Me And You

Me And You
My Fatty Girl


__ADS_3

"Nih, pegang baik baik. Awas kalo ngga benar ngambil fotonya," sinis Eri sambil menyerahkan kamera itu pada Angel.


Angel terdiam. Dia sedikit pun ngga menatap Eri. Tapi tangannya menyambut kamera itu.


Saat tangan mereka bersentuhan, Angel mengangkat wajahnya. Mereka beradu pandang sekilas sebelum sama sama mengalihkan tatapan ke arah lain.


Hei jantung.Yang benar aja Lo, Gue udah move on tau. Udah move on, titah Eri kesal karena jantungnya tetap ngga menurut dan semakin kencang saja berdetak.


"Mau foto dimana?" tanya Angel tanpa menatap Eri.


"Kalo ngomong lihat orangnya, kata Eri datar.


"Ya, foto di mana?" tanya Angel mengulamg pertanyaannya sambil menatap Eri kembali.


Eri agak terkesiap karena ngga nyangka kalo Angel akan menatapnya.


"Woi, mau foto dimana?" seru Eri sambil mengalihkan pandangannya ke teman temannya.


"Di taman depan aja, bagus tuh," tanggap Toni sambil melangkahkan kakinya keluar dari ballroom hotel.


"Okelah," ucap Fino bersama yang lain menyusul Toni.


"Woi, di dalam aja biar terang," seru Eri membuat langkah teman temannya terhenti.


"Jelek lah di dalam. Hiasan anak kecil lagi," protes Toni sambil berkacak pinggang.


"Iya, di luar kan tamannya bagus," respon Igo juga setuju.


Eri menggelenglan kepalanya.


"Gue yang penting tampang Lo Lo yangg jelas. Soal latar, nanti gue yang urus. Nanti kan dilukis, bro,"omel Eri.


Toni menggaruk kepalanya, baru sadar akan kelemotan daya pikirnya.


"Kenapa kita jadi bodoh ya," tawa Igo membuat yang lainnya ikutan nyengir.


"Udah di sini aja. Pantulan cahaya lampunya bagus," titah Eri sambil mengatur keberadaan teman temannya.


"Lo ngapain di situ. Di sini di samping gue," panggil Toni pada Eri.


"Eh, iya," jawab Eri cepat.


"Kalian ngapain?" tanya Luvi. Ternyata rombongannya sudah menghampiri mereka dan menatap dengan heran.


"Mau foto mereka, kak," jelas Angel sambil menunjukkan kameranya.


"Kalo foto, bagusnya di taman depan," sela Emir sambil menatap Vandra dan teman temannya yang sudah mengambil posisi dan bergaya ala ala detektif membuat Ferdi dan Edo terkekeh.


"Nanti di lukis, Bang. Jadi ngga perlu latar," kata Angel sambil mengatur lensa kameranya.

__ADS_1


"Ooo ya ya," kata Emir mengerti. Diapun menarik sudut bibirnya menatap gaya Vandra dan teman temannya bak model terlatih.


"Siap ya," kata Angel memberi aba aba.


"Oke."


"Hitungan ketiga. Satu, dua, ti--ga!" Angel pun menjepret mereka beberapa kali. Dan mereka pun beberapa kali berganti gaya. Dari gaya ala ala detektif yang serius sampai dengan gaya anak kuliahan yang santai. Wajah mereka pun dihiasi senyum dan tawa.


Bukan Angel aja yang moto in. Mia dan Sandrina juga ikut menjepret momen langka ini. Bahkan Luvi, Edo dan Ferdi juga ikut menjepret mereka.


"Lagi apa udah?" tanya Angel sambil melihat ke arah teman temannya.


"Udah," sahut Aldi yang membuat teman temannya langsung membubarkan diri sambil tertawa tawa.


"Bang Emir sama yang lainnya juga mau di foto?" tanya Angel menawarkan.


"Boleh juga. Gimana Om?" tanya Emir pada Edo.


"Oke, boleh juga. Bawa istri kalian sekalian," ajak Edo.


"Ngga usah sama istri. Suami suami aja," tolak Olin membuat para istri setuju.


"Iya, si Om kan ngga bawa istri," komentar Angel menambahkan.


Edo tertawa.


"Kurang Valen," cetus Ferdi mengingat temannya yang belum bisa pulang.


"Ya udah, ambil posisi. Yang keren ya Angel ambil fotonya," tukas Edo yang langsung bergaya maskulin ala eksekutif muda.


