
"Ini rumah kamu?" tanya Doni setelah sampai di depan gerbang rumahnya. Karena Doni yang membawanya ke mansion Erika, maka Doni berinisiatif mengantarnya pulang. Apalagi gadis itu masih ada hubungannya dengan Erika.
Ternyata gadis ini tinggal di sebuah mansion yang mewah, tak jauh dari mansionnya juga.
"Ya, terimakasih, Pak," ucap Mikaela sambil membuka sabuk pengamannya.
"Sama sama," kata Doni juga sambil melepas sabuk pengamannya.
"Lho, bapak mau ikut turun?" tanya Mikaela kaget.
Gawat, batinnya panik. Di SMA nya ngga ada yang tau kalo dia yatim piatu. Papa dan mamanya meninggal dunia ketika mereka dalam fase liburan sekolah setelah lulus dari SMP. Jadi teman teman SMPnya pun ngga ada yang tau. Apalagi sejak dulu Mikaela selalu menyendiri dan ngga punya teman.
Waktu mendaftar SMA, karena sudah mengenal Kak Erika, maka Kak Erika bersedia menjadi walinya. Tapi kini Kak Erika belum diketahui keberadaannya dan keadaannya, apakah masih hidup atau .....
Mikaela ngga sanggup harus kehilangan lagi.
"Saya ingin ketemu orang tua kamu," kata Doni heran karena melihat siswinya yang terlihat panik dan gugup.
Takut heh, kelakuan burukmu yang suka bolos ketahuan, batin Doni mengejek.
"Orang tua saya lagi ke luar negeri," dustanya lagi.
Doni mengangkat satu alisnya.
"Kamu tinggal sendirian?"
"Dengan pelayan," jawabnya jujur.
Doni terdiam. Dia menatap tajam manik mata gelisah itu. Ada kesepian memang yang dapat Doni tangkap terpancar di sana.
Doni juga begitu. Vandra, Toni, Eri dan teman teman mereka yang lain. Kebutuhan materi mereka sangat berlebihan, tapi mereka sama sama kekurangan kasih sayang. Karena itu mereka dekat sampai sekarang. Tapi cewe ini sepertinya selalu sendirian. Doni menjadi kasian juga.
"Ya udah, saya juga mau melihat pelayan kamu," kata Doni dengan wajah jahilnya membuat Mikaela tercengang.
"Haah."
"Tutup mulutnya, ntar masuk laler," kata Doni sambil menutup mulut Mikaela yang terbuka dengan jari telunjuknya.
DEG
Jantung Mikaela jadi berdebar ngga menentu.
Doni masih mengembangkan senyum jahilmya karena melihat cewe itu masih saja terdiam melihatnya.
Akhirnya Doni membuka pintu mobilnya.
"Ayo, undang saya ke rumah," ucapnya sambil mengedipkan sebelah matanya.
Mikaela tersadar, buru buru dia membuka pintu keluar dari malunya, hampir saja dia terjatuh karena gugup.
Doni tertawa melihat kelakuan Mikaela.
Sayang kamu masih kecil, sesal Doni membatin.
EH, apaan sih, rutuknya lagi memarahi hatinya yang ngga konsisten.
Begitu pintu gerbang terbuka, sebuah mobil golf keluar menyambut mereka. Keduanya pun duduk bersisihan.
Jantung Mikaela berdebar semakin cepat. Untunglah ngga lama mobil itu berhenti dan mereka akhirnya turun dari mobil golf.
"Kamu punya lapangan golf juga?" tanya Doni untuk memecah kecanggungan di antar mereka.
"Iya."
__ADS_1
"Kamu bisa main?" tanya Doni sambil ikut masuk ke ruang tamu.
"Bisa. Silakan duduk, pak," ucap Mikaela ramah.
Doni duduk dan sambil memandang foto foto di depannya.
Keningnya agak mengernyit melihat foto suami istri yang berdiri mengapit Mikaela. Dia seperti kenal, tapi belum bisa mengingat.
"Mama papa kamu?" tanya Doni sambil menatap wajah Siswinya.
"Iya Pak. Bentar, saya buatin minum,"kata Mikaela sambil memutar balik tubuhnya. Dia berusaha menyembunyikan matanya yang berembun setiap melihat wajah orang tuanya yang sudah meninggal.
"Ngga usah, saya pulang aja. Oiya, besok kamu saya jemput," ucap Doni sambil berdiri.
"Ngga usah, Pak. Saya bisa sendiri," tolak Mikaela cepat.
"Nyawa kamu ada yang ngincar. Saya hanya memastikan keselamatan siswi saya sampai ke sekolah," ucap Doni sambil membalikkan tubuhnya dan melambaikan tangannya.
Sekelumit senyum terukir di bibir Mikaela mendapat perhatian dari Doni. Walaupun ada alasannya, tapi Mikaela tetap merasa senang.
*
*
*
Aldi menatap Aurellia yang baru keluar dari kamar mandi di dekat dapur dengan wajah pucat.
"Kamu kenapa?" tanya Aldi cemas. Sekarang udah pukul sebelas malam. Kak Luvi dan Anak anaknya sudah tidur. Tadi Aldi bermaksud mengambil minum, ngga sengaja melihat Aurelia keluar dari kamar mandi.
Aurelia ngga menjawab. Tadi dia sudah memuntahkan isi perutnya. Hampir setiap malam Aurelia mual dan berlanjut menjadi muntah. Karena itu dia langsung lemas.
Semua gara gara laki laki ini. Aurelia beneran takut kalo nanti hamil. Laki laki ini malah memberikannya pil penyubur kandungan. Sekarang dia sudah mual mual bahkan muntah. Aurelia benar benar merasa tertekan.
