
"KAK ERIKAA!" Kaget Mikaela begitu membuka pintu kamarnya. Dia pun cepat mengunci pintu kamarnya.
Dia langsung berlari memeluk Erika yang tampak lusuh dengan pakaian penuh bercak darah.
Tangis pun meledak di kamar itu. Mikaela benar benar larut dalam tangisnya. Dia memeluk Erika erat erat.
"Aku senang kakak masih hidup. Orang orang pada ngirain kakak...," kata Mikaela.ngga sanggup meneruskan. Dia kembali menangis sambil memeluk erat Erika.Dia takut ini hanya mimpi.
Erika meneteskan sebulir air matanya. Dia hanya balas memeluk Mikaela tapi dengan pikiran dan jiwa yang kosong. Tapi mendapat sambutan hangat Mikaela membuat hatinya tambah sedih. Ternyata selalu ada orang orang yang mengkhawatirkannya.
Terbayang di matanya ketika kedua pengawal terakhirnya menjadikan tubuh mereka perisai untuk melindunginya. Dia kira, dia pun akan mati karena terbawa arus sungai yang deras. Ternyata dia masih bisa selamat.
Setelah selamat dari ledakan, Erika dan dua pengawalnya dalam diam berjalan menyusuri pinggiran sungai. Pak Oding sempat menelpon ponakannya agar menunggu di ujung sungai untuk membawa mereka pergi.
Tapi mereka kembali diserang di tengah jalan oleh beberapa orang bertampang kasar. Senjata mereka pun kemasukan air jadi ngga bisa digunakan. Erika dan pengawalnya pun jadi sangat kesulitan, mereka juga sangat lelah. Apalagi saat orang orang bertampang kasar itu mengeluarkan senjata dan mulai menembak.
"Nona, pergilah," seru Pak Oding sambil mendorong tubuh Erika ke dalam sungai.
BYYUURRR!
DOORR!
DOORR!
DOORR!
"Pergilah, Nona. Pergiii! Aaagghhh!!"teriak Pak Samir.
Air mata Erika menetes saat melihat kedua pengawalnya menjadikan tubuh mereka sebagai perisai yang menahan peluru peluru yang ditembakkan untuk membunuhnya.
Dia harus selamat. Dia harus membongkar siapa yang sudah melakukan kejahatan yang sangat keji ini.
Erika pun mengeraskan hatinya, walau hatinya pedih mendengar jeritan jeritan kesakitan Pak Oding dan Pak Samir. Dia berenang sambil menangis. Perasaannya benar benar hancur ngga bersisa.
Begitu sampai di ujung sungai, Erika bertemu dengan ponakan Pak Oding. Seorang pemuda berumur dua puluhan.
Tanpa kata karena ponakan Pak Oding mungkin sudah mengerti apa yang terjadi dengan pamannya, dia pun mengantarkan Erika ke rumah Mikaela.
"Nona hati hati selalu," ucap ponakan Pak Oding ketika sudah sampai di depan gerbang mansion Mikaela.
"Nama kamu siapa. Nomer hp kamu?" tanya Erika sambil membuka safe beltnya.
"Nama saya Trisna. Ini nomer saya nona," ucap Trisna sambil menyerahkan sepotong kertas yang sudah ditulis momer hpnya.
"Terimakasih. Setelah seminggu dari hari ini, kamu bisa cari saya di mansion. Sekarang kamu sembunyi dulu. Rahasiakan pertemuan ini," kata Erika panjang lebar.
__ADS_1
"Baik, Nona," kata Trisna patuh.
Erika pun keluar dari mobil pick up yang membawanya dan menatap sampai mobil itu pergi.
Erika ngga kuat lagi untuk berdiri, kakinya serasa bergetar. Dia pun jatuh terduduk di tanah. Erika kembali menangis. Betapa banyak orang orang yang sudah mengorbankan nyawanya untuknya.
Opa, Oma, jeritnya dalam hati. Dia kembali menangis mengingat kedua opa dan omanya yang masih berada di dalam mobil yang diledakkan para penjahat itu.
Erika bagaikan mayat hidup. Tapi masih ada sisa air matanya yang mengalir perlahan di kedua belah pipinya. Ternyata air matanya belum kering.
Sekarang dia sudah berada bersama adik angkatnya, Mikaela. Hanya tujuan ini yang dia ingat saat Trisna bertanya, hendak diantarkan kemana dirinya.
Mikaela sadar kalo tubuh Erika terasa dingin karena pakaiannya yang lembab.
Mikaela pun melepaskan pelukannya. Tangannya menyibakkan rambut Erika yang berjuntai di wajahnya.
Mikaela sangat sedih melihat keadaan kakak angkatnya yang sangat hancur. Matanya seperti kosong. Tapi air matanya tetap mengalir perlahan.
"Kakak mandi dulu ya, Mika siapin air di bath up dulu," katanya sambil membimbing Erika untuk duduk di kasurnya.
Mikaela pun berjalan ke kamar mandi. Saat akan memasuki kamar mandi, Mikaela menoleh kembali menatap Erika dengan hati miris.
