
"Wajah lo kenapa? Kelihatan ngga senang?" tanya Aldi heran. Mereka hanya tinggal berdua karena Doni dan Toni sudah pergi duluan.
"Sandrina keguguran," ucap Irfan pelan. Suaranya mengandung beban berat.
"Serius lo?" kaget Aldi sambil menatap sahabatnya ngga percaya. Ada rasa bersalah terselip dalam hatinya karena tadi sempat mengejek sahabatnya.
Irfan mengambil rokok dan mulai mengisapnya. Aldi tau, pasti saat ini Irfan sedang punya masalah berat.
"Sandrina minta cerai."
"Haaah!" Kali ini bukan hanya Aldi yang kaget mendengar, Irfan juga mendengar suara ngga diundang yang menyela cukup keras.
"Ngapain lo masih di sini," sembur Aldi kesal melihat Doni yang tadi sudah duluan pergi malah manpir dan berteriak di dekat mereka.
"Sorry, gue ngga sengaja dengar," tutur Doni merasa bersalah. Tadinya dia memang duluan, tapi melihat kedua temannya yang seperti mengobrol dengan sangat serius, keinginan keponya mengusiknya. Jadibya dia pun menghampiri keduanya dan langsung kaget mendengar kalimat terakhir Irfan.
"Ngga apa apa," sahut Irfan santai setelah kekagetannya hilang. Di antara meeeka memang ngga ada rahasia.
"Kita ngobrol di cafe aja biar lebih nyaman," ucap Aldi sambil melirik kanan dan kiri, siapa tau ada lagi mahluk yang ingin ikut kepo juga.
"Oke," kata Irfan sambil mematikan rokoknya dan membuangnya ke tempat sampah.
Mereka pun berlanjut mengendarai mobil masing masing ke cafe di dekat rumah sakit.
"Jadi kamu setuju dengan niat Sandrina?" tanya Aldi memastikan. Soalnya dia tau, Irfan bukan orang pemaksa.
"Bukan cerai, sih. Tepatnya, pisah sementara dulu."
Bener, kan, batin Aldi kesal.
"Sampai kapan?" tanya Doni.pelan.
"Dua tahun. Sandrina akan melanjutkan bisnisnya di Belanda "
"Gila!" seru Doni dan Aldi berbarengan. Keduanya ngga abis pikir dengan isi kepala Irfan.
Irfan tertawa getir.
"Awalnya kami menikah karena kesalahan. Aku bertanggungjawab karena bayi dalan rahimnya. Bayi itu sekarang udah ngga ada, aku juga harusnya lega, bebas dari ikatan, kan."
Aldi dan Doni saling pandang. Mereka tau, pahitnya hati Irfan saat ini. Seorang Irfan yang brengsek berubah menjadi suami setia dan penuh tanggung jawab. Harusnya Sandrina bersyukur, kecam Aldi dan Doni geram dalam hati.
__ADS_1
"Dia masih menyukai Eri. Terang terangan dia mengaku. Itu juga yang membuatku marah dan tanpa sadar mendorongnya membuat kami kehilangan bayi kami. Tapi rahim Sandrina juga lemah. Sebelum menikah denganku, dia sudah berusaha bunuh diri dan membunuh bayinya sendiri," jelas Irfan getir. Sangat jelas Irfan berusaha menahan emosinya. Rokok sedikit melegakannya.
Aldi dan Doni mengepalkan tangan erat, menahan marah. Tapi keduanya salut, Irfan tetap bersikap biasa aja ketika bertemu Eri.
Tapi Eri ngga bisa disalahkan juga. Cinta yang salah penempatannya, itu masalah mereka.
Tanpa sadar Aldi dan Doni menghela nafas kasar.
"Gue juga belum terlalu cinta dengan Sandrina. Biarlah kalo dia mau pergi. Kapan pun dia minta bercerai, akan kusanggupi," tegas Irfan dengan berbagai perasaan. Marah dan kecewa, melebur jadi satu.
Aldi dan Doni masih diam. Keduanya tau betapa berat beban yang ditanggung sahabatnya.
"Sandrina sudah pergi?" tanya Aldi setelah mereka cukup lama terdiam.
"Seminggu yang lalu," jawab Irfan datar. Kembali dia mengisap rokoknya yang baru diambil dari bungkusnya . Doni pun ikut mengambil dan merokok bersama Irfan. Sedangkan Aldi hanya menatap Irfan getir. Dia ngga mungkin merokok, istrinya sedang hamil. Nanti dia akn mampir membeli kaos, mengganti bajunya yang bau asap rokok kedua temannya. Dia ngga mau istrinya yang sedang hamil mencerewetinya di rumah.
"Sekarang gue laki laki bebas. Gue ngga kehilangan apa pun. Gue senang ngga harus menahan diri lagi," kekeh Irfan terasa sumbang.
