Me And You

Me And You
Calon Pengantin


__ADS_3

"Aku... aku tidak bisa menikahimu," kata Sandrina ketika Irfan berkunjung ke rumahnya.


Irfan menatap cuek. Sama sekali ngga tersinggung.


'Kenapa?" tanya datar.


Sandrina menggigit bibirnya. Bingung mau menjelaskan pada laki laki tinggi tegap yang sangat santuy ini.


Ini terlalu mendadak, sangat cepat. Dua minggu lagi mereka akan menikah.


"Soal cinta ngga usah kamu pikirkan. Buktinya kita bisa make love, bahkan kamu sampai hamil," sarkas Irfan dengan seringai jahilnya.


"Kan karena kita sama sama mabok, ngga sadar," bantah Sandrina dengan wajah seperti kepiting rebus. Sangat merah. Hatinya sedikit ngga terima dengan pernyataan Irfan.


Irfan tertawa. Kemudian dengan cepat dia menarik Sandrina dalam pelukannya membuat gadis ini menutup mulutnya agar ngga bersuara saking kagetnya. Kepalanya celingukan ke kanan dan ke kiri, memastikan apakah orang tuanya melihatnya atau ngga. Karena mereka saat ini berada di teras rumahnya.


Irfan tersenyum jahil melihat wajah gelisah gadis mantan perawan di depannya.


Tangan satunya memeluk erat pinggang Sabrina, tangan satunya lagi memegang dagunya dan mengarahkan pada wajahnya.


"Mau kita coba lagi dalam keadaan sadar?" kata Irfan jahil.


Jantung Sandrina berdebar kncang. Dan dia hanya bisa menutup mata ketika Irfan mencium bibirmya dengan sangat lembut.


Irfan tersenyum miring melihat mata Sandrina yang masih terpejam ketika dia sudah menjauhkan bibirnya.


"Ketagihan, kan," bisiknya sambil menjawil ujung hidung Sandrina.


Sandrina terkejut, secara spontan dia mendorong tubuh Irfan membuat laki laki tampan itu tergelak.


"Kamu pasti nanti bakalan cinta sama aku. Kita hanya butuh waktu saja untuk menumbuhkannya. Seperti anak ini," kata Irfan dengan jahil sambil membelai perut rata Sandrina yang hanya bisa berdiri mematung mendengar kata kata tenang Irfan.


"Jaga dirimu dan anak kita baik baik. Aku pulang," tawa Irfan sambil melambaikan tangannya sambil membalikkan tubuhnya membuat Sandrina tersadar dari bengongnya.


"Pamitin sama om dan tante, ya," katanya lagi tanpa menoleh pada Sandrina. Tangannya melambai ke atas. Dia melangkah pergi dengan santai.


Sandrina melebarkan senyumnya melihat kepergian laki laki yang memiliki rasa percaya diri yang super banget.


Ada keraguan dalam hatinya, bisakah dia hidup bersama laki laki yang ngga begitu dia kenal?


Sebenarnya Irfan juga ngga kalah tampan dari Eri. Sifat cueknya pun hampir sama. Sepertinya mereka memang setipe. Juga beberapa teman teman mereka berwatak sama juga. Mungkin karena itu mereka cocok berteman, lebih tepatnya bersahabat selama bertahun tahun.


Sandrina menghela nafas melihat mobil Irfan sudah pergi. Dia meraba perutnya. Ada calon anaknya dengan Irfan. Padahal hanya malam itu mereka melakukannya. Memang berkali kali. Tapi masa bisa langsung jadi anak.


Padahal banyak pasangan pengantin yang butuh waktu bertahun tahun dan pasti sudah melakukannya ngga terhingga, baru berhasil.


Mungkin Tuhan marah padanya, karena sudah minum alkohol dan berzina.


Sandrina memejamkan matanya. Semoga anaknya akan tumbuh menjadi anak yang punya iman yang kuat. Ngga seperti mereka orang tuanya, yang sudah khilaf dan melewati batas.


*


*


*


"Hai," sapa Aldi saat memasuki kantor Irfan. Aldi sengaja mendatangi sahabatnya yang sebentar lagi akan menikah.


Aldi ngga sendiri. Di belakangnya ada Fino, Doni, Igo, Toni, dan Vandra.


"Calon pengantin masih sibuk aja," ledek Toni kemudian terkekeh.


"Jadi keingat Eri," tambah Doni ikut terkekeh.


Yang lainnya pun tertawa.

__ADS_1


"Parah kalo dia samaan dengan Eri. Kita kena apesnya," sambung Aldi membuat mereka tergelak. Mengingat dulu mereka ngelembur nyelesaian kerjaan Eri yang cukup banyak.


Irfan juga ikut tertawa mendengarnya. Hatinya senang melihat kedatangan teman teman jinnya.


"Masih banyak kerjaan Lo," tanya Igo sambil mendekat ke sampingnya.


"Tinggal dikit lagi," kata Irfan sambil meng close file kerjanya. Irfan hanya tinggal mengecek aja. Kerjaannya sudah tuntas. Paling sekarang tinggal meeting meeting aja dan sudah di wakilkan dengan asisten papanya.


"Kita akan bantu Lo," kata Fino menawarkan. Dia pun memegang sebuah map dan memeriksanya.


Vandra dan Doni memilih langsung duduk di sofa.


"Udah oke berkasnya," sambung Fino sambil menaruh map itu kembali ke atas meja. Sudah ditandatangani Irfan.


Irfan pasti sudah membereskan kerjaannya sejak kemarin kemarin. Dady nya pun cukup pengertian dengan tidak membebankan banyak pekerjaan untuknya.


"Setelah Lo nikah, Aldi nyusul. Jonesnya tinggal dikit," kekeh Toni, kembali membuat mereka teegelak.


