
"Lo kenapa mendadak banget nyusul irang tua lo?" tanya Fino masih di selimuti rasa heran. Mereka saat ini berada di kafe yang biasa nereka pake buat manggung. Kafe udah. Kafe udh di private hanya untuk.mereka saja
Yang membuat Fino kesal, Irfan ngga bisa dihubungi setelah Aldi mengabarkan mereka akan mengadakan perpisahan dengan Irfan.
Aldi pun saat ditanya ngga memberikan jawaban yang memuaskan.
'Sekalian honeymoon lah," cetus Igo santai.
Fino menatap wajah Irfan yang hanya menyeringai, ekspresinya terlihat menyetujui kata kata Igo.
"Apa belum cukup bulan madu. Katanya orang hamil rentan naek pesawat," tambah Vero sambil menatap Ando minta dukungan. Tapi Ando hanya meneguk minumannya tanpa melihat ke arah Vero, membuat Vero jengkel.
"Ya, cukup bahaya bagi ibu hamil," sahut Toni tenang. Dia terus memperhatikan ekspresi Irfan yang tampak tenang.
Beda dengan Vandra, yang fokus memperhatikan Eri.
Tumben ngga cerewet. Mencurigakan.
Harusnya pada momen ini Eri yang paling banyak bertanya.
"Kalian, kan, bisa ke Dubai kalo kangen sama gue," kekeh Irfan membiat beberapa teman temannya mencibir.
"Ngga ada kata kata laen yang bisa lo ucapin," sarkas Doni sambil menatap gelas jusnya. Dia berusaha bersikap biasa. Besok pagi Irfan akan berangkat. Tapi dia merasa, selain dia dan Aldi, beberapa dari teman mereka juga udah tau sedikit tentang kisruh rumah tangga Irfan.
"Emang Lo bakal netap di Dubai?" tanya Vandra curiga. Seperti ada yang ditutupi Irfan.
"Dua tahun gue bakal stay di sana," jawab Irfan tenang.
Mereka kembali terdiam. Suasana ini cukup mencurigakan.
Sementara itu Reksa menatap Vandra sesaat. Dia teringat, betapa Clara sangat memuja laki laki ini. Bertahun tahun.
"Vandra, selamat atas kelahiran anak Lo," ucapnya sambil mengangkat gelas, mengajak tos jauh.
"Terima kasih," balas Vandra juga mengangkat gelasnya. Dan keduanya menggoyangkan gelas mereka seakan sudah bersentuhan. Setelahnya mereka meneguk jus mereka perlahan.
"Selamat Van, gue belum sempat nengokin baby lo," sambung Vero yang diangguki Vandra.
"Terima kasih. Ngga apa. Yang penting do'anya."
Vero menganggukkan kepalanya.
"Lo kelihatan kurang tidur," tukas Toni karena melihat kantung mata Vandra.
"Bayi Al suka bangun tengah malam. Gue ikut begadang nemenin Mia," kekeh Vandra menjelaskan.
"Nenek kakeknya ngga kepo?" balas mengekeh Aldi.
"Ya, untunglah banyak orang di rumah. Mia jadi bisa banyak waktu istirahat," jelas Vandra di sela tawanya.
Mereka pun ikut tertawa. Dapat terlihat binar bahagia di mata Vandra.
"Senang ya, kalo udah lahir," ucap Irfan getir. Dia masih merasa bersalah, karena tanoa sadar mendorong Sandrina membuat istrinya jatuh terduduk di lantai. Pendarahan pun terjadi. Padahal dorongannya ngga begitu kuat, mungkin Sandrina yang kaget ngga sempat mengantisipasi.
Toni, Aldi, dan Doni menatap ke arah lain.
"Tentu saja," jawab Eri dengan nada menusuk. Mata mereka saling bersitatap tajam.
__ADS_1
"Nanti lo juga akan ngerti rasanya kalo anak lo sudah lahir," sambung Igo masih belum menyadari situasi tegang antara Eri dan Irfan.
"Ya," jawab Irfan.cepat.
Aura ini, batin Vandra ngga enak. Dia melirik Eri yang masih menatap tajam Irfan. Sedangkan Irfan sudah mengalihkan tatapannya ke panggung.
"Gue ingin maen musik," ucap Irfan sambil berdiri.
Tanpa kata Aldi, Doni, dan Toni ikut berdiri dan melangkah di belakang Irfan.
Vandra melirik Eri yang masih diam saja
Akhirnya Fino dan Vero ikut berdiri dan menyusul ke atas panggung.
"Lo sariawan?" bisik Vandra heran melihat sikap Eri yang sepertinya memendam marah.
"Iya, tumben lo ngga banyak tanya," timbrung Igo yang mendengar kata kata Vandra.
"Anaknya Irfan udah meninggal," kata Eri gusar.
