Me And You

Me And You
SHOCK


__ADS_3

"Apa sebenarnya yang terjadi," seru Kakek Handy begitu sampai di bibir jurang.


Nenek Rani ngga sanggup keluar. Beluay menunggu di mobil sambil.menamgis. Menangisi nasib para sahabatnya yang sudah oergi meninggalkannnya secara sadis dan kejam.


"Sedang diselidiki tuan besar," ucap Om Halim dengan suara bergetar.


Kakek Handy memegang dadanya.


"Kakek ngga apa apa? Sebaiknya kakek di mobil saja," ucap Arven sambil memegang bahu kakeknya cemas.


Neneknya sudah didampingi perawat. Arven menemani kakeknya yang memaksa ingin melihat lokasi kecelakaan.


"Tenanglah, kakek masih kuat. Arven, tolong pastikan keselamatan calon istrimu," titah kakek Handy dengan mata basah.


Hati Arven bergetar. Dia tau, kakek dan neneknya sangat terpukul. Dalam hati Arven bertekat akan mencari siapa dalang yang melakukan kekejaman yang sangat di luar perikemanusiaan.


"Arven, katanya Lo mau ke Belanda."


Arven menoleh saat mendengar suara yang sangat dikenalnya. Ternyata tiga sahabat gilanya dengan pakaian olahraga lengkap ada dibelakangnya.


"Kalian ngapain di sini. Di sini tkp, bukan tepat jogging," sarkas Arven, khususnya pada Valen yang menyapanya.


Seandainya ngga berada di situasi berduka seperti ini, pastilah dia dan dua temannya akan mentertawakan Arven.


"Kakek," sapa Ferdi sambil menghampiri Kakek Handy. Begitu juga Valen dan Celon


"Kalian di sini," ucap Kakek Handy sambil memeluk ketiga teman cucunya. Air matanya sudah mengalir.


"Kakek kenal?" tanya Valen sambil melirik Arven yang melengos.


Sementara Om Halim menatap mereka sambil berusaha mengingat ingat. Karena wajah mereka cukup familiar di kalangan enterpreneur muda.


"Mereka sahabat kakek. Cucunya calon istri Arven," jelas kakek Handy terbata bata saking sedihnya.


Ketiganya reflek menatap Arven dengan pandangan kasian.


Gagal lagi, hina Valen dalam hati.


Apes nasib Lo, batin Ferdi mencela.


Bakalan jones selamanya Lo, batin Celon tak kalah sadis menghina.


Haha, sialan, kalian senang kan dengar gue ngga jadi kawin, umpat Arven sambil balas menatap ketiganya kesal.


"Ada kemungkinan calon istri Arven selamat, Kek. Juga dua pengawal yang bersamanya," ucap Valen menenangkan hati Kakek.Handy.


"Benar begitu, Valen? Syukurlah," ucap Kakek.Handy lega dengan bibir tersenyum tapi air matanya masih saja mengalir turun membasahi pipi tuanya. Kematian sahabatnya behitu mengguncang hatinya. Beliau kehilangan empat sahabat sekaligus dengan cara yang sangat mengenaskan.


"Hanya saja harus segera ditemukan. Sepertinya dia adalah target," tambah Celon mengingatkan.


"Anda juga harus hati hati, Pak Halim. Mungkin target berikutnya, anda," kata Ferdi membuat jantung Om Halim berdebar keras.


"Saya?" ucap Om Halim sambil meletakkan tanggannya ke dadanya sendiri.


"Benar," tukas Valen dan Celon kompak.


"Nak Halim, kamu harus hati hati," kata Kakek Handy dengan suara bergetar.


Om Halim masih terdiam dia sibuk berpikir.


Benar, ini belum selesai, batinnya.

__ADS_1


Motifnya pasti harta. Tapi siapa? batin Kakek Handy geram.


Mereka terdiam ketika kepala pengawal datang.


"Semua kantong jenazah akan dibawa sekarang ke rumah sakit, tuan. Jasad nona dan dua pengawal ngga ada di lokasi, tuan. Anak buah saya sedang menyusuri aliran sungai. Tapi..." lapor ketua pengawal mengambang. Wajahnya terlihat sangat cemas. Ada sesuatu yang mengganjal pikirannya.


"Kenapa berhenti, teruskan," sambar kakek Handy ngga sabar.


