
"Ada yang membunuh mereka," lapor Ferdi pada Valen yang menyusul ke kantor polisi.
ARRGGHHH.
Padahal sedikit lagi, umpat Valen dalam hati.
Polisi sudah berhasil, begitu ketiganya keluar dengan tangan terangkat. Saat itulah ada suara tembakan yang memberondong ketiganya. Tembakan yang terarah. Polisi yang mengejar ke arah tembakan hanya bisa gigit jari, karena tempat itu sudah kosong tanpa meninggalkan jejak apa pun.
"Ini bahaya buat kita. Musuh bermain dalam gelap," rutuk Celon membuat Valen dan Ferdi saling pandang.
"Kamera cctv menangkap wajah Anastasia. Benar benar mirip sekali," tambah Ilham sambil masuk ke ruangan Ferdi bersama Emir.
"Nggak mungkin. Anastasia udah meninggal," tegas Valen. Dia lihat sendiri bagaimana bom menghantam tubuh Anastasia.
"Kita tau. Pasti itu orang lain," sergah Celon.
"Te... Tenang. Kita harus tenang," kata Ferdi gugup.
"Lo nyuruh tenang, Lo aja gagap," sarkas Valen.
Ilham dan Emir pun melirik kesal ke Ferdi.
"Gue pusing," kata Ferdi jujur. Tangannya pun menggusar kasar rambutnya.
Bobby benar benar belum terdeteksi. Padahal hampir saja bisa ditangkap hidup hidup anak buahnya tapi keburu ditembak mati. Hilang sudah sumer informasi mereka. Sekarang ada yang nyamar jadi Anastasia. Mereka juga sudah berani menyerang di tempat umum. Gimana dirinya sebagai salah satu polisi pintar bisa mati langkah. Baru kali ini Ferdi merasa takut karena belum bisa menebak rencana musuh.
Valen pun terdiam. Sejak tanpa sengaja membunuh Anastasia, otaknya jadi buntu. Dia beradu tatap dengan Celon yqng mengedikkan bahunya.
"Gue rasa sasaran selanjutnya Erika," cetus Ilham membuat ketiga laki laki yang umurnya lebih tua darinya menoleh.
Sementara Emir hanya menatap hpnya saja. Setelah mengantarkan Andre ke rumah mertua, dia langsung menyusul Ilham. Elka juga pulang, ngga jadi ke kantor.
Untungnya rekan bisnisnya menjadwal ulang meetingnya karena ada keperluan mendadak.
"Kata Arven, besok mereka akan mengawasi pembangunan resort. Kita amankan tempat itu," kata Ilham lagi.
Wajah Ferdi tersenyum.
"Lo jadi polisi aja ya. Jadi asisten gue. Gue bayar sepuluh kali lipat dari si Valen," rayu Ferdi dengan hati senang.
Ilham hanya mendengus ngga menanggapi. Valen, Celon, dan Emir tergelak.
"Ngga bakalan berhasil. Dia setia sama gue," kata Valen sombong di sela derai tawanya yang masih berderai derai.
"Amankan daerah sniper mereka. Dari luka korban, sepertinya dalam jarak ngga nyampe dua puluh meter," kata Ilham ngga mempedulikan dua orang yang selalu memperebutkannya. Bukan hanya kali ini saja.
"Oke. Om Arif yang akan ngurus snipernya," tambah Celon setelah tawanya reda.
Om Arif paling ahli dalam hal begituan. Beliau adalah sniper handal, bisa menembak dalam jarak pandang seribu meter.
"Oke, tapi tetap perketat penjagaan keluarga kita," kata Ferdi memperingatkan.
__ADS_1
"Gue telpon Arven. Kita harus masukkan orang orang kita di resort," kata Valen sambil mengambil hpnya dan melangkah agak menjauh.
"Hp Lo bergetar tuh," kata Celon sambil menunjukkan hp Ferdi yang ada di atas meja.
Ferdi meraih hp di meja.
"Om Nirwan," katanya dengan mimik heran. Tapi tangannya cepat menggeser tombol hijau telponnya.
"Iya Om?" tanya Ferdi sambil menatap Ilham, Emir dan Celon heran.
"Om kirim sketsa wajah Bobby," kata Om Nirwan membuat senyum lebar tersungging di bibir Ferdi.
"Sungguh Om? Berita baik banget nih," serunya senang.
Ilham saling pandang dengan Emir dan Celon, karena Ferdi ngga meloadspeaker telponnya.