"Apa?" kaget Igo dan Reksa tapi dengan suara yang tertahan.
Vandra melirik Ando yang seperti ngga peduli.
"Lo udah tau?" tanya Vandra.
"Sandrina udah ke Belanda," jelas Ando membuat Igo, Reksa, Vandra dan bahkan Eri kaget.
Vandra menatap tajam Ando ngga percaya. Kemudian mengalihkan pada teman temannya yang sedang menyetel alat musik.
"Apa mereka semua sudah tau?"
Vandra menghembuskan nafas kasar.
"Apa yang terjadi?" lirihnya masih ngga percaya. Dia merasa ngga berguna jadi sahabat Irfan.
"Sebaiknya pura pura saja seperti yang lain," usul Ando memberikan solusi.
"Gue ingin mukul Irfan," geram Eri dengan suara sangat dingin.
"Kenapa Lo yang ngamuk?" heran Igo.
"Jangan bilang lo juga suka sama Sandrina," tuduh Igo melanjutkan.
"Lo diam. Lo ngga tau apa apa," sentak Eri gusar.
Saking kaget akan bentakan Eri, Igo terdiam. Vandra, Ando, Reksa menatap Eri curiga.
"Kata Sandrina, dia keguguran karena Irfan mendorongnya. Mereka bertengkar," lanjut Eri menjelaskan dengan suara menyimpan marah.
Hening.
Sunyi.
Yang di atas pamggung masih menyetel alat alat musik mereka.
"Sandrina ngga cerita kenapa Irfan sampai mendorong dia?" Ando balik bertanya.
__ADS_1
Si oon ini cuma bisanya marah marah saja, batin Ando gemas.
"Nggak. Lagi pula semarah marahnya laki laki, ngga pantas kasar dengan perempuan," pungkas Eri masih dengan nada geram.
Hening.
Hanya terdengar hembusan nafas panjang.
Semenit
Tiga menit.
"Irfan ngga pernah kasar sama perempuan. Kecuali....," ucap Vandra akhirnya sambil melirik Eri.
"Pasti karena lo lah, Er. Elo itu api dalam sekamnya hubungan Irfan dan Sandrina," potong Igo lamgsung mengerti, ke arah mana kalimat Vandra berujung.
Eri tersentak dan menatap Vandra minta penjelasan.
Ketiganya menghela nafas panjang, bersamaan dengan itu, musik di pamggung mulai mengalun keras.. Musik rock.
Sebenarnya Reksa juga tersentil hatinya mendengar ucapan Igo. Nasibnya bisa dikatakan sama dengan nasib Irfan. Perempuan mereka memiliki hati untuk orang lain.
*
*
*
Setelah hampir jam.dua pagi mereka pun membubarkan diri. Vandra yang curiga dengan gerak gerik Eri, mengikutinya. Vandra pun tau jalo Aldi dan Toni mengikutinya dari belakang.
Dengan kecepatan tinggi Eri menyalib mobil Irfan yang terpaksa menekan dalam remnya secara mendadak.
"Apa mau lo Er," geram Irfan yang tersulut emosi melihat Eri yang sudah lebih dulu keluar dari mobil.
"Gue mau lo mukul gue," bentak Eri ngga kalah menggelegar.
Irfan terdiam. Ngga menyangka Eri akan berkata begitu
"Gue benci lo kasar sama Sandrina. Tapi kalo pemyebab anak kalian meninggal karena gue, gue merasa berdosa," teriak Eri sambil menendang ban mobilnya keras.
Irfan masih terdiam. Emosinya yang menggelegak hilang sudah. Dia hanya merasa kosong sekarag. Hatinya hampa.
"Pukul gue, Fan. Gue ngga akan balas," tantang Eri sambil.mendekat.
Irfan tersenyum getir.
"Buat apa. Semua sudah terjadi. Sudahlah. Lupakan saja," ucapnya garing.
Eri terdiam. Dia menatap Irfan dengan tatapan nanar. Perasaan bersalah bergayut dalam hatinya. Dia sudah menyebabkan satu jiwa murni meninggal.
"Lagian kandungan Sandrina memang lemah. Ini sudah takdir," tambah Irfan datar.
Eri masih diam. Dia tau, sampai kapan pun, diantara mereka akan ada ganjalan.
"Gue butuh waktu. Gue harap, pertenuan kita nanti, perasaan kita sudah baik baik saja. Kita bisa seperti dulu lagi," kata Irfan sambil menepuk bahu Eri.
Eri masih diam. Mereka memang butuh waktu. Saat ini perasaan bersalahnya begitu kental pada Irfan.
__ADS_1
"Ya," jawab Eri akhirnya.
Irfan tersenyum.tipis sebelum akhirnya memasuki mobilnya dan pergi meninggalkan Eri yang masih berdiri memandangnya dengan getir.