Ferdi dan teman temannya termasuk Arven sudah menduga kelanjutannya.


Dada Om Halim pun berdebar akan kemungkinanan terburuk.


"Ada bekas tembakan di dekat piggiran sungai lima puluh meter dari sini tuan. Mereka menemukan bercak darah," ucap Ketua pengawal itu membuat Om Halim memejamkan matanya.


"Tapi sepertimya mereka.masih selamat. Anak buah saya dan tim polisi bersama sar terus menyusuri jejak itu," lapor ketua pengawal lagi setelah membuang nafas perlahan. Sesak rasanya membayangkan nona muda dan dua anak buahnya yang pasti mati matian berusaha menyelamatkan diri. Entah bercak darah itu milik nona muda atau para pengawal yang tertembak karena berusaha melindungi nona muda.


"Oke, lakukan terus pencarian. Pastikan keselamatam mereka. Tapi sore nanti kembalilah. Karena seluruh keluarga dan pengawal akan dikuburkan," titah Om Halim.dengan suara bergetar.


Mereka tau Erika selamat. Mereka tau, desis Om Halim dalam hati. Ada rasa takut mencekam dalam hatinya. Beliau ngga akan tenang sebelum Erika berada dalam perlindungannya.


"Kek, kami pamit. Kami akan bantu mencari," ucap Ferdi pada Kakek Handy.


"Aku juga ikut mereka, Kek," ucap Arven meminta ijin.


"Baiklah. Tolong selamatkan calon istrimu," pinta Kakek sambil meremas bahu cucunya penuh perasaan.


"Om dan kakek jangan kembali ke mansion Erika atau ke rumah dulu. Tim gegana sedang menyisir, apakah ada bom aktif atau tidak," kata Ferdi melarang.


Kakek Handy dan Om Halim terhenyak.


"Memang baru dugaan saya. Nanti akan ada kabar dari anak buah saya ke Om Halim. Apabila sudah aman, bisa kembali ke mansion," kata Ferdi lagi berusaha menenangkan Om halim dan Kakek yang terlihat mulai panik dan geram.


"Saya sudah mengirim anhgota polisi untuk mengamankan sepanjang perjalanan nanti," kata Ferdi lagi.


"Oiya Om, ada anggota saya yang sedang mengecek cctv mansion Erika, rumah dan kantor Om Halim. Kami menduga ada mata mata," tambah Ferdi lagi membuat Om Halim terdiam.


Beliau juga sudah bermaksud melakukannya karena curiga, kok bisa rencana liburan bocor. Padahal hanya mereka yang tau kapan Erika dan keluarga besarnya akan berangkat dari mansion.


"Terimakasih," ucap Om Halim beberapa saat kemudian.


"Tolong selamatkan nona Erika," pintanya melanjutkan.


"Kami akan berusaha,: kata Celon berjanji.


"Terimakasih, nak. Kalian bisa kakek andalkan. Oiya, mana dua orang aneh itu, mereka ngga ikut?" tanya Kakek tiba tiba mengingat Ilham dan Luvi. Ada sedikit senyum di wajah tuanya memgingat mereka yang akhirnya resmi jadi suami istri juga.


"Ilham akan menyusul, Kek. kalo Luvi sepertinya nggak, repot dengan anak anaknya," jelas Valen dengan senyum tipis di bibrnya.


Dulu kakek Handy selalu saja menggoda pasangan yang ngga pernah sadar kalo sudah saling suka itu. Saling cuek tapi sangat care, pasangan membingungkan.


"Iya ya," kata Kakek Handy sambil menganggukkan kepalanya.


"Kami pergi dulu," pamit Ferdi pada keduanya.


"Hati hati," kata kakek Handy dan Om Halim bersamaan dan disambut anggukan keempatnya yang bergegas pergi.


"Kalian sudah mendapatkan tersangkanya, kan?" tuduh Arven sambil mendudukkan bokongnya di jok belakang.


"Tentu saja," sahut Valen yang memegang stir sombong.


"Siapa?" tanya Arven benar bemar ingin tau.

__ADS_1


"Lo ngga pernah maen jauh, sih," sindir Ferdi yang duduk di depan bersama Valen.


"Cih, memangnya kalian yang selalu santai," decih Arven balas menghina.