"Oke, Om. Siap," Kata Ferdi dengan wajah girang.
Sambungan telpon pun diputus Om Nirwan. Ngga lama kemudian ada notif pesan. Segera Ferdi membukanya. Senyum smirk terukir di wajahnya.
"Menang jackpot Lo," sarkas Celon melihat wajah girang sahabatnya yang tadinya keruh.
"Nih, wajah si curut Bobby. Om Nirwan berhasil," kata Ferdi senang sambil menunjukkan foto terbaru Bobby yang dikirim ke hp nya barusan.
Celon, Emir dan Ilham menyunggingkan senyum miring. Ada rasa lega dalam hati mereka.
"Kirimkan ke hp kita," kata Celon cepat.
"Oke."
Kening Valen berkerut melihat ekspresi penuh semangat ketiga sahabatnya. Terutama Ferdi. Padahal tadi wajahnya sangat kusut.
"Orang orang Om Arif udah mengamankan tkp," kata Valen sambil menatap ketiganya, tapi kemudiam beralih pada hpnya yang menampilkan notif pesan.
"Wajah Bobby? Topeng atau operasi plastik? Kalo topeng, kita harus segera menangkapnya sebelum dia berganti topeng lagi," kata Valen tegas sambil mengamati serius wajah itu.
"Lo udah siap perang? Lo beneran udah sehat?" tanya Celon memastikan.
"Lo meragukan kekuatan tubuh gue?" tukas Valen sombong membiat keempatnya berdecih.
"Syukurlah, ada dua juara nasional yang ikut," kata Celon dengan nada mencela.
Valen hanya terkekeh.
"Lusa Aldi menikah. Sebaiknya Vandra sama teman temannya jamgan dilibatkan dulu. Gue punya feeling aneh," kata Ilham sambil memijat kepalanya.
"Firasat maksud Lo?" tanya Valen cepat. Ilham mirip indigo.
"Yes."
"Apa mungkin Arabella masih hidup?" tanya Celon sambil menatap Ferdi.
__ADS_1
Ferdi tersentak. Dia ceroboh. Dia ngga melakukan tes dna pada jasad Arabella.
"Lo ngga test dna di jasad itu ya," tuding Valen yakin karena melihat wajah Ferdi yang berubah.
"Dasar ceroboh," hina Celon gusar.
"Mungkin Arabella akan mengacaukan pernikahan adiknya," tambah Ilham.
Ferdi makin pias.
Salahnya terlalu menggampangkan segala hal.
"Aku akan pake detektor logam. Gedung pernikahab akan ku sisir malam ini juga dengan tim gegana," tegas Ilham.
"Oke. Semoga dalam dua hari, semua akan terungkap," kata Celon sambil menatap keempat sahabatnya dengan mata bercahaya.
"Aamiin," ucap keempatnya bersamaan.
*
*
*
"Cucu cucu Oma ngga apa apa?" peluk Oma Sonya dengan kedua matanya yang berkaca kaca.
Elka dan Rasya sudah menceritakan semua.
"Rahel ngga pa pa, Oma. Tapi Ariel yang mau dibunuh pake pisau besar," lapor Rahel bersemangat.
Mata Oma beralih pada Ariel yang tetap tenang. Opa Dewantara menghembuskan nafas lega.
"Ariel sayang, kamu ngga apa apa, kan?"
"Ariel ngga apa apa, Oma. Jangan khawatir," katanya setengah membujuk. agar Omanya ngga sedih.
Oma Sonya pun merapatkan pelukannya pada kedua ponakannya. Air matanya menetes..Hanpir saja beliau kehilamgan cucu kembarnya.
"Keadaan kita sedang ngga menguntungkan," cetus Opa Dewantara.
"Kita akan lebih berhati hati," tukas Oma Sonya bergetar. Membayangkan ada laki laki jahat yang akan menusuk kembarnya.
"Mami jangan khawatir. Emir sama Ilham pasti punya rencana," ucap Elka menenangkan maminya.
"Ada bang Valen sama bang Ferdi juga. Tenang ya, mami," imbuh Emir.
Oma Sonya menganggukkan kepala dengan tangannya terus mendekap kedua cucunya.
"Dady ngalahin musuh bentar banget, Oma. Dady memang hebat," puji Rahel dengan sepasang matanya memancarksn cahsya.
"Tante Elka juga," balas Rahel lagi.
__ADS_1
Oma Sonya tersenyum lebar. Begitu juga Opa Dewantara.