Me And You

Me And You
Obrolan tentang Perjodohan


__ADS_3

"Adik gue memang gitu. bucin banget sama Mia," kekeh Valen dengan mata terus menyorot ke atas panggung.


Sarah ikut tersenyum melihat keduanya yang sangat mesra memainkan keyboard.


"Mereka disatukan oleh musik," timpal Elka yang diangguki Emir.


"Oiya, dua minggu lagi si Arven nikah sama Erika. Gercep juga dia," cetus Celon kemudian terkekeh.


"Baguslah, geng kita udah nikah semua akhirnya," sambar Ferdi dengan nada menyindir pada Edo yang telat nikah.


Edo tertawa. Hampir saja dia ngga nikah nikah. Sampai akhirnya ngga sengaja ketemu lagi dengan cinta monyetnya ketika masih SMP. Mereka terpisah karena Edo ikut orang tuanya pindah ke Singapura. Karena mereka kini sudah terlalu dewasa dan matang, tanpa konsep pacaran yang lama, sebulan kemudian mereka memutuskan untuk menikah.


"Sangat menyenangkan jika hidup sesimple Edo," ucap Valen sambil melirik Sarah yang tersenyum kecil.


"Lo yang memperumit jodoh lo," sarkas Celon membuat mereka yang mendengarnya terkekeh.


Valen dan Sarah juga ikut tertawa, jalan percintaan mereka cukup berliku.


"Si Andre juga rumit," ejek Emir.


"Lo kali. Ngga nyadar," balas Andre ngga mau kalah.


"Sampai berdarah darah," ledek Rasya membuat Elka terkikik.


"Ada yang lupa ingatan woi," ejek Andre membuat Emir tertawa menutupi rasa malunya.


Mereka kembali tergelak mengingat kejadian itu yang sempat membakar emosi Valen.


"Siapa tau anak anak kita berjodoh," lanjut Edo mengalihkan topik, masih melanjutkan tawanya.


"Seperti anak Valen dan Ferdi?" sambung Celon kemudian terkekeh lagi. Kalo anaknya masih lama lagi. Sekarang aja masih batita.


"Oliv gimana ya? Kalo Abhi udah nurut," kata Valen menanggapi dengan santuy.


"Mungkin Abhi harus berusaha sedikit lebih keras," tawa Ferdi sambil membayangkan penolakan keras putrinya.


"Oliv kurang yakin dengan Abhi," kekeh Olin pelan.


"Gimana mau yakin, lihat tuh kelakuan Abhi," ucap Sarah agak kesal.


Abhi yang menggunakan kruk, tetap saja terlihat sangat tampan dan gagah dengan tubuh tinggi menjulangnya di samping Oliv. Tapi ada beberapa tamu perempuan yang menempel di dekatnya. Mengajaknya tertawa dan berfoto bersama. Sementara Oliv seolah cuek dengan terus menikmati irisan buah di tangannya. Tapi para orang tua itu dapat melihat kekesalan di wajah Oliv.


Mereka pun hanya tertawa lagi.


"Kelakuan Abhi mengingatkanku pada seseorang," sindir Luvi membuat Valen yang tersindir tergelak lagi. Begitu juga Ferdi, membuat Olin dan Sarah memutar mata mereka dengan kesal.


Itu sindiran, bukan pujian, batin kedua istri itu kompak melihat kelakuan absurd suami suami mereka.


Nathasa-istri Celon dan Shiren-istri Edo menghampiri dengan batita di tangan mereka. Celon dan Edo pun ganti menggendongnya.

__ADS_1


"Kalo anak kita dijodohkan, gimana ya, Do," tukas Celon sambil mencium malaikat kecilnya.


"Anak Lo ntar player ngga seperti Abhi?"


"Enak aja. Si Abhi bukan player, tapi terlalu baik sama perempuan," bela Valen kemudian lagi lagi terkekeh, ngga mempedulikan delikan tajam istrinya.


"Abhi seperti Lo waktu muda," sindir Edo pada Valen yang terus saja tertawa mendengarnya. Valen sangat bangga mempunyai anak seperti Abhi. Abhi adalah kloningnya.


"Melia dan Erza sepertinya cocok," celutuk Ilham tiba tiba membuat Luvi berdecak.


Sarah tertawa.


"Mereka masih kecil, Ilham," kesal Luvi walau dalam hati mengakui putri manjanya menyukai salah satu dari putra kembar sahabatnya.


Yakin banget Erza, bukan Ezra, batin Luvi mengejek.


"Yakin Erza, bukan Ezra?" Valen mengeluarkan isi hati Luvi, seakan bisa membaca dari raut wajah Luvi.


Lagian tumben Ilham ikut menanggapi obrolan ngga jelas gini.


"Yakin. Kalo Ezra jatuhnya nanti pernikahan sepupu," kata Ilham penuh makna.


"Maksud Lo?" tanya Valen ngga peka.


Sepupu berarti anak Elka, Rasya atau Vandra, kan? batin Valen berpikir keras.


Dia percaya akan insting Ilham.


Andre dan Rasya saling bertatapan ngga percaya. Kok bisa mereka ngga punya perasaan aneh akan kedekatan anak anaknya.