Ketiganya tertawa, baru saja bisa melepaskan yang sejak tadi terus ditahan. Arven hanya mendelik. Malas bertanya lagi.


"Anastasia. Lo tau nggak?" info Celon ketika tawa mereka sudah bubar.


"Model dewasa itu?" tanya Arven sambil mendelikkan mata ngga percaya.


"Gitu aja Lo taunya," sarkas Valen nyinyir.


"Iyalah. Lagian aneh model yang cuma bisa nampangin underwear bisa bunuh orang kejam begitu," sergah Arven ngga percaya.


"Makanya kalo diajak kumpul, nurut. Lo udah lama ngga update," kekeh Celon mencela.


Arven ngga menjawab, tapi dia memandang teman temannya satu persatu dengan serius.


Benarkah dia udah banyak kehilangan info? batinnya ngga terima.


"Dulu Anastasia hampir ngebunuh Andre, yang jadi suami adik kembar gue, Rasya," cerita Valen sambil fokus ke depan.


"Haaah?!" kaget Arven merasa bersalah karena benar benar ngga tau.


"Lo ngga usah pasang muka.nyesal gitu. Gue juga ngga tau pas waktu kejadian," tukas Valen santai.


"Sama, gue juga ngga di situ," tambah Ferdi.


"Apalagi gue. Mana tau gue," timpal Celon tanpa dosa.


"Sialan Lo semua," maki Arven kesal karena lagi lagi ketiganya mentertawakannya. Di saat ssat ini Arven sangat berharap ada Ilham, yang pasti ngga akan mentertawakannya secara terang terangan seperti ketiga iblis di dekatnya ini.


"Anastasia ternyata saudara tiri calon istri Lo," cetus Ferdi setelah tawa mereka usai.


APPAAA? batin Arven terusik. Dulu dia pernah menolak Anastasia yang menggodanya bersama rekan bisnisnya di bar. Akhinya Anastasia dikerjain abis abisan oleh rekan rekan bisnisnya. Dia hanya menonton saja.


"Dia ternyata anak Om Danu. Ngga nyangka, tapi dia beda banget sama Erika. Kamu beruntung dijodohkan sama Erika. Bukan Anastasia yang bekas sana sani," komentar Celon.


Arven ngga menyahut. Arven baru terjun dalam dunia bisnis sepuluh tahun yang lalu. Papa sama mamanya sampai harus mengancamnya akan memecatnya jadi ahli waris mereka kalo dia ngga mau membantu kedua kakak laki lakinya di perusahaan.


Selama jadi atlet pun Arven jarang mengikuti masalah masalah para sahabatnya. Apalagi sejak memulai karir di perusahaan. Arven benar benar serius dan tidak memikirkan apanpun lagi selain kerjaannya.


Kumpul sama teman temannya pun sering dia tolak. Memang benar kalo dirinya kehilangan banyak updetan hot news.


"Maksud Lo, dia ngelakuin ini untuk menjadi pewaris tunggal kekayaan Om Danu?" tanya Arven berdasarkan instingnya.


"Betul," respon Valen.


"Tapi dia ngga becus ngurus perusahaan. Beberapa perusahaan di tangannya hancur lebur," cicit Celon.


"Sepertinya Om Danu sudah membagi dua kekayaannya. Mungkin kekayaan Anastasia sudah menyusut, sedangkan Erika terus menambah pundi pundi uangnya membuat dia iri," pendapat Ferdi.


"Tapi ini bukan kejahatan main main. Pembataian ini seperti dilakukan pelaku profesional," sanggah Arven ngga percaya.


"Dia membayar orang lah," tukas Valen.


"Betul. Mungkin pelanggannya ada yang ketua rampok atau gembong mafia," analisis Ferdi.


"Tapi ini bukan sekedar pembunuhan. Ini pembantaian," desis Arven sambil bergidik ngeri saat melihat beberapa kantong jenazah yang sudah di bawa ke atas jurang. Para jenazah itu masih bisa dikenali walaupun sudah menghitam karena bara api. Pertolongan yang cepat datanglah membuat jenazah jenazah itu belum hancur.


"Benar, ini pembataian," ucap Celon sambil memejamkan mata.

__ADS_1


Mereka kini terdiam. Suasana hening karena mereka kini sibuk dengan pikiran masing masing.


__ADS_2