Mikaela sangat bersyukur karena Erika langsung ke rumahnya dalam keadaan baik baik saja jasmaninya. Tapi jiwanya mungkin enggak. Pasti saat ini kakak angkatnya merasa sangat hancur hati dan jiwanya.
Mikaela pun mengisi bath up nya dengan air dingin dan memberikan aroma terapi di airnya.
Erika menatapnya sayu. Tanpa kata dia pun menurut.
Erika seperti tubuh tanpa jiwa saat dia melangkah. Mikaela menangis lagi menatapnya. Semoga kakak angkatnya tetap kuat dan berhasil menyembuhkan luka hatinya.
Mikaela menunggu dengan sabar sampai Erika keluar dari kamar mandi. Dia tersenyum akhirnya setelah melihat kakak angkatnya sudah berganti baju yang sudah dia siapkan.
Mikaela membimbing kakak amgkatnya duduk di depan kaca riasnya. Dengan lembut Mikaela mengeringkan rambut Erika dengan handuk.
Mikaela pun sudah meminta pelayannya menyiapkan sup hangat. Kakaknya pasti belum makan.
"Rumah kakak banyak tamu. Aku juga ngelihat Om Halim. Tapi kata kepsekku, aku ngga boleh mendekatinya dulu. Katanya bahaya," cerita Mikaela.
Om Halim, hati Erika agak tersentak mendengarnya.
Dia tiba tiba teringat besok Om Halim akan menghadiri meeting penting. Tiba tiba ketakukan yang amat sangat menguasai pikirannya membuat tubuhnya gemetar.
"Kakak kenapa?" tanya Mikaela kaget.
"Om Halim .... Kakak takut .... besok ada yang mau mencelakainya," ucapnya dengan suara bergetar.
__ADS_1
Mikaela memijat bahu kakak angkatnya lembut.
"Kakak jangan khawatir. Masih banyak orang yang akan melindungi kakak dan Om Halim," kata Mikaela lembut.
"Jangan .... nanti mereka semua .... akan celaka .... akan mati," bisik Erika masih dengan suara dan tubuh bergetar. Dia benar benar mengalami trauma yang sangat berat.
"Kakak tenang. Ini makan sup dulu ya," kata Mikaela sambil menyuapkan Erika yang menerimanya dengan bibir bergetar.
Erika menguatkan hatinya, dia harus sehat. Dia harus segera membongkar kejahatan yang sangat kejam ini. Sangat kejam dan sadis. Sebelum banyak lagi korban yang berjatuhan.
Erika menatap Mikaela dengan tatapan cemas.
"Kakak salah.... karena ke sini. Kamu .... bisa celaka karena ini," kata Erika penuh sesal.
"Kakak tenanglah. Aku bersyukur kakak langsung mencariku. Aku akan menolong kakak," ucap Mikaela menguatkan hati Erika.
"Kita akan penjarakan orang orang itu, Kak," ucap Mikaela berapi api.
Erika tersenyum getir. Dalam hatinya dia sungguh berharap tidak akan ada korban lagi di pihaknya. Dia sudah kehilangan kedua opa dan omanya, para pengawalnya yang sangat setia. Sungguh hatinya sudah ngga kuat lagi kalo harus menerima kehilangan lagi.
Setelah menghabiskan semangkuk kecil supnya, Erika pun tidur. Mikaela dengan telaten menyelimutinya.
"Istirahatlah, Kak. Tidurlah. Kakak harus cepat sehat kembali," kata Mikaela lembut.
Erika ngga menyahut. Dia memejamkan matanya. Berharap yang dialaminya hanya mimpi.
Opa, oma, rintihnya dalam hati. Dalam tidur pun dia tetap memimpikan kejadian yang menimpa kedua opa dan omanya.
Mikaela mengompres kening Erika yang panas. Erika demam sambil menggigil.
Mikaela bingung, dia takut untuk menghubungi dokter.
Akhirnya dengan nekat dia menghubungi kepseknya. Karena nomer itu yang dia punya. Mikaela ngga mungkin menghubungi Om Halim, karena takut kalo Om Halim sedang di awasi oleh komplotan yang menginginkan nyawa kakak angkatnya. Mungkin juga telpon Om Halim sudah disadap.
"Maaf, Pak, bisa ke rumah saya?" tanya Mikaela.ketika telponnya diangkat Doni.
"Mengapa saya harus ke rumah kamu?"
"Kakak saya lagi demam. Bisa bawakan dokter?" tanya Mikaela takut takut, karena suara kepseknya terdengar agak malas malasan menjawab telponnya.
"Pak," panggilnya lagi karena ngga mendengar jawaban kepseknya.
"Saya ke situ."
Mikaela menatap kesal pada teloon yang sudah diputuskan oleh kepseknya.
__ADS_1
"Kepsek ngga sopan," omelnya kesal.
Kemudian dia kembali mengganti kompresan kakak angkatnya dengan yang baru. Demamnya masih belum turun juga.