"Iya, om, beres," kata Angel sambil menggabungkan jari telunjuk dan jempolnya membentuk lingkaran.


Kembali beberapa kali suara jepretan terdengar.


Elka yang ikt mengambil foto tersenyum melihat gaya maskulin Emir.


Dia memang sangat tampan. Wajarlah banyak yang suka, batinnya tersenyum. Untung Lila tetap nyenyak tertdur tanpa terganggu suara suara yang cukup riuh.


"Fotonya mau dilukis juga, Om?" tanya Er begitu mereka sudah selesai berfoto.


"Boleh juga," sahut Edo setuju.


"Er, bisa disisipin Valen di lukisan?" tanya Ferdi. Dia ingin menyimpan foto mereka di ruang kerja di rumahnya.


"Bang Ferdi ada foto Bang Valen pake jas?" Eri balik bertanya.


"Ngga ada. Nanti Om suruh dia kirim langsung ke kamu ya," jawab Ferdi cepat.


"Oke, Bang. Sip kalo gitu. Vualng aja yang mana yang mau dilukis."

__ADS_1


"Oke, kita pilih pilih dulu. Makasih ya, Angel," kata Edo sambil mengedipkan sebelah matanya.


"Sama sama Om," kata Angel dengan senyum manisnya.


Angel juga mengirimkan foto foto mereka ke hp mereka semua.


"Angel, kamu pintar banget ngambil fotonya," puji Olin yang melihat foto foto yang diambil Angel lewat hp suaminya.


"Bener, bagus banget," puji Ferdi kagum.


"Apa kata gue. Angel berbakat jadi fotografer," timbrung Toni.


Hasil hasil bidikan Angel memang keren banget. Dari segi intensitas cahaya dan sudut pengambilannya seperti fotografer profesional aja.


"Kamu nyambi jadi fotografer aja, Angel," usul Celon yang juga kagum dengan hasil bidikan Angel.


"Bener, ngga nyangka," puji Doni kagum.


"Kalian memang jodoh," kata Aldi membuat mereka yang mengerti tersenyum senyum mendengar kata kata Aldi. Wajah Angel pun sempat merona.


"Jodoh apaan. Si Doni sama Angel maksudnya," kata Eri nyolot.


Toni dan Irfan pun menepuk jidatnya. Sedangkan Aldi mengulum senyum. Luvi pun mendelik kesal pada sepupunya yang telmi. Yang lainnya pun menahan tawa mendengar perkataan Eri.


"Kak, anak anak mungkin mau di foto," kata Angel mengalihkan perhatian.


"Oiya. Angel, kakak kan ngga nyewa fotografer. Kamu yang foto in ya," kata Luvi dengan nada merayu.


"Oke kak Luvi. Aku mau kok," ucap Angel dengan senyum di wajah cantiknya.


Eri terpesona melihatnya. Saat Angel tersenyum, wajahnya benar benar sangat cantik.


"Cantik, kan?" bisik Toni dengan senyum miringnya.


"Nggak," sangkal Eri langsung mengalihkan pandangannya dari wajah Angel.


Toni tergelak melihatnya.


Mengganggu aja, batinnya kesal.


Mereka pun memanggil para bocil itu untuk berfoto bersama. Suasana jadi heboh karena tiap orang tua mengarahkan gaya untuk anak anak mereka. Angel pun menjepret mereka berkali kali dengan senyum ceria melihat polah para bocil dan orang tua mereka.


Angel teringat momennya waktu berfoto berdua dengan Eri. Waktu itu mereka masih tk. Mereka masih sama sama gendutnya dan saat itu mereka berfoto sambil memakan es krim mereka.


Kak Luvi yang menjepretnya sewaktu mereka pulang dari tk. Sampai sekaramg pun foto itu masih dia simpan dan selalu dia bawa kemana pun dia


Apalagi saat Angel menjepret Ezra, Erza dan Melia. Momen lama itu seakan muncul lagi.


Melihat gaya Melia yang malu malu, Angel teringat dirinya dulu. Dia juga malu malu saat berfoto dengan Eri. Masa masa itu memang sangat manis

__ADS_1


Eri menatap wajah Angel yang terlihat sangat excited saat memfoto ponakannya bersama si kembar E. Bibirnya mengembangkan senyum miringnya.


Kamu masih mengingatnya, my fatty girl?


__ADS_2