"Kamu ngomong asal aja," balas Andre ragu. Kalo Ilham yang pendiam bisa berkata begitu, biasanya dia sudah mengamati. Tapi menurut perasaan Andre, kedekatan putri kembar mereka dengan putra kembar Valen biasa saja. Bercanda dan malah seperti saudara umumnya. Apalagi anak anak itu sudah lama ngga bertemu.


Dalam.hati Rasya berjanji akan mengamati kedua putrinya dalam berinteraksi dengan putra kembar abangnya mulai sekarang.


"Kok, kamu bisa menyimpulkan begitu?" tanya Ferdi tertarik. Mereka terlalu percaya akan insting Ilham.


"Ngga sengaja terlihat," kata Ilham dengan senyum miringnya.


"Gue sih ngga pa pa nikah sepupu an. Tapi sama seperti Melia, kita tunggu aja perkembangannya. Mereka masih sangat bocah," kata Valen bijak.


"Betul. Sekarang kita pikirkan Abhi sama Oliv dulu," sambung Ferdi sambil menganggukkan kepalanya.


"Nanti aku akan ngomong ke Abhi, jangan terlalu melayani fansnya," ucap Sarah sambil terus menatap Abhi dan Oliv yang kini sudah berdua.


"Santai aja, Sarah. Biarkan saja kedekatam mereka mengalir tanpa intervensi kita," kata Olin yang diangguki mereka.


"Iya, aku senang melihat Oliv yang selalu terlihat kesal dengan Abhi," tukas Valen kemudian melirik Elka yang menaikkan sedikit sudut bibirnya membuat Valen terkekeh.


Emir yang menggendong Lila, merengkuh Elka dalam pelukannya.

__ADS_1


Sama seperti adek Lo ya bang, tawa Emir dalam hati.


*


*


*


"Aku suka lihat penampilan kamu," puji Abhi yang melihat gaun selutut yang menutupi dengan sopan tubuh Oliv.


"Kan kamu yang kirim," sahut Oliv judes. Padahal dia sudah membeli gaun bertali dibagian punggungnya. Hanya menanpilkan sedikit saja punggung putihnya. Tapi papinga membawakan paper bag dari Abhi, dan Abhi, calon mantu kesayangan papinya itu, memintanya memakainya.


Abhi tertawa lepas. Sengaja dia minta tante Rasya menyiapkan dress tertutup untuk.Olivnya, agar ngga bisa memakai pakaian pilihannya yang pasti cukup terbuka dan seksi.


"Kamu udah cantik tanpa harus menampilkan tubuh seksimu, Oliv," kata Abhi lembut membuat Oliv terdiam dengan semburat merah jambu di wajahnya.


Tapi perasaan melayangnya karena kata kata Abhi yang manis langsung runtuh melihat tiga orang cewe yang bergaun lebih seksi dari pilihannya tadi mendekati Abhi dengan sangat akrab.


"Bhi, foto ya," sambut Helen yang ternyata teman sekolah Abhi. Juga ada Linda dan Via. Sepertinya mereka anak dari relasi bisnis papi Aldi.


"Boleh," sambut Abhi ringan.


"Maaf bisa geser?" tanya Linda pada Oliv dengan sopan.


Oliv hanya mengangguk sambil menyibukkan diri memilih buah. Tadinya Abhi mengajaknya ke stand buah. Tapi ternyata hanya dirinya sendiri yang menikmati buaah buah segar tersebut.


Oliv memakan buahnya dengan kesal. Abhi benar benar ngga menganggap dirinya yang diminta menemaninya. Malah sibuk melayani teman temannya.


Rasanya Oliv ingin pergi kalo saja ngga mengingat pesan papinya.


Kasian, Abhi masih pake kruk. Bantu dia kalo mau makan apa aja ya, sayang, begitu kata kata papinya sebelum mereka berangkat ke pesta Om Aldi.


Harusnya papinya lebih kasian padanya yang dianggap obat nyamuk oleh Abhi. Lihatlah, betapa senangnya mereka sampai sampai dia ngga terlihat.


"Maaf, ya," kata Abhi ngga enak hati sudah menelantarkan calon istrinya hampir setengah jam lamanya. Tadi pun dengan susah payah Abhi mengusir ketiganya agar meninggalkannya.


"Hem," sahut Oliv tetap judes membuat Abhi tersenyum tipis.


"Minta dong buahnya," pinta Abhi manja karena melihat Oliv tetap aayik menikmati irisan buah buahnya sendirian.


Oliv meletakkan buahnya di meja, bermaksud mengambil piring buah lagi untuk Abhi. Tapi Abhi malah menusukkan garpu kecil milik Oliv ke irisan buah di piringnya, dan memakannya dengan santai. Kemudian tanpa ragu Abhi menusukkan lagi garpu buah itu dan memberikannya pada Oliv yang masih terpana melihatnya.


"Ayo, buka mulutnya," ucap Abhi lembut.


Bagai tersihir, Oliv membuka mulutnya dan menerima suapan buah dari Abhi.


Orang tua mereka yang melihat dari kejauhan bersama teman temannya tersenyum lebar. Bahkan Valen dan Ferdi sempat memfoto keduanya secara candid.


"Abhi memang pintar merayu Oliv," tandas Valen sombong.

__ADS_1


"Kloning Lo," sarkas Celon sambil menggelengkan kepalanya.


__ADS_2