Keduanya saling pandang. Pasti Irfan merasa harga dirinya terluka.
"Om sama tante udah tau?" tanya Aldi hati hati.
"APA!"
BRAK
Aldi sampai menggebrak meja saking kagetnya. Mereka pun auto menjadi pusat perhatian. Tapi Aldi dan Doni mana peduli. Mereka fokus menatap Irgan dengan tatapan ngga percaya.
"S*HIT! Begini caranu pamit?!" sentak Aldi murka. Gara gara perempuan, sahabatnya memilih pergi.
"Kenapa harus jauh jauh ke Dubai? Lo mau maen sama perempuan di sana?" seloroh Doni untuk meredakan ketegangan di antara mereka.
Walaupun kesal, tapi Doni lebih bisa menahan diri. Mungkin karena dia menjabat sebagai kepala sekolah SMA. Sudah kebal dengan masalah masalah yang membuat tensinya naek. Kecuali yang satu itu, eh, Doni menggelengkan kepala, berusaha menolak pikiran ngga jelasnya.
Irfan mengisap lagi rokoknya dan menghembuskannya kuat kuat, menjauhkan asapnya dari kedua temannya.
"Gue juga butuh waktu buat normalin lagi hati gue."
Aldi terdiam. Dia mengerti. Irfan memang butuh waktu buat sendiri. Belum tentu Irfan kuat menahan emosi jika sering melihat Eri. Walaupun Eri ngga salah salah amat, tapi Eri juga punya andil dalam masalah mereka. Apalagi memgingat Eri yang kurang pintar membaca situasi. Bisa saja terjadi perkelahian antara keduanya.
Doni melirik Aldi yang masih emosi, walaupun kini dia coba menahannya. Tapi tubuhnya terlihat bergetar.
__ADS_1
Doni tau, Aldi pasti ngga terima dengan kepergian Irfan yang mendadak. Tapi mau gimana lagi, sahabatnya memang butuh waktu untuk menenangkan pikirannya.
"Tapi sebelum berangkat kita kumpul di tempat biasa ya. Malam sebelum lo berangkat," putus Doni membiat Aldi menoleh. Ya, mereka harus berkumpul dulu sebelum berpisah. Harus bersenang senang dulu.
"Oke," respon Irfan setuju.
Aldi menghela nafas kasar. Gimana cara mereka mengatakan hal ini pada yang lainnya. Pasti akan timbul banyak pertanyaan dan kecurigaan.
"Jangan katakan apa pun pada yang lain sekarang. Nanti saja setelah gue pergi," kata Irfan yang paham akan kesulitan Aldi dan Doni.
Aldi hanya mendengus kesal, sedangkan Doni menghembuskan asap rokoknya kuat kuat.
*
*
*
"Gue tau ada yang lo rahasiakan," kata Toni yang langsung ke rumah Aldi begitu pesan yang dikirim Aldi di baca olehnya.
Aldi hanya terdiam. Saat ini mereka berada di depan gerbang rumah Aldi. Akdi yang baru saja sampai di rumah langsung mengirimkan pesan ke sahabat sahabat mereka. Hanya agar ngga menimbulkan kecurigaan, dia juga mengundang Ando, Vero dan Reksa. Bahkan Bagas pun ikut diajaknya.
"Gue tau Sandrina keguguran," lirih Toni sambil menatap tajam Aldi.
Aldi terkejut, ngga disangkanya Toni sudah tau.
"Irfan mau membantu bisnis orang tuanya di Dubai," jelas Aldi bersikukuh tetap berbohong. Lagi pula dia ngga merasa berhak membeberkan kemelut rumah tangga Irfan.
BUGH!
Toni menendang ban motornya kasar.
"BOHONG!" sentak Toni kesal.
"Lo bisa nanya langsung ke Irfan," elak Aldi datar. Dia sendiri masih belum bisa mengendalikan emosinya jika harus mengatakan hal yang sebenarnya.
Toni menarik nafas panjang dan menghembuskannya perlahan untuk meredakan gejolak marah di dadanya. Dia benci menjadi orang terakhir yang tau. Tapi Toni bisa menduga, kalo Irfan memang sedang dalam masalah berat. Tapi tadi anak itu tetap santai dan slengekan. Seolah tanpa beban.
Kehilangan bayi yang dikandung Sandrina pasti mempengaruhi hubungan mereka. Apalagi keterikatan mereka hanya berlandaskan anak dalam kandungan Sandrina..Setelah keguguran, pasti hubungan mereka memburuk. Begitu banyak praduga dalam hati Toni.
Tapi kalo melihat wajah keruh Aldi, Toni yakin kemungkinan besar praduganya benar.
__ADS_1