
Vandra menarik nafas dan menghempaskannya berulang kali. Dia berusaha meredakan kemarahannya. Dia ngga ingin Mia melihatnya marah.
Setelah merasa tenang, Vandra memasuki rumah mami dan papinya.
"Sudah pulang?" sapa maminya yang sedang menggendong Lila, keluar dari dapur. Tangan Lila menggapai gapai ke arah Vandra sambil tertawa tawa riang.
Hawa kemarahan yang masih tersisa di dadanya lenyap melihat keceriaan keponakannya. Vandra pun meraih Lila dalam gendongannya. Anak perempuan kecil yang berusia setahunan itu sangat gembira ketika berada dalam pelukan Vandra. Dua tangan kecilnya mengelus wajah Vandra membuat Vandra mengembangkan senyumnya. Mami pun tersenyum melihatnya.
"Kamu lagi ada masalah?" tanya mami peka. Tadi maminya sempat melihat ekspresi kusutnya ketika memasuki rumah.
"Sedikit, mi," aku Vandra pelan.
Mami tersenyum sambil menepuk lembut bahu anaknya.
"Ada masalah di pesta?" tanya mami dengan senyum lebar melihat intreraksi Vandra dengan Lila.
Vandranya yang kaku dan dingin, berubah lebih hangat karena hadirnya Mia. Melihatnya tertawa dan menggoda Lila membuat hati mami sangat bahagia. Putranya sudah semakin mencair dari sikap kakunya.
"Vandra nyesal pernah nolong orang, mi," akunya jujur sambil terus menggoda Lila yang terus saja tertawa tawa.
"Hush, kok, ngomong gitu."
"Pokoknya Vandra nyesal, mi. Ngga apa mi, sama malekat, di delete aja pahalanya," ucapnya asal di sela tawanya.
"Kamu ini," tawa mami sambil menepuk gemas pundak Vandra yang juga ikut tertawa bersama Lila.
Kebaikan yang membawa bencana. Clara selalu menterornya. Nomernya sudah Vandra blokir karena pernah mengirim pesan, bahkan menelponnya.
Gila, perempuan itu sangat nekat, batin Vandra frustasi.
"Kamu ketemu orang itu di pesta tadi?" tanya mami penuh selidik.
"Iya, mi," sahut Vandra sambil mencium gemas pipi kiri dan kanan Lila gemas.
"Perempuan ya," tebak mami dengan wajah yakin.
"Iya, mi," sahut Vandra lagi sambil melebarkan senyumnya melihat polah lucu Lila.
"Siapa? Apa mami kenal?" tanya mami penasaran.
Vandra terdiam. Mau jujur, tapi pasti ngefek banget ke maminya. Mereka pernah trauma akibat kelakuan Kakaknya Clara, Kak Cintya. Bahkan dulu Vandra sempat koma waktu nyelamatin Abhi.
"Nggak, mi," bohong Vandra kembali.mencium wajah Lila, untuk menyembunyikan ekspresinya. Maminya bisa tau kalo dia bohong.
"Kirain mami kenal. Mami mau kasih tau, anak mami yang ganteng ini udah punya istri yang bahkan mau melahirkan," celoteh mami membuat Lila tertawa..
"Kamu sama oma ya. Om mau lihat tante,'" ucap Vandra kemudian mengecup pipi Lila lembut.
"Mia sepertinya sudah tidur," kata mami sambil mengambil Lila yang di ulurkan Vandra.
Untung Lila ngga protes.
"Vandra ke kama, mi," pamitnya yang diangguki mami.
Begitu masuk ke dalam kamar, Vandra memandang Mia yang tidur dalam posisi yang sepertinya kurang nyaman. Sejak trimester ketiga, Mia agak sulit untuk tidur nyenyak. Mungkin kesusahan karena perutnya sudah semakin besar.
Setelah menbuka jasnya, Vandra mendekati istrinya yang sudah disukainya sejak SMA. Vandra mengelus lembut puncak rambut istrinya. Kemudian nengecup lembut kening Mia dengan penuh perasaan cintanya.
__ADS_1
"Terinakasih," bisiknya lembut. Mia sudah banyak berkorban untuk kehamilan ini. Mual dan muntah. Susah makan. Sudah tidur. Tapi Mia tetap sabar. Sabar menghadapi kehamilannya. Bahkan ngga pernah mengeluh, selalu tersenyum menghadapi kesusahannya. Vandra paling hanya disusahkan dengan ngidamnya. Tapi Vandra tetap senang, karena ngidamnya itu membuat Mia tambah banyak makan.
Mia membuka matanya, tepat setelah Vandra mengangkat wajahnya. Bibirnya pun tersenyum debgan wajah merona.
"Kamu udah pulang?" tanya Mia lembut.
"Iya, sayang," sahut Vandra sambil berbaring menghadap istri tercintanya. Salah satu tangannya dijadikan tumpuan. Satu tangannya lagi membelai lembut perut gendut istrinya.
"Kapan anak kita lahir ya," gumam Vandra. membuat Mia tertawa kecil saat mendengarnya.
"Dady udah ngga sabar ya," tanya Mia dalam tawanya.
Vandra juga tertawa.
"Aku udah ngga sabar, pengen gendong," kekeh Vandra.
"Kita panggil dia apa ya? Nama kamu terlalu berat," masih terkekeh Mka mengomentari.
"Masa sih, " tanya Vandra gemas sambil menjawil ujung hidunh istri tercintanya.
"Kita panggil dia Alan. Kalo dia nakal baru Alano," sambung Vandra asal kemudian tergelak lagi.
"Dasar kamu." Mia pun ngga dapat menghentikan tawanya.