"Lo salah satu jonesnya," hina Doni dengan melebarkan senyumnya.


"Dan Lo," kata Igo tambah ngakak.


"Fin, Lo aneh. Harusnya Lo duluan yang nikah. Malah Lo ngegantung ngga jelas," sarkas Irfan mengejek.


Fino hanya tertawa menanggapinya.


"Lagu Lo Fan. Si Fino mungkin baru bisa nikah sama Rosa kalo dia telanjur khilaf kayak Lo," sembur Toni kemudian ngakak lagi dengan Igo yang berada di sampingnya.


Irfan juga ikut ngakak. Ngga tersinggung.


"Bukan karena khilaf juga, tapi telanjur tekdung. Kalo ngga tekdung, pasti dia masih membujang," sindir Doni tambah membuat mereka tertawa.


"Tapi beda sama seseorang," ucap Irfan sambil melirik Aldi yang hanya melengos.


"Siapa memangnya seseorang itu," tanya Toni kepancing.


"Apa kita kenal?" tambah Igo sambil menaikkan satu alisnya.


Vandra ngga bereaksi. Dugaannya sudah jelas. Tapi dia ngga menduga kalo Aldi juga mengikuti langkah khilaf Irfan.


Gimana kalo Eri tau, batinnya tanpa sadar menghembuskan nafasnya sambil melirik Aldi yan tetap cuek, ngga mempedulikan rasa penasaran teman temannya.


"Di sini rupanya kalian ngumpul," seru Eri membuat mereka menoleh dan jadi lupa.dengan perkataan Irfan.


"Cieee.... yang bulan madu akhirnya pulang juga," ledek Toni.


"Mana Angel, ngga ikur?" tanya Igo sambil celingak celinguk mencari keberadaan Angel.


TUK!


"Ya ngga mungkin dibawa ke sinilah, bego," tukas Aldi sambil mengetuk pelan kening Igo membuatnya tergelak.


"Iya ya," kata Igo dalam gelaknya.


"Bahagia akhirnya Lo ya. Laki laki yang beruntung," sarkas Irfan dengan seringai mengejeknya.


Eri ngga peduli. Dia menilih duduk di samping Vandra.


"Kenapa Lo beraksi ngga nunggu gue pulang," sergahnya kesal campur marah.


Mereka kompak tertawa, sudah menduga kata kata itu akan keluar dari mulut Eri. Vandra pun ikut menaikkan sudut bibirnya.


"Ngga usah dibahas lagi. Untung aja Lo ngga ikut," sela Igo santuy.


"Kenapa?" tanya Eri heran. Dia memang belum tau cerita lengkapnya.

__ADS_1


"Kita semua hampir aja ngga bisa ketemu Lo lagi," timpal Aldi cepat.


Eri mengerutkan keningnya.


"Gue ngga ngerti."


"Pokoknya gitulah," pungkas Vandra ngga mau mengingat lagi. Kecerobohan mereka yang berakibat sangat fatal.


"Gitu gimana?" tanya Eri tambah penasaran.


"Kita hampir kena bom," jelas Fino yang kasian melihat wajah Eri yang sangat penasaran.


"Haaah?!" kagetnya menatap teman temannya ngga percaya.


"Hampir aja Lo ketemu zombi," kekeh Toni ringan.


Aldi dan Igo saling menatap kesal pada Toni yang terlalu ringan ngomongnya.


"Mulut Lo," kecam Fino agak kesal. Paling engga, untuk nyawa yang sangat berharga, jangan dianggap becanda.


"Iya sorry," ucap Toni mengalah.


"Kok bisa?" sergah Eri ikutan kesal. Ada Vandra dan Aldi yang teliti. Bahkan ada abangnya Vandra, Bang Ferdi dan Bang Ilham. Eri ngga habis pikir.


"Mungkin faktor umur," jawab Irfan santai.


Eri manggut manggut. Mungkin juga, batinnya setuju.


"By the way, selamat buat Lo Fan. Walaupun gue kesal dan pengen nonjok Lo, tapi gue salut karena Lo berani juga ngaku," kata Eri dengan mimik kesal.


Kebayang pesta pernikahannya jadi rusuh gara gara perbuatan en*a en*a nya.


"Sorry," sesal Irfan. Dia pun ngga nyangka akan begitu heboh.


Teman temannya pun saling pandang sambil menahan senyum geli. Mengingat ekspresi kalut Eri yang jadi korban kemarahan salah sasaran.


"Gue maafin," kata Eri ringan membuat Irfan tersenyum lega.


Kini Eri menatap Aldi tajam membuat Aldi heran.dan berdebar.


Dia curiga?


"Ada apa?"


"Jangan bilang Lo nikahin Aurelia karena udah Lo hamilin juga," tuduh Eri lantang.


Irfan terbatuk membuat fokus pandangan yang lain beralih ke arah Irfan, kecuali Vandra dan Toni.


"Ngawur Lo," sangkal Aldi singkat.


Toni tersenyum miring, kini dia ngerti arah bicara Irfan yang membuatnya sangat penasaran.


Gila juga Lo, batinnya mengejek Aldi.


"Syukurkah kalo engga," kata Eri langsung percaya.


Aldi ngga menyahut, hanya tersenyum miring.


Lega rasanya terbebas dari pikiran buruk Eri. Dan juga tonjokannya.


"Ya enggak mungkin lah. Emang Lo," sarkas Fino membela Aldi, diikuti anggukan Igo dan Doni.


Igo dan Doni setuju kalo tuduhan Eri sangat konyol.


Sementara Vandra, Irfan dan Toni saling membuang muka untuk menyimpan senyum miring mereka.

__ADS_1


"Enak aja," sentak Eri ngga terima.


"Gue masih suci ya," katanya sombong.


__ADS_2