejut.


"Bantulah Pak Rodi," perintah Anastasia. Dia senang akhirnya bisa menaklukan orang orang yang selalu menganggap remeh dirinya selama ini.


"Anda juga Pak.Sapta?" tanya Pak Rasyid dengan bibir kelu.


"Saya terpaksa," kata Pak Sapta lemah.


"Mengapa anda tega," ratap Bu Hartati.


"Diamlah. Atau kalian ingin mati sekarang?!" bentak Anastasia marah.


"Kau sudah gila Anastasia," marah Erika dengan suara bergetar.


Anastasia tertawa. "Kau mati, akulah pemilik Arwana Grup yang sebenarnya!"


"Kau yang merencanakan pembunuhan Opa dan Oma?" sentak Erika dengan suara bergetar.


"Begitulah! Sayangnya kau berhasil lolos," tawa Anastasia lagi.


"Kau Iblis!" teriak Erika penuh kebencian.


"Matilah kau Erika. Aku membencimu!"


"Lepaskan orang orang ini. Aku akan memegang bom itu sampai meledak. Kalo perlu ikat aku," pinta Erika memberi alternatif.


Dia ngga sanggup membayangkan keluarga mereka yang kehilamgan orang orang yang mereka sayangi.


Arven terkejut mendengarnya. Dia menyalahi kebodohannya. Ngga berpikir Anastasia membawa bom.


Om Halim juga merutuki kebodohannya.


Begitupun Valen, Celon, Vandra, Aldi dan Doni. Mereka terlalu fokus pada hp mereka, mengawasi jalannya penggebrekan yang dilakukan Om.Nirwan, Om Arif, Ferdi dan Ilham. Mereka juga terlalu berkonsentrasi pada evakuasi para investor dan pemegang sahan.


"Jangan Kak Erika," teriak Mikaela pilu.


"Niatku berubah. Kau mati bersama para pendukungmu," kekeh Anastasia dengan suaranya yang bergema di basemen.


"Om bergantung padamu. Ikatannu longgar," bisik Pak Sapta pada Valen yang menganggukkan kepalanya.


"Kamu juga, Celon," ucap Pak Sapta masih berbisik.


Keduanya menatap Pak Sapta penuh terima kasih. Walaupun ngga tau apa yang harus mereka lakukan. Diam diam keduanya sudah membuka ikatan yang longgar itu.


"Selamat tinggal," kata Anastasia yang sudah mengikat Erika.


Karena basemen gedung langsung terhubung dengan halaman luar gedung yang sudah sepi atas perintah Ferdi, mereka bisa melihat mobil yang menunggu Anastasia di depan.


Orang orang berusaha melepaskan ikatan mereka di tiang penyanggga bangunan basemen dengan histeris.


Valen dan Celon celat bergerak ke arah Ferdi dan Arven yang terdekat, membantu melepaskan ikatan.


"Tolong bantu yang lain," kata Valen begiru berhasil membuka ikatan Ferdi.


"Kau mau kemana?" tanya Ferdi dengan hati ngga enak melihat Valen yang berusaha mendekati Anastasia sambil bersembunyi di balik pilar dan mobil mobil.


Celon, Ferdi dan Arven mempercepat membuka ikatan yang lain.


"Bang Valen," desis Vandra dengan hati bergetar. Sekilas abang durjananya sempat tersenyum padanya sebelum bergerak ke depan. Celon pun kini bergerak mengikuti Valen, sementara Arven dan Ferdi berusaha secepatnya membuka ikatan yang lain.


"Maaf," kata Arven ketika membuka ikatan Erika.


"Salahku," kata Erika sambil menatap teman teman papanya dengan sedih.


"Percayakan oada Valen dan Celon," ucap Arven bergetar. Dalan hatinya dia berharap kedua sahabatnya selamat.


"Mundurlah. Semakin menjauh semakin baik," seru Vandra membuat mereka yang terlepas segera berlari mundur.


Hal itu diketahui Anastasia yang baru saja keluar dari basemen bersama Pak Rodi dan Pak Sapta.


"Sialan. Mengapa ikatannya bisa lepas," seru Anatasia marah.


Kedua orang paruh baya itu terdiam.


Dengan wajah marah, Anastasia berseru marah dan bermaksud melemparkan bom ke dalam basemen.


Dengan nekat Pak Sapta berusaha mengambil bom itu. Tapi cekalan Anastasia begitu kuat. Pak Rodi segera lari menjauhi keduanya.


"Pengkhianat!" seru Anastasia marah.

__ADS_1


Dengan kuat dia menendang Pak Sapta hingga terjatuh sampai bergulimg guling.


"MATILAH KALIAN!" teriak Anastasia sambil melemparkan bom ke dalam basemen diikuti jerit pekik mereka yang berada di dalam basemen.


__ADS_2