
Eri menatap kesal hpnya yang ngga berhenti bergetar. Sementara Angel masih tertidur saking lelahnya.
Akhirnya Eri mengambil asal kaos oblong dan celana boxernya. Setelah buru buru mengenakannya, dia pun berjalan kr balkon hotel.
Sebenarnya Eri berharap getaran hp itu berhenti, tapi ternyata terus berlanjut.
"Ya," sahut Eri dengan wajah sewot ketika menerima VC dari teman jahilnya. Toni dan dibelakangnya ada Aldi dan Doni memamerkan cengiran dengan tampang ngga berdosanya.
"Gimana malam pertama Lo? Sukses?" tanya Toni usil disambut tawa Aldi dan Doni. Keduanya rupanya menginap di apartemen Doni dan memang sudah berniat mengganggunya di pagi hari ini
Eh, pagi? Eri tersentak dengan sinar matahari yang mencubit kulitnya.
Jam sembilan? Wait? Selama ini ngga ada yang membangunkannya? Eri misuh misuh dalam hati.
"Muka Lo kenapa? Masih kurang servis dari Angel," ganggu Doni kemudian tergelak lagi.
Eri hanya menyeringai kesal.
"Ngapain kalian telpon?" bentaknya marah. Tapi ketiga sahabatnya jinnya malah tambah tergelak membuat Eri tambah mengencangkan raut mukanya.
"Mami Lo minta kita nelpon, katanya takut Lo bikin Angel mati muda," jelas Toni kemudian ngakak.
Mami, rutuk Eri dalam hati kesal.
Kenapa ngga ketok pintu aja, sergahnya dalam hati.
"Pintu udah mau didobrak papinya Angel. Kirain Lo
berdua pingsan kena gas beracun," tambah Aldi membuat Eri terperangah.
Apa iya segitunya, dia benar benar ngga dengar. Apalagi Angel, batinnya ngga percaya.
"Lo udah ngga perjaka lagi, dong," cibir Doni.
"Lo beruntung, Angel yang ambil perjaka Lo," cela Toni menambahkan.
Ketiganya kembali mentertawakan Eri yang wajahnya sudah berlipat lipat karena menahan rasa jengkelnya.
Hampir saja Eri menutup sambungan telponnya kalo saja pikiran keponya ngga muncul.
"Hei, Irfan gimana kabarnya?" serunya penasaran.
"Mau tau banget atau tau aja?" goda Doni tambah mrmbuat Eri geram.
"Tempe!"
Ketiganya kembali ngakak ngga sopan.
"Gue putusin nih," ancam Eri tambah membuat ketiganya tergelak.
"Gue SE-RI-YUS," sentak Eri makin kesal. Dia ingin membanting hpnya.Tapi karena keponya tingkat Dewa, Eri berusaha bersabar menghadapi tingkah menyebalkan ketiga temannya.
"Iya, ya. Gue bakalan cerita," kata Aldi mengalah.
__ADS_1
Dalam hati dia salut dengan Eri. Bisa dia menjaga Angel selama bertahun tahun. Padahal kadar brengseknya di atas rata rata. Sedamgkan dia sendiri, Ngga nyampe sebulan mengenal Aurelia tapi dia sudah merusak gadis itu.
"Irfan akan menikahi Sandrina."
Eri terdiam. Dia memandang wajah ketiga temannya yang menatapnya serius dari layar hp.
"Gue senang dengarnya, Tapi juga sedih," kata Eri jujur.
"Begitulah. Tapi itu salahnya. Bikin Sandrina hamil," decih Toni membuat Aldi merasa kesindir.
"Maksud Lo, kalo ngga hamil ngga jadi tanggung jawab," sergah Doni sambil menjitak kening Toni yang langsung mengaduh kesakitan.
Aldi terdiam, dia merasa jadi orang yang munafik. Menyeret Irfan untuk bertanggung jawab padahal dia sendiri lari dari tanggung jawab.
"Sakit Goblok," maki Toni kencang.
"Kalo engga hamil, orang tua Sandrina ngga bakal ganggu acara nikah gue," kesal Eri.
"Betul itu," timpal Doni.
"Kasian Lo sama Angel. Lo beruntung, Angel percaya banget Lo masih perjaka," tambah Doni membuat kedua temannya mengangguk setuju dan mengembangkan cemgirannya.
"Padahal Lo selama ini jahat banget sama Angel. Tapi Angel tetap baik dan percaya sama Lo," nyinyir Toni memancing emosi Eri.
"Itu karena gue ngga tau," bela Eri ngotot.
Semua orang membohonginya. Termasuk Angel. Menurut Eri sangat wajar dia marah dengan Angel.