"Kamu muntah?" tanya Aldi sambil menahan tangannya. Tapi Aurelia malah menepisnya.
"Bukan urusan kamu," sentaknya pelan tapi penuh tekanan.
"Urusanku lah. Besok kita cek ya," kata Aldi lembut.
"Nggak," tolak Aurelia judes.
Aldi tersenyum melihat tingkah kekanakan Aurelia yang memunggunginya.
"Mungkin mag kamu kambuh. Bisa aja, kan, cuma masuk angin. Belum tentu kamu hamil," ucap Aldi ringan.
Aurelia membalikan tubuhnya dan menatap Aldi garang.
"Ini semua karena kamu," marahnya dengan suara yang ditahan. Takut kedengaran istrinya.
"Kamu tenang aja, kalo kamu hamil aku akan tanggung jawab," tukas Aldi santuy membuat wajah Aurelia bertambah merah karena menahan marah.
"Kalo engga hamil, kamu ngga tanggungjawab?" katanya sinis.
"Kamu mau aku nikahin? Oke, bilang aja kapan," kata Aldi dengan mode brengseknya. Dia memgedipkan sebelah matanya membuat Aurelia melengos.
"Hamil atau engga, aku ngga butuh tanggungjawabmu," tolak Aurelia kasar sambil membalikkan tubuhnya.
"Oke, oke, itu mau kamu, kan," tukas Aldi tersinggung. Harga dirinya serasa dilukai oleh pisau tajam.
Gadis di depannya baru saja menolaknya. Gila. Padahal model model terkenal, bahkan sekretaris dan pegawai perenpuan di kantornya, selalu terpesona hanya dengan senyum tipisnya. Mereka akan melakukan apa saja agar bisa menjadi kekasihnya. One night stand, sudah biasa bagi Aldi. Dia memang brengsek. Sama seperti Fino. Fino ngga pernah melakukannya dengan Rosa. Tapi dengan para model dan rekan bisnis wanita, tentu saja pernah. Toni, Irfan dan Gio juga. Irfan bahkan kini menunggu nasib untuk melepas masa lajangnya ngga lama lagi.
Tanpa menjawab, Aurelia melangkah pergi. Aldi menghela nafas panjang.
__ADS_1
Gadis ini memang istimewa. Sebenarnya Aldi ingin segera membongkar kebohongannya. Tapi sikap keras kepala gadis itu memaksa Aldi untuk mempertahankan kebohongannya.
Aldi hanya bisa menatap punggung yang menjauh dengan perlahan.
Apa gadis itu punya mag? batinnya mulai kepikiran hal lain.
Aldi pun mengambil botol minumannya dan langsung masuk ke kamarnya.
Dia pun menekan nomer telpon Toni. Bibirnya mengembangkan senyum karena sahabatnya langsung mengangkatnya pada dering pertama.
"Ada apa?" suara Toni terdengar lelah.
Mungkin hari in dia banyak membantu wanita muda melahirkan, decih Aldi dalam hati.
"Obat anti hamil yang kamu berikan dulu manjur ngga?"
Terdengar Toni tertawa. Tepatnya mengetawakan ketidaktahuannya.
"Memang pernah ada kasus tetap hamil juga. Namanya sudah digariskan."
Waduuh, batin Aldi sambil memijat keningnya.
"Emangnya hamil wanita ONS loh?" Suara Toni terdengar santai.
"Nggak. Cuma nanya aja," jawab Aldi berkelit.
"Siapa, cewe ONS Lo. Lo sepertinya cemas." Terdengar suara tawa kurang ajar Toni. Sepertinya Toni senang bisa mengerjai Aldi.
"Kepo," tandas Aldi tenang.
Terdengar suara Toni yang tertawa tergelak gelak membuat Aldi kesal.
"Bro, ada beberapa kasus, udah pake selimut atau minum pil pencegah kandungan tetap bisa hamil."
Aldi terdiam setelah mendengar kata kata Toni.
"Kalo udah ada tanda tanda hamil seperti mual atau sampai muntah, Lo harus bertanggung jawab." Suara Toni terdengar seperti memberi perintah.
Aldi menggusar rambutnya kasar.
Gimana kalo hamil? Bisa bisa dia dan Irfan akan barengan resepsinya.
"Thank's atas infonya," kara Aldi sambil menutup sambungan telponnya.
Apa mungkin hamil? Nggak! Paling hanya masuk angin biasa, sangkalnya dalam hati.
Kali ini Aldi yang jadi takut kalo Aurelia beneran hamil.
TOK TOK TOK
"Ada apa?" tanya Aurelia sambil membuka pintu kamarnya sedikit.
"Ini. Kamu tau kan cara pakenya?" tanya Aldi sambil memberikan dua buah testpack ke dalam genggaman tangan Aurelia.
"Besok pagi aja pake testpack nya," kata Aldi lagi sambil menatap wajah cantik di depannya yang hanya membisu.
Sebenarnya Aurelia terlihat bingung campur takut melihat tesrpack yang berada di tangannya. Dia takut kalonyang muncul dua garis merah.
"Mau kamu hamil atau engga, aku akan tetap nikahi kamu," kata Aldi sambil mengacak rambut Aurelia yang malah bengong menatapnya.
Aldi mentowel jidat itu sebelum melangkah ke kamarnya untuk membuat Aldi tersadar.
Dasar, maki Aurelia sebal dalam hati sambil memegang dadanya.
__ADS_1
Jantung, tenanglah.