Me And You

Me And You
Tentang Melia


__ADS_3

TOK TOK TOK


"Kakak mengganggu?" tanya Luvi sambil membuka pintu ruangannya.


"Ngga, Kak," ucap Aldi sambil tersenyum melihat kedatangan istri abangnya.


"Tadi kakak mampir ke tempat sate padang kesukaan kamu. Makan dulu."


Aldi tersenyum mendengarnya.


"Banyak banget ya kerjaan kamu," kata Luvi sambil meletakkan paperbag nya di atas meja.


"Limpahan calon pengantin, kak," kekeh Aldi diikuti Luvi juga.


Dalam hati dia bersyukur, adik suaminya biar pun terkesan cuek, tapi mau membantu kerjaan sepupu tengilnya.


"Irfan kemarin juga bantuin, Kak. Nanti dia juga bakalan datang bareng Vandra sama Doni."


"Oiya? Eri benar benar menyusahkan ya," ucap Luvi di sela derai tawanya. Aldi pun melanjutkan tawanya.


Dalam hati Luvi benar benar bersyukur, sepupu tengilnya dikelilingi orang orang yang baik.


Aldi tau, Eri juga sedang fokus mengerjakan proyek proyeknya yang lain bersama Handy.


Kasian juga, mau nikah beberapa hari lagi malah ngga bisa cuti, cela Aldi dalam hati.


Luvi menatap jam tangannya yang menunjukkan pukul empat.


"Kakak pulang dulu ya, bentar lagi Bang Ilham juga sampai di rumah."


"Oke, makasih satenya, kak," ucap Aldi sambil berdiri.


"Kakak ngga usah diantar," kata Luvi sambil membuka pintu ruangan Aldi.


Tapi kemudian Kak Luvi menahan pintu yang akan di tutupnya.


"Aldi, ternyata yang mau jadi guru privat itu guru sekolahnya Melia ya. Melia senang banget gitu tau," lanjut Luvi excited.


"Oh, gitu ya, kak. Syukurlah kalo Melia suka," ucap Aldi tenang dan bibirnya mengembangkan senyum.


Untung Melia juga cocok dengan Aurelia. Langkah awal yang baik, batin Aldi lega.


Yess, batin Aldi senang.


Ternyata gadis itu langsung ke rumah kakaknya setelah dari perusahaannya.


Benar benar gadis yang penurut, batin Aldi senang.


"Makasih ya, biar sibuk kamu masih sempat nyariin guru les buat Mel."

__ADS_1


"Sama sana, kak. Aku ngga mau ada yang ngejekin Mel lagi."


"Iya, masih kecil mulutnya comel banget. Ternyata orang tuanya lebih comel lagi. Kalo ngga di ruang kepsek, udah Kak Luvi bikin KO tuh pasutri nyinyir," sentak Luvi jadi kesal karena ingat pertemuannya tadi dengan orang tua si Ana, anak yang ngata ngatain anaknya.


Aldi tanpa sadar tertawa mendengar kata kata kakak iparnya.


Dia selalu menyalahkan Eri, padahal Kak Luvi sendiri yang mirip banget sama Melia, batin Aldi geli.


"Katanya awas tangan anaknya patah, Melia akan dipolisikan. Kakak bilang silakan aja. Kakak suruh anaknya berobat di rumah sakit Toni. Biar Toni yang nge rontgen, patah apa engga tuh tangan. Kalo beneran patah biar diganti pake tangan kucing," sembur Luvi mangkel.


Aldi makin tergelak. Aldi paham kenapa Abangnya ngga bisa move on selama ini dari Kak Luvi.


Abangnya yang pendiam dan cuek itu butuh istri yang sangat sangat cerewet untuk keseimbangan dalam hidupnya.


"Sabar, Kak," katanya dalam tawanya yang berusaha dia hentikan. Dia pun melangkah mendekati Luvi.


"Iya harus sabar. Makanya kakak kesal sama Mel, ngga usah peduliin orang kayak gitu. Bisa panjang urusannya," tukas Luvi masih mangkel.


Eh, dia baru sadar kalo pintu ruangan Aldi setengah terbuka, dan dirinya sudah di luar.


Untung cuma ada Hesty, batin Luvi agak malu karena meluapkan kekesalannya sanpai di dengar orang lain


"Ehem....." Luvi lalu membuang nafasnya pelan pelan untuk meredakan kemarahan yang masih membara di dalam dadanya.


"Oke, kakak pulang dulu ya," pamit Luvi sambil melangkah pergi tanpa tersenyum pada Hesty. Udah malu hati dia.


Aldi hanya tersenyum geli melihat kelakuan kakak iparnya. Terbayang di matanya wajah semraut abangnya ntar saat istri dan anaknya yang bakalan rebutan curhat dengannya.