"Ya, ya. Harusnya biar pun Lo ngga tau, Lo harus nahan diri. Lo merasa dicampakkan, tapi ngga ngaku," cela Toni lagi.
"Ya udah, Lo bawain makanan buat Angel. Anak orang udah Lo kerjain, ngga Lo kasih makan," sarkas Doni menengahi.
"Oke, kalian yang gangguin gue dari tadi. Gue tutup," dengus Eri sambil menutup panggilan VCnya masih dengan hati ngeredek.
Kemudian Eri berbalik menatap Angel yang masih terlelap. Wajahnya terlihat lelah.
Apa aku keterlaluan? batin Eri sambil membelai puncak kepala Angel.
Kemudian dia beranjak membuka pintu kamarnya.
"Akhirnya keluar juga," seru mami Eri sambil menggelengkan kepalanya.
"Mami, ngapain di sini?" tanya Eri sedikit kaget.
"Angel masih tidur?" tanya mami Angel sambil melongokkan kepalanya ke dalam, dan bibirnya pun tersenyum.
"Ni, buat nambah tenaga," kata mami Eri menggoda membuat besannya tertawa.
Eri ngga menjawab, melihat kereta dorong yang penuh dengan makanan yang menyelerakan.
Sop daging, steak, lontong, sate, aneka cake dan puding.
Keningnya berkerut.
__ADS_1
"Kok banyak banget, Mi?"
Kedua wanita paruh baya itu terrsenyum lebar.
"Kalo kurang,kasih tau ya," ucap mami Eri sambil mengedipkan sebelah matanya menggoda anak satu satunya.
Masa kurang, batin Eri menatap maminya dengan tatapan ngga mungkin.
"Jaga Angel, ya, Eri," ucap mami Angel kemudian menarik mami Eri meninggalkan tempat itu.
"Iya, Mi."
Setelah kedua wanita yang sangat disayanginya menjauh, Eri membawa masuk kereta dorong yang penuh makanan itu dan menutup pintu.
"Kamu sudah bangun?" tanya.Eri ketika melihat Angel sedang duduk menyandar sambil menatapnya.
Tangannya memegang selimutnya.sampai batas dadanya.
"Iya," jawab Angel tersipu. Mengingat yang sudah mereka lewatkan.
Eri menaruh kereta dorong penuh makanan di samping tenpat tidur, kemudian tanpa ragu mengangkat Angel ala brydal membuat gadis cantik itu terpekik kaget.
Tubuhnya masih naked, Angel menahan selimutnya erat erat.
"Udah aku lihat juga. Lepas," songong Eri sambil menarik selimut yang dipegang Angel dengan kuat membuatnya terlepas.
Sontak Eri merasa senjatanya mengeras. Kulit Angel terasa lembut menyentuh kulitnya. Kalo diikuti hasratnya, dia akan langsung menerkam Angel saat ini juga.
Kedua mata mereka saling menatap. Sayu dan berkabut. Keduanya pun dapat merasakan degup jantung masing masing yang cepat berpacu.
"Mandi dulu, trus makan. Setelah ini, lagi ya, Angel," kata Eri nakal.
Angel ngga menjawab, tapi pipinya merona. Tangannya sudah mengalung di leher Eri.
Tanpa dia sadari wajah Eri sudah mendekat, dan bibir lembut Eri menyentuh dalam keningnya.
Nafas Angel seakan terhenti. Angel pun memejamkan mata.
"Kamu sangat indah, Angel," bisik Eri membuat Angel tambah ngga menentu debaran jantungnya.
Eri menjauhkan wajahnya dari Angel dengan nafas memburu.
Shittt! makinya saat merasa senjatanya makin mengeras.
Dengan hati hati Eri menaruh Angel di bath up dan menyalakan air hangatnya.
"Kamu mandi sendiri aja. Aku ngga kuat mandi bareng kamu," kata Eri jujur membuat wajah Angel semakin merah dan terasa panas.
Eri dengan santainya membuka kaos dan boxernya sehingga dia pun naked dan langsung memghidupkan shower. Eri pun berdiri memunggungi Angel menikmati kucuran air di tubuhnya.
Angel memalingkan wajahnya dengan jantung semakin berdebar kencang.
Kenapa dia ngga tau malu gini, batin Angel merutuk tanpa henti.walau sesekali mengintip punggung kekar Eri yang menawan.
__ADS_1
Mata Angel sedikit memicing melihat bekas cakaran yang menghiasi punggung itu.
Angel menutup wajahnya semakin malu, dia ingat. Dirinyalah yang melukiskannya.