"Kapan mama sama papa kamu pulang?" tanya Vandra setelah tawa mereka reda.
"Beberapa hari lagi. Mama Ando pun ngga sabar nunggu anak kita lahir," info Mia antusias.
"Kapan sepupu kamu itu nikah. Sukanya masih ngerocoki kita terus," cibir Vandra agak kesal.
"Kamu masih aja cemburu sama Ando." Miia malah tertawa meledek membuat Vandra mencubit ujung hidung Mia tambah gemas.
"Aku kesel sama sepupu sok kamu itu," lanjut Vandra dengan rajukan kesal campur manja.
Mia masih terus tertawa sambil membelai rambut suaminya. Vandra, si dingin dan kaku. Apa anak mereka akan seperti Vandra?
Mia dan Vandra akhirnya memutuskan untuk mengetahui jenis kelamin anak mereka. Sebulan yang lalu. Akhirnya kamar untuk bayi mereka dihiasi dengan dominasi warna biru yang lembut.
"Bukannya kalian cukup akrab?" usik Mia lembut.
Vandra mendengus. Mia masih tersenyum lembut.
"Tadi aku ketemu Clara," kata Vandra sambil mengangkat wajahnya dan menatap Mia lekat.
Mia berusaha menahan keterkejutannya. Walaupun dia sudah menduganya.
"Tadi dia pingsan setelah aku minta dia menjauhiku," kata Vandra kemudian menghela nafas panjang.
"Dia ngga apa apa?" tanya Mia agak khawatir walaupun dia sendiri kurang suka. Clara akhir akhir ini cukup mengganggu pikirannya. Walaupun Mia yakin akan kesetiaan Vandra, tapi Mia takut, Vandra ngga tega dan bisa terjebak rasa kasiannya pada Clara.
"Aku ngga tau. Aku langsung pulang," jawab Vandra jujur.
Walau senang mendengarnya, tapi Mia tetap merasa Vandra agak kelewatan.
"Van, kasian, kan," protes Mia pelan.
"Ngga mungkin aku yang gendong dia. Nanti kalo ada yg cerita ke kamu, kamu bisa salah paham," bela Vandra cepat.
__ADS_1
Mia terdiam. Kata kata Vandra ada benarnya juga. Pasti awalnya dia kan shock jika ada yang menyampaikannya. Apalagi Nesa kalo tau. Sepupunya paling pintar memutar fakta, membuatnya sakit hati.
"Maaf ya," ucap Vandra pelan melihat keterdiaman Mia.
Mia tersenyum, kemudian menyandarkan kepalanya di dada Vandra. Ganti dia yang manja. Vandra pun tersenyum sambil mengecup rambut harum Mia dengan lembut.
"Apa kamu sama sekali ngga tertarik sama Clara?" bisik Mia lirih. Ada sedikit ketakutan dalam hatinya. Apalagi melihat kesetiaan Clara dalam mencintai Vandra. Dari SMA sampai sekarang.
Vandra mengusap lagi perut hamil istrinya.
"Sampai kapan pun nggak," tegas Vandra membuat Mia mengembangkan senyum senang. Dia masih menyorokkan kepalanya di dada Vandra. Hatinya terasa lebih tenang.
"Yang aku pikirkan hanyalah kamu dan anak kita. Aku ngga sabar nunggu dia lahir. Setelah itu kamu kb. Cukup punya anak satu saja. Aku ngga mau lihat kamu menderita," kata Vandra lembut.
Mia kembali menyembunyikan senyumnya di dada Vandra. Kata kata Vandra selalu bisa menyejukkan dan membuat tenang bayi dalam kandungannya.
"Anak kita ngga akan sendirian. Dia punya banyak sepupu," tambah Vandra lagi kemudian mengecup lembut puncak kepala Mia.
"Ya," bisik Mia setuju.
"Nanti kita ajarkan dia maen musik. Seperti kita, sayang," kata Vandra sambil mengelus lembut perut Mia.
Mia hanya bisa menganggukkan kepalanya dengan dada penuh rasa bahagia. Anak mereka ngga lama lagi akan lahir. Alano Garda Dewantara.
Vandra pun sudah ngga sabar ingin mengenalkan dunia baru pada buah hatinya. Buah cintanya dengan Mia. Satu satunya perempuan yang bisa membuat hatinya benar benar jatuh, sejatuh jatuhnya. Hanya Mia.
*
*
*
" Toni, menurut kamu, apa aku ngga punya harapan?" tanya Clara ketika Toni sudah nengantarnya sampai ke gerbang depan rumahnya.
"Harapan dengan Vandra?" tanya.
Toni sambil menatap dalam wajah cantik di depannya.
Sangat cantik. Wajar Fino oleng
"Ya," sahut Clara lirih.
"Vandra sangat mencintai Mia," jawab Toni
"Aku tau," sahut Clara lirih.
Betapa banyak teman teman yang berusaha menyadarkannya. Tapi dia tetap ngga mau mendengar. Apalagi Nesa selalu mensupportnya.
"Sampai kapan pun kamu berusaha, kamu akan tetap kecewa," ucap Toni menasehati.
Clara ngga menyahut. Dia berusaha meredakan berbagai perasaan yang berkecamuk dalam hatinya.
"Aku pulang dulu ya. terimakasih sudah diantar pulang," pamit Clata dengan hati sangat terluka.
"Ya!"
Toni menatap gadis cantik itu yang berlari lari kecil memasuki rumahnya.
__ADS_1
Toni tau, gadis itu pasti kini sedang menangis. Tadi saja wajah Clara sudah memerah menahan tangisnya.