"Melia berantem?" kaget Abhi begitu mendengar obrolan Erza dan Ezra di kamar keduanya.


Abhi yang akan berangkat ke kafe jadi menghentikan langkahnya karena mendengar obrolan serius si kembar yang irit bicara itu.


Tumben, batinnya heran sebelum masuk ke kamar si kembar.


"Kalo mau masuk ketok pintu dulu, bang," protes Erza kaget karena abangnya tiba tiba aja masuk ke kamar mereka.


Kenapa tadi lupa ngunci pintu, umpat Ezra dalam hati.


"Kok bisa Melia berantem. Kalian ngga bantuin?" kesal Abhi seakan menyalahkan kedua adik kembarnya yang terlalu dingin dan kaku.


"Sama cewe, bang. Masih kecil lagi. Gengsi lah," kata Erza membela diri.


"Siapa yang menang?"


"Mel yang menang Tapi tante Luvi tadi dipanggil ke kantor," jelas Erza lagi membuat wajah Abhi terlihat senang.


"Biasa itu dipanggil ke kantor," kata Abhi enteng.


Erza dan Ezra menatap abangnya mencemooh.

__ADS_1


Kata Oma Sonya, dari SD sampai SMA, abangnya memang langganan masuk ruang bp. Oma Sonya dan Oma Anggit gantian yang nemuin kepsek karena ulahnya yang sering bolos sekolah.


Padahal abangnya sangat pintar. Nilai raportnya terlalu bagus untuk anak yang sering banget bolos sekolah. Prestasi karatenya juga sampai tingkat nasional dari SD sampai sekarang. Bahkan bandnya cukup terkenal. Tapi kelakuannya yang sering bolos memang meresahkan.


Tapi yang membuat si kembar heran, dadynya ngga pernah memarahinya. Bahkan selalu membanggakannya.


Hanya satu yang Dadynya permasalahkan, kalo abangnya ketahuan dekat dengan perempuan. Dadynya pasti akan nyinyir berjam jam. Bahkan seperti dulu, Dadynya akan tega mempermalukan abangnya di depan perempuannya.


Sekolah pun ngga pernah memberikan sangsi tegas pada abangnya itu. Apalagi kepsek SMAnya sekarang Om Doni, teman Om Vandra, tambah bebas dia.


"Biasa apanya, Mel bikin tangan si Ana terkilir," jelas Erza.


"Hebat emang adik abang yang satu itu. Ngga sia sia ikut latihan karate sama abang," puji Abhi bangga membuat keduanya melengos.


Parah, batin keduanya.


Suasana sempat hening. Abhi terlihat masih kesal. Kasian juga kalo sampai ketahuan mamanya. Bisa diomelin berjam jam.


"Siapa, sih, yang berani gangguin Melia. Kalo dia punya saudara yang seumuran abang, bakal abang tantangin. Beraninya gangguin adiknya Abhi, juara karate tingkat nasional," kesal Abhi tanpa merasa aura sombongnya udah keluar.


Keduanya menatap abangnya sinis.


"Kenapa Mel sampai marah ya. Tu anak sabar banget padahal," cicit Abhi lagi karena belum mendengar sama sekali suara komentar dari si kembar.


"Biasa, si Ana selalu ngejekin karena Mel belum lancar bacanya," jelas Ezra akhirnya bersuara.


Bawel banget tu bocah, dari sd sudah bisa ngebully. Bisa jadi trouble maker kalo udah gede, batinnya sewot.


"Ooo. Harus di les in. Nanti abang mau ngomong ke Tante Luvi supaya nyari guru les buat Mel," kata Abhi sambil mengeluarkan hpnya.


Ngga terima Abhi, si Mel di ejekin gitu.


Ya baru juga kelas satu SD, wajarlah belum lancar bacanya.


"Udah dapat bang. Om Aldi udah nyariin," ucap Ezra memberitau.


"Syukurlah kalo gitu. Ya udah, abang mau ke kafe dulu. Mau manggung," pamitnya sambil keluar dari kamar si kembar.


Untung ada Om Aldi yang cepat tanggap. Kalo Om Eri sekarang pasti lagi sibuk sibuknya ngurus persiapan nikah, mungkin belum tau kabar Melia berantem.


"Jangan malam malam, bang, pulangnya," kata Erza mengingatkan.


"Kalo ngga malam ngga seru," jawab Abhi sambil mengedipkan sebelah matanya sebelum berlalu pergi.


Keduanya menatap abangnya sambil menggelengkan kepala.


"Bebas dia ngga ada dady," sinis Erza.


Ezra ngga menyahut, tapi dalam hati dia setuju pendapat saudara kembarnya.

__ADS_1


__ADS_2